
“Mimpi?” Cass mengernyitkan dahi.
“Di dalam mimpiku itu, ada seseorang yang bisa menentukan masa depanku. Orang itu bernama Lucius, tinggal di panti Lotus ini." Aku menunjuk bangunan panti di belakangku.
"Masa depanmu?" Cass tampak bingung.
"Aku tidak bisa bercerita lebih rinci, yang jelas, orang yang bernama Lucius ini harus kita latih supaya bisa menjadi kuat dan melindungiku di masa depan."
"Hmmm ... ." Cass tampak berpikir.
"Jangan katakan ini pada Kak Theo atau Ibu. Mereka berdua pasti tidak akan percaya!" seruku seraya menggamit lengan Cass dan merengek padanya. Cass tampak gusar dengan tingkahku itu.
"Iya, iya! Aku mengerti! Aku bukan Kak Theo yang menyebalkan!" seru Cass seraya menepis tanganku di lengannya. Aku tersenyum lebar.
"Sekarang, ayo kita cari penyelamatmu itu!"
***
"Hiaaattt!"
Baru saja aku dan Cass memasuki tepian hutan, sudah terdengar suara orang seperti sedang bertarung. Ada bunyi pukulan-pukulan keras tertangkap oleh telinga. Cass mencari sumber suara. Dia menggenggam tanganku erat.
"Jangan jauh-jauh dariku!"
"Itu suara orang berkelahi?" tanyaku. Cass menggeleng. "Bukan, itu suara pedang kayu dipukulkan ke batang pohon."
Cass memang lebih pandai berpedang ketimbang Theo. Seolah, dia terlahir untuk menjadi ksatria ulung. Dia mengenal segala jenis besi pedang dan asalnya dari mana. Dia bahkan mengenali suara pedang dan objek yang dihantam, meskipun tidak melihatnya langsung, seperti sekarang ini.
Aku mengikuti langkah Cass, mencari sumber suara. Hingga akhirnya aku melihat, ada seseorang bertunik abu-abu gelap sedang berlatih pedang sendirian memukul-mukul batang pohon berukuran sedang. Dia begitu konsentrasi, hingga tidak menyadari kehadiranku dan Cass yang ada di belakangnya.
Peluh membasahi dahi lelaki itu yang tertutup anak rambut berwarna silver. Tuniknya pun ikut basah terkena keringat. Aku bisa merasakan adanya mana yang keluar dari setiap sabetan pedangnya pada pohon tersebut.
Rambut silver. Itu pasti Lucius.
"Kamu kurang memusatkan mana-mu, jadi kekuatan yang keluar tidak maksimal."
Cass berkomentar tiba-tiba, membuat Lucius tersentak dan menoleh waspada. Kedua matanya mendelik tajam ke arah kami. Dia mengacungkan pedangnya ke arahku dan Cass.
"Siapa kalian!"
"Hei, turunkan pedangmu dulu! Kami ingin bicara baik-baik!" seru Cass. Wajahnya tampak kesal karena ditodongkan pedang kayu seperti itu.
"Aku belum pernah melihat wajah kalian di sekitar sini!" Lucius tidak kunjung menurunkan todongan pedangnya. Cass mulai gusar, dia menarik sebilah pedang dari sarung di pinggangnya. Bukan pedang kayu seperti yang dibawa Lucius, melainkan pedang besi sungguhan.
__ADS_1
"Sudah kubilang, turunkan pedangmu!"
Lucius terbelalak. Pandangan matanya teralih pada pedang Cass yang mengilat. Lucius melangkah mundur. Sekarang malah aku yang jadi takut kalau Lucius akan pergi dari hadapan kami.
"Kakak, sudahlah! Jangan balik menantangnya begitu!" seruku sambil berusaha menurunkan pedang Cass dengan menekan pegangannya ke bawah.
"Tapi dia---"
"Kakak!"
Kekurangan Cass adalah, dia cepat marah. Temperamennya tinggi. Aku harus bisa meredam emosinya terlebih dulu.
Cass beralih memandangku, lalu berdecak. Dia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.
"Maafkan kami yang sudah membuatmu kaget," ucapku seraya sedikit menunduk pada Lucius. "Kami hanya ingin membantumu saja."
Melihat gerakanku yang menunduk memohon maaf, Lucius menurunkan pedangnya. Benar seperti kata Ibu Marie, wajah Lucius sungguh tanpa ekspresi. Seperti yang kutuliskan dalam deskripsiku tentangnya.
"Membantu apa?" tanya Lucius. Wajahnya masih tampak waspada menatapku dan Cass.
Aku bergerak maju ke hadapannya selangkah dan berkata, "Membantumu untuk jadi lebih kuat. Kau selalu berlatih sendiri di sini, pastinya kau butuh bantuan."
