Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Fakta Sebenarnya


__ADS_3

"Eri tidak gila," potong Argan sebelum Tegar menyelesaikan kalimatnya. "Aku hanya berusaha menciptakan dunia baru untuknya agar kejiwaannya tetap baik-baik saja," lanjut lelaki itu dengan ekspresi wajah sulit terbaca.


DEG


Apalagi ini? Sumpah, Tegar semakin dibuat tidak mengerti.


"Aku sangat mencintai istriku, dan aku tidak ingin kehilangannya," ucap Argan dengan nada mantap.


Tegar tampak membuang muka dengan ekspresi wajah kikuk. Apa pria di hadapannya ini sengaja ingin memanas-manasinya? Ia yakin sekali, Argan sudah mengetahui tentang hubungannya dan Eri di masa lampau.


"Kami sudah delapan tahun menikah. Di tahun pertama istriku melahirkan seorang putri. Dia menamainya Fabia." Argan memulai kisahnya.


Tegar mengerjap, lalu kembali fokus pada cerita Argan.


"Beberapa Minggu lalu Fabia diculik, dan Eri sangat terpukul akan hal itu. Ia sering histeris. Dan dokter mengatakan bahwa jika ia selalu mengingat tentang anaknya, maka--" Suara Argan tercekat. Wajahnya mendadak kalut dan Tegar bisa melihat itu semua dengan sangat jelas.


"Aku tidak mau kehilangan istriku. Makanya, aku melakukan semua ini."


Tegar tak sepenuhnya mengerti, namun kalimat demi kalimat susulan yang keluar dari bibir Argan semakin membuat perwira muda itu menyesali keterlanjurannya untuk sesaat.


Setelah penculikan terjadi, Eri mengalami koma beberapa hari. Hal itu disebabkan oleh luka di bagian kepalanya akibat pukulan dahsyat dari rekan penculik Fabia. Kondisinya pernah kritis dan hal itu yang membuat Argan tidak ingin, jika Eri kembali dalam kondisi yang sama.


"Dokter menyarankan agar aku membawa Eri pergi jauh dari sini, agar semua kenangan tentang Fabia terhapuskan," lanjut Argan seraya memegangi keningnya.


Tegar yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama, kini mulai mengeluarkan suara. "Kenapa kau tidak mencari keberadaan anak kalian?"


Benar, bukankah sebaiknya seperti itu?


"Sudah kulakukan dan hasilnya nihil." Argan mengembuskan napasnya kasar. "Itulah sebabnya aku memilih jalan ini, membuat drama seolah-olah Eri tidak pernah melahirkan anak." Kalimat Argan sukses membuat Tegar menegakkan posisi duduknya.


Ia kembali mengingat pertemuannya dengan pria dewasa yang merupakan tetangga Erianiza dan Argan kemarin.


"Jadi, semua tetangga--"


"Ya, aku yang meminta mereka untuk mengatakan itu pada siapa pun."


Tegar menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa. Kepalanya mendongak ke arah langit-langit.


Ia kembali merutuki diri karena sempat berpikiran yang tidak-tidak tentang Eri.


Bersamaan dengan hal itu, Argan bangkit dari posisinya, ia berjalan menuju kulkas dan mengambil batu es. Setelah mendengarkan semua fakta itu, sepertinya Tegar butuh minuman dingin untuk menyegarkan pikiran.


"Aku harus memberitahumu tentang semua ini, karena kau adalah temannya Eri." Argan memasukkan satu per satu batu es ke dalam gelas sloki, lalu menuangkan jus jeruk ke dalamnya.


"Sepertinya kau tidak menyukai alkohol, Pak Perwira." Disodorkannya gelas itu pada Tegar.


Namun, pria itu masih bergeming di posisinya.


"Jika kau ingin meneruskan pencarian terhadap Fabia, maka aku tidak akan melarangmu. Tapi, tolong temui Eri dan berikan pengertian padanya." Ucapan Argan berhasil menarik tubuh Tegar untuk duduk tegak.

__ADS_1


Mantan kekasih Erianiza itu menyambut gelas sloki dari tangan Argan, lalu menenggak isinya sebagian.


Tegar berpangku siku pada kedua lututnya sambil menimang-nimang gelas sloki itu. Tatapannya lurus ke arah Argan.


"Aku tidak butuh izin darimu untuk melanjutkan tugasku, Argan." Manik mata Tegar tampak sangat tajam, berbanding terbalik dengan milik Argan.


"Namun, aku tidak akan menemui Eri sebelum aku bisa menemukan Fabia." Diletakkannya gelas sloki itu pada meja, lalu pamit undur diri.


***


Setelah menemui Argan, Tegar memutuskan untuk kembali ke kantor, karena Arun sudah menunggu di ruangannya sejak lima belas menit yang lalu.


"Maaf, sudah membuat Anda lama menunggu." Tegar menjabat tangan tamunya, lalu mempersilakan Arun untuk duduk kembali.


"Tidak masalah, Pak." Pria itu tersenyum maklum.


"Pak Arun, untuk kasus kemati--"


"Pak, aku kemari bukan untuk menanyakan perkembangan penyelidikan kasus kematian putriku, tapi ...." Arun tampak ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


Tegar masih menunggu lanjutan dialog dari lawan bicaranya itu.


"Kami sudah memutuskan untuk mencabut laporan itu," lanjut Arun kemudian. Embusan napas berat keluar dari hidungnya.


