Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Kilas Balik 2


__ADS_3

Dari hari ke hari, Chia selalu mendapatkan bentakan dan amukan dari Hima ketika ayahnya sedang tidak berada di rumah. Semua itu terekam jelas di benak Tuti. Pernah sekali, ia mencoba untuk melaporkannya langsung kepada Arun, namun Hima berhasil menggagalkan rencananya, dan malah balik mengancam wanita itu.


"Awas saja, kalau kau berani membuka mulut di depan Arun. Akan kupastikan besoknya kau tidak akan bisa bernapas lagi!"


Tentu saja, Tuti tidak berani untuk buka suara. Hima selalu menajamkan pandangan ke arahnya jika kedua netra mereka saling bersiborok. Apalagi, di saat Arun sedang berada di rumah, maka Hima akan selalu mengawasi pergerakan si pengasuh anak tirinya itu.


"Ampun, Ma!"


PLAK


PLAK


BUGH


Tangis dan raungan Chia tak dihiraukan oleh Hima. Tangannya terus mengayunkan pukulan bertubi-tubi ke sekitar tubuh gadis kecil itu.


Chia hanya bisa pasrah menerima pukulan dari ibu tirinya tanpa bisa melawan.


"Sudah Mama bilang, jangan membatah kalau dikasi tahu!" teriak Hima dengan wajah kesal. Sebuah pukulan keras mendarat di pipi Chia yang kini sudah berusia enam tahun.


PLAK


Tamparan keras Hima sukses membuat tubuh gadis kecil itu tersungkur ke pojok ruangan.


"Huhuhu ... ampun, Ma!"


Tangisan pilu Chia tak sedikit pun menyentuh sisi keibuan Hima. Wanita itu kembali mendekati putri tirinya, lalu menarik tubuh kecil itu dengan paksa.


"Sini kamu!"

__ADS_1


Hima menyeret tubuh Chia dengan brutal. Langkahnya kini mendekati kamar mandi yang berada di dalam kamar anak itu.


"Bu, jangan!" cegah Tuti yang kala itu hanya bisa menyaksikan kegilaan Hima dari kejauhan. Tangisnya juga tak kalah pilu dari Chia. Bagaimana tidak? Tuti merasa menjadi manusia paling tidak berguna, karena tidak bisa melakukan apa-apa. Tuti dilarang mendekat karena Hima mengancam akan membunuh Chia, jika wanita itu berani menghalanginya.


"Sini kamu!"


Hima mengangkat tubuh Chia dengan geram, lalu menghempaskannya di lantai kamar mandi. Bekali-kali, Hima menyirami tubuh anak itu dengan air hingga Chia menggigil kedinginan.


"Ampun, Ma!"


Dengan bibir bergetar dan Isak tangis yang tersisa, Chia terus memohon pengampunan. Namun, Hima seolah tak mendengarkan seruan iba dari putri tirinya itu.


"Awas saja, kalau kamu berani menyentuh peralatan make up Mama lagi!" ancam wanita itu seraya menodongkan jari telunjuknya di dekat wajah Chia.


Dengan ekspresi wajah takut, Chia mengangguki perkataan ibu tirinya yang selama ini ia anggap sebagai ibu kandung.


Setelah mengatakan kalimat itu, Hima pun pergi meninggalkan Chia di kamar mandi.


"Sayang!" serunya di sela-sela isakan. Tuti memeluk tubuh menggigil Chia dengan erat. "Ayo, Mbak bantu ganti bajunya, ya."


Tuti lekas mengambil handuk dan melepas semua pakaian basah dari tubuh Chia. Dibalutkannya handuk itu, lalu menggendong Chia seraya keluar dari kamar mandi.


"Mbak, kenapa Mama selalu marah sama Chia?" tanya gadis kecil itu pada Tuti yang kini sedang menyisir rambutnya yang keriting.


Sejak lahir Rachia Arunika memang sudah memiliki rambut keriting. Seiring berjalannya waktu, rambutnya semakin keriting dan kini menjadi kribo. Namun, kribonya kribo kasar tidak sehalus rambu-rambut kribo pada umumnya.


