
Musik klasik dimainkan di ruang lobi kediaman Valcke. Berbagai kalangan bangsawan hadir untuk turut memeriahkan pesta. Duchess Rinia tampak sibuk menemani Theo, yang sedang dikerubungi oleh para kepala keluarga bangsawan yang stratanya lebih rendah dari pada Valcke. Apalagi memang tujuannya, kalau bukan untuk mencari muka di hadapan Theo yang baru saja diangkat menjadi duke.
Ibu takut kalau Theo terlalu polos dan termakan oleh pujian kosong mereka semua, maka dari itu Ibu berdiri di sebelahnya, memberitahukan siapa melakukan apa, punya hubungan siapa, dan akan bermanfaat untuk Valcke seperti apa. Ibu seperti sudah hafal di luar kepala untuk hal-hal bersosialisasi seperti ini.
Cass sendiri sekarang sedang menemaniku berdiri di sebelah salah satu meja yang penuh berbagai hidangan makanan. Cass menikmati semuanya dengan lahap. Dia tidak peduli pada keadaan sekitar, yakni berpasang-pasang mata gadis menatapnya, hendak ingin mengobrol dengannya.
“Kak Cass,” panggilku. Cass tidak melirik sedikit pun. Dia sibuk dengan makanan di mulutnya. Aku heran, semua makanan itu tidak ada yang jadi lemak tambahan di tubuhnya.
“Kakak!” panggilku sekali lagi. Cass melirik dengan jengkel. “Apa sih!”
“Itu lihat, semua gadis melihat ke arahmu!”
“Ah, tidak peduli!”
“Setidaknya, tolak saja kalau memang tidak suka, jangan cuek begitu! Tuh tuh, lihat! Mereka datang!” seruku. Sesuai ucapanku, para gadis itu langsung mendekati Cass dan menyapanya.
“Salam hormat, Tuan Muda dan Nona Valcke.” Mereka semua melakukan curtsy. Aku dan Cass membalasnya dengan anggukan.
“Salam,” sapaku balik, sementara Cass tidak menjawab apa pun sama sekali. Matanya menatap semua gadis di hadapannya
“Tuan Muda, namaku adalah Cressida Leowyn, putri pertama dari keluarga Leowyn.”
“Namaku adalah Mary Isaac, ayahku seorang baron---“
“Namaku adalah Cynthia … .” Suara mereka saling bersahutan, benar-benar tidak mau kalah dalam ajang perkenalan diri pada Cass. Memiliki hubungan dengan seorang duke maupun raja adalah impian bagi semua orang yang berkedudukan lebih rendah dari dua posisi tersebut. Kalau tidak bisa berhubungan dalam darah, maka dalam ikatan pernikahan dan bisnis pun dilakukan. Para gadis ini ingin bisa berpasangan dengan Cass suatu hari nanti, karena Cass adalah adik dari Duke Theo. Maka dari itu, mereka berlomba-lomba untuk jadi terlihat yang paling baik di mata Cass.
“Tunggu sebentar!” Cass memotong semua perkenalan para gadis tersebut. Dihabiskannya sisa kue di tangannya sejenak. Setelahnya, dia menepuk-nepuk kedua tangan guna membersihkan remah-remah yang masih menempel. Cass memandangi lagi para gadis tersebut, yang tidak sabar menunggunya mempersilakan mereka memperkenalkan diri kembali.
__ADS_1
“Begini, aku sudah tahu nama-nama kalian semua.”
Aku sampai terperanjat ketika Cass mengatakan hal demikian. Terlebih lagi, ketika dia benar-benar menyebutkan nama para gadis itu satu per satu tanpa kesalaahn sedikit pun. Hal itu membuat para gadis makin terpesona pada Cass. Entah sejak kapan Cass menghafal semua nama-nama tersebut. Kenapa tanggapannya jadi berbeda, tadi katanya tidak peduli!
Aku menyingkir dari gerombolan Cass dan menikmati minumanku sendirian. Tak lama, seorang pengawal membuka pintu sambil meneriakkan kata sambutan. “Memasuki ruangan! Yang Mulia Ratu Penelope dan Yang Mulia Pangeran Darren!”
Aku beserta seluruh hadirin yang ada langsung memberikan penghormatan. Ratu dan Pangeran memasuki ruangan. Sebagai yang punya acara, Ibu menggandengku untuk menyambut mereka berdua.
“Salam hormat, Yang Mulia,” Aku dan Ibu melakukan curtsy. Para bangsawan lain pun ada yang mengekori kami, ikut berdiri di sekitar kedua anggota keluarga Raja Eric tersebut. Persis seperi apa yang kutuliskan, Ratu memiliki rambut yang sering ditata ke atas apabila sedang menghadiri pesta-pesta. Tubuhnya sedikit gemuk, tetapi tidak terlihat berkat korset ketat yang dipasangkan di perut. Kedua bola matanya berwarna biru terang, sama seperti sang pangeran.
Darren terlihat berwibawa dengan jas hitam dan kemeja motif di dalamnya. Tubuh Darren cukup tinggi. Kepalaku hanya setara dengan lehernya, padahal usianya hanyua dua tahun di atasku.
“Perkenalkan, ini adalah putriku, Alissa Valcke,” ucap Ibu. Aku melakukan curtsy sekali lagi. Kemudian, sang ratu menatapku dari atas ke bawah, seperti sedang menilaiku. Tak ada senyum sedikit pun terpancar di wajahnya sampai akhirnya dia berkata, “Hmmm, cantik.”
