
"Tuhaaan!" ucap Eri dengan kedua mata berkaca-kaca.
Tegar menarik kembali ponselnya ketika melihat wanita itu sudah berlinang air mata.
Kedua telapak tangan Eri membekap mulutnya sehingga tangis yang keluar hanya berbentuk isakan pedih.
"Kenapa?" Tegar merasa bingung karena wanita itu tiba-tiba menangis setelah melihat wajah putri Arun yang bernasib malang.
"Dia ... dia adalah bocah yang selalu menemaniku di taman setiap sore," ucap Eri dengan susah payah.
DEG DEG
Baik Tegar mau pun Tuti sama-sama tersentak. Mungkin merasa tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Namun, keduanya sama-sama berpikir bahwa tidak mungkin Eri berkata omong kosong, karena air mata yang keluar dari kedua bola mata beningnya, merupakan sebuah duka mendalam yang tidak bisa dibuat-buat. Dan itu sangat kentara.
"Pantas saja, setiap kupegang tangannya suhu tubuhnya selalu dingin. Dan dia selalu bilang kalau dia sakit di bagian perutnya, Gar." Tangisan Eri semakin pecah.
Mau tidak mau, Tegar meraih tubuh rapuh mantan kekasihnya itu ke dalam pelukan. Berusaha menenangkan wanita itu sebisanya.
"Kau harus menolongnya, Gar. Sepertinya arwahnya belum tenang." Eri terus menangis di dalam pelukan Tegar. Membuat pria itu kewalahan untuk menyikapinya.
Satu sisi Tegar ingin mengiyakan permintaan Eri, namun di sisi lain, kasus tentang kematian Rachia Arunika telah ditutup karena Arun sudah mencabut laporannya.
"Eri ... mengungkap misteri yang tersimpan dalam sebuah kasus adalah tugasku, tapi dalam hal ini, Arun sendiri sudah mencabut laporannya, dan ak--"
"Kita bisa melakukannya bersama-sama, Gar. Tidak peduli dengan hukum yang berlaku. Rara sendiri yang memintaku untuk menolongnya. Dan dia berjanji akan membantuku menemukan keberadaan Fabia," sambar Eri yang membuat Tegar tertegun.
Ternyata apa yang ia lihat di taman bermain tempo hari, sebenarnya adalah pemandangan tak kasat mata. Eri memang tampak tertawa sendiri, namun nyatanya ada arwah anak kecil yang sedang bermain dengannya. Dan itu ... tak bisa dilihat oleh kedua mata Tegar. Termasuk tukang rujak buah yang bernama Joni.
Tegar masih mengelus lembut punggung Eri hingga wanita itu tenang.
Sementara Tuti, ia bingung harus berkata apa. Di dalam hatinya ia percaya penuh dengan apa yang dikatakan oleh Erianiza. Apalagi Tuti merupakan seorang wanita desa dengan kemampuan spiritual yang ia warisi dari almarhumah neneknya. Namun, tak banyak orang yang tahu tentang hal tersebut, karena Tuti tidak pernah mengeksposenya.
Sepengetahuan Tuti, jiwa orang yang sedang tertekan itu akan cenderung membuatnya bisa berbicara dengan arwah yang jiwanya juga sama-sama tidak tenang. Dan itu membuat Tuti yakin, setelah mendengar ucapan Eri tadi, wanita itu sedang mengalami kepelikan hidup yang nantinya akan ia tanyakan langsung.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Tegar kemudian.
"Jangan!" Eri menarik dirinya dari pria itu seraya menyeka air matanya.
"Argan ada di sini bersamaku. Sebaiknya kau bawa Tuti ke tempat yang aman dulu. Kasihan dia, kita harus mempertemukan Tuti dengan kedua orang tua Rara," lanjut Eri.
__ADS_1
Tuti langsung menyambar perkataan wanita itu.
"Jangan, Bu."
"Kenapa?"
Tegar dan Eri bertanya dengan kompak.
"Ada sebuah rahasia yang perlu kalian ketahui tentang istri Pak Arun," ucap Tuti yang membuat Tegar dan Eri saling pandang. "Aku akan menceritakannya, tapi bukan di sini."
***
Setelah selesai berbelanja, Eri diantar Argan pulang. Hilangnya Eri beberapa menit yang lalu tidak disadari sama sekali oleh sang suami, karena lelaki itu juga sibuk berbincang dengan temannya. Alhasil, tidak ada sesuatu yang mencurigakan bagi Argan.
"Aku ke kantor dulu, ya. Masak yang enak untuk makan malam." Argan pamit setelah mencium kening istrinya.
Sepeninggalan Argan, Eri langsung menghubungi Tegar untuk membawa Tuti ke rumahnya.
Sepuluh menit kemudian, mobil Tegar sudah terparkir di halaman depan.
