
...\=\= Gaes, mulai dari bab ini sampai tamat, aku ganti pov ya, dari satu ke tiga. Aku bosen pake pov satu. 😂 \=\=...
...\=\= Selamat membaca!\=\=...
...***...
Kembali ke masa kini, Alissa berusia delapan belas tahun.
Aku yakin sekali kalau di hadapanku ini Mas Dion, suamiku yang dulu! Sebenarnya, apa yang terjadi?!
Banyak pertanyaan yang Alissa ucapkan dalam hati, tanpa ada yang terjawab satu pun. Delapan belas tahun sudah, dia berpisah dari suami yang telah datang menjemputnya, berusaha melindunginya dari kejahatan meski semuanya terlambat. Delapan belas tahun, Alissa berjuang hidup di dunia yang baru ini, sambil berusaha berdamai dengan hatinya, karena dia tahu terpuruk meratapi nasib tidak akan membawanya ke mana-mana. Meski tampaknya sudah move on, Alissa tidak mungkin melupakan sosok suami yang kasih sayangnya telah dia sia-siakan itu.
Sekarang, suaminya itu ada di hadapannya, tanpa mengenalinya sama sekali. Perlahan, air mata Alissa jatuh ke pipi. Dia menangis dalam diam, seraya memandangi Rion yang masih menatapnya dalam kegusaran.
Melihat gadis itu meneteskan air mata, Rion tertegun. Ada sesuatu yang berbeda. Dia sering melihat banyak wanita menangis, tetapi tidak pernah membuatnya terdiam seperti Alissa ini.
Dengan nada tidak yakin, Rion bertanya, "Kau kenapa ... menangis ...?"
Tanpa sadar, tangannya terulur, hendak mengelap air mata gadis itu. Dia langsung menarik tangannya itu, yang tengah mengambang setengah jalan ke arah pipi Alissa.
"Yang Mulia, sebaiknya kita kembali dari pada menghabiskan waktu di sini. Keputusan pernikahan telah ditetapkan, tidak ada yang bisa kita lakukan lagi."
Seorang ajudan bersikeras mengajak Yang Mulia untuk pergi dari kediaman Valcke. Cass tampak mengenali suaranya, tetapi wajahnya tertutup helm zirah.
Rion berbalik, berjalan melangkahi mayat-mayat prajurit Valcke. Kemudian, dia berbicara pada para prajuritnya sejenak. "Ayo tinggalkan tempat ini."
__ADS_1
Sang raja baru pergi setelah berkata ke arah Theo. "Persiapkan dia dalam dua hari," ucap Rion seraya menunjuk Alissa.
"Mas Dion ... ." Alissa terdengar memanggil lirih nama suaminya, tetapi suaranya tidak sampai pada si pemilik wajahnya itu.
Kemudian, terjadilah hal yang paling di luar nalar. Kini, di hadapan Alissa terdapat sebuah kotak putih melayang di udara. Alissa tertegun. Berkali-kali dia mengusap kedua mata, membersihkannya dari tangisan yang tersisa. Kaan tetapi, kotak itu tidak menghilang. Meski Alissa telah mengibas-ngibaskan kedua tangannya, namun kotak itu masih di sana. Alissa malah jadi terlihat aneh, seperti sedang melakukan gerakan tidak jelas.
"Alissa, ada apa?" tanya Theo yang telah berdiri di hadapan Alissa. Ikatan di tangannya telah berhasil dilepaskan oleh Duchess.
"Kakak tidak lihat kotak putih ini?"
"Kotak apa?" tanya Theo kebingungan, dia berjalan mendekat ke arah Alissa, menembus keberadaan kotak putih yang tadi melayang itu. Ada teks tertera di kotak itu. Alissa belum sempat membacanya. Namun, ketika Alissa mengalihkan pandangan menatap bola mata Theo, kotak itu menghilang.
"Ah ... tidak ada ... ." Alissa mengerjapkan mata berkali-kali. Kotak putih tadi memang sudah tidak ada.
Yang tadi itu apa, ya? Mungkinkah hanya khayalanku saja? Alissa masih saja penasaran. Akan tetapi, kotak itu tidak muncul lagi.
"Aku tidak apa, Bu. Tenang saja ... ."
Pikiran Alissa begitu kalut. Berbagai pertanyaan muncul mengenai Rion dan kotak putih yang muncul sementara itu. Theo dan Cass terus menerus bertanya pada gadis itu, mengenai apa yang dibicarakannya pada Rion tentang pernyataan bahwa Alissa adalah istrinya. Alissa tidak lagi mendengar semua pertanyaan itu. Semua suara terdengar samar-samar di telinganya.
