Antagonis Novelku Adalah Suamiku

Antagonis Novelku Adalah Suamiku
Bab 21. Takdir


__ADS_3

Kak Alfred, apa kabar? Ini Simon. Lama kita tidak berjumpa. Maafkan aku yang tidak memberitahukan kepergianku satu tahun lalu. Sebenarnya, aku ingin sekali bisa memenuhi keinginan Ayah dan Ibu, tetapi Eloise lebih membutuhkanku.


Aku memang tidak akan bisa menjadi seperti Kakak, tapi tak apa. Kakak, tetaplah menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh Keluarga Valcke, agar aku tidak terlalu diharapkan untuk pulang.


Kakak, saat ini aku dan Eloise tinggal di sebuah pondok kayu di tengah hutan utara, di kaki gunung Springborough. Di sini sangat tenang dan sejuk. Aku punya kebun kecil di belakang pondok dan juga beberapa ayam ternak. Aku benar-benar meninggalkan kehidupan bangsawan dan menjadi petani di sini. Kami berdua hidup sederhana dan berkecukupan. Eloise pun tengah hamil sekarang.


Tujuanku menulis surat ini adalah ingin memberitahukan, bahwa aku terkena penyakit lamadur. Seperti yang Kakak tahu, itu adalah penyakit ganas. Waktuku tinggal tiga bulan lagi. Saat ini, hanya tangan kananku saja yang masih mampu untuk digerakkan. Kedua kakiku sudah lama lumpuh.


Tidak, aku tidak ingin Kakak mengasihaniku. Tidak ada penyesalan sama sekali dalam hidupku. Hanya, aku ingin minta tolong pada Kakak. Setelah aku tiada, Eloise dan anakku akan sendirian di dunia ini. Kumohon, jaga mereka. Berikanlah anakku pendidikan yang baik, agar tidak jadi bodoh seperti ayahnya, hehehe.


Aku tidak dapat menulis lebih panjang lagi. Eloise tidak tahu kalau aku menulis surat untuk Kak Alfred. Tolong penuhi permintaanku, Kak.


Adikmu,


Simon Valcke.



Saat ini, perasaanku begitu campur aduk. Wanita yang melahirkanku enam tahun lalu memang bernama Eloise. Akan tetapi, aku hanya memberi latar belakang Alissa Valcke sebagai putri ilegal atau putri buangan keluarga bangsawan. Aku benar-benar tidak tahu kalau Alissa sebenarnya adalah keponakan Duke Valcke.


Kini, aku sebagai Alissa tiba-tiba mengetahui identitasku yang lain. Kupikir, aku mengetahui segalanya yang terjadi di dunia ini, karena aku adalah penulisnya. Namun, ternyata segala hal bisa saja berjalan berbeda dari sebagaimana yang telah kutulis. Apa ini karena aku melakukan perubahan pada diri Alissa, yakni yang tadinya lemah sekarang menjadi sangat kuat berkat sihir? Apa karena aku melakukan perubahan tersebut maka efek kupu-kupu sedang terjadi di sini?


Efek kupu-kupu adalah istilah dalam teori kekacauan, di mana perubahan kecil pada satu tempat dapat mengakibatkan perbedaan besar kemudian.


Karena aku mengubah kemampuan Alissa, maka Cass, Theo, serta Duchess Rinia menjadi baik pada Alissa. Berkat itu pula, akhirnya terungkap kalau aku bukan putri hasil selingkuhan Duke Alfred Valcke. Seandainya aku tetap menjadikan Alissa sebagai gadis lemah, semua fakta mengenai orang tua Alissa ini tidak akan diketahui siapa pun.


“Setelah menerima surat itu, aku mengutus orang untuk mencari Simon. Akan tetapi, sesampainya di sana pondok itu kosong. Kebun dan kandang ternak yang diceritakan Simon sudah hancur total, seperti diserang hewan buas. Aku masih berpikir optimis, karena tubuh Eloise tiudak ditemukan di mana pun.


Beberapa tahun kemudian, setelah aku menjabat menjadi duke sepenuhnya, aku berkeliling negeri untuk mencari adik iparku itu. Baru kudengar kabar, Eloise meninggal setelah melahirkan, lalu akhirnya aku bertemu denganmu, Alissa. Selanjutnya, kamu tahu sendiri ceritanya.”


Aku tertegun mendengar semua penjelasan Duke Valcek. Apa yang harus kurasakan saat ini? Aku harus apa?

__ADS_1


Alur cerita di dunia ini jadi berbeda dari apa yang kutulis. Latar belakang Alissa yang terungkap ini memang sebenarnya jadi keuntungan, karena dengan begitu Duchess Rinia tidak lagi punya alasan untuk membenciku. Di masa depan nanti, aku tidak akan ditumbalkan menjadi pengantin siapa pun. Semuanya akan berjalan baik-baik saja.


Namun, mengetahui semuanya seperti ini membuatku jadi bingung bagaimana seharusnya bersikap. Aku tidak mengenal kedua orang tua Alissa yang sebenarnya. Tidak ada empati sama sekali dalam diriku pada mereka berdua, karena aku tidak menuliskan karakternya. Mereka bukan anak fiksiku.


“Sekarang, semuanya telah terungkap. Rinia … ,” ucap Ayah. “Aku masih setia, dari dulu hingga sekarang. Kamu mau, ‘kan, menerima Alissa? Dulu waktu mengandung Cass, katamu ingin sekali punya anak perempuan.”


Ayah tampak tersenyum dan Duchess Rinia pun menampilkan semburat merah di wajahnya karena malu. “Kau benar,” ucap sang nyonya. Kemudian, dia berpaling padaku.


