
...\=\= revisi: kata 'hewan mistis' diganti menjadi 'makhluk mistis' \=\=...
...\=\= selamat membaca, jangan lupa likenya \=\=...
...****************...
"Dari mana kau tahu semua itu ...?"
Lucius terbelalak ketika aku membeberkan semua rencananya di masa depan. Aku menghela napas.
"Iya, aku tahu. Semuanya ada di mimpiku," jawabku. Tentu saja aku berbohong padanya.
Lucius tampak menimbang-nimbang. Aku menambahkan dengan berkata, "Aku bisa membantumu untuk balas dendam. Aku bisa membantumu summon makhluk mistis milikmu sendiri. Dan juga," kugamit lengan Cass yang sedang asyik duduk-duduk di dahan pohon yang rendah, "Kak Cass bisa membantumu untuk berlatih pedang. Dia ini nomor satu di akademi!"
Cass mendelik ke arahku. "Lho, kok aku---"
"Sudah, diam!" Kubalas pelototannya.
Lucius memandangku dan Cass dari kepala hingga kaki. "Siapa nama kalian?"
"Aku Alissa, dan ini kakakku, Cass."
"Hai, aku Cass." Kakakku melambaikan tangan.
Lucius mengambil kesimpulan. "Jadi, kalau kau membantuku, membuat diriku kuat dan bisa summon makhluk mistis, sebagai gantinya, aku melindungimu dari bahaya apa pun itu di masa depan?"
"Tepat sekali!" seruku senang. Lebih tepatnya, bahaya yang datang dari Pangeran Rion, yang entah masih berada di mana sekarang.
"Baiklah ... ." jawab Lucius pada akhirnya. "Bagaimana caramu membantuku?"
"Oh, itu ... apa kita bisa mencari tempat yang nyaman untuk duduk?"
Cass mengacungkan tangan. "Tadi aku melihat ada gubuk tua di sekitaran sini. Mau coba ke sana?"
***
"Pejamkan mata, pusatkan fokusmu untuk mengumpulkan partikel mana yang ada dalam diri, lalu ... ."
Aku memandu Lucius, melakukan ritual pengumpulan mana, seperti yang kulakukan pada diriku sendiri, Theo, dan juga Cass bertahun-tahun lalu.
Lucius duduk membelakangiku. Kedua telapak tangannya menyatu di depan dada. Matanya terpejam, berusaha mencari dan mengumpulkan partikel cahaya mana seperti yang kuminta. Sementara itu, aku duduk di belakangnya, menempelkan tanganku pada punggungnya. Transformasiku pada Kyu belum berhenti sejak tadi. Aku dan Kyu menyatukan kekuatan, mengalirkan mana ke dalam tubuh Lucius.
Dulu, waktu aku membimbing Theo, ada cahaya hangat mengalir dari punggung kakakku itu ke arah tanganku. Begitu pula dengan Cass. Akan tetapi, hal itu tidak terjadi pada Lucius.
__ADS_1
Saat aku memejamkan mata, kedua tanganku yang menempel di punggung anak lelaki berambut silver itu terasa panas. Hawanya menjalar begitu cepat dan suhunya makin bertambah. Seketika membuat peluhku banjir di dahi.
Mana Lucius yang kulihat dari bayanganku begitu besar. Padahal satu sama lain partikelnya masih belum berkumpul. Aku memang menulis bahwa Lucius memiliki mana yang begitu besar. Namun, aku tidak menyangka sebesar ini. Dari salah satunya cahaya partikelnya saja sudah sangat menyilaukan, bagaimana kalau semua ini disatukan?!
"Awww!!"
Rasa terbakar menjalar di tanganku. Teriakanku membuat Cass yang sedang duduk santai di bangku gubuk, langsung menghampiriku. Cass menangkap tubuhku yang oleng ke belakang. Lucius juga ikut tersentak dan menoleh ke belakang.
"Alissa!" Cass berteriak. Aku berpegangan pada lengan kakakku itu.
"Ada apa denganmu?" tanya Lucius.
"Tanganku ... panas sekali ... ," jawabku. Kukibaskan kedua tanganku secara cepat. Cass mengernyitkan dahi. Dia penasaran, lalu menyentuh punggung Lucius dengan satu tangan. Baru sedetik, Cass langsung menarik tangannya kembali. Telapak tangannya berubah kemerahan seketika.
"Gila! Apa kau ini monster?! Panas sekali!" pekik Cass.
Lucius tampak kebingungan. Dia mencoba menyentuh tubuhnya sendiri. Namun, dia tidak merasakan panas seperti yang aku dan Cass alami.
"Kakak! Jangan menghinanya begitu!" omelku pada Cass.
"Soalnya, dia panas sekali!" balas Cass.
"Itu karena mana-nya begitu besar!" seruku.
"Ya, begitulah," sahutku.
"Jadi, bagaimana sekarang? Kalau memang melukaimu, kita hentikan saja." Lucius hendak beranjak dari duduknya, tetapi tangannya kutahan.
