Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Tertangkap


__ADS_3

DOR


Tembakan Joki sukses menembus kepala korbannya. Namun, sialnya jasad lelaki itu jatuh ke keluar karena dinding bangunan itu sudah rusak hingga banyak lobang-lobang besar.


BUGH


Tubuh tak bernyawa itu jatuh di atas sebuah gerobak pemulung yang kebetulan lewat di sekitar sana.


"Aaaarrrggh!"


Pemulung berjenis kelamin wanita itu refleks memekik setelah menyadari seonggok mayat jatuh ke gerobaknya.


"Hah?"


Pekikannya pun sukses membuat para warga yang berlalu-lalang menjadi bergerombol mendekati gerobak tersebut.


"Siapa, ya? Ada yang kenal tidak?" tanya salah seorang dari mereka.


"Tidak, sepertinya bukan orang sini," jawab yang lainnya.


"Tapi, kenapa bisa jatuh ke gerobak?"


"Siapa pelakunya?"


Pandangan semua orang kompak mendongak, tertuju pada sebuah lobang besar yang terletak di lantai tiga bangunan, di mana Joki sedang mengintip dari sana.


"Itu pelakunya!" pekik semua orang. Mereka berbondong-bondong mendekati tangga bangunan untuk menangkap Joki.


"Si-al!" umpat pria itu karena dirinya ketahuan.


Ia mulai berlari untuk menyelamatkan diri. Namun sayang, akses untuk keluar dari gedung itu hanya ada satu jalur. Jika ia nekad melompat dari atas, terlalu tinggi. Akan membahayakan nyawanya sendiri. Namun, jika ia turun melalui tangga, maka ....


"Itu dia, tangkap!" Warga semakin emosi melihat Joki yang terus berusaha menghindar.


Mungkin karena faktor panik, ia sampai lupa bahwa ada pistol yang masih tergenggam erat di tangannya. Hingga akhirnya lelaki itu terpeleset di tangga kedua yang menyebabkan kepalanya membentur tangga dan menggelinding ke lantai bawah.


Warga yang memang sudah sigap untuk menghakimi, lantas mengeroyok Joki hingga babak-belur. Setelah itu, mereka baru membawa pria itu ke kantor polisi.


Di kantor polisi.


"Ada apa ini?" Seorang petugas kepolisian tampak menegur warga yang berbondong-bondong memasuki ruang penjagaan.


"Pak, orang ini sudah melenyapkan nyawa orang lain, mereka semua saksinya," ucap salah satu dari mereka.


Sang petugas melihat kondisi Joki sudah babak-belur dia meyakini bahwa warga pasti sudah menghajar pria itu habis-habisan sebelum dibawa ke sana.


"Arif, buat laporannya!"


"Siap, Pak."


Petugas yang disebut 'Bapak' itu, lantas mendekati Joki, lalu melirik ke luar ruangan. Bisa ia lihat dengan jelas, ada sebuah gerobak yang di dalamnya terdapat jasad seorang laki-laki.


"Apa itu korbannya?" tanyanya pada warga.


"Benar, Pak." Mereka menjawab serentak.


"Beni, Feri!" seru petugas itu.


"Siap, Pak." Dua orang polisi muda tampak berdiri siap di belakang si petugas.

__ADS_1


"Awasi mereka! Aku akan ke ruangan Pak Tegar." Petugas itu langsung keluar dari ruang penjagaan.


Setelah membuat laporan, warga diminta untuk pulang. Sedangkan jasad lelaki tadi langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan autopsi. Joki juga dibawa ke rumah sakit yang sama karena luka di sekujur tubuhnya tampak serius. Lengan kirinya patah. Dia butuh perawatan medis.


Tak berapa lama setelah perawat memasang infus dan mengobati luka Joki, Tegar tampak memasuki ruang perawatan, ditemani oleh seorang anggota polisi yang berdiri di ambang pintu.


"Selamat sore!" Tegar memasang wajah santai.


Sementara wajah Joki tampak sebaliknya. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Sudahlah jatuh di tangga, tertangkap polisi pula. Itulah kalimat yang tepat untuk Joki saat ini.


"Kenapa kau membunuh pria itu?" Tegar langsung bertanya pada intinya.


Joki tak langsung menjawab. Ia hanya menundukkan kepala.


"Kenapa kau melenyapkan nyawa pria itu?" Nada bicara Tegar mulai naik tangga.


Joki masih tak bersuara.


"Jika kau tidak mau bekerjasama, maka akan kupastikan bahwa hukumanmu akan bertambah berat!" ancam Tegar dengan wajah serius.


Joki langsung terperanjat dan memasang wajah memelas.


"Pa-Pak, i-ini se-semua bukan ke-kemauanku. A-aku tidak berbicara o-omong ko-kosong," ucap Joki yang tanpa sadar membuka kartu AS-nya.


Tegar tersenyum penuh kemenangan.


"Jadi, benar kau hanya orang suruhan?" Perwira muda itu mengangkat sebelah alisnya.


Joki mengangguk.


"Siapa yang menyuruhmu?" Tegar bertanya lagi.


