
Cahaya matahari semakin terik. Joni baru akan berangkat menuju tempatnya mangkal. Walaupun, hanya menjadi tukang rujak buah, namun hasilnya lumayan. Cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan kedua anaknya di kampung halaman.
Joni memang berasal dari desa terpencil. Selama dua tahun terakhir, dia nekad bertaruh takdir di kota demi kehidupan yang lebih baik. Walaupun, penghasilannya tidak sebesar para pelaku perusahaan, namun sedikit atau banyaknya rezeki yg didapat tergantung dari rasa syukur orang yang menerima.
Motor dengan gerobak dagang yang duduk anteng di jok belakang, kini mulai meninggalkan rumah kontrakan yang ia sewa. Sambil bersiul, hatinya terus merapalkan harap; semoga hasil hari ini lebih banyak dari sebelum-sebelumnya.
Tak berapa lama, ia memarkirkan motornya di samping pagar taman bermain. Tepat di bawah pohon ketapang, Joni menyusun kembali kursi-kursi panjang yang terbuat dari kayu yang memang tidak dibawa pulang. Hanya ditumpuk saling menindih satu sama lain jika ia selesai berdagang.
Saat ia masih fokus dengan pekerjaannya, sebuah mobil tampak mendekat, lalu berhenti di depan motor lelaki itu.
Joni melengak seraya menegakkan tubuhnya untuk berdiri.
Kaca samping kemudi perlahan diturunkan, tampaklah seorang anggota kepolisian dengan baju dinas lengkap tersenyum padanya.
"Pak Tegar!" sapa Joni yang sudah hapal betul identitas dari pelanggannya itu.
Tegar tersenyum seraya mengangguk tipis.
"Bungkus rujak buah sepuluh, Bang." Tegar berucap seraya mengulurkan uang merah sebanyak dua lembar.
Joni mendekati mobil perwira muda itu, lalu menerima uluran tangannya.
"Ini kebanyakan, Pak." Dikembalikannya lagi satu lembar uang merah itu pada Tegar.
Tegar menyimpul senyum, lalu dengan sopan mendorong tangan Joni.
"Tidak usah dikembalikan," tutur Tegar.
Joni tampak semringah. Lalu, mengucapkan terima kasih banyak. Ia pun lekas berjalan menuju motornya untuk menyiapkan pesanan Tegar.
Sambil menunggu pesanannya selesai, Tegar bersandar pad kursi kemudi seraya memainkan ponsel.
Dari kejauhan, tampak dua orang berbadan besar dan berwajah sangar tengah memerhatikan gerak-gerik Joni. Sepuntung rokok yang sudah sisa gabusnya itu dibuangnya seraya mengembuskan asap benda berbahaya itu dari sela-sela bibirnya.
"Sepertinya kita harus bergerak cepat," ucap salah satunya.
Lelaki yang tadi membuang puntung rokok itu masih mengekori pergerakan Joni lewat tatapan tajamnya.
"Kau benar," responnya.
Setelah memastikan bahwa mobil Tegar sudah enyah dari sana, mereka berdua lekas mengayun langkah seribu menuju lapak Joni.
Joni yang masih fokus menutup toples sambal kacang, tak sempat menyiapkan ancang-ancang untuk menghindar ketika tangan kokoh salah satu lelaki itu menarik kerah kemeja yang ia kenakan.
"Kau berani bersahabat dengan aparat, hah?" sentak lelaki itu seraya menarik tubuh Joni semakin tinggi.
__ADS_1
Tukang rujak itu bergidik seraya memasang wajah terkejut setengah mati. Ia tampak tergagap dan bingung harus berbuat apa. Padahal ia sudah menepati janji untuk menutup mulut rapat-rapat tentang kejadian penculikan yang terjadi di taman itu. Namun, kenapa orang-orang tersebut selalu saja mengancamnya?
"Be-beliau hanya pelangganku, a-apa yang salah dari melayani pembeli?" ucap Joni tergagap.
Tentu saja, Joni tidak mengerti dengan kemauan orang-orang jahat itu. Kedua tangannya bergerak cepat, menuntut kebebasan. Namun, susah payah ia berusaha untuk melepaskan diri. Kekuatan lelaki sangar itu jauh lebih besar dari yang ia kira.
"Tentu saja salah!" sentak lelaki yang satunya. "Karena dia menginginkan sesuatu darimu, Dasar Bodoh!" lanjut lelaki itu lagi.
Joni berkerut dahi, dia memang tidak paham dengan ucapan lelaki itu.
BRAAAK
Tubuh Joni dihempaskan ke tanah. Dua lelaki itu kini saling pandang, membuat Joni kalang kabut. Ingin rasanya melarikan diri, namun kedua orang itu sudah mengepung tubuhnya.
"Ikut kami!"
Keduanya menarik tubuh Joni secara serentak, lalu membawanya pergi dari sana.
***
"Sayang, aku pergi dulu, ya."
Hima baru saja turun dari lantai dua ketika Arun sedang menonton televisi.
Ini hari libur. Tentu saja, pria itu akan berada di rumah sepanjang hari.
Hima berkerut kening melihat respon cuek sang suami. Biasanya, Arun akan menghadangnya. Atau paling tidak merentangkan kedua tangan agar Hima masuk ke dalam pelukannya sebelum benar-benar berangkat. Semalam, ia sudah pamit pada Arun untuk pergi ke butik pagi-pagi.