Lucius mengernyitkan dahi, kemudian dia membuang mukanya, mengayun-ayunkan pedang ke udara kosong. Dia lanjut berlatih tanpa mengindahkan ucapanku.
"Aku tidak mengenal kalian. Apa keuntungan bagimu untuk membantuku?" tanya Lucius. Terdengar nada tidak percaya dalam ucapannya.
Ayunan pedang Lucius terhenti di udara. Lelaki iu menoleh. "Dari mana kau tahu?!"
"Ah, itu ... seperti yang kakakku katakan sebelumnya, kekuatan mana-mu tidak terpusat. Seolah kamu tidak mengerti caranya mengontrol mana. Aku jadi mengambil kesimpulan, barangkali kau belum punya hewan mistis," terangku.
"Lalu, apa untungnya bagimu untuk membantuku?"
"Itu ... karena ... ."
"Adikku mendapatkan mimpi, kalau kamu bisa menyelamatkan hidupnya di masa depan. Itu sebabnya kami mencarimu sampai kemari."
Cass lagi-lagi menyahut tiba-tiba. Aku dan Lucius sampai kaget mendengarnya. Kakakku itu malah menceritakan soal mimpi yang tadi kubilang padanya.
"Mimpi?"
"Kakak!"
"Apa? Dari pada berputar-putar langsung saja beritahu dia intinya!" seru Cass. Dia tidak peduli pada keadaan dan perasaan orang lain, seperti biasa.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti." Lucius menatapku, meminta penjelasan. Gara-gara Cass, sekarang aku yang kerepotan menjelaskan.
"Ah, aku mendapat mimpi kalau suatu hari nanti, kamu akan melindungiku dari bahaya. Tapi, karena kamu belum cukup kuat, maka kamu gagal menyelamatkanku. Jadi---"
"Di mimpi itu, kenapa aku harus menyelamatkanmu?" Lucius memotong penjelasanku.
"Ah, karena hubungan kita dekat. Tapi, aku tidak tahu ... ," jawabku. Tidak mungkin aku membiarkan Lucius tahu, dia menolong Alissa karena mereka saling jatuh cinta.
"Dekat? Sedekat apa?" Cass bertanya sambil mendelikkan mata. Kenapa dia jadi ikut-ikutan bertanya!
"Entahlah, seperti teman, barangkali! Sudahlah!"
Lucius bergeming. Sedaat kemudian, dia kembali mengayunkan pedang. "Ceritamu tidak meyakinkan. Kau ingin membantuku menjadi kuat? Kulitmu saja mulus begitu, aku tidak yakin kau pernah sekali pun memegang pedang."
"Hei, biar masih kecil begini, adikku itu sangat kuat! Alissa, ayo tunjukkan! Panggil Kyu!" seru Cass.
Dalam sekejap, lingkaran mantra tercipta di udara, dan Kyu melompat keluar. Akan tetapi, Lucius tidak terkesan.
"Semua anak di panti yang berumur sebelas ke atas juga sudah bisa summon sepertimu. Aku bisa minta tolong mereka saja ketimbang kamu."
"Hei, kau tidak tahu!" seru Cass, yang kemudian mengalihkan pandnagan ke arahku. "Tunjukkan transformasimu!"
Lucius langsung terkesiap. "Transformasi?? Dia sudah bisa--"
Tanpa bicara lagi, aku bertransformasi menjadi Kyu. Setelah sekian lama, yang sebelumnya hanya rambut, sekarang tangan dan kakiku dipenuhi bulu yang sama dengan Kyu, meskipun belum seutuhnya menjadi dirinya.
"Alissa itu sudah bisa summon sejak usia empat tahun!" seru Cass dengan nada sombong berhasil memamerkanku. Aku hanya geleng-geleng saja mendengarnya.
"Aku bisa membantumu, kan?" tanyaku. Lucius terpana. Dia seperti menimbang-nimbang banyak hal.
"Tapi aku tidak tahu apa-apa tentangmu!" sahutnya.
Aku menghela napas panjang, lalu berkata, "Aku tahu segalanya tentang kamu. Kamu ingin jadi kuat, kan? Aku bahkan tahu alasannya.
Selain karena untuk menyelamatkanku, kau juga perlu menjadi kuat untuk balas dendam atas kematian orang tuamu."
Lucius terbelalak begitu aku membahas orang tuanya. "Tahu dari mana kau?"
"Dari mimpiku," jawabku singkat. "Aku tahu orang tuamu telah tiada akibat ulah pasukan Raja Eric. Kau baru mengetahui semuanya setelah dewasa.
Kau ingin membalas dendam, tapi ibu Marie melarangmu untuk berlatih agar kau tidak tertangkap oleh pasukan Raja Eric. Aku benar, kan?"
***
__ADS_1
\=\= follow IG @author_ryby \=\=
\=\= **********.com/ryby \=\=