
"Theo, kamu baik-baik saja?"
Ibu bertanya ketika kakak sulungku itu baru saja tiba di ruang lobi. Aku, Ibu, dan Cass sedang berkumpul di sana, menantikan Theo dengan cemas. Begitu memasuki ruangan, Ibu langsung memeluk putra pertamanya itu.
Pekerjaan Theo di istana adalah sebagai salah satu anggota dewan kerajaan. Dewan kerajaan bertugas layaknya menteri di dunia asalku. Semenjak pemberontakan terjadi di seluruh negeri, Theo jadi sering lembur menghadiri rapat bahkan bepergian ke kota-kota yang terdampak. Kali ini, Theo baru saja pulang dari wilayah pertanian yang terbakar. Dirinya harus langsung berurusan dengan para warga yang harus mengungsi.
"Aku baik-baik saja, Bu," ucap Theo. Wajahnya terlihat lelah. Ibu memintanya untuk duduk dan menyuruh pelayan membuatkan teh hangat.
"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Cass. Kini tubuhnya sudah lebih tinggi dibandingkan Theo.
Theo menghela napas panjang. "Sangat kacau. Setiap saat kami harus bersiaga, tapi sejauh ini aku belum pernah bertemu dengan para pemberontak itu. Pergerakan mereka cepat sekali!"
"Ibu tidak mengerti! Siapa yang telah melakukannya? Kenapa mereka membakar wilayah yang justru jadi mata pencaharian bagi rakyat kecil!" seru Ibu. Nada perkataannya terdengar marah.
"Aku tidak tahu pasti. Namun, ada rumor beredar, mereka yang memberontak ini adalah karena marah pada Raja Eric dengan alasan personal." Theo mengangkat bahu.
Cass mengernyitkan alis. "Personal? Yah, tidak heran, sih, dia kan diktator begitu! Pasti banyak yang benci padanya. Terutama kebijakannya yang tidak boleh ada anak laki-laki lebih kuat dari Pangeran!"
"Cass, jaga ucapanmu! Ibu takut ada yang mendengar. Kau tahu, kan, ungkapan "tembok pun bisa punya telinga"!" teriak Ibu.
"Iya, iya!" sahut Cass tidak peduli. Dia menyeruput tehnya santai.
Aku mulai menyimpulkan sesuatu. Yang memiliki masalah pribadi dengan Raja Eric, siapa lagi kalau bukan si pangeran kedua, Rion Ardinand. Rion mulai mengumpulkan sekutu dari seluruh negeri. Siapa pun yang tidak terima oleh gaya Raja Eric memerintah dan semena-mena membunuh orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikirannya, boleh bergabung ke dalam pasukannya. Siapa pun yang bisa bertarung dan memegang senjata, dipersilakan untuk mengikutinya.
Selama ini, Keluarga Valcke bersikap netral terhadap gaya kepemimpinan Raja Eric. Untungnya, Theo mewarisi bakat Ayah yang pandai bersilat lidah dalam berpolitik. Mereka berdua mampu mengendalikan orang-orang di sekitar tanpa pernah ketahuan kalau Valcke sebenarnya tidak pernah memihak Raja Eric. Kerajaan menganggap keluarga Valcke sebagai salah satu pendukung mereka, padahal tidak.
"Alissa!" Cass melambaikan tangan di depan wajahku. "Kenapa melamun?"
"Ah, aku tidak sedang melamun. Hanya sedang memikirkan bagaimana nasib kerajaan kita ke depannya," jawabku.
__ADS_1
"Pokoknya, kalian bertiga tetap waspada, ya! Ibu takut sekali akan terjadi sesuatu pada keluarga kita!"
"Tenang saja, Bu." Theo menggenggam kedua tangan Ibu. "Aku akan berusaha agar keluarga ini tidak tersentuh oleh bahaya apa pun!"
***
Beberapa bulan kemudian.
Saat ini, di tanganku terdapat sebuah surat, dari Mischa Sharma. Surat ini datang beberapa bulan lalu, sebelum pasukan pemberontak mulai menyerang kota-kota besar di Kerajaan Glassheight. Isinya adalah keputusannya untuk bergabung dengan pasukan Rion.
Mischa sebenarnya adalah kakak dari seorang bayi yang dibunuh oleh pasukan raja karena memiliki kekuatan besar. Selama ini, keluarga Sharma membenci Raja Eric. Namun, sama seperti Valcke, mereka bermain cantik. Mereka tampak tidak membenci Raja Eric karena tindakannya itu.
Kini, kesempatan ada di depan mata. Mischa mendengar perekrutan pemberontak dari seorang pelayan di rumahnya yang baru saja kembali dari desa. Mischa meminta pelayannya itu mencari tahu. Saat itu, pasukan Rion memang baru menyerang pertanian di desa-desa kecil. Setelah menyelidiki, Mischa meminta pada ibunya untuk mengizinkan bergabung dengan pasukan Rion.