“Alissa, sekali lagi maafkan aku. Seharusnya aku malah berterima kasih padamu karena telah membantu Theo sejak dulu.” Duchess Rinia memegang kedua pundakku.


Aku membalasnya dengan senyum. “Tidak apa-apa, Nyonya. Aku senang membantu Kak Theo!”


“'Nyonya'? Mulai sekarang, panggil aku Ibu, ya?” pinta Duchess, membuatku terkejut. Begitu pula dengan Theo dan Cass yang berada di sebelahku. Akhirnya, aku bisa meluluhkan hati bos terakhir di keluarga Valcke ini.


“Ibu …?”


“Iya. Dia ayahmu dan aku ibumu. Mengerti?” tanya Duchess Rinia, yang kubalas anggukan cepat.


“Bukan kucing liar, tapi adik! Kamu bukan lagi jadi yang paling bungsu di sini, jadi jaga sikapmu!” seru Theo. Melihat Cass yang bersungut kesal, semua orang jadi tertawa karenanya.


***


Tiga tahun kemudian, Alissa berumur sembilan tahun.


Hari berganti minggu. Bulan berganti tahun. Tiga tahun berlalu sejak akhirnya aku mengetahui identitas Alissa yang sebenarnya. Kupikir, dengan diterimanya aku di Keluarga Valcke ini, serta terus mengasah kemampuan sihirku, aku bisa mengubah banyak takdir di sekitarku. Setelah kebenaran tentang Alissa terungkap, aku makin optimis untuk bisa menghindari kematian di tangan Pangeran Rion di masa depan.


Tadinya, aku berpikir seperti itu. Hingga akhirnya, kabar kematian Duke Valcke sampai ke telingaku.


Semuanya terjadi begitu cepat. Tiba-tiba seorang pasukan yang pergi mengawal Ayah melakukan inspeksi ke seluruh negeri mengabarkan kalau Ayah telah mati diserang monster buas di tengah hutan.


Di dunia ini, di luar benteng kota memang tidak begitu aman. Monster-monster berkekuatan sihir muncul dan menyerang manusia. Kekuatan mereka tentunya beragam dari yang paling lemah seperti kelinci bertanduk, hingga terkuat seperti serpent laut raksasa. Sesekali, seorang bangsawan akan pergi berjkeliling ke kota-kota dan desa-desa yang menjadi wilayah kekuasaannya untuk melakukan inspeksi.

__ADS_1


Biasanya, Ayah akan pulang dengan selamat sambil membawakan oleh-oleh dari perjalanannya. Biasanya, Ayah akan pulang dengan senyum di wajah, menyambutku yang berlari ke arahnya untuk memeluk. Biasanya, seperti itu.


Kali ini, kemalangan menimpa keluarga Valcke. Kami semua berpakaian hitam-hitam dari kepala hingga kaki. Pendeta mulai membacakan doa-doa di kuil, di sisi peti mati Ayah. Foto Ayah begitu besar terpampang di atas peti mati tersebut, diiringi dekorasi bunga-bunga kecil di bawah bingkainya.


Seluruh bangsawan hadir dalam upacara kematian Ayah. Sebelum akhirnya Ayah dikremasi, Theo memberikan ucapan selamat tinggal terakhir. Kemudian, abu Ayah dikuburkan dengan penanda batu nisan di taman mansion kediaman Valcke.


Kupikir, aku sudah bisa megubah takdir semuanya. Membuat Alissa menjadi lebih kuat, mendekatkan Alissa pada anggota keluarga Valcke dan sampai diterima sebagai anggota keluarga resmi. Tadinya, kupikir aku sudah berhasil membuat Ayah juga menghindari kematiannya.


Namun, perkiraanku salah. Ternyata salah besar. Rupanya, tidak semua takdir bisa kuubah. Duke Valcke tetap meninggal, meskipun memang bukan karena penyakit lamadur dan tertunda tiga tahun kemudian. Akan tetapi, beliau tetap meninggal sebelum Alissa dewasa.


Kini, aku hanya bisa memandangi batu nisan Ayah, terguyur hujan di taman. Sepertinya, semesta juga sedang bersedih mengantar kepulangan Ayah dari kehidupan.


“Alissa … .” Ibu memanggilku dari balik punggung. Aku menoleh ke arahnya. Seketika itu juga, Ibu memelukku erat sambil tersedu-sedu.


“Ibu … jangan menangis, ya … Ibu harus kuat,” kataku. Namun, ibu makin erat memelukku.


“Kamu juga harus berhenti menangis, Alissa … .”


Apa yang dikatakan Ibu barusan? Aku, menangis?


Ibu bicara apa?” Ini hanya air hujan … air hujan saja … ,” ucapku, lalu menyeka air yang ada di pipi. Aneh, airnya jadi hangat.


“Ibu akan menjagamu sebagai ganti Ayah, ya. Jangan menangis, Alissa … .”


“Aku tidak … tidak menangis … huaaaaa …”


Padahal, sejak tidak bisa bertemu Mas Dion dan Dimas lagi, aku selalu merasa hampa. Akan tetapi, mungkin selama ini aku terlena dengan keberadaan anggota keluarga Valcke. Aku merasa hari-hariku terisi kembali sejak diterima seutuhnya di keluarga ini.


Malam ini, aku merasakan kehampaan itu lagi. Jiwaku seperti kembali menjadi anak kecil lagi. Aku tidur ditemani Ibu di kamarnya, seolah takut terlelap sendirian.


***

__ADS_1


__ADS_2