Antagonis Novelku Adalah Suamiku

Antagonis Novelku Adalah Suamiku
Bab 29. Prajurit Wanita


__ADS_3

"Ibu, kita mau kemana?"


Aku bertanya pada Ibu yang baru saja memasuki kamarku. Saat ini aku sedang dirias, didandani dengan pakaian ala putri bangsawan. Gaun biru gelap lengan pendek, dan rambut yang ditata ke atas tetapi masih menyisakan sedikit rambut menjuntai dari balik ikatan. Ibu sendiri mengenakan gaun putih dengan renda emas sebavai dekorasi. Rambutnya ditata ke atas sama sepertiku. Di tangannya, beliau memegang kipas tangan lipat.


Ibu memeriksa riasanku, sebelum menjawab, "Kita diundang oleh Viscountess Ella Sharma untuk berjalan-jalan di taman tepi danau bersama putrinya, Mischa."


"Oh, baiklah. Seperti apa dia?" tanyaku lagi. Ibu mengingat-ingat.


"Putrinya itu sangat pemberontak. Dia seperti laki-laki. Jadi, Nyonya Ella berharap, kalau Mischa bisa berteman denganmu. Dia ingin putrinya anggun dalam bertingkah laku sepertimu."


Aku mengingat karakterku yang satu itu. Mischa Sharma, seorang prajurit wanita yang tergabung dalam pasukan Pangeran Rion dalam menggulingkan tahta Raja Eric dan menghabisi seluruh keluarganya.


Mischa adalah pemimpin pasukan, loyalitasnya sangat kuat terhadap Pangeran Rion. Mischa juga adalah pengawal yang menemani Alissa Valcke kemana pun setelah dia menjadi istri Rion. Mischa adalah orang yang selalu mengurung Alissa di kamarnya, selama ada permintaan dari Rion.


Mischa juga lah, orang yang melaporkan kisah cinta terlarang antara Alissa dan Lucius pada Rion, mengantarkan Alissa pada kematian.


Dalam novelku, Alissa baru bertemu Mischa setelah dia menjadi istri Rion. Alissa tidak mungkin bisa berteman dengan Mischa sebelumnya, karena Alissa hanyalah anak buangan Valcke yang selalu dikurung di dalam rumah dan diperlakukan bak pelayan.


Kini, setelah aku berperan sebagai Alissa hingga naik kasta begini, aku bisa punya kesenpatan untuk mendekati Mischa, jauh sebelum dia mendaftar menjadi prajurit pasukan pemberontakan Pangeran Rion.


***


"Siang, Your Grace,"


Viscountess Ella Sharma melakukan curtsy di hadapan Ibu yang bergelar Duchess, lebih tinggi dari Viscountess. Beliau membalas dengan anggukan. Setelahnya, beliau memperkenalkanku.


"Ini Alissa, putriku."


"Salam," sapaku, seraya melakukan curtsy pada Nyonya Sharma yang lebih tua dariku. Nyonya Sharma menempelkan kedua tangannya ke pipiku.


"Kau cantik sekali, Nak! Sangat anggun! Aku senang melihatmu dalam balutan gaun indah ini!" puji beliau. Aku hanya tersenyum menanggapi.


"Putrimu cantik sekali, Nyonya! Persis sepertimu!"


"Akhirnya, ada yang berkata begitu. Kau tahu, dikenal sebagai Ibu dari dua orang putra sungguh membosankan. Sesekali aku ingin bisa mengajak seorang putri ke acara jamuan teh seperti ini. Kini ada Alissa yang bisa menemaniku!" seru Ibu.

__ADS_1


Nyonya Sharma tertawa. "Anda benar, Duchess. Akan tetapi ... ." Raut wajah Nyonya Sharma tampak sendu. Beliau melanjutkan kalimatnya. "Meski aku memiliki seorang putri, aku tidak bisa merasakan kebahagiaan yang Anda rasakan."


"Ah, di mana putrimu? Apa kau tidak jadi mengajaknya?"


"Tadi Mischa ada di sebelahku, tapi dia berhasil kabur sebelum kalian berdua datang. Aku yakin dia masih di sekitar sini. Entah apa yang tengah dilakukannya sekarang ... ."


Mischa sudah pasti tidak akan suka mengikuti pesta minum teh yang harus bersikap anggun seperti ini, maka dari itu dia kabur.


Aku mengacungkan tangan. "Biar aku saja yang mencarinya."


"Apa kau yakin?" tanya Nyonya Sharma. Aku mengangguk.


"Pergilah, dan hati-hati," ucap Ibu. Nyinya Sharma mempersilakan Ibu untuk duduk di salah satu gazebo taman umum tersebut. Sementara itu, aku mulai menelusuri jalan setapak yang biasa dilalui orang-orang untuk menikmati pemandangan danau.


Aku kasihan pada Mischa. Ibunya tidak menyadari, bahwa meski Mischa adalah seorang putri, dia akan menjadi prajurit terkuat di kerajaan ini. Di sela-sela waktu senggangnya, saat dia berhasil menghilang dari pandangan keluarga Sharma, Mischa selalu berlatih sendirian, baik itu pedang maupun sihir.


