Antagonis Novelku Adalah Suamiku

Antagonis Novelku Adalah Suamiku
Bab 22. Pesta Debut


__ADS_3

Empat tahun kemudian, Alissa berusia tiga belas tahun.


“Alissa, sudah siap?”


Di ambang pintu kamarku, berdiri Theo mengenakan pakaian bangsawan berupa jas putih dan celana putih. Di bagian dada tersemat berbagai lencana simbol Kerajaan Glassheight. Tubuhku kini hanya setinggi dadanya saja yang bidang. Bentuk wajah yang makin dewasa dan mata birunya mirip sekali dengan Ayah ketika memandangku. Kalau saja warna rambutnya juga cokelat seperti mendiang Ayah, orang-orang pasti mengira kalau Duke Alfred Valcke telah hidup kembali.


“Oh, Kak Theo! Iya, aku sudah siap,” sahutku. Aku berbalik ke arah pintu, membuat gaunku yang berenda sedikit berkibar mengikuti putaran tubuh. Aku sedang mengenakan gaun berwarna biru muda dan hiasan kepala berwarna senada. Perona merah di pipi dan pemoles bibir telah dipakai. Dandananku hari ini sengaja dilebihkan, karena hari ini ada pesta yang diadakan di kediaman Valcke. Akan ada dua pengumuman penting yang akan disampaikan ibu pada sesama bangsawan dan para warga.


Pertama, adalah bahwa Ibu, alias Duchess Rinia Valcke, sudah selesai masa jabatannya untuk menggantikan Ayah semenjak beliau tiada. Bulan lalu, Theo telah berusia delapan belas tahun. Sejak satu tahun lalu, ketika Theo telah memasuki kategori cukup umur di usia ketujuh belas, Ibu mulai melungsurkan pekerjaan Ayah sedikit demi sedikit padanya.


Selama setahun, Theo ditempa dan dididik untuk menjalankan apa saja kewajiban seorang duke di Kerajaan Glassheight. Kemarin, akhirnya Theo dinobatkan sebagai duke termuda di negeri. Malam ini adalah pesta pengumuman bahwa Theo telah resmi menjadi Duke Valcke.


Kedua, tepat hari ini adalah ulang tahunku sebagai Alissa yang ketiga belas. Ibu memutuskan ingin mengadakan pesta ulang tahun, sekaligus sebagai ajang debut untuk diriku. Di Kerajaan Glassheight, berbeda dengan laki-laki yang memasuki usia debut saat tujuh belas tahun, perempuan sudah bisa debut di usia ketiga belas.


Perempuan dinilai sudah dewasa di usia tersebut, oleh karena itu diizinkan untuk mencari calon pasangan. Meskipun, untuk melangsungkan pertunangan, laki-laki dan perempuan harus berusia minimal enam belas tahun. Pernikahan pun hanya boleh dilangsungkan ketika si perempuan memasuki usia minimal dua puluh tahun.


Tentu saja, itu tidak berarti apa pun untukku. Aku tidak berniat untuk mencari pasangan di dunia yang kutulis sendiri ini. Bagiku, mereka semua adalah anak-anak fiksiku, meski pada kenyataannya dunia ini tidak terlalu berjalan persis seperti apa yang kutulis. Sejak aku melakukan banyak perubahan, maka dunia ini juga perlahan tampak berubah. Kalau menurut novelku, di usia tiga belas ini, Alissa seharusnya masih tinggal di loteng rumah meratapi nasib, bukan di kamar luas dengan perabotan mahal seperti yang kutempati sekarang.


Namun, meski tidak ingin mencari pasangan, aku jelas sangat menanti-nantikan pesta malam ini karena banyak hal.


Pertama, malam ini aku akan bertemu dengan Pangeran Darren, si putra mahkota yang kelahirannya menjadi mala petaka bagi setiap bayi laki-laki yang terlahir setelahnya. Ibu sebagai duchess tentunya telah mengundang keluarga kerajaan juga untuk datang. Aku ingin melihat, seperti apa tampang salah satu antagonis yang kuciptakan itu.


Kedua, setelah debut, aku bebas pergi keluar tembok benteng pertama ibukota sendirian. Ibukota Kerajaan Glassheight dibangun dengan dua tembok benteng yang mengelilingi seluruh kota, untuk membagi warga yang tinggal berdasarkan stratanya. Tembok pertama dan yang berada di sisi paling dalam adalah wilayah untuk para bangsawan. Ada istana sebagai tempat tinggal keluarga raja, kemudian juga ada distrik mansion bangsawan. Deretan toko barang-barang mewah juga bisa ditemukan di sini.


Keluar dari tembok pertama adalah wilayah bagi rakyat kelas menengah ke bawah. Pemukiman penduduk sederhana ada di sini, juga termasuk pasar dan alun-alun tempat festival biasa diadakan. Dulu, Ayah sering mengajak Theo, Cass, dan aku untuk pergi ke festival di wilayah tembok kedua ini.

__ADS_1


Hanya para remaja bangsawan yang telah memasuki usia debut yang diizinkan untuk pergi sendirian keluar tembok benteng pertama ke wilayah ini, karena dinilai sudah dewasa dan memiliki pengawal sendiri, bukan lagi anak kecil yang rawan menjadi objek penculikan.


“Kenapa tiba-tiba melamun?” tanya Theo heran. Mungkin dia menyadari kalau tatapan mataku jadi kosong sejenak.


