Antagonis Novelku Adalah Suamiku

Antagonis Novelku Adalah Suamiku
Bab 34


__ADS_3

Tiba di hari pernikahan, Alissa telah siap dengan segala atribut gaun pengantinnya. Dia sedang berada di kamar rias sebuah kuil. Barisan kereta kuda telah berjejer di halaman. Kuil telah dihias dengan dekorasi silver dan emas. Wajah telah diberi make up, rambut telah ditata ke atas. Cadar pengantin telah dipasang. Semuanya telah siap. Yang belum hanyalah hati Alissa itu sendiri.


Saat ini, dia seperti sedang bertaruh. Kalau benar Rion adalah Dion, maka dia harus mencari tahu mengapa Dion sampai tidak ingat apa pun padanya. Wajah Alissa dan Masya tidak begitu berbeda, karena memang saat membuat karakter Alissa, Masya menuangkan gambar wajahnya sendiri dalam bentuk tulisan. Lagi pula, yang memanggil Dion dengan sebutan Mas hanya dirinya. Kalau sampai Dion tidak mengenalnya, itu berarti ada sesuatu terjadi di masa lalu yang membelenggu ingatannya.


Akan tetapi, kalau seandainya Rion bukanlah Dion maka Alissa alias Masya terlanjur menikah lagi. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Alissa ingin bahwa di kehidupannya, terulang sampai berapa kali pun, tetap menjadi istri seorang Dion, bukan yang lain.


Apa aku harus percaya seratus persen pada kotak misi kemarin? Apa benar, setelah menikah denganku, Rion akan bahagia? tanya Alissa dalam hati.


Di dalam novel, Rion cemburu pada Lucius, merasa Alissa telah mengkhianatinya. Selama ini hidupnya sering dikecewakan orang lain. Rion merasa diremehkan, telah diselingkuhi seperti itu. Dia membunuh Alissa sebagai pembuktian.


Benar atau salah, yang jelas keberadaan kotak misi itu sendiri sudah merupakan suatu keajaiban. Siapa pun identitas Rion yang asli, rewardnya adalah Alissa tetap kembali ke dunia asalnya.


Apa aku benar-benar harus mengorbankan kesetiaanku dengan Mas Dion, justru untuk bertemu dengannya lagi di bumi?


Tiba-tiba, terdengar suara kaca jendela diketuk dari luar. Di saat yang bersamaan, Dea memberitahu Alissa bahwa pernikahan akan segera dimulai dalam setengah jam.


"Kamu dan semua pelayan, keluarlah terlebih dahulu. Aku akan menyusul sebentar lagi," ucap Alissa. Para pelayan pun menurutinya.


Alissa bergegas pergi ke arah jendela dan mengintip. Seseorang dengan pakaian zirah sedang berdiri di sisi luar, memunggungi Alissa. Itu adalah pakaian pasukan Rion. Alissa mengernyitkan dahi. "Apakah Rion mengirimku seorang pengawal? Kenapa mengetuk dari jendela?"


Tak lama, sosok itu berbalik dan melepas helmnya. Seorang lelaki berambut silvernya yang khas. Lelaki yang telah menaruh hati pada Alissa. Lucius mengetuk jendela sekali lagi. Gadis itu pun membukakan selotnya.


"Lucius! Lama tak jumpa!" seru Alissa. Semenjak Lucius tergabung dalam pasukan Rion, praktis Alissa maupun Cass tidak dapat bertemu dengannya lagi. Postur tubuhnya makin tegap dan tinggi, berdada bidang dan tulang rahang yang tegas.


Lucius menggeleng lemah. "Dua hari lalu kita sudah bertemu ... di rumahmu."


"Di rumahku ...? Ah, kamu ada saat Rion---"


"Kenapa, Alissa? Kenapa tidak pernah bilang kalau kau adalah anggota keluarga Valcke!" Terdengar nada amarah dan sedih bercampur dalam pertanyaan Lucius.


"Apa kamu lupa, kamu membenci Raja Eric dan seluruh pengikutnya? Keluarga Valcke terkenal sebagai pengikut Raja Eric, meski sebenarnya tidak begitu. Kau tidak akan mau menerima bantuanku untuk membuatmu jadi lebih kuat," terang Alissa.

__ADS_1


"Lalu, kapan kekuatanku akan berguna bagimu? Katamu, dalam mimpi aku bisa melindungimu!"


Alissa tidak dapat menjawabnya. Sebenarnya, dia mempersiapkan Lucius untuk hari ini, atau setidaknya ketika Rion hendak membunuhnya. Alissa berencana untuk menggulingkan tahta Rion ketika seandainya nyawanya terancam. Namun, setelah mengetahui misi yang diberikan padanya untuk kembali ke dunia asal, Alissa tidak mungkin bisa melakukan hal itu.


"Ayo kita pergi dari sini!"


"Hah?"