Tegar tampak terperangah. Ada rasa ingin menyanggah, namun keputusan untuk mencabut laporan adalah hak dari setiap pelapor. Entah, atas alasan apa Arun melakukan hal tersebut? Tegar pun tidak tahu. Jika memang perlu disampaikan, pastilah Arun tidak akan diam seribu bahasa setelah mengatakan hal itu.


Sebagai penegak hukum, Tegar sudah berusaha semaksimal mungkin, namun jika akhirnya kasus kematian bocah itu harus ditutup karena kedua orang tuanya ingin menempuh cara damai, maka Tegar pun tak bisa menahannya.


Tegar langsung menjabat tangan Arun ketika pria itu mengulurkan tangan untuk berpamitan.


Tidak ada sedikit pun rasa ingin menahan pria itu, dan menanyakan apa alasan sebenarnya di balik pencabutan laporan atas kasus kematian putrinya. Mungkin karena pikiran Tegar sedang kalut akan permasalahan tentang Erianiza. Sehingga kepekaannya akan sesuatu tak lagi berlaku. Fokusnya hanya satu, menemukan Fabia secepatnya.


***


Seperti biasa, setiap sore menyapa, Erianiza akan kembali mengunjungi taman bermain. Tentu saja, tanpa sepengetahuan suaminya. Bersamaan dengan hal itu, Tegar juga baru saja menghentikan mobilnya di pinggiran taman yang sama.


Keduanya sama-sama belum menyadari kehadiran masing-masing. Tanpa tahu bahwa takdir kembali ingin mempertemukan mereka, Eri duduk di ayunan favoritnya.


"Tante!"


Eri tak lagi terkejut dengan kedatangan teman barunya itu. Gadis kecil berwajah bulat dan berambut kribo.


"Hei!" Erianiza menyapa balik.


Gadis yang mengaku bernama Rara itu tersenyum ke arah Eri.


"Hari ini Tante tidak menangis, apa anak Tante sudah ditemukan?" tanya Rara dengan wajah penasaran.


Dari sekian pertemuannya dengan Erianiza, baru kali ini wanita itu tidak berlinang air mata.

__ADS_1


"Belum, Sayang. Tante masih berusaha," ucap Eri seraya menggerakkan ayunannya. Begitu pula dengan Rara.


Bocah itu tampak terdiam sesaat, lalu kembali menatap Erianiza.


"Tante, suatu saat aku pasti bisa menolongmu untuk menemukan putrimu. Setelah sakitku sembuh." Rara tampak memegangi perutnya. Dengan wajah penuh keyakinan bocah itu seperti sedang menyemangati Eri.


"Terima kasih, Rara. Kamu memang anak yang baik." Eri tersenyum pada bocah imut itu.


"Tapi, apakah sebelum itu Tante bisa membantuku?" Rara memandang Eri dengan tatapan memohon.


"Kalau Tante bisa melakukannya, Tante pasti akan membantumu. Apa itu, Sayang?" Eri tampak antusias untuk mendengarkan.


"Tante, pengasuhku sudah sepekan ini tidak pernah datang ke rumah. Mama bilang, Mbak Tuti sudah pulang kampung. Tapi, Rara kangen sama Mbak Tuti," ungkap bocah itu dengan wajah sendu.


Membuat Eri tidak tahan untuk menyentuh pipi gembulnya.


DEG


Cuacanya tidak mendung, anginnya juga tidak kencang, tapi kenapa kulitnya masih terasa dingin?"


Eri membatin sendiri. Pasalnya ini bukan pertama kalinya ia merasakan suhu dingin pada tubuh Rara.


"Tante, bisakah Tante menemui Mbak Tuti dan katakan padanya kalau Rara tidak mau punya pengasuh baru," lanjut anak itu dengan sedikit merengek.


Hal itu membuat Eri tidak tega. Ia turun dari ayunan, lalu berjongkok di depan ayunan Rara.


"Akan Tante coba ya, Sayang. Sekarang kita main, yuk!"


Suasana hati Rara seketika berubah. Mendung di wajahnya mendadak hilang tergantikan oleh binar keceriaan.


Di luar taman.


Tegar tampak duduk di kursi kayu tepat di bawah pohon ketapang yang ukurannya tidak terlalu tinggi. Sambil menikmati rujak buah pesanannya, pandangan pria itu sesekali menyisir sekitar.


"Bang, sudah lama jualan di sini?" Tegar mulai bertanya pada penjual rujak buah.


"Sejak lima tahun terakhir, Pak." Tukang rujak menjawab dengan cengiran.


Tegar langsung manggut-manggut.


"Mulai jam berapa sampai jam berapa?" Tegar bertanya lagi.


"Dari jam dua belas siang sampai jam enam sore, Pak. Ada apa ya, Pak?" Akhirnya si penjual rujak tak tahan juga untuk tidak bertanya balik. Pastilah ada alasan di balik semua pertanyaan Tegar.


Perwira muda itu langsung menghentikan kunyahan. "Sekitar dua pekan lalu, ada kasus penculikan di taman ini. Apa Anda berada di sini ketika peristiwa itu terjadi?" Tegar langsung mengatakan alasan di balik semua pertanyaannya.


DEG


Penjual rujak itu tampak tertegun sesaat, lalu mengerjap kembali saat suara Tegar menyadarkannya.

__ADS_1


"Tidak, Pak. Saya sedang tidak berjualan pada hari itu." Tukang rujak itu mendadak merasa gugup.


__ADS_2