Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Bertemu Arun


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian, mobil Tegar terparkir sempurna di gerbang taman bermain.


"Kalian tunggu di sini sebentar," ucap pria itu pada Eri dan Tuti yang duduk di kursi belakang. Sedangkan ia langsung keluar dari mobil untuk menemui seseorang yang sudah duduk di kursi kayu milik tukang rujak buah.


"Pak," sapa Joni dengan senyuman ramah. Tentu saja, tukang rujak buah itu sudah sangat mengenal Tegar, walaupun ia hanya mengenakan baju preman. Sebab, perwira muda itu sangat sering singgah di lapaknya.


Tegar balas tersenyum, lalu menghampiri Prima yang sudah lebih dulu tiba di sana.


"Kau ini aneh, Gar. Minta ketemuan malah di taman bermain," ejek Prima seraya mengunyah satu persatu potongan buah yang sudah dilumuri bumbu kacang.


"Aku butuh bantuanmu," tutur Tegar tanpa memedulikan kalimat ejekan Prima. Tentu saja, pria itu mempunyai alasan tersendiri kenapa meminta Prima menemuinya di tempat tersebut.


Perwira muda yang tak kalah tampannya dari Tegar itu menghentikan kunyahan, lalu menatap temannya yang kini duduk berhadapan.


"Ada apa? Apa ini ada kaitannya dengan masalah di pusat perbelanjaan tadi?" Prima mulai menebak. Raut wajah Tegar sangat mudah untuk dibaca.


"Ya." Tegar mengangguk. "Aku ingin meminjam apartemenmu untuk beberapa hari," lanjutnya seraya menatap Prima dengan tatapan memohon.


"Seh, anak gadis siapa yang kau gondol?" Prima malah berkelakar.


Tegar geleng-geleng kepala, seraya membuang pandangan ke arah mobilnya.


"Dia di dalam mobilmu?" terka Prima sebelum Tegar sempat mengatakan sesuatu. Ia kembali menikmati rujak buahnya.


Sedangkan Tegar hanya mengangguk sebagai tanggapan.


"Gar, aku bukannya ingin mencampuri urusanmu, tapi sebaiknya kau nika--"


"Apa?" sambar Tegar sebelum Prima menyelesaikan kalimatnya. "Aku baru saja menemukan seorang saksi baru, dan sepertinya apartemenmu lebih aman ketimbang milikku, karena kau tahu sendiri, bukan? Apartemenku terletak di pertengahan kota. Terlalu padat, sehingga kupikir kurang aman untuknya," jelas Tegar panjang lebar.


Prima menepuk keningnya, karena sudah salah paham.


"Bukankah kasusnya sudah ditutup?" Prima tampak keheranan. Pasalnya, ia sudah tahu tentang pencabutan laporan yang dilakukan oleh Arun.


"Ya, tapi aku harus tetap melanjutkan penyelidikan ini demi ...." Tegar tak bisa melanjutkan kalimatnya. Tidak mungkin ia akan mengatakan pada Prima, jika semua ini ia lakukan demi istri orang.


"Oke, oke. Kau pakai saja." Prima merogoh sesuatu dari saku dalam jaket, lalu meletakkan sebuah kartu di atas meja yang merupakan kunci apartemennya. Ia memilih untuk tidak menanyakan secara detil alasan apa di balik niat temannya itu. Namun, ia yakin Tegar mempunyai niat yang baik.


Tegar langsung menerima kunci tersebut, lalu menyelipkannya ke dalam saku jaketnya.


"Aku tinggal dulu," pamit Tegar karena tak ingin membuat Eri dan Tuti menunggu lama.


"Hem, selamat bersenang-senang," kelakar Prima yang membuat Tegar kembali geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Langkah Tegar terayun menuju mobil, namun sebuah mobil lain tampak baru saja terparkir di sebelah mobilnya. Mobil berwarna abu-abu tua. Tegar merasa seperti pernah melihat mobil tersebut.


Sepersekian detik kemudian, terlihat Arun Permana keluar dari kendaraan roda empat itu.


"Pak Arun!" seru Tegar.


Arun langsung menoleh ke arah sumber suara.


Tuti yang berada di dalam mobil pun tampak melengak setelah melihat Arun keluar dari mobilnya.


"Itu Tuan Arun!" seru Tuti pula seraya menunjuk ke luar jendela mobil.


Erianiza yang saat itu sedang memainkan ponsel, sontak menghentikan gawainya dan ikut melihat ke luar jendela.


"Kau yakin, Mbak?" tanyanya pada Tuti.


"Iya, itu Tuan Arun, Bu. Ayahnya Chia." Tuti mengangguk berkali-kali.


"Oke, ayo kita keluar." Erianiza membuka pintu mobil.


Begitu juga dengan Tuti. Keduanya kompak keluar dari kendaraan.


Tegar yang sedang berbicara dengan Arun langsung tersentak, melihat dua wanita itu keluar dari mobil.


