Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Di luar Dugaan


__ADS_3

Mobil mewah milik Argan tiba di pelataran kediaman orang tua Erianiza. Setelah menggamit buah tangan yang sempat ia beli sebelum tiba di sana, lelaki itu turun dari kendaraannya, lalu bergegas masuk ke dalam.


Eri memang tidak sempat memberikan kabar apa pun padanya setelah panggilan terakhir dimatikan. Wanita itu masih sibuk menenangkan ibu tirinya, tatkala langkah sang suami mendekat ke arah mereka bertiga.


Argan tersenyum ke arah Eri, lalu terlebih dahulu mencium punggung tangan kedua mertuanya, sebelum mendaratkan tubuhnya di sofa ruang keluarga.


Namun, selang beberapa detik kemudian, terdengar suara deru mesin mobil dari luar. Mereka berempat serempak melengak ke depan, memastikan siapa yang datang.


Beberapa menit kemudian.


"Permisi, Tuan, Nyonya." Seorang ART tampak berjalan terpogoh-gopoh ke arah tuan rumah.


"Siapa yang datang, Mbok?" Eri mengambil alih peran.


"Itu, Non. Di depan ada polisi, katanya ingin bertemu dengan Den Argan," ucap ART itu dengan tubuh yang sedikit merunduk.


Erianiza dan Argan sontak saling pandang. Begitu juga dengan kedua orang tuanya.


"Oh, iya. Terima kasih, Mbok."


Eri ikut bangkit, mengekori langkah Argan yang segera menuju pintu depan.


"Selamat sore, Pak." Dua orang pria bertubuh atletis dengan seragam lengkap kepolisian, memberi hormat seraya menatap Argan.


Suami dari Erianiza itu mengangguk tipis dengan ekspresi datar begitu saja.


"Ada apa ini?" Erianiza tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.


"Begini, Bu. Kami ke sini membawa surat perintah penangkapan atas nama Argan Gautama," jawab salah satu anggota kepolisian.


DEG


Erianiza mematung. Kasus apa yang menjerat suaminya hingga harus berhubungan dengan pihak yang berwajib?


Sementara Argan masih bergeming.


Belum sempat Erianiza memberikan tanggapan susulan, anggota kepolisian itu segera menyerahkan surat perintah.


Argan menerimanya, lalu membaca isi surat tersebut.


Erianiza yang penasaran akan alasan atas penangkapan suaminya, kini bergerak mendekati Argan dan ikut membaca surat yang sama.


"Kasus penculikan dan pembunuhan anak?"


Erianiza terpukul mundur. Wajahnya tampak tegang seketika.

__ADS_1


Bagaimana bisa suaminya terlibat kasus kriminal seperti itu? Penculikan siapa? Pembunuhan siapa?


"Ar-Argan!"


Kedua mata Eri mulai berkaca-kaca. Bibirnya tampak bergetar seolah gemuruh hebat yang sedang menghantam dadanya, berembus keluar dan menumbangkan pertahanannya.


Argan tak bisa berkata-kata lagi saat dua anggota kepolisian itu memasangkan borgol pada kedua pergelangan tangannya.


Saat itu juga, kedua orang tua Eri keluar, lalu menatap heran pada menantunya yang mulai diseret menuju mobil tahanan.


"Eri, ada apa ini?" Sang ayah langsung bertanya dengan dahi berkerut-kerut.


Sementara ibu tirinya kembali terpukul melihat kejadian tersebut.


Sangking terkejutnya, Eri sampai tidak bisa menjawab pertanyaan sang ayah. Tatapannya terus mengekori tubuh Argan yang perlahan menghilang ditelan pintu mobil tahanan.


***


Tegar baru saja keluar dari ruang interogasi di saat Argan diseret memasuki ruang tahanan. Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan suami Erianiza itu. Tegar tak mengatakan sepatah kata pun. Tatapan tajamnya saja sudah mewakili apa sebenarnya yang ia rasakan.


Windri yang sudah mendapat informasi atas penangkapan atasannya dari Eri, kini mengekori langkah Argan dengan tergesa. Ponselnya terus menempel di telinga seraya berbicara dengan seseorang di seberang sana.


"Oke, siapkan semua berkasnya!" Windri mengakhiri panggilan ketika Argan sudah tiba di ruang tahanan.


"Tuan!"


"Hubungi pengacaraku!" titah Argan, lalu tubuh lelaki itu melewati pintu jeruji yang baru saja disibak oleh petugas.


Windri hanya mengangguk paham, lalu meminta izin kepada petugas untuk memberinya waktu berbicara dengan Argan barang sebentar. Beruntungnya, petugas itu mau berbelas kasih sehingga memberikan waktu tidak lebih dari sepuluh menit pada mereka.


Keesokan harinya, Tegar sudah tidak sabar lagi untuk mengikuti sesi interogasi. Interogasi terhadap dalang dari dua kasus yang sedang ditanganinya. Penculikan Fabia Ergarda dan Pembunuhan Rachia Arunika.


Argan ... dengan wajah tertunduk, tampak duduk di atas kursi tunggal di mana ada sebuah meja panjang di depannya.


Bersamaan dengan seorang petugas penyidik, Tegar pun memasuki ruangan interogasi.


Argan langsung mendongak ketika mendengar pergerakan. Bibirnya masih terkunci. Hanya kedua netra yang tampak sayu mengamati dua orang petugas kepolisian yang kini mulai duduk berhadapan dengannya.


