
“Eh, tunggu dulu!”
Aku tak bisa mencegah sama sekali anak-anak panti yang lari berhamburan untuk menghindariku. Sudah kuduga mereka akan bersikap begini, karena mereka sepertinya sudah terlanjur melihat kereta kuda Valcke di luar. Akan tetapi, aku sudah mengantisipasi hal ini.
Aku meminta Dea untuk mengeluarkan semua barang-barang yang kubawa di kabin kereta kuda, untuk diberikan pada anak-anak panti. Dean masuk bersama para pengawal yang membantunya, membawakan keranjang berisi berbagai macam roti dan pakaian-pakaian baru yang Dea beli di pasar. Semua keranjang itu diletakkan di hadapanku.
“Aku membawa makanan dan pakaian baru. Kalian mau lihat?” tanyaku, sengaja memancing mereka semua. Usia anak-anak panti rata-rata masih di bawah sepuluh tahun. Sudah pasti mereka mudah dipancing dengan pakaian dan makanan enak. Ditambah lagi, keranjang berisi roti-roti sengaja kubuka penutupnya supaya wanginya merebak ke seluruh ruangan.
Hal itu pun terbukti, melihat salah satu dari mereka yang usianya paling muda, mulai meneteskan air liur begitu melihat roti yang kubawa. Aku menyodorkan satu roti di tanganku ke arah anak lelaki itu. Perlahan, dia mulai maju, selangkah demi selangkah.
“Ayo, jangan takut. Aku masih punya banyak!”
“Jangan kesana, Kae!”
Anak yang paling kecil itu sepertinya yang bernama Kae. Sempat dia menoleh ke arah anak lebih besar yang memanggilnya tadi, tetapi perutnya berbunyi sampai terdengar ke telingaku. Mungkin dia benar-benar kelaparan karena belum makan, atau mungkin karena harus berbagi dengan lima belas anak lainnya di hadapanku saat ini, jadi dia masih kurang kenyang. Entahlah.
Akhirnya, Kae sampai ke hadapanku, meskipun beberapa anak di belakangnya masih menyuruhnya untuk kembali ke belakang.
Aku memasang senyum paling lebar yang pernah kumiliki, supaya anak kecil itu tidak takut padaku. Kuraih satu tangannya, lalu kuletakkan sepotong roti di sana. Anak itu tampak mencium aromanya sesaat, sampai dia memejamkan mata. Apakah sebegitu wanginya? Kemudian, dia mulai menggigit secuil.
“Mmm!! Enakkk!” pekik anak itu kegirangan. Dia mulai menggigit lagi dengan potongan yang lebih besar. Tubuhnya melompat-lompat saking senangnya.
Berkat teriakan nikmat Kae, anak-anak lainnya di belakang mulai penasaran. Mereka ikut maju satu per satu. Aku menyodorkan roti pada mereka semua.
“Ayo berbaris, ya! Masih ada banyak!”
Kerumunan anak-anak itu mulai tidak sabar. Mereka membentuk barisan panjang. Kuberikan mereka sepotong roti. Anak-anak yang sudah kebagian mulai berteriak, sama seperti yang Kae lakukan tadi.
“Kakak! Bantu aku, cepat!” Kuminta Cass untuk ikut turun tangan. Cas menunjuk dirinya sejenak. “Aku?”
“Iya, cepat! Mereka sudah tidak sabar!”
“Ah, baiklah! Baiklah!” Cass segera membuka keranjang yang berisi pakaian. “Yang belum dapat pakaian, buatlah barisan baru di hadapanku!”
__ADS_1
Anak-anak mulai berbaris di hadapan Cass, bersiap menerima pakaian yang dia berikan. Syukurlah, cass bisa membaur dengan mudah meski dia seorang bangsawan.
“Terima kasih, Kakak!” seru seorang anak perempuan pada Cass. Kakakku itu mengamat-amati anak tersebut. Aku yang penasaran pun bertanya padanya, “Kenapa?”
“Dia mirip seperti kamu dulu!”
“Eh?”
Setelah memastikan semua anak kebagian roti dan baju baru, aku mengemas kembali keranjang-keranjang yang sudah kosong, dan meminta Dea membawanya kembali ke kabin. Cass pun berdiri dari duduknya saat membagikan pakaian-pakaian tadi. Dia menghampiriku dan bertanya, “Kamu kesini untuk membagi-bagikan makanan dan pakaian saja?”
“Ada hal lain lagi … ah!”
Aku menyadari kehadiran seorang ibu tua yang berdiri di ambang pintu. Rupanya dia baru saja kembali dari suatu tempat. Seorang anak perempuan membisikkan sesuatu sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
“Ibu, Kakak itu membagi-bagikan roti dan baju baru!”