Alissa memejamkan mata, menutupi kedua telinga dengan tangan. Perlahan, Alissa berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, tanpa mendengar apa pun lagi.
***
Rion berjalan melangkah keluar kediaman Valcke. Seluruh pasukan mengikutinya. Dari semua bangsawan pengikut mendiang Raja Eric, Rion telah membunuh mereka dan melepaskan hanya segelintir. Rion sebenarnya tak menyangka juga kalau ternyata dia tidak perlu menghabisi keturunan Valcke.
__ADS_1
Rion menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang, melihat kembali kediaman Valcke. Perasaannya sanagt tidak enak, ketika melihat gadis bernama Alissa itu. Ada sesuatu yang membuat dada lelaki itu sakit saat melihat Alissa meneteskan air mata. Akan tetapi, Rion tidak tahu penyebabnya.
Jelas, dia merasa ada yang aneh. Alissa seperti sangat mengenalnya, tetapi seingat Rion, dia tidak pernah bertemu dengan gadis itu sama sekali sebelumnya. Kehidupannya selama ini terlunta-lunta di jalanan. Dia harus bisa menghidupi dirinya sendiri, bertarung sejak kecil melawan monster-monster ganas. Tubuhnya penuh sayatan luka. Rion telah singgah di seluruh wilayah Kerajaan Glassheight ini, mencari sekutu. Semua kota telah dia singgahi, kecuali ibu kota. Jadi, tidak mungkin Rion pernah bertemu Alissa sebelumnya.
Namun, tidak bisa dipungkiri, ada perasaan mengalir dalam dirinya. Seperti rindu pada sesuatu yang lama hilang. Padahal, Rion tidak pernah kehilangan apa pun, karena dia tidak memiliki apa pun yang berharga selama ini.
"Yang Mulia, apakah setelah ini kita kembali ke istana?" tanya seorang prajurit wanita bernama Mischa. Rion dan pasukannya menaiki kuda mereka. Sebelum memacu si kuda, Rion menjawab, "Ya, aku lelah sekali."
Suatu jawaban yang tidak disangka-sangka keluar dari mulut sang raja baru. Biasanya, dia selalu bersemangat, membabi buta berburu orang-orang yang menentangnya. Kini, aneh sekali, Raja Rion bisa kelelahan.
"Baiklah, Yang Mulia." Sebagai komandan, Mischa memerintahkan seluruh pasukan untuk kembali ke istana.
Mischa sendiri merasa lega bisa keluar dari kediaman Valcke. Dia tidak menyangka bahwa hari itu yang mereka incar adalah keluarga sahabatnya sendiri. Tadinya, Mischa akan melakukan segala cara untuk mempengaruhi Raja Rion supaya tidak membunuh Alissa dan keluarganya. Ternyata, keputusan akhir agar mereka dilepaskan dari pembantaian adalah dengan membuat Alissa menikah dengan Rion. Mischa tidak bisa berkata apa-apa, terutama ketika melihat sahabatnya itu menangis.
Alissa sangat tidak ingin menikahi Yang Mulai sampai menangis seperti itu? Aku berjanji, aku akan menjaga Alissa di istana nantinya, menemaninya agar dia tidak kesepian. Aku juga bisa melindunginya, seandainya Yang Mulia bersikap kasar padanya nanti.
Mischa bersumpah dalam hati. Sesuatu yang berbeda dari alur novel sebenarnya telah terjadi.
Orang yang terkejut pada penyerangan terhadap kediaman Valcke hari ini bukan hanya Mischa, melainkan juga ajudan setia yang selalu berkuda tepat di sebelah kanan Rion. Ajudannya ini sangat pandai berpedang dan memiliki kekuatan sihir yang besar. Sejak tadi dia diam, terutama setelah melihat Alissa Valcke turun dari tangga, dan berdiri di hadapan Raja Rion.
Ajudan ini bernama Lucius. Dia masih sangat terkejut, ketika melihat Cass muncul di ruang lobi. Dia tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat pelatih berpedangnya itu harus tunduk meringkuk dan tangannya diikat oleh prajurit lainnya. Cass tampak tidak mengenalinya yang memakai helm zirah. Lucius pun tidak tahu harus berkata apa kalau sampai Cass memanggilnya tadi.
Lucius makin terkejut ketika tadi Alissa turun dari lantai dua. Selama ini dia tidak pernah mengetahui nama belakang Alissa, karena baginya bersama Alissa saja sudah cukup. Ternyata Alissa adalah anggota keluarga duke paling berpengaruh di negeri. Dia makin terkejut, ketika keluarga Valcke setuju untuk menikahkan Alissa dengan Rion.
Hatinya tidak rela. Lucius mengambil keputusan, dia akan melakukan sesuatu yang nekat.
__ADS_1
***