ARUS TAKDIR KELUARGA KONGLOMERAT

ARUS TAKDIR KELUARGA KONGLOMERAT
Rencana Edward


__ADS_3

Di perjalanan pulang Clarissa hanya terdiam sambil memandangi jalanan yang di basahi rintik hujan.


lexter yang merasa janggal pun tak berani mengusik Clarissa, apalagi melihat tatapan mata itu yang sangat datar dan penuh luka.


awalnya memang Clarissa memakai motor kesayangannya untuk tiba di rumah keluarga Abraham, tapi neneknya bersikeras untuk Clarissa tinggal di kediaman itu.


Dan tentu saja Clarissa menolak, karena ia masih terlalu muak dengan Clara.


namun nenek menyembunyikan baju Clarissa yang ia kenakan saat datang sedangkan baju pesta yang di berikan nenek sangat tidak memungkinkan untuk menaiki motor.


dan setelah berdebat cukup panjang akhirnya dia pulang dengan mobil bersama lexter.


memang Clarissa itu tipe wanita yang cukup introvert jadi lexter pikir pasti Clarissa tidak akan mau bercerita.


"kenapa dia kembali Lex?"


CKIITTTT


lexter mengerem mendadak setelah mendengar suara pertanyaan Clarissa.


bagaimana tidak, sedari tadi Clarissa hanya bungkam bahkan lexter sudah bosan bertanya, sekarang malah Clarissa yang memulai.


" aduh Lex, Lo kalo bawa mobil yang bener dong" omel Clarissa


"ya sorry sa, abisnya lu mendadak ngomong gitu ya gue reflex kaget lah"


"ya gak harus ngerem mendadak gini kan Lex"


" ah....udah deh, tadi Lo tanya apa "


"gak usah deh Lex, gak jadi"


"lah, lu kalo ada masalah tu cerita sa, jangan mendem sendiri, ntar gila baru tau rasa Lo"


"gue malah berharap gila sekalian Lex, orang gila itu bebas dan selalu bahagia"


"jangan gitu lah sa, gue gak mau punya temen gila"


"udah ah, buruan jalan"


"ok, tapi Lo harus janji besok di kantor lu harus cerita"


"gak janji"


"jangan gitu lah sa, pokoknya besok gue tagih"


".........."


Clarissa masih belum siap jika harus menceritakan 'sesuatu' yang ia alami tadi kepada siapa pun termasuk lexter.


mungkin besok ia harus mencari alasan lain untuk menghindari topik ini.


sedangkan di sisi lain lexter bertekad bahwa dia harus tahu apa 'sesuatu' yang sangat mengganggu Clarissa bagaimana pun caranya.

__ADS_1


#


"selamat datang tuan"


"hmm"


seorang laki-laki berjalan memasuki mansion nya yang megah dan berlalu menuju kamar tidurnya.


tak berselang lama terdengarlah suara shower menggema di ruangan itu.


Edward masih tak habis fikir dengan kejadian tadi.


tadinya dia berinisiatif untuk mengantar Clarissa pulang, tapi Clarissa menolaknya dengan tegas, seolah mereka tak saling mengenal.


padahal dirinya sudah sangat percaya diri jika Clarissa tidak akan menolaknya di depan nenek Serly.


memang dirinya dan Clarissa baru berkenalan tapi entah mengapa dia merasa sudah kenal lama dengan Clarissa.


seharusnya dia bisa menahan diri saat di balkon tadi tapi entah mengapa setelah kejadian itu Clarissa seperti menghindarinya.


apa tadi dia sudah keterlaluan dan menyinggung Clarissa?


mau di fikir sedetail apa pun tetap buntu.


SIAL


kenapa dia malah memikirkan tentang Clarissa?


kenapa sifatnya langsung berubah jika menyangkut tentang Clarissa, bahkan sepertinya dia harus memeriksakan paru-paru dan jantung nya, mengingat tadi dia sempat sesak nafas dan jantungnya berpacu sangat cepat.


rasa ini aneh tapi entah mengapa Edward tak membencinya.


bahkan saking nyamannya dia ingin terus merasakan lagi perasaan tadi.


setelah Edward keluar dari kamar mandi dia langsung menuju lemari dan mengambil piyama tidurnya.


setelah itu dia baru teringat dengan Nick, putranya.


Astaga


dia baru ingat jika besok Nick memintanya untuk mengantarnya ke sekolah pertama nya.


Edward pun berjalan menyusuri lorong dan berhenti di depan pintu bertuliskan 'iron boy' itu.


Edward tak habis fikir dengan kata itu, seharusnya itu 'iron man' bukan 'iron boy', kata Nick man itu terlalu tua untuk mahluk imut seperti nya.


setelah memasuki kamar anaknya yang bertemakan iron man itu, Edward tersenyum melihat putranya tertidur pulas di ranjang miliknya.


tahun ini Nick akan berulang tahun yang ke-5, sungguh tak terasa.


dan ibunya selalu membahas tentang pernikahan Edward dan Catlin yang tak tahu kapan akan terlaksana.


padahal ia sudah bertunangan selama dua tahun dengan Catlin.

__ADS_1


memang pertunangan mereka hanyalah sebatas hubungan politik tapi tidak menutup kemungkinan dengan pernikahan.


Edward hanya tak ingin melanjutkan hubungannya dengan Catlin, karena putranya pun sangat membenci Catlin.


Dan pada akhirnya Edward dan ibunya membuat kesepakatan jika sampai usianya kepala tiga tak kunjung menemukan wanita 'itu' atau wanita yang akan di kenalkan kepada keluarga Alexis maka Edward harus menikahi Catlin.


tunangan yang di pilihkan oleh keluarganya.


dan tersisa waktu tiga bulan menjelang usia kepala tiganya.


putranya memang selalu mengatakan tidak masalah jika ia tak memiliki ibu tapi Edward tahu jika bocah itu sangat menginginkannya.


Edward pun mengelus rambut Nick dan mencium keningnya sebelum keluar dari kamar itu.


sekali lagi ia memandang kamar anaknya dan menghembuskan nafas kasar.


Edward berjalan menuju meja, mengetik nomor seseorang di ponselnya


"hallo bos"


"cari tahu semua tentang Clarissa"


"hah....apa.....Lo ...."


"besok pagi harus siap datanya di kantor"


"yang bener Lo, buat apaan?"


"besok gue cerita"


"yang bener lah Ed, ini udah jam 2 pagi dan Lo nyuruh gue cari infirmasi tentang Clarissa? "


"kayaknya kota Z perlu suka relawan Vin buat bencana, Lo mau gak"


"eh....eh.....iya gue bakal cari tentang Clarissa tapi Lo gak usah ngancem buat buang gue juga kali Ed"


"hmm"


"eh bos, tapi gaji gue aman kan ya"


"hmm"


"kebiasaan emang Lo....."


*TUTT


panggilan* terputus


"let's play the game Clarissa, gue gak akan lepasin elo"


ucap Edward dengan senyum menggodanya.


apa yang akan Edward lakukan selanjutnya terhadap Clarissa?

__ADS_1


__ADS_2