Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Mengamankan Saksi


__ADS_3

Hima baru saja pulang dari butiknya. Ketika mobil yang ia kendarai hampir saja memasuki gerbang rumah, pemandangan mengejutkan mulai mengisi ruang pandang.


Wanita itu menyipitkan kedua mata untuk menajamkan penglihatan. Setelah dipastikan bahwa pandangannya tidak salah, Hima mengurungkan diri untuk memasuki pekarangan rumah. Setirnya dibanting ke kanan, lalu memarkirkan mobilnya di samping pagar taman bermain.


"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?" Hima keluar dari mobil, lalu mendekati Arun yang tengah berdiri di samping mobilnya seraya berkacak pinggang. Wanita itu mengikuti arah pandang suaminya.


Arun tak tersentak sama sekali.


"Aku seolah melihat Chia bermain di sana," ucap Arun tanpa mengalihkan perhatiannya dari ayunan yang ada di dalam taman. Ayunan kosong tanpa penghuni.


DEG


Hima mendadak merasa seluruh rambut di sekujur tubuhnya meremang. Padahal, Arun sama sekali tidak mengatakan kalimat tudingan terhadapnya.


"Sayang!"


Untuk menguapkan rasa gerogi, wanita itu melingkarkan tangannya di lengan Arun, lalu mengusapnya dengan lembut.


"Bukankah kau sudah berjanji akan berdamai dengan semua ini?" tanyanya seraya menopangkan dagu pada bahu sang suami.


Arun terdengar menghela napas kasar dengan terus menatap ke arah ayunan.


"Kau benar," kata pria itu. Lalu mengalihkan atensinya pada sang istri. "Ayo, kita pulang." Arun menarik diri dari Hima, lalu berjalan menuju mobilnya. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, pria itu selalu meraih pundak Hima, lalu berjalan beriringan. Namun, kali ini ada sesuatu yang tak biasa yang tengah ia rasakan.


Rasa tak percaya, rasa kecewa, rasa ditipu, dan rasa dipermainkan. Semuanya seolah berpadu di dalam dada ayah dari almarhumah Rachia Arunika itu.


Begitu pula dengan Hima. Ia tersenyum lebar sebelum memasuki mobilnya sendiri tanpa menganggap aneh sikap sang suami yang di luar kebiasaan.


Tiga puluh menit sebelum kedatangan Hima.


"Apa selama ini ... ada sesuatu yang tidak kuketahui tentang istriku?" tanya Arun pada Tuti.


GLEK


Tuti tampak menelan salivanya. Ia tak menyangka bahwa Arun akan bertanya langsung seperti itu.


Sebelum menjawab, wanita itu menatap ke arah Eri dan Tegar secara bergantian. Seolah sedang meminta persetujuan. Setelah melihat keduanya menganggukkan kepala, Tuti pun tampak tidak ragu lagi untuk berucap.


"Sebenarnya sikap Nyonya Hima tak sebaik yang Tuan lihat."


DEG

__ADS_1


Jantung Arun seolah berhenti berdetak. Kalimat pembuka dari Tuti cukup sukses membuatnya ternganga.


Tuti tak takut lagi untuk mengungkapkan semua kebenarannya. Lagi pula, saat ini ia sudah merasa aman karena adanya seorang anggota kepolisian di sisinya yang pasti akan menjamin keselamatannya.


"Nyonya selalu saja menyiksa non Chia ketika Tuan tidak berada di rumah."


DEG


Sekali lagi, Arun dibuat terperangah. Bagaimana tidak? Istri yang selama ini disangka mencurahkan segenap kasih sayang kepada putrinya, ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan.


"Non Chia selalu dibentak dan dipukul walaupun hanya melakukan kesalahan kecil, hiks ... hiks."


DEG


Arun tak henti-hentinya membatu. Kalimat demi kalimat yang didengarnya dari mulut Tuti, bagaikan cambuk yang melesat ke tubuhnya dan menorehkan luka memar di mana-mana.


Ia marah. Ia geram. Rahangnya mulai mengeras dan kedua bola matanya sudah memerah.


"Saya sudah lama ingin melaporkan perbuatan Nyonya Hima kepada Tuan, tapi beliau selalu mengawasi dan mengancam akan membunuh Non Chia jika saya berani buka mulut, hiks ... hiks." Tuti terus berucap, walaupun terdengar parau karena bercampur tangisan.


Erianiza lantas mengelus punggung wanita itu.


Sementara Arun hanya menunduk. Tentu saja, ia menyesali keterlanjurannya, yang sudah terlalu cepat mengambil keputusan. Jika saja waktu yang telah lalu bisa diputar kembali, Arun lebih memilih untuk tidak memberhentikan Tuti dari pekerjaannya. Karena jika Tuti tetap bersama putrinya, mungkin ia tidak akan kehilangan Chia. Namun, nasi sudah dimakan ayam, tidak mungkin pria itu akan memintanya kembali.