Namun, sebenarnya ia tidak benar-benar ingin ke butik. Ada urusan lain yang membuatnya harus pergi di akhir pekan.
"Sayang?" Hima masih berdiri di posisinya, menunggu respon Arun yang harusnya bergelimang cinta untuknya.
"Oh, ya, hati-hati."
Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Arun. Ia benar-benar malas untuk meladeni Hima. Berpura-pura seolah semuanya dalam keadaan baik-baik saja, ternyata tak semudah yang ia bayangkan.
Arun harus memendam kegetiran demi sebuah kebenaran dan keadilan atas kematian putrinya. Ingin rasanya ia menyeret perempuan itu ke gudang di mana jasad Chia ditemukan dan melakukan tindakan sama seperti yang mungkin sudah dilakukan Hima pada bocah malang itu. Namun, Arun belum punya cukup bukti untuk melakukan hal tersebut. Lagi pula, ia bukanlah sosok kejam yang mau berbuat hal yang tak berperikemanusiaan. Biarlah, hukum yang bertindak.
"Kau tidak ingin memelukku terlebih dahulu?" Dengan nada sok manja, Hima mencebikkan bibirnya.
Arun terdengar menghela napas dalam.
Benar-benar!
"Sini!"
__ADS_1
Pria itu lantas merentangkan kedua tangannya seraya mengulas senyuman tipis yang memang dipaksakan.
Hima langsung terlihat semringah. Ia berlari ke arah sang suami, lalu menubrukkan tubuhnya di dada bidang pria itu. Menenggelamkan kepalanya dalam posisi ternyaman.
Setelah adegan sayang-sayangan berakhir, kini Hima melambaikan tangannya setelah tubuhnya sudah melewati ambang pintu.
Arun masih duduk nyaman di sofa depan televisi. Ekor matanya bergerak ke luar seolah memastikan bahwa mobil Hima sudah benar-benar hengkang dari halaman rumah.
Seusai memastikan hal tersebut, Arun langsung meraih kontak mobilnya. Hendak kemanakah ia? Tentu saja, mau membuntuti Hima. Hati kecilnya mengatakan bahwa ia harus melakukan hal tersebut.
Selang beberapa menit dari keberangkatan Hima, Arun lantas memacu kendaraannya. Kali ini, ia memilih untuk menggunakan motor ninja yang sudah lama terparkir di dalam garasi. Kendaraan roda dua itu akan lebih mempermudahnya untuk menyalip dan menyelip. Begitu pikirnya.
DREEEN
Mobil Hima berhenti di perempatan lampu merah. Wanita itu sesekali melihat ke kiri dan kanan untuk memastikan situasi. Entah, situasi apa.
Semetara Arun menjaga jarak sekitar sepuluh meter dari mobil sang istri. Ia memang menggunakan pelindung kepala lengkap dengan kaca penutup wajah. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa Hima akan mengenali kendaraan dan postur tubuhnya.
Setelah lampu berubah hijau, mobil Hima langsung berbelok ke kanan.
Hal itu membuat Arun mengerutkan keningnya saat menyadari bahwa kendaraan sang istri tidak melewati rute menuju butik.
"Sepertinya firasatku tidak meleset," gumam Arun pada dirinya sendiri.
Ia mulai melajukan kembali motornya, membuntuti arah mobil Hima yang kini sudah memasuki kawasan sepi pengendara.
Beberapa menit melajukan kendaraan masing-masing, tiba-tiba Hima tampak membelokkan kendaraannya ke arah kiri. Memasuki gang kecil, di mana Arun tidak begitu mengetahui area apa yang sedang dituju oleh istrinya.
Tanpa ingin banyak berspekulasi, Arun langsung mengikuti tujuan Hima. Dengan masih menjaga jarak, ia memacu kendaraannya dengan perlahan.
Sesampainya di sebuah dermaga, Hima menghentikan mobilnya.
Begitu juga dengan Arun. Jauh dari posisi sang istri, ia sudah mematikan mesin motornya. Menajamkan pandangan setajam-tajamnya dari balik kaca helm. Ia terus mengawasi pergerakan wanita itu, yang kini sudah keluar dari mobil.
"Ampun, lepaskan saya!" erang seorang lelaki yang kepalanya ditutup dengan kain hitam. Kedua tangannya diikat dengan tambang. Sementara kakinya masih dibiarkan bebas agar tetap bisa berjalan.
Sambil diseret oleh dua orang berbadan besar, lelaki itu tetap berusaha berontak, walaupun usahanya terkesan sia-sia.
Dari balik tembok beton seukuran dada orang dewasa, Arun memerhatikan pergerakan orang-orang di dekat dermaga itu.
Di sisi lain, Hima berjalan mendekati orang-orang tersebut. Entah, apa yang sedang mereka bicarakan, Arun tak bisa mendengarnya. Namun, beberapa detik kemudian, seorang pemuda tampan, keluar dari sebuah kapal.
Mengenakan kacamata hitam, celana jeans panjang sobek-sobek dan kaos oblong berwarna biru muda.
"Diego?"
__ADS_1
Arun mengerutkan keningnya dalam tatkala mengenali sosok yang baru saja keluar dari pintu kapal.