Usulan Lucius yang impulsif jelas mengejutkan Alissa. "Ta-tapi, sebentar lagi resepsi akan diadakan!"


"Kita kabur bersama! Kita pergi ke kerajaan lain!"


"Lucius, aku---"


"Kamu tidak mau menikah dengan Raja Rion, bukan? Tenanglah, aku yang akan melindungi kamu, aku akan membuatmu bahagia!"


Alissa terdiam ketika Lucius memegang erat tangannya. Gadis itu mengambil napas sejenak dan menghembuskannya perlahan. Ditatapnya Lucius dalam-dalam.


"Lucius ... kita ini teman, kan?" tanya Alissa dengan nada yang sangat hati-hati.


Sekali lagi, Alissa bertanya, "Kita ... selamanya akan jadi sahabat, kan?"


Lucius tertegun. Alissa menekankan kalimatnya pada kata sahabat.


"Sahabat ...?"


Alissa mengangguk. Dia menggenggam kedua tanga Lucius erat, lalu menatapnya lembut.


"Apakah kamu akan mendukungku, dalam pernikahanku dengan Rion, dalam suka maupun duka?"


"A-aku ... ."

__ADS_1


Tiba-tiba, terdengar suara pintu diketuk. Suara Dea terdengar dari seberang. "Nona, sudah waktunya acara dimulai!"


"Iya, aku datang!"


Alissa menepuk-nepuk kepala Lucius, yang kini lebih rendah karena lantai kamarnya berada lebih tinggi dari tanah yang Lucius injak di luar. Alissa mengusap kepala Lucius, seperti saat dulu.


"Kamu memang sahabat terbaik. Aku pergi dulu, ya ... ."


Ucapan Alissa hanya samar-samar terdengar di telinga Lucius. Gadis itu berbalik seraya berlari kecil, menyeret gaun putihnya keluar dari kamar. Penglihatan Lucius juga jadi buram, karena basah oleh air mata.


Cintanya ditolak bahkan sebelum dia sempat mengatakannya.


***


Di balik pintu kamar, Alissa sendiri meneteskan air mata. Gadis itu tidak tega berlama-lama bersama Lucius. Alissa memang tidak pernah mencintai Lucius lebih dari seorang sahabat. Lucius adalah tipe orang yang sangat mudah membuat orang jatuh cinta, kalau orang mau mengenalinya lebih dalam. Alissa bisa saja belajar mencintainya, kalau seandainya alur novel harus tetap terjadi seperti di buku.


Akan tetapi, kini dia punya misi yang harus dijalankan. Kini, suaminya Dion ada di depan mata.


Alissa menyeka air mata yang sempat menetes di pipi. Dengan memantapkan hati, Alissa pergi ke ruang aula tempat pernikahan dilangsungkan.


***


Prosesi pernikahan akan segera dimulai. Rion telah berdiri di depan pendeta, menanti Alissa. Pertama kalinya, Rion berpakaian resmi kerajaan tanpa embel-embel darah musuh atau hewan yang menempel. Segala atribut dan lencana telah dikenakannya pada jas putih tersebut. Lelaki itu berkali-kali menengok pada pintu utama, memastikan bahwa mempelainya sudah datang atau belum. Deretan kursi telah penuh dengan para tamu undangan, termasuk para prajurit setianya di barisan belakang.


Aneh, kemana Lucius? tanya Rion dalam hati. Ksatria setianya tidak nampang pada siang itu. Di antara para prajurit lain, Lucius merupakan yang terkuat dan selalu bisa Rion andalkan dalam segala tindakan. Rion cukup heran ketika tangan kanannya itu justru tidak ada di acara formal ini. Meskipun pernikahan ini hanya sebagai simbol untuk seorang raja bagi Rion, tetapi Lucius seharusnya tetap datang.


Tak lama, pintu utama dibuka. Dua orang muncul dari baliknya. Theo mengenakan jas hitam, menggandeng adiknya, Alissa yang memakai gaun dan veil serba putih. Theo mengantarkan adik perempuannya itu menyusuri karpet merah, menuju tempat Rion berada.


Begitu tiba di sebelahnya, Rion mencuri pandang pada mempelai wanitanya itu. Bola matanya menampilkan semburat merah, seperti baru saja menangis. Timbul rasa kesal mendalam di hati Rion kala melihat hal itu, entah mengapa. Padahal, Rion sendiri yang memaksakan pernikahan ini, seharusnya dia tahu kalau mempelainya tidak akan rela menjalaninya. Rion pun biasanya tidak peduli akan hal yang dibenci orang mengenai dirinya.


Akna tetapi, setiap kali Rion melihat Alissa memancarkan kesedihan, anehnya, hatinya serasa berlubang. Seolah perasaannya tidak rela melihat gadis disl sebelahnya saat ini terluka. Wajahnya yang sedih itu seperti Rion sudah kenali sejak lama sekali.

__ADS_1


Ada apa denganku? Rion kebingungan dalam hatinya.


***


__ADS_2