
"Alissa, kita mau kemana? Lalu, kenapa kita semua memakai pakaian rakyat biasa begini?"
Cass bertanya sambil melihat-lihat keluar jendela kabin. Dia akhirnya ikut denganku dan duduk di hadapanku. Di sebelahku, ada Dea, pelayan pribadiku, yang ikut serta dalam perjalananku mencari tempat tinggal Lucius. Sebelum pergi, aku meminta Dea untuk menyiapkan pakaian rakyat pada umumnya untuk dikenakan olehku dan Cass. Kakakku itu langsung bertanya-tanya. Dia tidak pernah memakai tunik cokelat dan celana sederhana seperti itu sebelumnya.
"Alasan pakaian kita seperti ini adalah supaya kita bisa lebih membaur dengan orang-orang di tempat yang kita tuju sekarang."
Aku sedikit jengkel melihat Cass yang pada akhirnya ikut menemani. Kalau begini, mau tidak mau dia juga akan bertemu Lucius!
"Soal tujuan kita mau kemana, nanti akan kuberitahu. Tapi sebelum itu, berjanjilah, apa pun yang Kakak lihat nanti, jangan katakan pada Kak Theo dan Ibu. Mengerti?"
"Memangnya kenapa?" tanya Cass balik. Sudah kuduga dia tidak akan menerimanya begitu saja.
"Kalau Kakak tidak setuju, lebih baik kita putar balik arah, kembali ke rumah dari sekarang!" ancamku.
Kalau sampai ada banyak orang yang tahu tentang Lucius, bisa-bisa nanti alur ceritanya tak berjalan sebagaimana mestinya. Ibu dan Theo adalah orang-orang yang terlalu banyak khawatir. Mereka pasti akan cemas bila tahu apa yang akan terjadi pada Alissa di masa depan.
Sejujurnya aku juga tidak mau mengajak Cass. Tetapi, si putra kedua Valcke ini orangnya masih lebih santai ketimbang ibu dan saudaranya. Seharusnya, Cass masih bisa kukendalikan.
"Baiklah, aku berjanji! Main rahasia-rahasiaan begini, sepertinya menarik!" jawab Cass. Kedua matanya berkilat-kilat bersemangat. Cass dari dulu memang sangat suka dengan tantangan. Dia tidak akan menghalangiku melakukan ini dan itu, selama itu seru baginya untuk turut serta. Ditambah lagi, Cass lebih bisa berbaur dengan orang-orang dari berbagai kalangan dibandingkan Theo. Ditemani oleh Cass mungkin bisa membawa satu manfaat sendiri bagiku nantinya.
Kereta kuda kami makin menjauh dari wilayah distrik bangsawan. Kini, aku dan Cass sampai di wilayah tembok benteng kedua. Kami melewati alun-alun tempat festival sering diadakan. Ayah sering mengajak aku dan kedua kakakku untuk pergi ke tempat ini saat masih kecil dulu. Akan tetapi, kali ini, bukan alun-alun tujuanku.
Makin mendekati tembok benteng kedua, pemandangan ibu kota Glassheight makin berubah. Di distrik bangsawan banyak berdiri mansion mewah dan toko-toko perhiasan maupun restoran ternama. Makin menjauh, perumahannya makin tampak sederhana. Di wilayah benteng kedua, banyak rumah-rumah bertingkat, ramping dengan satu atap. Lantainya bisa sampai lima tingkat. Satu lantai ditempati oleh satu keluarga. Tentunya, isi rumahnya juga sederhana dan tidak ada kamar mandi pribadi.
Lucius tidak tinggal di rumah seperti itu, melainkan panti asuhan. Dalam narasi novelku, aku menuliskan bahwa panti asuhan ini adalah bangunan yang jadi satu komplek dengan kuil. Letaknya berjarak tidak jauh dari tembok benteng kedua, bernama Panti Lotus.
Begitu mendekati tembok benteng kedua, aku membuka jendela yang mengarah ke kusir, hendak memberi instruksi tambahan pada si pengemudi.
"Pak, kita akan ke tempat bernama Panti Lotus, ya."
__ADS_1
"Panti Lotus? Dimana lokasi persisnya, Nona?" tanya si kusir balik, sembari sedikit menoleh ke arahku. Kedua tangannya tak lepas dari tali kekang kedua kuda di hadapannya.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi yang jelas, ada di sekitar tembok kedua. Tempatnya jadi satu dengan Kuil Lotus," sahutku.
Si kusir berpikir sejenak, sebelum dia berkata, "Baiklah. Saya akan tanyakan pada orang-orang sekitar."
Selesai memberi instruksi tambahan, Cass langsung menanyakan ini-itu. "Panti asuhan? Mau apa kamu ke sana?"