Aku telah membalas surat Mischa. Aku merestui keinginannya bergabung dengan Rion. Dengan bergabungnya Mischa, Rion pun mengetahui kalau keluarga Sharma terlepas dari target pembantaiannya.
Ada surat kedua, dengan isi serupa, tetapi pengirimnya berbeda. Surat kedua ini berasal dari Lucius.
"Kalau ada hal-hal yang kau dengar tentang pemberontakan, bergabunglah dengan mereka! Keinginanmu untuk balas dendam akan tercapai melalui pasukan itu!" Begitu bunyi pesanku pada Lucius.
"Tapi, bagaimana dengan dirimu? Kalau aku bergabung dengan mereka, kita akan bertemu sebagai musuh!" tolak Lucius. Dia ada benarnya. Para pemberontak ini menargetkan bangsawan. Lucius takut kalau dia harus melawanku.
Kalau dia menolak, maka jalan ceritanya tidak akan bergerak. Aku harus bisa meyakinkan tokohku ini. Kalau dia bisa mengalahkan Rion saat hendak membunuhku, Alissa bisa hidup tenang setelahnya.
"Kau ingat kan, pertemuan kita diawali oleh mimpiku, ketika kamu menyelamatkanku dari bahaya? Saat itu statusmu adalah anggota dari pasukan pemberontak tersebut!" jelasku.
Lucius terbelalak. "Bagaimana bisa! Justru nantinya aku yang bisa membuatmu berada dalam bahaya!"
"Tenanglah," Aku berjinjit. Anak fiksiku ini sekarang tingginya sudah jauh melebihi aku. Lucius menunduk, agar kepalanya bisa tersentuh oleh tanganku. Dia jadi sering ingin dielus-elus kepalanya setiap kali aku ingin menenangkannya atau memujinya. Maka, kulakukan lah hal itu.
__ADS_1
"Kita berdua akan baik-baik saja."
"... baiklah ... ." Tampang Lucius benar-benar lugu dan polos seperti kucing kecil. Dia mendekapku erat dan hangat, lalu berbisik.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Aku akan mengatakannya setelah mimpi aku yang bisa menyelamatkanmu itu menjadi kenyataan. Kau mau menungguku, kan?"
Sesuatu yang jngin dikatakan Lucius pada Alissa? Jangan-jangan ... .
" ... baiklah, akan kutunggu ... ." jawabku. Aku sebenarnya ragu. Aku tahu apa yang akan Lucius katakan padaku, Alissa Valcke.
Lucius ingin menyatakan perasaannya. Akan tetapi, aku bukanlah Alissa yang sebenarnya.
Tujuh belas tahun telah berlalu sampai detik ini, masih hanya ada Mas Dion di hatiku. Penyesalan terhadap apa yang kulakukan di masa lalu membekas hingga sekarang. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Dengan perasaan yang masih bimbang seperti ini, apa aku harus membuka hatiku pada laki-laki lain?
***
Selang beberapa bulan, pasukan pemberontak memasuki ibu kota. Hal yang ditakutkan Ibu pun terjadi. Kami sekeluarga beserta para pelayan jadi lebih sering mengurung diri di rumah. Di luar rumah sudah sangat tidak aman. Pembakaran terjadi di mana-mana. Teriakan para warga terdengar menyayat. Aku hanya bisa memandangi mereka semua dari balik kaca jendela.
Tentu saja, para pelayan keluarga Valcke ada yang bersedih, menangis karena terpaksa tidak bisa mengunjungi keluarga yang ada di desa. Jangankan mengunjungi, mereka bahkan tidak bisa mendapat kabar apa pun dari luar ibu kota.
Para pemberontak ini sebenarnya tidak menyerang rakyat kecil. Mereka melakukan pembakaran karena para bangsawan lah yang memiliki wilayah yang mereka targetkan. Untuk menyiksa para bangsawan inilah, harta benda termasuk aset-aset mereka dikuras oleh pasukan pemberontak ini. Mereka menargetkan wilayah para bangsawan yang menjadi pendukung Raja Eric.
Satu tahun kemudian sejak pemberontakan dimulai, sesuai jalan cerita yang kutulis dalam novel "Ksatria Lucius", nyawa Raja Eric beserta seluruh keluarga dan keturunannya berhasil lenyap di tangan Rion.
Tahta sudah berada di tangan Rion. Glassheight memiliki raja baru, yaitu Rion Ardinand, yang tidak segan-segan membunuh para bangsawan dan rakyat yang tidak sejalan dengannya.
Kini, sang raja baru beserta pasukannya berburu pengikut Raja Eric yang masih tersisa, hingga akhirnya, mereka sampai ke kediaman Valcke.
__ADS_1
***
(Ryby: Udah balik lagi ke adegan di bab 1 ya gaes. Chapter berikutnya mulai alur maju, kelanjutan dari bab 1. Btw, ada perubahan, Alissa bertemu Rion di bab 1 itu jadinya usia 18 tahun, bukan 20.)