"Sekarang kau bisa menceritakan semuanya, Mbak." Eri menatap Tuti lekat-lekat ketika wanita itu sudah duduk di ruang tamunya berhadapan dengan Tegar dan Eri.
...FLASHBACK ON...
Hima Anggraini adalah wanita yang dinikahi Arun Permana setelah istri pertamanya--Nur Isna Anugrah--meninggal dunia.
Arun dan Isna dikaruniai seorang putri cantik bernama Rachia Arunika.
Baby Chia ditinggal sang ibu kandung setelah melahirkannya ke dunia. Isna mengalami pendarahan hebat pasca proses persalinan yang membuat ia langsung meregang nyawa.
Tak lama setelah duka itu, Arun berpikir harus mencarikan ibu pengganti untuk putrinya. Maka dari itu, ia langsung menikahi Hima. Wanita yang sudah lama dikenalnya sebelum menikahi Isna.
Anggap saja, Hima adalah cinta pertama Arun. Namun, keduanya harus terpisah karena Arun dipaksa untuk menikahi wanita yang sudah dipilihkan oleh kedua orang tuanya.
Baru-baru menikah, Hima memang tampak lemah lembut dan sok menerima keberadaan Baby Chia. Namun, seiring berjalannya waktu, wanita itu langsung menunjukkan sifat aslinya. Hima sering memarahi dan membentak Baby Chia jika bayi itu tampak rewel.
Tuti yang memang berperan sebagai pengasuh Baby Chia sedari lahir, sangat menyayangi Chia seperti anaknya sendiri. Ia tidak tega melihat perlakuan kasar yang diberikan Hima pada Baby Chia.
"Tidak bisakah kau membuat bayi ini diam?!" bentak Hima pada Tuti yang kala itu tengah menenangkan Baby Chia yang sedang menangis.
"Bu, bayi yang sedang sakit itu memang terkesan rewel," jelas Tuti.
__ADS_1
"Hah, lama-lama bisa pecah gendang telingaku kalau setiap hari harus mendengarkan tangisannya." Hima keluar dari kamar Baby Chia dengan membanting pintu.
BRAAAK
Tuti tersentak. Begitu juga dengan Baby Chia, yang kala itu mengalami demam akibat sedang masa pertumbuhan gigi pertamanya. Bayi itu menangis semakin kencang karena terkejut.
"Sabar ya, Sayang." Tuti mengecup dalam kening Baby Chia seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya dalam gendongan.
Hari berganti, bulan, dan tahun juga bergulir. Kini Chia sudah berumur empat tahun. Balita gembul berambut kribo menggemaskan itu membuat ayahnya selalu tersenyum di kala pulang dari penatnya bekerja.
"Papa pulang!" seru Arun seraya membuka pintu utama kediaman mereka.
Seperti biasa, dari dalam kamarnya, Chia akan berlari terbirit-birit agar bisa langsung menubrukkan tubuh gembulnya ke dalam pelukan sang ayah.
"Papa, papa, Chia ingin jalan-jalan," ucap balita itu dengan aksen yang sudah jelas terdengar.
Arun yang mendengar hal itu, langsung melepaskan pelukannya. Menatap lekat wajah putri semata wayangnya itu, lalu mengelus lembut pipi Chia.
"Chia mau jalan-jalan kemana, Sayang? Nanti kita ajak mama. Eh, kening Chia kenapa, Nak?" Seolah melupakan pertanyaan awalnya, Arun lebih fokus pada luka lebam yang ada di kening putrinya.
"Tadi, Chia terbentur meja pas mau makan, iya kan, Sayang?"
Tiba-tiba Hima datang mendekati ayah dan anak itu dengan wajah semringah.
Arun dan Chia menoleh ke arah sumber suara. Hima ikut berjongkok di dekat suami dan anak tirinya.
"Lain kali, hati-hati ya, Nak." Arun mengelus lembut luka lebam di kening Chia. Balita itu hanya mengangguk ke arah ayahnya.
Arun tak pernah curiga sedikit pun pada Hima, karena di dalam ruang pandangnya, selama ini wanita itu selalu bersikap hangat pada putrinya.
"Tuti!" seru Arun pada pengasuh anaknya.
"Iya, Tuan." Tuti berjalan tergopoh-gopoh ke arah sang majiikan.
"Cepatlah bawa Chia bersiap-siap. Kita akan jalan-jalan!" ucap Arun yang diangguki oleh Tuti.
Sepeninggalan Tuti, Hima langsung berdiri di samping Arun menatap lekat kedua manik mata suaminya dari samping.
"Kita mau kemana, Sayang?" tanya Hima pada Arun.
"Chia paling suka bermain di wahana. Ayo, kita juga siap-siap." Arun memeluk bahu Hima, lalu membawanya masuk ke kamar.
__ADS_1