"Tuan!" Tuti langsung menyapa mantan majikannya itu.


"Tuti?"


Arun baru saja tiba dari desa di mana Tuti tinggal. Tentu saja, wajahnya berbinar cerah ketika melihat orang yang sedang ia cari tiba-tiba berada di dekatnya.


Ya, setelah mendengarkan keterangan dari kedua orang tua Tuti, Arun langsung kembali ke kota. Ia pun mulai berpikir bahwa ada yang tidak beres dari menghilangnya sosok Tuti.


"Aku baru saja pulang dari rumah kedua orang tuamu," tutur Arun yang membuat Tuti ternganga mendengarnya.


"Untuk apa Tuan pergi ke sana?" tanya wanita itu.


"Untuk menemuimu," jawab Arun. Kedua mata pria itu tampak menyipit karena teriknya panas matahari. "Sebaiknya kita duduk di sana saja, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan." Arun menunjuk pangkalan tukang rujak buah. Di sana tampak sangat teduh, karena dinaungi oleh pohon ketapang.


Tuti menoleh pada Erianiza dengan maksud meminta izin untuk berbicara dengan Arun.


Eri yang mengerti maksud dari tatapan Tuti pun sontak mengangguk.


Tak hanya pada Erianiza, Tuti juga melempar tatapan yang sama pada Tegar. Pria itu pun mengangguk.

__ADS_1


Sementara Arun baru menyadari bahwa ada sesuatu yang harus dia ketahui di balik kenalnya Tuti dengan kedua orang asing tersebut. Maksudnya orang asing bagi Tuti, sebab selama bekerja dengannya Tuti tidak mengenal siapa pun yang tidak berkaitan langsung dengannya atau pun Hima.


"Pak, Anda dan Tuti?" Arun langsung ingin mengobati rasa penasarannya, ia bertanya pada Tegar.


"Nanti akan saya ceritakan, mari!" Tegar mengarahkan ibu jarinya ke arah tukang rujak buah, lalu Arun pun melangkah lebih dulu ke sana.


Prima yang baru saja menandaskan rujak buahnya, kini tampak terperangah ketika melihat Tegar kembali ke arahnya bersama beberapa orang.


Ia bangkit dari posisinya, tentu saja untuk memberi ruang kepada orang-orang itu untuk duduk, karena memang tidak banyak kursi yang tersedia.


"Langsung pulang?" tanya Tegar pada temannya itu.


"Tidak, aku harus menjemput Clemira dulu di kliniknya," jawab Prima seraya menepuk pundak Tegar.


Erianiza yang mendengar nama Clemira, tentu saja sangat familiar di telinganya.


"Anda mengenal Nona Clemira?" tanya Eri langsung pada Prima.


Lelaki itu mengalihkan tatapannya pada wanita yang menyebut nama calon istrinya itu, lalu menganggukkan kepala.


"Dunia begitu sempit ya," komentar Eri seraya tersenyum tipis.


"Anda pasiennya?" tebak Prima seraya menatap intens pada mantan kekasih Tegar itu.


Tegar melirik ke arah Eri yang kala itu tampak mengangguk ragu. Jelas sekali terlukis di wajahnya bahwa wanita itu tak menyukai status PASIEN yang disematkan oleh Prima. Namun, mau bagaimana lagi, memang itulah kenyataannya.


Prima mengangguk tipis, seraya pamit pada semuanya.


Sepeninggalan Prima, Tegar meminta Erianiza untuk duduk di sampingnya, lalu mereka berempat memesan rujak buah pada Joni.


Tak berapa lama, pesanan mereka sudah terhidang di atas meja.


"Bagaimana kalian bisa saling kenal?" Arun tentu saja tidak ingin menunda waktu lagi. Ia harus mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang tercetak di benaknya sedari tadi.


Erianiza dan Tuti kompak menatap ke arah Tegar. Bahasa isyarat di mana keduanya meminta pria itu untuk mengambil peran untuk menjawab.


Tegar lantas menceritakan semuanya pada Arun tanpa dikurangi atau pun ditambah.


Ayah dari almarhumah Chia itu tampak mengerutkan keningnya dalam seraya menatap Tuti dengan segenap perasaan iba. Namun, di dalam hatinya ia juga bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan Tuti dengan orang-orang baik seperti Tegar dan Eri.


"Lantas, apa yang membuat Tuan pergi ke desa untuk menemui saya?" Sekarang giliran Tuti yang bertanya.


Arun menghela napas kasar, sebelum menanggapi. Sebenarnya, ia ragu untuk menanyakan perihal rahasia yang berada di dalam rumahnya di depan Eri dan Tegar, namun semua sudah kepalang tanggung. Apalagi, setelah mendengar cerita Tegar tadi bahwa keduanya sudah mengetahui perihal kematian putrinya.

__ADS_1


"Apa selama ini ... ada sesuatu yang tidak kuketahui tentang istriku?"


GLEK


__ADS_2