Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Menutupi Kedok


__ADS_3

Mobil Argan baru saja tiba di halaman rumah, ketika taksi yang membawa Erianiza tiba di depan gerbang yang sama.


Argan keluar dari mobil, bersamaan dengan Eri yang juga keluar dari taksi.


GREP


Tatapan keduanya bertemu dalam kebekuan. Erianiza tak tahu harus berbuat apa. Pasalnya, ia tidak mengatakan apa pun pada Argan tentang jadwalnya hari ini.


"Dari mana, Sayang?"


Di luar dugaan, Argan tidak terlalu mengintimidasi sang istri. Mungkin karena suasana hatinya yang sedang cerah, jadi hanya senyuman hangat yang terukir di kedua sudut bibirnya.


Awalnya Erianiza merasa gugup setengah mati, karena biasanya Argan akan bertanya dengan ekspresi wajah datar, berkerut kening, atau menajamkan pandangan. Seolah sudah bisa membaca situasi, lelaki itu selalu punya cara tersendiri untuk mengetahui kebenaran. Walaupun terkadang Erianiza sudah menutupinya mati-matian. Namun, kali ini tampak berbeda.


"Ah, hanya jalan-jalan saja. Aku bosan seharian di rumah," jawab Eri seraya berjalan mendekati sang suami. Senyuman yang terukir di wajah wanita itu memang terkesan kikuk, tapi dia berhasil menutupinya dengan segera meraih tas kerja yang berada di tangan Argan.


"Oh, iya, sebentar."


Argan kembali membuka pintu mobil, lalu mengambil sebuah paper bag. Setelah itu, ia merangkul bahu sang istri, lalu mengajaknya memasuki rumah.


"Ini untukmu," kata Argan seraya menyodorkan paper bag itu pada Eri. Keduanya sudah berada di dalam kamar.


"Apa ini?" Erianiza bertanya seraya tersenyum tipis. Sedari awal menikah, Argan memang suka memberinya kejutan. Namun, sejak peristiwa menghilangnya Fabia, sisi romantis lelaki itu seakan hilang ditelan asa.


"Bukalah," instruksi Argan pada istrinya juga dengan senyuman yang sama.


Keduanya sedang duduk berhadapan di pinggiran ranjang. Entah, bagaimana Erianiza harus menggambarkan perasaannya saat ini, yang jelas perubahan sikap suaminya itu benar-benar membuat hatinya menghangat.


Tangan Eri dengan telaten menarik isi paper bag tersebut. Kedua matanya berbinar tatkala melihat sebuah kotak persegi panjang berwarna biru beludru.


Wajah Eri sedikit mendongak--menatap wajah Argan yang masih dihiasi senyuman. Perlahan dibukanya kotak itu, lalu kedua matanya tampak membola seraya menutup mulut dengan sebelah telapak tangan.


"Argan, ini ...." Erianiza sampai tidak bisa melanjutkan kata-kata. Satu set perhiasan terpampang indah di depan mata.


Argan hanya tersenyum sebagai tanggapan. Ia meraih tangan sang istri, lalu mengecupnya dalam-dalam.


"Maafkan atas semua sikap kasarku akhir-akhir ini," ucap Argan dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.


Kedua bola mata Erianiza tampak berkaca-kaca. Haru biru bercampur bahagia menyentuh relung hatinya di waktu bersamaan. Tuhan memang sedang memisahkannya dari Fabia, namun kembalinya sosok Argan yang dulu, adalah nikmat yang tidak boleh dinafikan.


"Kau tidak bersalah, Argan." Erianiza meletakkan kotak perhiasan itu di atas kasur, lalu balik menggenggam kedua tangan suaminya.

__ADS_1


"Aku juga ingin minta maaf," lanjut Eri dengan masih berkaca-kaca.


"Sudahlah, aku ingin ke depannya kita hanya sayang-sayangan. Jangan ada lagi perdebatan." Argan mengelus lembut pipi Eri.


Wanita itu tampak memejamkan kedua matanya--meresapi sentuhan hangat sang suami.


Melihat Eri yang tak juga membuka kelopak mata, Argan langsung mengikis jarak di antara mereka. Jarak yang begitu intim, membuat napas keduanya saling berbenturan.


Kedua tangan Argan kini sudah berpindah pada rahang sang istri, menariknya sedikit lebih dekat, lalu mendaratkan kecupan dalam di bibir Eri.


Wanita itu tak langsung membalas ciuman sang suami, namun karena sebelah tangan Argan terus memberikan stimulasi lebih di berbagai daerah sensitifnya, akhirnya Eri tak sanggup lagi untuk berdiam diri.


Dilingkarkannya kedua tangan di leher Argan, lalu memperdalam ciuman mereka. Keduanya tampak dimabuk asrama. Sentuhan demi sentuhan membuat keduanya hanyut di dalam lautan cinta. Di awal malam, sepasang suami-istri itu menghabiskan waktu dengan saling menghisap madu berbalut kehangatan.


***


"Arun!"


