Antagonis Novelku Adalah Suamiku

Antagonis Novelku Adalah Suamiku
Bab 30


__ADS_3

Satu minggu setelahnya.


"Lucius! Apa kabar---"


Tanpa peringatan, tiba-tiba Lucius berlari ke arahku dan memelukku. Memang, sudah satu minggu sejak pertemuan terakhir kami. Aku tidak menyangka reaksinya akan seperti ini.


Saat ini, aku dan Cass menemui Lucius di gubukan tempat kami berlatih. Selama seminggu terakhir, hanya Cass yang menemui Lucius. Sementara itu, aku bersama Ibu menghadiri berbagai acara sosialisasi bangsawan.


"Kamu kemana saja?" tanya Lucius, setelah dia akhirnya melepaskan pelukan dan memandangku. Wajahnya tampak polos.


"Ah, aku ada urusan di rumah. Kakakku memintaku untuk menghadiri beberapa acara," sahutku. Lucius mengangkat alis, tampak tidak mengerti. Dia menoleh ke arah Cass. Kakak keduaku itu mengibaskan tangan. "Bukan aku, tapi kakak sulung kamu yang melarangnya pergi bermain."


"Apa kabarmu? Bagaimana latihanmu?" tanyaku pada Lucius. Aku melirik juga ke arah Cass sebagai pelatihnya.


"Dia mudah dilatih teknik-teknik berpedang baru. Aku juga melatihnya transformasi, meski tidak sepandai dirimu. Tapi, ya, lumayan ada perkembangan." Cass memberi penjelasan.


Aku menoleh ke arah Lucius, senyumku mengembang pertanda bangga. Aku berjinjit, kutepuk-tepuk kepalanya, seperti sedang memberi pujian pada anak kecil.


"Hebat! Terus semangat, ya! Keinginanmu pasti segera tercapai!"


Spontan, wajah Lucius memerah. Gerakanku jadi mematung di tempat, salah tingkah. Aku jadi kepikiran oleh perkataan Cass tempo hari.


"Kalau aku menunjukkan perkembangan, kau akan memujiku?" tanya Lucius dengan polosnya.


"T-tentu!"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Lucius pun menampilkan senyuman menawan yang menjadi ciri khasnya di dalam novel.


Aku sampai terpana, kalau saja Cass tidak menyadarkanku dari lamunan dengan berkata, "Ayo, lanjut latihannya!"


Setelah dua minggu berturut-turut Cass melatih Lucius setiap hari, kini giliranku menggantikan posisi pelatih. Masa liburan Cass sudah habis. Cass hanya akan datang di akhir pekan karena sibuk di akademi, sedangkan aku masih bisa datang tiga hari sekali, untuk menghindari kecurigaan Theo pada kegiatanku yang sering bermain di wilayah tembok kedua.


Namun, tentunya, hal ini tidak akan bisa berlangsung lama, terutama nanti ketika aku berusia empat belas tahun.


***


Satu tahun kemudian, Alissa berusia empat belas tahun.


Hari itu akhirnya tiba, ketika aku tidak bisa lagi sering-sering pergi ke Panti Lotus. Sudah waktunya aku pergi belajar di akademi, bersama anak-anak bangsawan lainnya.


Di Glassheight, laki-laki menempuh pendidikan di luar rumah sejak usia sepuluh tahun, sedangkan perempuan di usia empat belas tahun. Pendidikan laki-laki memang lebih lama karena mereka dibutuhkan lebih banyak di bidang militer dibandingkan perempuan. Tentunya, teori ini terpatahkan ketika nanti Mischa menjadi prajurit wanita terkuat. Akan tetapi, itu masih cerita nanti.


Saat ini, aku sedang menemui Lucius, menyampaikan kalau selanjutnya aku hanya akan menemuinya di akhir pekan saja. Lucius mendengar berita ini dan terkesiap. Dia langsung menyatakan keberatan. "Kenapa harus belajar di akademi?"


Lucius tidak akan mengerti. Akademi hanyalah untuk kalangan bangsawan. Anak-anak rakyat biasa hanya mendapat pendidikan dari orang tua mereka masing-masing, tidak harus pergi ke suatu lembaga pendidikan. Untuk kasus Lucius, ada pendidikan pagi hingga siang hari di Panti Lotus. Sore hari mereka sudah bebas dari pelajaran apa pun. Berbeda dengan akademi bangsawan, yang mengharuskan belajar hingga sore.


Lucius menyadari sesuatu. "Tunggu dulu! Akademi? Kamu berasal dari keluarga bangsawan?!"


