Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Bertemu Argan


__ADS_3

Tubuh Tegar terpukul mundur hingga menubruk badan mobil. Segumpal kekecewaan mulai menghantam diri. Ia tidak menyangka bahwa asumsinya beberapa menit lalu akan dibenarkan oleh fakta.


Ia sempat merutuki kenaifannya yang percaya begitu saja akan cerita Erianiza. Sangking cintanya ia pada wanita itu sehingga apa pun yang keluar dari mulutnya bak sebuah titah yang tidak boleh dibantah. Sebegitu tingginya posisi Eri di hatinya.


"Kau baik-baik saja, Nak?"


Pria yang berada di hadapannya sontak memegangi bahu Tegar yang kala itu tak juga mengeluarkan suara. Seperti orang yang terkejut parah, ekspresi wajahnya memang tidak bisa disembunyikan.


"Ah, saya baik-baik saja, Pak. Terima kasih atas informasinya." Setelah mengatakan hal itu Tegar kembali ke dalam mobil.


Pria dewasa itu pun terus mengayun langkah, lalu berbelok memasuki pekarangan rumahnya.


"Eri--" gumam Tegar. Suaranya tercekat tatkala merasakan sebuah hantaman gemuruh di dadanya. Pikirannya mulai berkecamuk.


Tentu saja, ia prihatin dan juga sedikit tidak yakin bahwa Erianiza mengalami sebuah gangguan jiwa. Namun, mengingat penuturan lelaki tadi, tidak mungkin orang itu memberikan informasi palsu. Apalagi pertemuan mereka merupakan sesuatu yang random. Tidak direncanakan sama sekali.


Perwira muda itu menghela napas seraya menjatuhkan kepalanya pada sandaran kursi. Lelah hari ini semakin terasa setelah menemukan fakta baru tentang Eri.


Setelah puas memikirkan kemalangan yang menimpa wanita pujaannya, akhirnya Tegar memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan menghentikan penelusuran.


***


"Sayang, apa sudah ada kabar baru dari pihak kepolisian?" Hima bertanya seraya menggerakkan jemarinya pada dada bidang Arun. Membentuk lukisan tak kasat mata.


Keduanya baru saja selesai menyelami asmaraloka. Bermandikan keringat bersama dalam sentuhan-sentuhan penuh cinta.


Mendengar pertanyaan istrinya, Arun langsung mengerjap. Pria itu seketika mengingat kejadian tadi sore, di mana Tegar menghubunginya dan memberikan informasi lanjutan tentang perkembangan penyelidikan yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian.


"Mereka sudah menemukan petunjuk baru," ucap Arun seraya membelai lengan sang istri yang melingkari tubuh gagahnya.


DEG


Jantung Hima seolah berhenti berdetak. Jemarinya membeku, wajahnya tegang, dan napasnya terdengar tak beraturan. Tamatlah riwayatnya jika sampai Arun mengetahui kebenaran tentang kasus kematian anaknya.


Sejak tadi sore, Hima sudah berulang kali menghubungi Joki, namun nomor pria itu tidak bisa dihubungi. Jelas saja, ponsel Joki telah hancur terinjak para warga ketika dirinya dikeroyok oleh massa. Jadi, wanita itu tidak mengetahui nasib malang yang telah menimpa orang suruhannya.


"Tapi sayang, pria itu meninggal dunia sebelum mengatakan apa pun. Pak Tegar bilang, massa sempat mengeroyoknya ketika ketahuan melenyapkan nyawa seorang pria dewasa." Arun menjeda ucapannya.


Hima tampak menghela napas lega.


Kepala Arun sedikit terangkat untuk melihat ekspresi wajah sang istri yang sedari tadi seolah membeku di posisinya.


"Sayang?" Tegur Arun.


Hima mengerjap, lalu mendongakkan sedikit kepalanya sehingga pandangannya dan Arun bertemu. Sebuah kecupan dalam didaratkannya pada bibir sang suami.


Tentu saja, inisiatif centil itu membuat Arun tersenyum menanggapi. Pria itu mulai terpancing dan meraup kembali sepasang benda kenyal nan manis milik sang istri.


"Arun?" Hima menarik pelan bibirnya dari sang suami. Seraya menjauhkan wajahnya, wanita itu terus menatap kedua netra pria di depannya.

__ADS_1


Arun tak mau ambil pusing, gejolak libido kembali merajai diri sehingga tak sempat lagi memperhatikan ekspresi wajah wanitanya. Ia kembali mendekatkan wajah karena jarak yang tercipta sungguh membuatnya tidak tahan.


"Arun." Hima mendorong pelan dada pria itu.


Arun mengerutkan kening.


"Bukankah sebaiknya kita meminta pihak kepolisian untuk menutup saja kasus kematian Chia?" ungkap Hima dengan wajah sendu.


Kerutan dalam kembali terukir di kening Arun.


"Maksudmu?" Pria itu bertanya dengan wajah tak habis pikir.


"Hiks ... hiks ...."