“Ah, tidak … aku teringat pada Ayah yuang sering mengajak kita ke alun-alun setiap ada festival.” Aku berkata pada Theo, sambil melangkah keluar dari kamar. Theo menekuk sebelah tangannya di pinggang, supaya aku menggamitnya. Hari ini, dia akan menjadi pengawalku untuk turun ke lobi tempat pesta diadakan.


“Ah, itu memang saat-saat yang menyenangkan,” sahut Theo sambil tersenyum.


“Kalau begitu, ayo jalan-jalan ke tembok kedua besok!” Seseorang tiba-tiba bersuara dari ujung koridor. Rambut cokelat tua dan mata hijau, hanya Cass yang memiliki ciri-ciri tersebut. Dia mengenakan kemeja lengan panjang warna putih dan rompi cokelat, senada dengan warna celana panjangnya. Seringainya yang khas tidak menghilangkan kesan kekananakan dari wajahnya, padahal usianya sudah lima belas tahun. Wajahnya mirip sekali dengan Ibu.


“Kamu kenapa di sini? Kan sudah kuminta kamu untuk menemani Ibu di bawah!” tanya Theo sambil mengangkat alis.


“Mau mengawal si kucing!” jawabnya sambil menunjukku. Cass masih saja memanggilku kucing setelah sekian tahun. Bedanya, kali ini tidak ada kata 'liar' tersemat di akhir julukan tersebut.


“Lagi pula, ibu sedang sibuk mengobrol bersama wanita-wanita lain, mempromosikanku supaya berpasangan dengan anak-anak mereka. Mana mungkin aku bisa betah berdiri di sebelahnya seperti itu!” gerutu Cass. Aku dan Theo tergelak mendengarnya.


“Tidak, ah! Perempuan itu menyebalkan!” sahut si putra kedua Valcke.


“Berarti, Alissa dan Ibu menyebalkan?” tanya Theo balik. Cass mengibaskan tangan pertanda tak setuju. “Kalau mereka berdua, oke lah! Ayo!”


Cass melakukan hal yang sama seperti Theo, yaitu menawarkan lengannya untuk digamit olehku. Kami bertiga berjalan menuju lobi bersamaan.


Alissa Valcke dalam novel tidak akan pernah bisa merasakan memiliki dua orang kakak laki-laki tampan seperti mereka ini, bersedia mengawal untuk pergi ke pesta debutnya.


***

__ADS_1


“Memasuki ruangan, Nona Alissa Valcke!”


Pengawal telah memberi aba-aba bagiku untuk masuk ke ruangan. Pintu telah terbuka. Seketika ityu juga cahaya ruangan lobi menyeruak. Musik pun dimainkan saat aku berjalan masuk ke depan. Aku berada di atas balkon dengan kedua tangga melengkung di sisi kanan dan kiri. Di bawah tangga, tampak para bansgawan telah menanti kehadiranku. Mereka semua menatapku.


“Itu putrinya Duke Valcke? Cantik sekali … .”


“Apakah itu putri yang dirumorkan ilegal?”


“Dari wajahnya, sih, tidak mirip dengan Duchess Rinia, hanya sedikit mirip dengan mendiang Duke Alfred Valcke … .”


Desas-desus tidak enak terdengar di telingaku. Bagaimana tidak, mereka itu menggosipkan orang lain terang-terangan di depan objeknya!


Ibu naik ke atas balkon dan berdiri di tengah-tengah, antara aku dan Theo. Sementara itu, Cass sudah turun ke bawah untuk bergabung dengan para tamu.


“Semuanya, dengarkanlah. Hari ini aku akan menyampaikan dua pengumuman penting,” ucap Duchess Rinia Valcke. Semua pasang mata menatapnya saksama.


“Yang pertama, adalah putraku, Theo Valcke,” Ibu menatap ke arah Theo dan memegang pundaknya, “telah resmi menjadi duke menggantikan posisi mendiang suamiku. Mari kita doakan, semoga dia bisa menjalankan kewajibannya sebagai duke yang bertanggung jawab.”


Suara tepuk tangan meriah mengiringi perkataan ibu. Theo menunduk sedikti, memberikan penghormatan pada para hadirin. Para gadis berbinar-binar matanya memandangi kakakku itu. Ketampanannya memang sudah terkenal seantero negeri. Para gadis itu pasti mengincar untuk menjadi pasangan Theo.


“Yang kedua adalah Alissa Valcke,” Ibu berpaling ke arahku dan memegang pundakku. Aku melakukan sedikit curtsy pada para tamu.


“Mulai hari ini, Alissa telah berusia tiga belas tahun. Dia adalah putriku dan merupakan keturunan Valcke yang sah. Ayah kandungnya adalah adik dari mendiang suamiku. Aku mengangkat Alissa sebagai anak, untuk menghormati keinginan terakhir dari suami dan adik iparku. Jadi, diharapkan tidak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi mengenai identitas Alissa.”


Tentunya, semua orang tercengang mendengar pernyataan Ibu barusan. Ya, inilah juga alasan mengapa pesta debut ini sangat penting bagi karakter Alissa Valcke. Kini semua orang mengetahui keberadaan seorang putri di keluarga Valcke sebagai keturunan sah.

__ADS_1


“Kalau begitu, tanpa perlu ditunda lagi, kita mulai pesta dansanya!” seru Ibu.


***


__ADS_2