
Arun membuka helm-nya agar bisa memastikan kebenaran. Mengucek kedua matanya agar tidak salah mengenal. Namun, mau dipastikan dengan cara apa pun, di depan sana memanglah Diego Rumania. Mantan manajer di perusahaannya.
Diego pernah menjadi orang kepercayaan Arun selama bekerja untuknya. Namun, semuanya sirna karena lelaki itu mempunyai kebiasaan buruk. Diego adalah seorang pecandu. Bukan pecandu wanita, melainkan pecandu narkotika. Dia sudah pernah menjadi tahanan selama lima tahun, karena kasus tersebut. Setelah itu, Arun tidak tahu saja, jika Diego kerapkali masuk-keluar penjara.
"Halo, Sayang!"
Diego merentangkan kedua tangannya, berlakon seolah siap menyambut Hima ke dalam pelukannya.
"Jaga sikapmu!"
Wanita itu menghunuskan sorot mata tajam ke arah Diego yang sukses membuat lelaki itu tergelak hebat.
"Siapa dia?" tanya Hima pada Diego seraya menatap bingung ke arah orang yang digadang-gadang ke arah kapal.
"Saksi penculikan di taman waktu itu," jawab Diego. Lalu memberi kode pada kedua anak buahnya untuk membawa Joni memasuki kapal.
Joni masih berusaha berontak, walaupun kedua anak buah Diego terus menyeretnya seperti karung.
BRAAAK
"Aaarrrgggh!"
Keduanya menghempaskan tubuh tukang rujak itu ke lantai ketika sudah berada di dalam kapal.
BUGH
BUGH
BUGH
Tanpa rasa segan mereka menendang tubuh Joni bertubi-tubi hingga lelaki itu meraung kesakitan.
BUGH
BUGH
"Arrrgggh!"
Erangan Joni tak lagi menyentuh sanubari mereka. Selain semena-mena mereka juga dengan luwesnya tertawa di atas penderitaan tukang rujak buah itu.
BUGH
"Cukup!" pekik Diego.
Kedua pria bertubuh besar itu sontak menghentikan permainan mereka, lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Buka penutup kepalanya!" titah Diego.
Dengan gerangan cepat, salah satu dari mereka membuka penutup kepala Joni.
"Hah ... hah ... hah ...."
__ADS_1
Joni meraup oksigen dengan rakus. Walaupun begitu, ia masih tersengal-sengal bahkan terbatuk-batuk. Perlakuan cecunguk Diego tadi benar-benar membuatnya hampir saja meregang nyawa karena kesulitan bernapas.
"Ku-mohon le-lepaskan aku, Tuan. A-aku sudah menepati janji untuk menutup mulut, ta-tapi kenapa kalian membuatku seperti ini?" pinta Joni dengan wajah yang sudah penuh dengan luka lebam.
Diego langsung menyeringai. Baginya terlalu sulit untuk mempercayai keloyalitasan seorang Joni. Apalagi setiap hari ia mendapat laporan dari orang-orang suruhannya bahwa hubungan si tukang rujak dan anggota kepolisian itu semakin dekat saja.
Hima yang berdiri di samping Diego masih mengamati dengan saksama tanpa berniat untuk mengeluarkan suara.
"Oh, apa bisa dipercaya? Kurasa tidak!" Diego kembali menyeringai. Kepalanya tampak mengangguk tipis ke arah dua anak buahnya.
Tentu saja, mereka bisa menangkap makna dari bahasa tubuh sang atasan.
Dengan geram, mereka terus memukul dan menendang tubuh Joni tanpa belas kasih.
Pekik, jerit, dan erang yang keluar dari mulut tukang rujak itu terdengar membahana seantero kapal.
"Ayo, Sayang!"
Diego merangkul pundak Hima dari samping seraya berbalik badan. Namun, di saat yang bersamaan, Arun sudah berdiri di depan mereka dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
GLEK
Hima tersentak. Begitu juga dengan Diego. Di dalam hati masing-masing mereka membatin resah. Bagaimana bisa Arun berada di tempat itu?
Arun melirik sekilas ke arah dua orang yang sedang menyiksa Joni tanpa ampun. Kemudian, kembali menjatuhkan tatapan tajam ke arah Hima dan Diego.
BUGH
BUGH
BUGH
Sementara Joni sudah terlihat babak belur bahkan hampir hilang kesadaran.
"Apa-apaan ini, Hima?"
Suara menggelegar milik Arun sukses membuat tubuh Hima bergetar. Seumur-umur menjadi istri dari pria itu, Hima tidak pernah melihat sisi lain dari Arun.