Tiba-tiba Hima terisak dengan linangan air mata yang telah membasahi pipi.


"Setiap malam Chia selalu hadir di dalam mimpiku," ucap Hima di sela-sela isakan.


Arun tampak menyipitkan matanya.


"Dia bilang 'Mama, Chia sudah tenang di surga tidak usah memperbesar-besarkan masalah lagi'. Dia mengatakan itu, Arun." Hima berkata seolah dirinya menjadi Chia.


Arun tertegun. Pandangan berkabut yang sebelumnya tergambar di kedua bola matanya, kini hilang sudah.


"Chia tidak suka melihat papa dan mama selalu menangis, Chia ingin papa dan mama mengikhlaskan kepergian Chia."


Hima semakin terisak dalam untaian kata.


"Sudahlah, jangan menangis lagi!" Arun membawa Hima ke dalam pelukannya. "Besok aku akan menemui Pak Tegar."


***


Mobil Tegar berhenti di parkiran sebuah gedung pencakar langit. Satu jam yang lalu, ia menerima telepon dari seseorang yang memintanya untuk datang ke tempat ini.


"Pak Tegar?"


Seorang pria bersetelan kemeja rapi tiba-tiba menginterupsi kegiatan Tegar ketika ia sudah berada di luar mobil. Tadinya ia hendak menghubungi seseorang.


"Ya."


Tegar mengangguk seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Tuan Argan sudah menunggu Anda di dalam," kata pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Windri.


"Baik."


Tegar mengekori langkah Windri. Mereka mulai memasuki gedung. Pandangan seluruh karyawan tertuju pada perwira muda itu. Mungkin karena pakaian dinas yang dikenakannya, atau mungkin memang karena tampangnya yang sangat memanjakan indera penglihatan. Sehingga kesempatan untuk melihatnya dengan intens sangat sayang jika harus dilewatkan. Apalagi bagi kaum hawa.


"Silakan masuk." Windri membukakan pintu untuk Tegar.

__ADS_1


Setelah mengucapkan terima kasih pada Windri, ia pun memasuki ruangan yang bertuliskan CEO itu.


Di dalam ruangan, Argan sudah berdiri dan siap menyambut kedatangan tamunya.


"Perkenalkan, aku Argan. Suaminya Eri." Lelaki itu mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Tegar.


"Tegar," ucap perwira muda itu memperkenalkan diri.


"Silakan duduk." Argan mengajak tamunya untuk duduk di sofa yang berada di pojok ruangan. Mereka duduk berhadapan.


"Wine?" tawarnya pada Tegar seraya mengangkat sebuah botol minuman seharga jutaan rupiah itu.


"Tidak, terima kasih." Tegar menolak.


Argan kembali meletakkan botol itu di atas meja tanpa ekspresi tersinggung sama sekali.


"Mohon maaf, sebenarnya sangat tidak sopan karena aku memintamu untuk datang ke sini," tutur Argan dengan raut menyesal. "Tapi, karena apa yang akan aku sampaikan padamu nanti adalah sesuatu yang privasi, maka ruanganku ini adalah tempat yang paling tepat," lanjut Argan seraya menatap pria di hadapannya. Jika ia belum menikahi Eri mungkin pria itu adalah rivalnya.


Tegar mengangguk tanda maklum.


"Sebenarnya aku agak ragu untuk menyampaikannya padamu. Namun, kau harus tahu fakta sebenarnya tentang Eri." Ucapan Argan sukses membuat desiran hangat mengalir di dalam dada Tegar.


Sebelumnya, ia sudah menyangka bahwa Argan pasti akan membahas masalah istrinya, jadi Tegar sudah menyiapkan mental sekuat baja.


"Tindakanmu sudah menambah masalahku, Pak Perwira."


DEG


Ekspresi wajah Tegar mendadak tegang. Apa maksud dari perkataan pria di depannya itu?


"Maaf, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Argan."


Tentu saja, Tegar tidak memahami, karena Argan belum menjelaskan apa pun di balik kalimat tudingan itu.


"Menurut informasi yang kuterima dari orang-orangku, di sepanjang jalan banyak tertempel poster anak hilang atas nama Fabia," tutur Argan.


DEG


Tegar mulai menyadari kesalahannya. Wajahnya langsung tertunduk.


"Maaf," ucapnya dengan nada penuh penyesalan. "Aku tidak menyangka jika Er--"


"Eri tidak gila," potong Argan sebelum Tegar menyelesaikan kalimatnya. "Aku hanya berusaha menciptakan dunia baru untuknya agar kejiwaannya tetap baik-baik saja," lanjut lelaki itu dengan ekspresi wajah sulit terbaca.


DEG


Apalagi ini? Sumpah, Tegar semakin dibuat tidak mengerti.


"Aku sangat mencintai istriku, dan aku tidak ingin kehilangannya," ucap Argan dengan nada mantap.

__ADS_1


Tegar tampak membuang muka dengan ekspresi wajah kikuk.


__ADS_2