"Mungkin mama Chia lagi ada masalah dengan pekerjaannya, Sayang. Makanya mudah terbawa emosi," ucap Tuti yang hanya beralibi. Tanpa memberitahu bocah itu bahwa wanita yang sedang mereka bicarakan sesungguhnya bukanlah ibu kandungnya.


"Sebenarnya Chia pingin banget dipeluk dan disayang sama Mama, seperti Mbak Tuti menyayangi Chia," rengek gadis kecil itu dengan wajah murung. Kedua kakinya yang berjuntai di kursi menjadi tujuan pandangannya. Kedua tangannya sibuk memilin ujung kain baju yang ia kenakan.

__ADS_1


Tuti yang merasa hatinya tersayat karena mendengar harapan Chia yang sepertinya mustahil akan terjadi, hanya bisa memeluk tubuh rapuh bocah itu.


"Sabar ya, Sayang."


Hanya itu saja kalimat yang bisa Tuti utarakan.


...FLASHBACK OFF...


Tuti mengakhiri ceritanya seraya menyeka sisa rembesan air duka yang membasahi kedua pipinya. Ia tidak menyangka jika harapan kecil gadis itu tidak bisa terwujud sama sekali. Kini maut sudah merenggut kehidupannya yang bahkan baru seumur jagung.


Erianiza hanya mampu menghela napas panjang. Kedua telapak tangan juga tengah mengusap pipinya yang basah karena air mata. Cerita singkat dari Tuti seolah sukses membawanya masuk ke dalam latar sesungguhnya. Seolah menyaksikan langsung seperti apa penderitaan bocah kecil yang sering di temuinya di taman setiap sore itu.


Sementara Tegar, ia hanya meraup wajahnya kasar. Tak tahu harus berkata apa. Sebagai seorang aparat negara, ia tidak mungkin bisa menuduh seseorang melakukan tindak kriminal tanpa mempunyai bukti yang pasti. Terlepas, cerita Tuti tadi bisa menggiring opini bahwa; kemungkinan pelaku pembunuhan Chia adalah ibu tirinya. Namun, Tegar tidak bisa menarik kesimpulan secepat itu.


"Hiks ... hiks ... sejak saat itu, sikap kasar Bu Hima semakin menjadi-jadi dan saya ...." Suara Tuti tercekat. Tangisannya kembali pecah.


Eri pindah tempat duduk di sebelah Tuti, lalu mengusap pelan pundak wanita itu.


"Saya tidak tahan lagi. Saat ingin melaporkan semuanya pada Pak Arun, hari itu juga Bu Hima memfitnah saya. Dia bilang pada Pak Arun bahwa saya sudah memukul Chia sehingga bibirnya pecah dan mengeluarkan banyak darah. Padahal semua itu perbuatannya sendiri," ucap Tuti melanjutkan ceritanya.


"Saya sudah berusaha membela diri, tapi Bu Hima terus memotong ucapan saya sehingga Pak Arun belum sempat mendengarkan cerita yang sebenarnya. Hingga ia mengatakan bahwa saya dipecat hari itu juga dan menyuruh saya keluar dari rumah mereka." Tuti semakin tergugu ketika mengingat drama pemberhentian kerjanya.


Yang paling diingatnya adalah bibir Chia yang bersimbah darah ketika kakinya melewati ambang pintu rumah yang selama ini menjadi tempatnya mengais rezeki.


Saat kejadian tersebut, Chia tak lagi bisa berbicara. Anak itu terus menangis dalam pelukan Arun karena pastinya menahan rasa sakit yang luar biasa akibat luka di bibirnya.


Mendengar hal itu, Tegar langsung meraih ponselnya dan menghubungi nomor seseorang.


"Apa kita bisa bertemu?" tanyanya pada seseorang di seberang sambungan.

__ADS_1


Erianiza dan Tuti saling pandang, tidak tahu siapa sebenarnya orang yang sedang berbicara dengan Tegar.


__ADS_2