"Kenapa, Argan?"


Satu pertanyaan dari Tegar sudah cukup membuat Argan memahami situasi. Dia bukanlah seorang aktor terkenal atau pun berbakat. Berbeda dengan Hima, yang lihai sekali dalam berakting dan mengulur waktu.


Argan menegakkan tubuhnya, lalu menautkan kedua tangannya di atas meja. Jari manis dan kelingkingnya menjadi sasaran pandang. Seraya tersenyum hambar, ia mulai menanggapi pertanyaan Tegar.


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan," jawab lelaki itu.

__ADS_1


Tegar menghempas pandangan ke arah lain. Kekesalan di dadanya semakin membuncah setelah melihat ekspresi wajah Argan yang sama sekali tidak merasa berdosa.


"Aku harap kau bisa bekerjasama dalam hal ini. Jika tidak, maka hukumanmu pasti akan lebih berat dari yang seharusnya." Tegar mengatakan kalimat itu setelah mengembuskan napas kasarnya.


Argan terkekeh kecil. "Kalau aku takut akan sebuah hukuman, maka aku tak akan pernah melakukan hal itu, Komandan." Jawaban yang suami Erianiza itu berikan, sukses membuat Tegar dan rekannya saling pandang.


"Lalu di mana kau sembunyikan putrimu?" tanya Tegar lagi.


Argan kembali terkekeh kecil.


"Siapa bilang dia putriku?"


Tegar dan rekannya kembali bertukar pandang. Mereka dibuat semakin tidak mengerti dengan pernyataan Argan.


"Dia memang lahir dari rahim Eri, tetapi bukan putriku." Dengan tatapan sengit Argan menatap ke arah Tegar.


Akhirnya perwira muda itu bisa memahami kemana arah pembicaraan Argan. Namun, sebaik mungkin ia menutupi keterkejutannya karena ada orang lain di dalam ruangan tersebut.


"Kau tunggulah di luar!" bisik Tegar pada anggotanya.


Pria bersetelan preman itu mengangguk paham, kemudian keluar dari ruangan.


"Apa sekarang kau sudah mengerti, Komandan?" Argan bertanya dengan seringai yang terkesan mengejek setelah anggota penyidik itu tak lagi bersama mereka.


Tegar tersentak luar biasa. Berkali-kali ia menghela napas panjang sebelum memberikan tanggapan. Memorinya kembali diseret pada kejadian delapan tahun silam. Di mana dirinya dan Erianiza pernah menghabiskan malam bersama. Tegar tidak menyangka, jika kekhilafannya berbuah manis.


Delapan tahun yang lalu, Eri menemui Tegar untuk memberitahukan rencana perjodohannya dengan Argan. Tentu saja, Tegar merasa terpukul karena hal tersebut, sehingga Eri tidak kuasa meninggalkannya sendirian.


Di saat hati keduanya sedang berselimut mendung, langit pun ikut menangis sejadi-jadinya. Eri tahu betul apa yang mereka lakukan bukanlah sesuatu yang dibenarkan. Namun, rasa cintanya terhadap Tegar sukses mengalahkan logika. Mereka tenggelam bersama di dalam asmaraloka, sehingga Eri hamil dan melahirkan Fabia, tanpa sepengetahuan Tegar.


Akibatnya, Argan harus menelan kepahitan setelah mengetahui wanita yang baru satu bulan dinikahinya itu, ternyata sudah hamil selama dua bulan. Setiap malam Argan uring-uringan. Ia ingin sekali marah kepada Erianiza, namun ia terlalu mencintai wanita itu. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk menurunkan ego serta menerima kenyataan. Namun, lambat laun kehadiran Fabia seolah menjadi dinding penghalang baginya untuk mendapatkan cinta dari Eri, sehingga ia memutuskan untuk bekerjasama dengan Diego untuk menyingkirkan Fabia.


Argan tahu, Diego adalah seorang pecandu obat terlarang. Pastinya, pria itu rela melakukan apa pun demi mencapai kepuasan, walau harus menculik keponakannya sendiri.


"Kau sudah menghancurkan pernikahanku bahkan sebelum hal itu terjadi!" Argan menatap tajam ke arah Tegar.


Sejenak, Tegar tampak memejamkan kedua matanya dalam.


"Apa pun alasannya, hal itu tidak dibenarkan Argan. Kau bahkan sudah melenyapkan satu nyawa yang tidak bersalah, demi perbuatan kotormu itu!" Tegar tak ingin suami Erianiza itu semakin kesetanan hanya karena dendam di masa lampau.


"Hehe, kau hanya berusaha menutupi kesalahanmu!"


"Aku memang salah, tapi bukan berarti kau bisa berbuat semena-mena terhadap Fabia!"


"Hahaha!"

__ADS_1


Argan tergelak hebat. Jiwa seorang ayah mulai terlihat dalam diri Tegar.


"Oh, aku lupa kalau saat ini aku sedang berbicara dengan ayah kandung dari Fabia Ergarda." Argan kembali tertawa hambar. "Aku bahkan baru menyadari jika nama belakang bocah itu adalah akronim dari nama kalian berdua." Argan tampak geram dan meninju udara. "Ergarda ... Erianiza dan Tegar Danuarta."


__ADS_2