Selama ini, aku dan Cass selalu memakai pakaian rakyat biasa untuk menemui Lucius. Hal itu dilakukan untuk mencegah adanya kejahatan terjadi ada kami, yang notabenenya adalah anak-anak mendiang Duke Valcke. Kereta kuda bersimbol keluarga Valcke pun hanya dipakai sekali saat pertama ke Panti Lotus. Slenajutnya, aku dan Cass memilih untuk menyewa kereta kuda umum.


"Ah, yaaa ... begitulah! Kami hanya bangsawan kecil, kok!" jawabku berbohong. Bisa terkaget-kaget Lucius kalau mengetahui aku dna Cass berasal dari keluarga Valcke, salah satu keluarga duke terkuat di negeri.

__ADS_1


"Pendidikan penting bagiku. Selama ini, aku selalu belajar di rumah. Kau juga harus jadi lebih kuat, sepertimu. Tapi, belajar di rumah saja tidak cukup. Aku perlu pembimbing."


Aku mencari-cari alasan yang masuk akal. Aku tidak mungkin membantah perintah Theo yang mengharuskanku masuk akademi. Lagi pula itu adalah permintaan terakhir ayah kandung Alissa, Simon, yang belum sempat diwujudkan oleh mendiang Alfred Valcke, si ayah angkat. Simon menginginkan Alissa mendaoatkan pendidikan layak. Maka dari itu, sekarang Theo yang berusaha mewujudkannya.


"Tapi ... kau kan sudah cukup kuat! Kau bahkan bisa melatihku!" ujar Lucius.


Aku menggeleng. "Itu berbeda. Kau sebenarnya tidak perlu dilatih. Kau sudah cukup kuat dan mana-mu sungguh besar! Kau hanya perlu dibimbing untuk mengontrol dan menggunakannya saja. Saat ini, kau sudah bisa berlatih sendiri!"


"Tapi ... ." Lucius kehabisan kata-kata. Aku tahu, dia tidak ingin berpisah dengan Alissa. Anak ini sepertinya sudah benar-benar tidak bisa lepas dari karakter Alissa yang kurasuki ini. Akan tetapi, aku sendiri tidak boleh terpengaruh. Jatuh cinta pada Lucius bisa mengantar Alissa pada kematian. Perginya aku ke akademi ini juga sebenarnya berguna untuk mengurangi frekuensi pertemuan antara Lucius dan Alissa.


Aku tersenyum di hadapannya. "Tenanglah, setiap akhir pekan aku akan selalu mengunjungimu. Teruslah berlatih dan berikanlah aku perkembangan yang positif, sampai aku pangling padamu. Oke?"


" ... baiklah ... ." Lucius menyahut lemas. Dipeluknya tubuhku erat-erat. Aku membalas pelukannya. "Jaga diri baik-baik, ya!"


***


Tiga tahun kemudian, Alissa berusia tujuh belas tahun.


Ternyata, tak memakan waktu empat tahun bagiku untuk menyelesaikan pendidikan di akademi. Di usia ketujuh belas, aku sudah dibebaskan dari segala pendidikan yang seharusnya kutempuh selama satu tahun lagi. Bukan karena aku selalu menjadi peringkat teratas di setiap pelajaran dan latihan sihir. Bukan pula karena aku keturunan Valcke yang mendapatkan privilese. Semua ini karena ada sesuatu hal yang menggemparkan telah terjadi selama beberapa bulan belakangan.


Situasi Kerajaan Glassheight begitu mencekam. Berbagai desa tiba-tiba diserang oleh sekelompok pemberontak. Pertanian dan perumahan dijarah. Para warga mengungsi ke kota-kota lain, meninggalkan tanahnya. Para wanita kehilangan suami, para bayi dan anak-anak menjerit. Tangisan terdengar di seluruh pelosok negeri. Abu dan asap mengotori udara akibat pembakaran di sana-sini. Berpuluh-puluh peti mati melewati jalanan tidak ada habisnya.


Pemberontakan telah terjadi di seluruh wilayah kerajaan ini.


Tentu saja, aku tahu siapa dalangnya. Seseorang yang telah sakit hati karena dibuang oleh keluarganya. Seseorang yang sangat berpengaruh bagi kehidupan Alissa Valcke. Orang ini adalah si tokoh antagonis terkuat, pemimpin pemberontakan terhadap Raja Eric yang telah memerintah dengan semena-mena.

__ADS_1


Sang pangeran kedua, Rion Ardinand.


***


__ADS_2