Antagonis Novelku Adalah Suamiku

Antagonis Novelku Adalah Suamiku
Bab 28. Naiad


__ADS_3

Naiad adalah makhluk mistis yang hidup di air. Bentuknya seperti wanita, hanya saja tubuhnya terbuat dari air. Naiad di hadapanku ini tingginya melebihi tubuh Lucius, pemiliknya.


Rambutnya hitam kebiruan dan telinganya lancip, seperti makhluk mitologi elf. Hanya ada dedaunan tanaman merambat yang menutupi tubuh makhluk mistis tersebut. Tiap melangkah, ada jejak basah kaki yang tertinggal. Namun, Naiad bergerak bukan dengan berjalan seperti manusia, melainkan sedikit melayang dengan bantuan pusaran air kecil di bawah masing-masing kakinya.


Padahal, aku menuliskan dalam novelku, kalau Lucius akan memiliki makhluk mistis berupa ular air. Kini, yang kulibat benar-benar berbeda. Elemn airnya sama, tetapi Naiad bukanlah makhluk kelas biasa. Naiad masuk golongan elit.


Apa karena aku membantu Lucius, yang memang sudah memiliki mana besar, untuk memaksimalkan kekuatannya? Karena di novel, Lucius berlatih sendiri tanpa panduan apa pun, sampai akhirnya bisa summon ular air.


Naiad itu mengelilingiku. Gerakannya begitu cepat. Saat aku menoleh ke sisi kiri, dia sudah berada di kanan. Makhluk itu menatapku dalam diam, seolah penasaran. Setelah diriku, dia mengelilingi Cass juga. Terakhir, baru dia berhenti di depan Lucius.


"Gila ... ini mahkluk elit?! Bahkan di akademi tidak ada yang bisa summon Naiad!" seru Cass tak percaya. Tentu saja tidak ada yang bisa. Kalau ada, terutama laki-laki, pasti sudah diburu oleh pasukan Raja Eric karena mengancam keselamatan keluarga kerajaan.


"Lalu ... bagaimana?" Lucius bertatapan dengan Naiad-nya. Makhluk itu menyelidik wajah Luicus, mengelilingi tubuhnya. Lalu, seulas senyum terbit di wajahnya.


"Um, sekarang, ritual kontrak dan pemberian nama," jawabku. Kuajari Lucius caranya, yakni meneteskan darahnya di hidung si makhluk. Setelah selesai, waktunya memberikan nama baru.


" ... kau saja yang memberikan nama." Lucius memandangku.


"Aku?"


Lelaki itu mengangguk. Aku membantah, "Tapi ini kan makhlukmu?"


"Kalau bukan karena kau, aku tidak akan bisa summon dia." Lucius bersikeras.


"Hm ... baiklah. Bagaimana kalau Nay?" usulku.


Cass berceletuk, "Nama apa itu? Singkat sekali!"


"Berisik, Kakak! Aku kan payah memberi nama. Kalau tidak suka, Lucius bisa menggantinya---"


"Aku suka." Lucius memotong. Dia pun memberikan nama tersebut. Naiad di hadapannya sepertinya ingin protes pada nama itu, tetapi Lucius tetap menamainya Nay. Aku jadi kasihan padanya.


"Apa dia bisa bicara?" tanya Cass. Dia mengamati Nay saksama, lalu mencoba mengelus kepalanya. Naiad itu menjauh sebelum sempat disentuh oleh Cass.


"Mungkin bisa kalau diajari," sahutku. Aku sendiri tidak tahu. Aku belum pernah menulis rincian tentang makhluk mistis di luar yang dimiliki para tokohku dalam novel.


"Kalau begitu, mulai minggu depan kamu akan berlatih pedang dengan Kak Cass. Persiapkan dirimu, ya!" Aku beranjak berdiri dan berpamitan.


Lucius tampak terkejut. "Minggu depan? Bukan besok?"


"Oh, itu ... ada sedikit masalah, hehe. Kami tidak bisa mengunjungimu setiap hari seperti seminggu ini," jawabku cengengesan.


"Tapi ... nanti kalau perkembanganku tersendat, bagaimana?" Lucius protes, membuatku jadi berpikir. Dia ada benarnya.


"Kalau begitu, Kak Cass saja yang akan menemuimu di sini, ya!"

__ADS_1


"Aku saja?" tanya Cass terkejut. "Kau tidak ikut?"


"Kakak tahu sendiri, 'kan, tadi Kak Theo mulai curiga kita pergi kemana saja!"


"Iya juga. Baiklah, besok aku yang akan datang sendiri melatihmu!" seru Cass seraya memandang Lucius.


Lelaki berambut silver itu protes kembali. "Tidak, kau harus tetap datang!"


Luicus meraih tangan kananku dan menggenggamnya. Ada kehangatan mengalir dari dalam tubuhnya melalui tanganku itu. Apa dia sudah menganggapku teman?


Aku tersenyum lebar, lalu mengelus kepala Lucius, seperti yang sering kulakukan pada Kyu, makhluk mistisku.


"Baiklah, aku janji, besok aku akan datang." Aku tidak tahu bisa menepatinya atau tidak. Aku harus meminta ijin pada Theo kalau aku harus pergi lagi besok.