Ibu langsung mengalihkan pandangan padaku dengan gembira. Sudah menjadi harapan semua ibu pada setiap anaknya untuk bisa diakui oleh para bangswan dengan gelar di atas mereka, tidak terkecuai Ibu. Beliau tampak senang Ratu mengakui keberadaanku, terutama kecantikanku. Ibu akan sangat bersyukur apabila aku bisa menikah deblngan Darren si putra mahkota di masa depan.
Andai saja Ibu tahu, kalau Darren dan seluruh keluarga pangeran pertama akan dibunuh oleh Rion si pangeran kedua. Saat ini, Rion pasti masih berada di luar sana, berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya sebagai anak piatu sebatang kara.
Kusambut tangannya sambil diiringi sedikit anggukan. Berdansa dengan anak fiksiku sendiri rasanya sedikit aneh, apalagi ini adalah dansa resmiku yang pertama sejak hadir ke dunia novel ini.
Kami pun berjalan ke tengah lobi, semua mata tertuju pada kami, terutama pada Darren yang merupakan tamu spesial. Musik klasik pun dimainkan. Nada-nada mengalun lembut, mengiringi gerakan perlahan kaki kami. Perlahan, tempo musik semakin dipercepat. Di saat itu pula, pasangan-pasangan lain ikut bergabung berdansa di sekitar kami.
“Kegiatan apa yang kamu lakukan sehari-hari?” tanya Darren padaku, berusaha ingin lebih mengenal diriku. Aku menjawabnya sambil terus bergerak mengikuti musik. “Aku suka bermain piano di gazebo taman bersama kedua kakakku.”
“Kau tahu, taman di istanaku begitu luas! Kau pasti akan suka pergi ke sana. Kami juga memiki piano besar yang … .” Kata-kata Darren tidak lagi kudengarkan setelahnya.
Aku menciptakan karakter Darren sebagai sosok yang suka pamer dan berbicara tentang dirinya sendiri, seperti yang barusan dia lakukan. Ketampanan dan wajah yang sebenarnya kalem itu tidak sebanding dengan apa yang terucap dari mulutnya. Aku hanya tersenyum basa-basi dan sesekali menanggapi dengan tawa kecil. Hingga akhirnya, dansa berakhir tanpa sedikit pun dia tertarik lagi dengan apa yang kulakukan sehari-hari di rumah.
__ADS_1
Bagaiamanpun juga dia dalah salah satu karakter penting meskipun menyebalkan. Lagipula, dia hanya figuran yang juga akan mati di tangan Rion, sama seperti Alissa. Tokoh utama penggerak cerita ini tentu saja Lucius, tetapi aku belum pernah bertemu dengannya. Di usianya yang mungkin hanya setahun di atasku, bisa jadi saat ini dia masih berada di panti asuhan, sedang berlatih untuk balas dendam pada keluarga Darren.
Pesta berakhir tanpa terasa. Keesokan harinya, aku meminta ijin pada Ibu untuk pergi ke suatu tempat. Aku sudah memasuki usia debut, itu berarti aku sudah boleh pergi ke luar benteng pertama sendirian. Inilah saat-saat yang aku tunggu, karena sebenarnya aku ingin sekali mengunjungi panti asuhan tempat Lucius berada.
Ya, aku ingin menemui Lucius lebih awal, jauh sebelum Alissa dalam novel bertemu dan jatuh cinta pada lelaki itu, di saat Alissa sudah berstatus menjadi istri Rion.
Meski seharusnya Ibu mengijinkanku, tetapi ternyata tidak semudah itu. Ibu masih mempertanyakan apa yang ingin kulakukan di luar area benteng pertama.
“Aku … ingin jalan-jalan saja!” jawabku mencari-cari alasan. Ibu tampak berpikir sejenak. Dari arah tangga, Theo mendengar percakapan kami.
“Kalau begitu, ajak Cass bersamamu,” sahut Theo.
“Apa? 'Kan aku sudah memasuki usia debutku!”
“Bukan berarti kamu akan terbebas dari incaran orang-orang! Kalau aku sedang tidak sibuk sekarang, sudah pasti aku sendiri yang akan menemanimu.” Theo memandangku dengan tatapan tegas.
“Tapi, Kak---“
“Patuhi kata-kataku, aku adalah pengganti ayah di sini.”
Aku tidak bisa berkutik apabila Theo sudah berkata seperti itu. Dia memang menggantikan mendiang Ayah untuk menjadi duke saat ini. Jadi, kata-katanya sebagai kepala keluarga adalah absolut.
Theo berpaling pada Cass yang sedang bermain-main bersama makhluk mistisnya, berupa elang berelemen angin dan berbulu hijau. Hewan itu dia beri nama Sam. Cass mendapatkannya sekitar empat tahun lalu.
“Cass, temani Alissa pergi jalan-jalan," perintah Theo. Cass sedikit terkejut, lalu melihat ke arahku. Sesaat kemudian, dia mengiyakan.
Di kabin kereta kuda, aku sedang berpikir, alasan apa yang bisa kuberikan apabila Cass bertanya tentang identitas Lucius. Apa yang harus kukatakan pada kakakku yang suka jahil tersebut? Aku tidak ingin dia membeberkan keberadaan Lucius pada Ibu dan Theo!
__ADS_1
Tidak sekarang. Belum saatnya.
***