"Siapa yang menyuruhmu?" Sangking geramnya Tegar langsung memelintir lengan Joki yang tampak diperban.


"Aaarrrgh!"


Tindakan Tegar tentu saja membuat Joki mengerang kesakitan.


"Pak!" Perawat yang sedari tadi berdiri di pojok ruangan seketika menegur Tegar agar tidak terlalu memaksakan diri. Pasalnya, kondisi pasien sangat mengkhawatirkan.


"Jangan ikut campur!" peringat Tegar pada suster itu. Kepalanya refleks menoleh. "Ini adalah bagian dari tugasku." Setelah mengatakan itu Tegar kembali menatap Joki yang masih meringis hampir menangis.


"Cepat katakan siapa yang menyuruhmu? Atau aku akan mematahkan lenganmu yang satunya lagi?" Tegar kembali mengancam Joki.


Pria itu tampak mengangguk seraya meminta ampun. Napasnya sudah tersengal-sengal. Kondisinya benar-benar memprihatinkan. Kepalanya tampak diperban karena tersungkur di tangga tadi. Ditambah lagi amukan warga yang pasti membuat wajahnya tak lagi berbentuk seperti semula.


"Bu--," ucapan Joki tercekat.


"Apa?" Tegar mulai panik. Pasalnya Joki tampak seperti orang yang kehabisan oksigen.


"Panggil dokter!" titah Tegar pada suster yang berdiri di pojok ruangan itu.


"Pak, sebaiknya Anda menjauh!"


Bukannya mendengarkan titah Tegar, suster tadi malah menghampiri pasien dan melakukan beberapa tindakan yang bisa ia lakukan.


Tubuh Tegar terpukul mundur.


"Feri, cepat panggil dokter?"

__ADS_1


"Siap, Ndan." Feri pamit langsung bergegas memanggil dokter.


Sepeninggalan Feri, Tegar tampak frustrasi. Berkali-kali ia menghempaskan udara dari mulutnya. Ia sudah mengantongi identitas korban pembunuhan yang dilakukan oleh Joki. Sekarang, pria itu hampir saja mendapatkan petunjuk baru, tapi saksinya malah kritis.


Tak berapa lama, Dokter tampak memasuki ruangan, bertepatan ketika Joki mengembuskan napas terakhirnya.


Monitor di samping brankar pun berbunyi bising.


Tegar hanya bisa memejamkan kedua matanya dalam seraya menghela napas lesu.


***


Argan baru saja tiba di rumah, ketika istrinya sedang menata makanan di atas meja.


"Argan, kau sudah pulang? Kita langsung makan, ya." Erianiza mengembangkan senyum seraya menatap suaminya sekilas. Lalu kembali memusatkan perhatian pada meja makan.


Ia mulai mengisi piring suaminya dengan nasi, lauk, dan sayur kesukaan pria itu.


Argan tampak antusias berjalan mendekati sang istri, lalu memeluknya dari samping.


Erianiza tersentak. Namun, setelah itu terdiam sesaat--meresapi kecupan hangat yang didaratkan sang suami di pucuk kepalanya.


"Aku mencintaimu," ucap Argan.


Eri tersenyum.


Lalu, pria itu melepaskan jasnya, lalu mengalungkannya pada kursi. Ia juga melepas kancing di pergelangan tangan, kemudian melinting lengan kemejanya hingga siku.


"Bagaimana pekerjaanmu?" Eri bertanya ketika mereka sudah mulai menikmati makan malam.


"Semuanya berjalan dengan lancar," jawab Argan sambil mengunyah. Satu suapan susulan kembali memasuki mulutnya. Makanannya sangat lezat. Seperti biasa, masakan Eri selalu sukses mengobati penatnya karena seharian bekerja.


"Baguslah," respon Eri, kemudian kembali menatap piringnya.


Tiba-tiba ponsel Argan yang sempat diletakkan di atas meja berdering. Pria itu melirik sekilas ke arah layar ponselnya, tertera nama Windri di sana.


Argan lantas meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Lalu, meraup benda pipih itu dan menerima panggilan.


"Katakan!" tuturnya tanpa basa-basi.


"Lelaki tadi adalah perwira polisi, Tuan." Suara Windri terdengar dari balik sambungan.


"Kenapa kau memberikan informasi yang sudah jelas-jelas kuketahui?" semprot Argan dengan nada geram.


Membuat Erianiza memperlambat kunyahannya, lalu memusatkan perhatian pada sang suami.


"Maaf, Tuan." Di seberang sana Windri tampak mengurut dada.


"Jadi, apa ada informasi lain?" Argan bertanya, berharap Windri tak sebodoh yang ia pikirkan.


"Lelaki itu ...." Windri terdengar ragu-ragu untuk mengutarakan kalimat.


"Katakan saja!" Argan kembali memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Em ... lelaki itu adalah mantan kekasih Nyonya Eri," ucap Windri pada akhirnya.


GLEK


Argan menelan makanannya dengan susah payah. Pandangannya langsung tertuju pada Eri yang juga sedang menatapnya penuh tanya.

__ADS_1


__ADS_2