Ketika aku mengucapkan kalimat itu, wajah Lucius merona merah. Kemudian, dia menganggguk dalam diam.


***


"Dia suka padamu, tuh!" cetus Cass sewaktu kami sudah berada di dalam kabin kereta kuda, menuju ke rumah. Aku sampai tersedak dengan air minum yang sedang kutenggak.


"Apa? Siapa?" tanyaku.


Cass mendengkus. "Anak itu, si Lucius. Padamu!"


"Hah? Kakak tahu dari mana?"


"Masa' sih ... ."


Aku jadi berpikir. Dalam novel, Luicus memang akan jatuh cinta pada Alissa, tetapi itu masih nanti, ketika Lucius telah bertemu dengan Rion. Ada rasa kasihan tiap kali Lucius melihat Alissa yang tidak mendapat kasih sayang dari suaminya, Rion. Kemudian, benih cinta tumbuh di antara mereka. Mereka saling mencintai. Cinta itulah yang membuat Alissa menghadapi kematiannya.


Seharusnya itu semua masih nanti, bukan sekarang. Rencanaku hanyalah membuat Lucius menjadi lebih kuat dulu, itu saja. Lagi pula, aku tidak berencana untuk jatuh cinta padanya.


Meski bertahun-tahun telah berlalu, mana mungkin aku bisa melupakan Mas Dion, suamiku.


"Sudahlah, Kak. Mungkin hanya perasaan Kakak saja," jawabku melengos.


Cass mengangkat kedua bahu dan menghela napas. "Terserah kamu. Yang jelas, kasihan sekali dia, kalau perasaannya tidak dianggap olehmu."


Aku terperanjat sampai menoleh ke arah Cass. "Kakakku yang suka mempermainkan hati para gadis ini, tiba-tiba bicara soal cinta??"


Cass cengengesan. "Mereka saja yang mendekat, aku hanya meladeni!"


"Sama saja!"


***

__ADS_1


Setibanya aku dan Cass di rumah, ternyata Theo telah menunggu kami di lobi. Raut wajahnya membuat kami berdua berjalan perlahan-lahan.


"Dari mana kalian?"


Makin hari, Theo makin mirip Ayah kalau sedang mengeluarkan ketegasannya.


"Err, kami ke tembok kedua!" jawabku. Mata Theo mendelik begitu mendengarnya.


"Lagi? Kemarin sudah kuperingatkan untuk jangan ke sana sering-sering! Bahaya!" geram Theo.


"Itu ... ."


"Jangan marah-marah! Kau tidak lihat baju apa yang kami pakai ini?" Cass menunjuk ke arahku dan dirinya sendiri. "Kami pakai baju rakyat biasa. Tidak akan ada yang mengenali kami!"


"Memangnya untuk apa kalian ke sana? Ada apa?" tanya Theo lagi. Belum sempat aku menjawabnya, Cass sudah menyahut, "Bertemu temanku."


"Teman?"


"Iya, dia tinggal di wilayah tembok kedua."


Theo mengangkat alis. "Sejak kapan kau punya teman di sana?"


Cass mengangkat bahu. "Sejak lama. Aku tak sengaja bertemu dengannya di jalan. Dia orangnya asik. Kau tahu kan, aku sering bosan berteman dengan para bangsawan. Mereka tidak menyenangkan! Yang mereka tahu hanya pamer dan dansa saja!"


Aku tahu Cass membelaku, supaya Theo tidak jadi marah dan melarangku bertemu Lucius. Akan tetapi, kupikir dia tidak menganggap Lucius adalah temannya. Dia bahkan sampai berbohong mengatakan Lucius anak yang asik. Padahal sepanjang latihan, Lucius lebih banyak diamnya.


"Lalu, kenapa kau mengajak Alissa?" tanya Theo lagi menyelidik.


"Dia adikku, suka-suka aku mau mengajaknya bermain kemana." Cass menjawab sekenanya.


"Cass! Alissa itu putri keluarga ini, Dukedom Valcke! Jangan diajak bermain kotor-kotoran dengan rakyat biasa begitu!" omel Theo.


"Tidak kotor! Lagi pula, Alissa senang, ya 'kan?" Cass mengalihkan pandnagan ke arahku. Aku mengangguk cepat.


Theo menghela napas. "Baiklah. Terserah kau mau pergi kemana, Cass. Tapi jangan ajak Alissa sering-sering. Dia juga harus bersosialisasi dengan gadis-gadis dari keluarga lain!"


"Heehhh, tidak menyenangkan sekal---"


"Diam kau!" potong Theo pada perkataan Cass. Kakak keduaku itu langsung tutup mulut.


"Sosialisasi?" tanyaku.


Theo mengangguk, lalu berkata, "Kau diundang untuk menghadiri jamuan teh bersama Ibu besok. Jadi, jangan pergi kemana-mana."


Aku melirik ke arah Cass. Padahal, tadi aku sudah berjanji pada Lucius untuk datang lagi besok. Namun, sepertinya harus diingkari.

__ADS_1


***


__ADS_2