“Oh … .” Ibu tua itu melihat ke arahku dengan tatapan curiga. Aku langsung menghampiri dan menyapa beliau, diikuti oleh Cass.
“Salam!”
“Nama kami Alissa dan Cass!” Aku segera memotong perkenalan kakakku itu. Hampir saja dia menyebutkan nama keluarga Valcke. Perburuan anak lelaki ber-mana besar masih terjadi hingga kini. Bila pihak panti asuhan mendengar kalau seorang bangsawan datang ke panti, mereka pasti akan jauh lebih bersiaga.
“Salam. Nama saya adalah Marie. Saya dengar kalian berdua membagi-bagikan persembahan untuk kami? Terima kasih banyak … ,” ucap Marie seraya menunduk, pertanda ucapan terima kasih. Di dunia ini, anak-anak terlantar di panti asuhan tidak disebut sebagai anak-anak dewa. Roti dan pakaian baru untuk anak-anak panti disebut sebagai persembahan.
“Ah, kami hanya menyampaikan amanah dari semua orang di distrik menengah!” jawabku. Aku berpura-pura sebagai warga yang datang dari kalangan distrik menengah. Semua komunitas warga di sana memiliki kegiatan mengumpulkan barang-barang untuk persembahan, lalu mengirimkannya sebagai donasi ke berbagai panti asuhan yang ada. Jadi, apa yang kulakukan tadi adalah hal wajar, bila mengatakan aku datang dari distrik menengah.
“Terima kasih banyak! Anak-anak pasti sangat bersyukur bisa mendapat pakaian baru. Mereka jarang mendapatkan persembahan berupa pakaian baru,” ucap Marie lagi.
“Oh, kalau begitu … apakah semua anak sudah menerimanya?”
Marie mengedarkan pandangan ke sekitar sambil menghitung. “Sepertinya kurang satu anak lagi … .”
Seorang anak datang berlari dari arah ruangan yang ada di sebelah tangga, “Ibu, Kak Lucius tidak ada di kamarnya!”
__ADS_1
Seketika itu juga, aku terkesiap. Lucius, yang sedari tadi aku cari-cari!
“Ah, anak itu! Pasti sedang pergi ke hutan lagi!”
“Lucius itu … .” Aku berharap aku tidak salah. Marie menghela napas, lalu menerangkan, “Salah satu anak tertua, usianya kira-kira sebaya dirimu. Dia sering main ke hutan, padahal aku sudah melarangnya!”
“Hutan yang sebelah mana?” tanyaku lagi antusias. Marie melihatku seraya mengernyitkan dahi, sebelum menjawab, “Yang ada tepat di luar perbatasan tembok kota ini. Dia sering pergi ke sana untuk mengumpulkan kayu bakar atau sekadar bermain.”
“Boleh aku tahu, seperti apa ciri-cirinya?”
“Alissa, ada apa?” Cass mulai curiga aku terus menanyakan tentang anak yang bernama Lucius. Akan tetapi, aku tidak menjawabnya.
Marie menerawang sejenak. “Rambutnya silver, matanya biru. Anak itu sering berwajah tanpa ekspresi, jadi orang-orang sering menganggapnya sebagai anak yang angkuh … .”
“Ah, kalau begitu, aku yang akan menyampaikan langsung pakaian dan roti itu untuknya!” Aku berseru seraya menunjuk salah satu keranjang yang masih berisi pakaian dan roti yang belum sempat dibawa Dea ke kabin.
“Tapi, Nona, Anda tidak perlu repot-repot---“
“Tidak apa!” Aku bergegas pergi tanpa mendengar perkataan Marie lagi. Cass mengikutiku keluar dari panti. Dia tampak makin tak mengerti apa yang kulakukan.
“Alissa! Aku tak masalah menemanimu kemana saja tanpa menjelaskan apa pun seperti ini, tapi tidak kalau harus ke hutan.” Cass berlari, berusaha menyamakan langkahku.
“Tapi aku harus ke sana, Kakak!”
“Tidak boleh!” Cass mencegah langkahku dan menarik tanganku hingga kau terhenti dan menoleh ke arahnya. “Aku bertanggung jawab membawamu pulang utuh dan selamat.”
“Tapi---“
“Kecuali kau menjelaskan, siapa itu Lucius dan apa tujuanmu bertemu dengannya.”
Aku berpikir sejenak. Cerita soal aku datang dari dunia lain tidak mungki bisa diterima Cass dengan mudah. Aku harus bilang apa?
“Ummm, bisa dikatakan, kalau aku mendapat mimpi tentang masa depanku … ."
__ADS_1
***