Arun yang dikenal penyayang, penyabar, dan perhatian, kini malah bermetamorfosis menjadi sangar.
Hima langsung mengubah ekspresi wajahnya dari terkejut menjadi memelas.
"Sayang, kamu di sini?"
Dengan wajah sok tidak bersalahnya, Hima mulai mengayunkan kaki, hendak mendekati Arun. Namun, langkahnya terhenti karena pria itu sudah mengangkat tangan. Isyarat agar wanita itu tetap berada di posisinya.
Sedangkan Arun, langkahnya terayun mendekati Diego yang kini menatapnya santai. Permen karet seperti biasa menjadi korban kunyahannya.
"Apa urusanmu dengan istriku?" Arun bertanya dengan nada bergetar. Merasa geram dan dibodohi? Pastinya.
Apa yang dilakukan oleh Hima dengan mantan manajernya itu? Berbagai asumsi mulai memadati benak Arun. Sejak kapan mereka mulai berkomunikasi? Dan ... kenapa? Arun butuh jawabannya.
__ADS_1
"Santai, Bos!" Diego masih sempat terkekeh. "Kami hanya terlibat urusan kecil," lanjut pemuda itu dengan terus memasang wajah terlampau santai.
Sementara Arun terlihat serius level tinggi. Gurat emosinya memang sudah mulai meletup tatkala melihat Diego keluar dari kapal tadi dengan melontarkan sapaan yang begitu romantis pada istrinya.
"Jangan banyak basa-basi, Badjingan!" Arun tidak tahan lagi. Kerah kaos oblong yang dikenakan Diego menjadi sasaran cekalan mautnya hingga tubuh pemuda itu tertarik ke depan.
Sementara di luar kapal, Tegar dan beberapa anggotanya tiba di dermaga.
Sebelum memutuskan untuk melabrak Hima dan Diego, Arun sudah menghubungi Tegar agar menyusulnya ke tempat tersebut. Beruntungnya, Tegar langsung merespon cepat dan membawa sekitar sepuluh orang anggota kepolisian.
"Masuk!" perintah Tegar pada anggotanya.
"Siap, Ndan!"
Semuanya bergegas memasuki kapal yang disambut oleh pemandangan di mana Diego dan Arun sedang baku hantam.
"Hentikan!"
Suara Tegar sukses membuat tangan Arun melayang di udara. Seiring dengan lehernya yang berotasi ke arah sumber suara.
Diego yang berada di bawah tubuh Arun pun mulai menyentak tubuh pria itu agar enyah darinya.
Sementara Hima, tubuhnya terpukul mundur. Tentu saja, ia tidak percaya dengan pemandangan yang tersaji di depannya. Bagaimana anggota kepolisian bisa ada di tempat itu?
Dua anak buah Diego juga tampak mematung di tempat mereka.
Sedangkan Joni, terlihat tak sadarkan diri dengan kondisi wajah yang sudah tak lagi bersih.
Dua orang anggota diminta Tegar untuk membawa Joni ke rumah sakit.
"Tangkap mereka!"
Tegar langsung memerintahkan anggotanya untuk meringkus Diego dan orang-orangnya. Tanpa perlawanan lagi, semuanya dibawa menuju mobil tahanan dengan kedua tangan yang sudah diborgol sempurna.
Setelah itu, langkah Tegar terayun mendekati Arun yang kini sedang menormalkan emosi.
Napasnya masih terdengar tersengal-sengal setelah beberapa menit bergelut dalam lingkaran emosi jiwa.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" Tegar menepuk pundak Arun.
"Tangkap wanita itu juga, kau harus memeriksanya, Pak!" Arun langsung melayangkan tatapan bengis ke arah Hima yang ia yakini sudah melakukan sebuah konspirasi dengan Diego.
"Ke-kenapa, Sayang?" Hima kembali memasang wajah memelas. Sok tidak bersalah.
Tegar sontak menggulir pandang ke arah anggotanya, sekaligus memberi kode untuk menahan Hima.
"Sayang?" Wanita itu langsung berontak ketika tubuhnya mulai diseret keluar kapal oleh seorang anggota kepolisian. Namun, tatapannya masih lurus ke arah Arun. Memohon belas kasih.
Namun, Arun sudah tidak peduli lagi.
"Arun! Dengarkan dulu penjelasanku!" Suara Hima masih terdengar, walaupun tubuhnya sudah hilang ditelan jarak.
__ADS_1
Tegar kembali menatap Arun, yang kini sudah dalam kondisi normal.
"Mari, Tuan." Tegar memberi kode dengan ibu jarinya agar Arun melangkah lebih dulu untuk keluar dari kapal.