"Sebaiknya, Anda tetap bersikap seperti biasa saja pada istri Anda, Pak. Dengan begitu, dia tidak akan curiga jika Anda sudah mengetahui rahasianya selama ini," tutur Tegar seraya menepuk pundak Arun yang tampak masih tertunduk.


Air matanya sudah luruh. Arun benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya ia tertipu dengan sikap lembut Hima selama ini. Wanita yang benar-benar dicintainya dengan tulus. Namun, ternyata wanita itu tidak mencintai putrinya. Seketika Arun merasa menjadi ayah tidak berguna.


"Aku harus menyusulnya ke butik." Ayah kandung dari Rachia Arunika itu refleks berdiri dengan wajah yang sudah memerah.


Tegar ikut berdiri, begitu juga dengan Erianiza dan Tuti. Mereka mendadak panik karena melihat respon Arun yang terlampau emosi.


"Tenangkan dirimu, Pak. Jika Anda gegabah dalam melangkah, maka Anda akan kembali kehilangan kesempatan untuk meringkus pelaku pembunuhan putri Anda."


Mendengar ucapan Tegar, Arun kembali terduduk lesu. Benar kata perwira muda itu, jika ia melabrak Hima sekarang tanpa bukti yang kuat, sama saja omong kosong. Hukum punya jalannya tersendiri. Arun harus bersabar agar semua prosedur dalam memperjuangkan keadilan untuk putrinya bisa terlaksana dengan baik sebagaimana mestinya.


Berkat saran dari Tegar, Arun kini tetap mempertahankan sikapnya agar Hima tidak menyadari bahwa ia sudah mengetahui semua perlakuan busuknya.


***


"Terima kasih karena sudah mengantarku," ucap Erianiza ketika mobil Tegar telah tiba di depan gerbang rumahnya.

__ADS_1


"Sama-sama. Aku pamit," ucap Tegar seraya melirik Eri dari kaca spion yang ada di depannya.


Erianiza mengangguk, lalu keluar dari mobil. Setelah Eri menutup kembali pintunya, Tegar langsung melajukan mobilnya kembali menuju apartemen Prima. Kali ini ia harus mengantar Tuti.


Sesuai permintaan dari Arun, wanita itu tetap berada di kota saja sampai kasus pembunuhan Chia terungkap. Karena jika Tuti dikembalikan ke kampung, Arun khawatir sewaktu-waktu Hima akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Berhubung dalang dari penculikan Tuti juga belum ditemukan.


Satu jam kemudian.


"Silakan masuk!" Tegar mengarahkan tangannya ke depan, isyarat agar Tuti memasuki unit apartemen itu terlebih dahulu.


Tuti menundukkan sedikit tubuhnya saat melewati Tegar. Bahasa tubuh di mana ia sangat menghormati pemuda itu.


"Di sini kau aman. Ini apartemen baru yang letaknya jauh dari keramaian. Sengaja dibangun untuk orang-orang yang ingin menenangkan diri setelah penat bekerja seharian." Tegar sontak membuka pintu kamar tamu.


"Kau bisa tidur di kamar ini selama tinggal di sini. Tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri."


Tuti mengangguk.


Tegar lalu berjalan ke arah dapur, membawa beberapa kantong belanja. Sebelum tiba di apartemen, pemuda itu menyempatkan diri untuk berbelanja beberapa bahan makanan dan barang-barang lain yang Tuti butuhkan. Diletakkannya beberapa kantong belanja itu di atas meja makan.


"Ini untukmu." Tegar mengulurkan satu paper bag yang ukurannya cukup besar ke arah Tuti, yang memang sedari tadi tidak berhenti mengekori langkahnya.


"Apa ini, Pak?" Tuti tampak sungkan untuk menerimanya.


"Pakaian ganti. Ini apartemen laki-laki, jadi kurasa tidak akan ada pakaian yang cocok untuk kau kenakan," ucap pemuda itu.


Dengan ragu, Tuti menerima paper bag tersebut.


"Jangan pernah membuka pintu, jika bukan aku atau Eri yang datang!"


Tuti kembali mengangguk.


"Aku harus pulang," ucap Tegar seraya memutar tumit.


"Te-terima kasih banyak, Pak."


Ucapan Tuti sukses mengurungkan langkah Tegar yang hendak meninggalkannya. Pemuda itu kembali merotasikan tubuh menghadap Tuti.


"Aku hanya melakukan tugasku. Jadi, kau tidak perlu merasa terbebani dengan semua ini. Jaga dirimu!"


Tegar tersenyum tipis sebelum benar-benar melangkah keluar apartemen.

__ADS_1


__ADS_2