Aku menemukan Mischa, berada tepat di bawah jembatan penyeberangan, yang menghubungkan sisi danau antara satu dan lainnya. Dia sedang berlatih pedang. Tak ada seorang pun di sekitarnya.


Sabetan-sabetan pedangnya membelah udara. Dia begitu fokus melawan udara kosong. Aku merasakan adanya kontrol mana yang baik, terpamcar dari bilah pedang kayunya itu. Gadis itu tidak peduli meski tanah telah mengotori ujung renda gaunnya. Dia juga tidak peduli pada lumpur yang menempel di sepatu.


Aku berjalan mendekat. Mischa tampak tidak menyadari kehadiranku. Aku seperti merasakan deja vu. Pertama kali bertemu Lucius juga seperti ini. Mengapa orang-orang kuat selalu sedang berlatih, ketika aku menemui mereka?


"Alissa Valcke." Mischa menyebut namaku, seraya menurunkan bilah pedangnya, mengarahkan ke tanah.


"Kamu mengenaliku?" tanyaku.


"Kamu yang baru saja mengadakan pesta debut kemarin, bukan?"


"Kau benar. Apa kau juga datang?"


"Tentu, dipaksa oleh ibuku." Mischa berjalan menghampiriku. Badannya lebih tinggi sedikit dariku. Dia memang perempuan, tetapi pedang kayu itu terlihat sangat pas di tangannya.Raut wajahnya tegas dan tanpa keraguan. Rambutnya hitam sebahu, sedikit berantakan. Mungkin tadinya ditata ke atas, tetapi Mischa melepaskan ikattannya karena tidak menyukainya.


"Kau tidak menyukainya?"


"Aku tidak suka dipaksa. Aku tidak pernah suka pesta. Isinya hanyalah para gadis mengobrol tidak jelas. Selain itu, aku tidak betah memakai gaun seperti ini." Mischa menarik-narik gaunnya, berharap kalau dia bisa merobeknya.

__ADS_1


"Jadi, apa yang kau inginkan?" tanyaku lagi. Aku berharap untuk bisa menjadi temannya. Loyalitas Mischa bisa menjadi aset penting, seandainya dia menujukannya padaku dan bukan Rion.


"Aku ingin menjadi kuat! Tapi Ibu selalu saja menyeretku kesana kemari untuk pesta-pesta yang tidak jelas!"


Raut wajah Mischa menegang. Nafasnya menderu. Dia temperamen seperti Cass, mungkin lebih darinya. Keinginan dan tekadnya begitu kuat. Mischa juga menyukai tantangan. Untuk menarik perhatiannya, aku harus masuk ke dalam lingkup topik pembicaraan yang dia sukai.


"Kalau kau tidak menyukai sesuatu, buat saja supaya hal itu menjadi sesuatu yang kau sukai!" seruku.


Mischa mengangkat alis. Gadis itu memandangiku heran. "Aku tidak mengerti maksudmu."


"Kau tahu, kan, untuk menjadi seorang prajurit, selain ahli pedang dan sihir, kau juga dituntut untuk selalu bisa membawa diri di mana pun dan bisa menyelinap ke cela apa pun.


Bagaimana kalau kau menganggap pesta itu sebagai suatu tantangan? Kau bisa belajar menyamar di sana!"


"Belajar menyamar ...?" Mischa mulai terpancing.


Aku mengangguk cepat. "Benar! Seorang prajurit juga harus bisa menyamar di lingkungan musuh. Kalau kau bisa bersikap anggun tanpa kekuatanmu diketahui orang lain, kau bisa menyergap musuh dengan mudah!"


Kedua mata Mischa terbelalak. Kuarasa, dia sudah bisa memandang pesta sebagai suatu yang berbeda.


"Jadi ... semakin aku bersikap seperti gadis kebanyakan, musuh tidak akan waspada padaku ... ."


"Tepat sekali!"


"Tapi ... aku tidak berbakat untuk bertingkah laku seperti perempuan ... ."


"Tenang saja, kan, ada aku!" ucapku. "Aku bisa mengajarimu! Aku bisa datang ke rumahmu atau sebaliknya. Aku akan mengajarimu cara-cara menyamar jadi seorang gadis yang feminin!"


Mischa mengangguk-angguk. Kemudian, dia mengulurkan tangan, hendak menjabatku. "Aku ... belum memperkenalkan diri. Namaku Mischa."


"Oh, bukan begitu cara seorang gadis memperkenalkan diri. Kau harus melakukan curtsy! Perhatikan, ya!"


Kuajari Mischa cara memberi hormat ala curtsy para bangsawan. Dia menuruti dan meniruku. Awalnya kikuk, tetapi dia makin mahir.


Dua hari kemudian, sebuah surat datang dari Keluarga Sharma. Nyonya Ella sangat berterima kasih pada Ibu dan aku karena telah membuat putrinya lebih feminin sekarang.

__ADS_1


Satu lagi sekutu telah kudapatkan.


...\=\= IG: @author_ryby \=\=...


__ADS_2