"Tidak. Aku sudah berjanji akan membantumu!"
"Lalu?" Lucius kembali duduk, kali ini menghadapku. Ditanya begitu, aku jadi bingung sendiri.
"Bagaimana kalau kita coba berdua?" usul Cass.
"Kakak bisa?"
"Hanya mengalirkan mana, kan, seperti yang dulu kamu lakukan padaku? Aku rasa, aku bisa! Mungkin panasnya anak ini dapat terbagi dua, kalau aku membantu."
"Kakak! Namanya Lucius, bukan 'anak ini'!" protesku. Lucius mengiyakan tanpa dia protes sendiri. Cass mengangguk cuek. "Iya, iya!"
"Kak Cass juga sudah bisa transformasi, 'kan?" tanyaku memastikan. Dalam sekejap, lingkaran mantra muncul dari udara kosong di sebelah Cass. Elang mistisnya, Sam, melompat keluar. Tanpa berbicara panjang lebar lagi, Cass menyatu dengan Sam. Dia jadi punya tangan sayap sebelah sekarang. Kemudian, dia duduk di sebelahku.
Kali ini, di punggung Lucius ada tanganku dan Cass. Keempat tangan kami memenuhi punggung lelaki protagonis novelku itu di sisi kanan dan kiri, atas dan bawah.
__ADS_1
Pengaliran mana dariku dan Cass ini bertujuan untuk mengontrol partikel mana dalam tubuh Lucius yang belum bisa berkumpul, juga menstabilkan kekuatannya. Dengan adanya bantuan dari luar, maka partikel itu lebih cepat menyatu dan menjadi bola mana. Bola itulah yang nantinya akan bisa memunculkan lingkaran mantra untuk summon.
Proses penstabilan mana Lucius menyebabkan punggungnya terasa sangat panas, karena mananya juga begitu besar.
Aku membuka mata ketika masih terjadi proses ritual dan melirik ke arah Cass di sebelahku. Keringatnya tumpah meruah deras. Namun, dia tidak berhenti membantuku mengalirkan sebagian panas tubuh Lucius ke tangannya.
Aku mulai tidak tega, ketika melihat Cass yang staminanya begitu kuat, mulai bernapas terengah-engah.
"Cukup dulu untuk hari ini."
Lucius menggeser duduknya agar menghadap ke arahku. Lucius sendiri tampak banjir keringat, sama seperti Cass yang sedang mengelap peluh di dahinya dengan tangan. Aku juga kelelahan, tetapi tidak seperti dulu saat pertama kali melakukan ritual ini pada Theo. Sekarang, aku sudah bisa bertransformasi dengan setengah badan Kyu. Aku jauh lebih kuat sekarang ketimbang dulu.
Aku dan Kyu memisahkan diri. Tangan dan kakiku yang berbulu kembali seperti semula. Begitu pula yang terjadi pada Cass, sayap sebelahnya menghilang ketika dia menghentikan transformasinya. Kyu dan Sam bersama-sama melompat kembali masuk ke lingkaran mantra, guna beristirahat di dunia arwah.
"Hari ini, cukup sampai sini dulu. Kita bertiga sudah capek. Tidak baik memaksakan diri."
Lucius mengangguk. Aku dan Cass segera beranjak berdiri.
"Kalau begitu, kami pamit dulu, ya! Besok siang, kita bertemu lagi di sini," pamitku, kemudian menggamit lengan Cass untuk segera pulang ke rumah.
"Tunggu!" Lucius berlari menghampiri. Aku dan Cass menoleh.
"Ada apa?" tanyaku.
Tanpa ekspresi, Lucius berkata, "Terima kasih."
Aku tersenyum. Lucius memang bukanlah anak yang angkuh atau arogan. Hanya saja, dia memang tidak begitu bisa mengekspresikan keinginannya. Tinggal bersama anak-anak yang lebih kecil di panti, membuatnya harus selalu mengalah tanpa bisa meminta lebih terhadap sesuatu.
"Baik, sama-sama!" seruku. "Sampai besok!"
***
Empat hari kemudian, Lucius sudah bisa melakukan summon. Perkembangannya sangat cepat, setelah setiap hari aku dan Cass melakukan ritual padanya. Jumlah mana dalam tubuhnya memang sudah sangat besar. Aku dan Cass hanya membantu sedikit. Lucius pun langsung mengerti apa yang kuajarkan tentang mengontrol partikel mana.
Mana yang besar dan kontrol yang baik. Bakat yang besar, terlihat dari makhluk mistis yang melompat keluar dari lingkaran mantra milik Lucius.
Dia berhasil memanggil seekor makhluk dari dunia arwah. Bukan jenis yang biasa seperti rubah Kyu milikku, elang Sam milik Cass, ataupun harimau Firio milik Theo.
Lucius berhasil memanggil Naiad.
\=\= original writing by @author_ryby \=\=
__ADS_1