Hima baru saja menapaki tangga terakhir ketika suaminya melewati ambang pintu utama rumah mereka. Kedua mata wanita itu tampak berbinar setelah melihat Arun merentangkan kedua tangan, siap menyambut tubuhnya ke dalam pelukan.


BUGH


"Aku sudah siapkan makan malam kesukaanmu," ucap Hima seraya menarik diri dari Arun.


Pria itu mengangguk, lalu mengikuti langkah sang istri yang telah lebih dulu menarik tangannya menuju ruang makan.


Sesampainya di dekat meja makan, Hima menarik satu kursi untuk sang suami, lalu mengambil alih tas kerja serta melepas jas yang dikenakan Arun.


"Manis sekali," ucap sang suami ketika melihat tatanan berbagai makanan di atas meja lengkap dengan beberapa lilin yang menyala.


Hima meletakkan perlengkapan kerja suaminya di kursi yang berbeda, lalu menuntun Arun untuk duduk. Wanita itu masih berdiri di belakang kursi sang suami, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Selamat ulang tahun pernikahan, Suamiku." Bisikan Hima di dekat telinga Arun sukses membuat pria itu terkejut.


Ia berpura-pura menepuk keningnya seolah dirinya sudah melupakan momen berharga tersebut. Padahal, ia sudah menyiapkan kado spesial untuk sang istri yang belum sempat ia tunjukkan.


Karena merasa sukses memberikan kejutan pada sang suami. Hima langsung tersenyum puas.


"Sebanyak apa pun kamu melupakannya, maka aku akan selalu siap mengingatkan," ucap Hima disertai kecupan hangat di pipi Arun.


Perlakuan manis sang istri membuat Arun menarik tubuh wanita itu, lalu mendudukkannya di pangkuan.

__ADS_1


"Jangan menggodaku saat di meja makan, Sayang." Ibu jari Arun mengusap pelan bibir Hima yang berwarna merah. Pemandangan sensual itu sungguh sukses menyita ruang pandangnya.


Hima tersenyum, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Arun. Wanita itu memutuskan untuk lebih dulu mendaratkan ciuman di bibir sang suami.


"Kado pembuka," ucap Hima. Membuat Arun merasa gemas dibuatnya.


Pria itu hendak melahap habis bibir wanitanya, namun jari telunjuk Hima sudah lebih dulu mendarat di depan bibir Arun.


"Kita makan dulu, Sayang." Hima turun dari pangkuan pria itu, lalu dengan cekatan mengisi piring sang suami dengan makanan.


Arun terdengar mengembuskan napas kasar, namun senyuman Hima membuat dirinya kembali tenang. Apalagi satu ciuman tambahan yang mendarat kembali di bibir pria itu sukses membuatnya tersenyum lebar.


Keduanya pun memulai ritual makan malam romantis mereka. Tampak dari wajah masing-masing, mereka sama-sama menikmati makanannya. Tidak ada percakapan yang menghiasi momen indah itu, namun setelah keduanya menandaskan isi piring masing-masing. Arun pun memulai pembahasan.


"Aku sudah mencabut laporannya."


Mendengar kalimat Arun yang terkesan tiba-tiba, Hima tampak mematung di tempatnya. Namun, di dalam hati, ia bersorak gembira karena pastinya setelah ini tidak akan ada lagi yang bisa mengusik ketenangan hidupnya.


"Polisi sudah menutup kasusnya," lanjut Arun seraya menatap Hima.


Wanita itu hanya mengangguk tipis sebagai tanggapan. Tidak mungkin ia akan berjingkrak ria di depan Arun, bukan?


Hima meraih sebelah tangan Arun, lalu menggenggamnya erat.


"Kita jalani kehidupan baru kita dengan semangat baru. Hanya kau dan aku," ucap Hima disertai senyuman.


Arun mengangguk, lalu bangkit dari peraduan. Didekatinya sang istri, kemudian perlahan membawa wanita itu ke dalam gendongannya.


"Aku ingin menikmati makanan penutup," ucap Arun di dekat telinga Hima, membuat kedua pipi wanita itu memerah seketika.


Dua jam kemudian.


Setelah bergulat manja di atas ranjang, Hima tampak tertidur pulas.


Arun masih menatap wajah tenang sang istri dalam diam. Ada kejanggalan yang tiba-tiba merajai kepalanya, tatkala Hima memintanya untuk mencabut laporan atas kasus pembunuhan putrinya dua hari lalu. Terlepas wanita itu mengatakan bahwa ia selalu didatangi oleh Chia di dalam mimpinya, namun tetap saja hal tersebut sukses membuatnya curiga.


Perlahan, Arun bangkit dari kasur, lalu keluar dari kamar. Ruang kerja adalah tujuan utamanya.


Setelah menutup pintunya dengan rapat, Arun langsung melakukan sebuah panggilan.


"Beritahu aku alamat lengkap pengasuh Chia," ucap Arun pada seseorang di balik sambungan.

__ADS_1


__ADS_2