"Nanti akan kujelaskan."
"Ada temanmu yang tinggal di sana? Tapi, sejak kapan kamu punya kenalan rakyat biasa?"
"Nanti kujelaskan! Hih, Kakak cerewet sekali! Kubatalkan perjalanan ini kalau Kak Cass tidak bisa diam!" ancamku lagi. Cass bersungut. "Iya, iya! Cuma tanya-tanya sedikit saja, tidak boleh!"
"Tidak jadi kubantu memperbesar mana, ya!"
"Ah, jangan begitu! Ya, ya, baiklah. Aku akan tutup mulut!"
Aku sebenarnya tidak masalah membantu kakak keduaku itu. Akan tetapi, yang menyebalkan adalah setelahnya. Melihat aku ternyata jauh lebih kuat dibanding anak-anak sebayaku, Cass juga ingin jadi speertiku dan terus merengek minta diajari hal yang smaa, supaya bisa sampai sejajar denganku. Sebagai penulis dunia ini, tentunya aku mengerti mekanisme tentang mana sihir dalam diri manusia. Aku mengajari Cass cara memperbesar energi mana, seperti yang sering kulatih terhadap diriku sendiri.
“Nona. kita sudah sampai.” Kusir mengingatkanku, senbari memelankan laju kereta kuda. Aku mengintip sejenak dari jendela kabin. Kereta kuda yang kutumpangi berhenti di sebuah bangunan putih, mirip seperti ruamh rakyat biasa, tetapi terdapat papan nama “Panti Lotus” di depannya.
Aku membuka kunci kabin dari dalam dan membuka pintu. Seorang pengawal yang mengiringi kami telah siap untuk memegangi tanganku yang hendak turun.
“Kita turun di sin? Hei, Alissa!”
Aku tidak memedulikan pertanyaan Cass dan langsung turun, memijakkan kaki ke tanah. Kuminta Cass dan Dea juga turun dari kabin, lalu kereta kuda kami beserta dua ornag pengawal yang mengiringi untuk pergi menjauh dari bangunan panti.
"Nanti kalau sudah selesai akan kupanggil kalian untuk menjemput kami," pesanku. Para pengawal serta si kusir pun mengangguk. Hal ini jelas menimbulkan tanda tanya bagi Cass.
__ADS_1
"Alissa! Kenapa---"
"Sshhh! Jangan banyak tanya!"
"Tapi---"
"Ancamanku yang tadi itu masih berlaku, lho!"
"Tch!"
Aku tidak memedulikan decakan lidah kakakku itu. Bangunan panti ini tampak sangat sederhana, hanya sebuah rumah dua tingkat, dengan sebuah sumur di depannya. Ada juga kebun di sisi kiri. Di sebelah kanan terdapat kuil dengan nama 'Lotus' yang sama. Jarak dari bangunan panti ini ke rumah penduduk lainnya cukup jauh, hingga cocok untuk anak-anak bermain di halaman.
Itulah yang sedang kulihat sekarang. Anak-anak lelaki bermain bola dan kejar-kejaran. Sementara itu, anak-anak perempuan ada yang bermain masak-masakan dan rumah-rumahan. Tentunya, semua kegiatan mereka itu terhenti ketika melihat kereta kuda mewah berhenti di depan tempat tinggal mereka.
Sebenarnya aku tidak mau membuat mereka terkesima seperti sekarang ini. Akan tetapi, aku tidak punya banyak pilihan. Kereta kuda Valcke memang semuanya berpenampilan lebih dari kereta kuda biasa, karena Valcke adalah keluarga Duke. Ada simbol keluarga dengan tinta emas tertera di bagian depan pintu kereta kuda yang berwarna putih. Warga biasa pasti merasa terintimidasi melihat simbol keluarga bangsawan, itu sebabnya aku meminta kereta kuda kami untuk parkir di tempat yang agak jauh.
Akan tetapi, sepertinya mereka sudah terlanjur melihat kereta kuda kami. Mereka tampak mundur ketakutan ketika kami mendekat.
"Halo!" sapaku pada anak-anak tersebut. Mereka saling berpandangan heran satu sama lain, tetapi tidak ada yang membalas sapaanku sedikit pun.
"Hei, aku ingin bertanya pada kalian---"
"Aaaa!!" Anak-anak itu langsung berlari tunggang-langgang ke dalam rumah panti.
***
((Sedikit pemberitahuan.
- Jadwal tayang: 2 hari sekali, kalau lagi gak sakit.
__ADS_1
- Kenapa tidak setiap hari? Sedang ada proyek lain, bisa cek di profil IG @author_ryby untuk keterangan lanjut.))