
Dua tahun adalah waktu yang cukup untuk lebih dari sekedar merubah diri menjadi lebih baik.
"bunda....nda....." celoteh bocah berumur dua tahun lebih sambil berteriak-teriak dan berlarian di halaman belakang rumah mereka. Bahkan bocah kecil yang Gempil itu sempat oleng dan hampir terjerembab seandainya Clarissa tidak menangkapnya dengan sigap.
"lili gak boleh lari-lari" teriak Clarissa frustasi menghadapi bocah kecil itu yang kembali berlarian.
"bunda.....main....main...." celoteh lili sembari menarik-narik kemeja Clarissa
"lili mau main apa? hmmm. sama bibi aja ya nak, bunda harus berangkat kerja"
"bunda.....Ndak Leh pelgi" ucap lili cadel
" bunda harus pergi sayang, lili main sama bibi aja ya" rayu Clarissa sembari mengelus pelan rambut lili
" bunda.....Ndak.....hiks ...hiks..."
"udah non biar bibi aja, non Sasa teh berangkat saja nanti telat" ucap bibi sembari menggendong lili yang menangis
"ya udah bi saya berangkat dulu, nanti kalo ada apa-apa bibi bisa telpon saya ya bi"
"siap non"
__ADS_1
Clarissa pun mempercepat langkahnya menuju kantor yang menjadi tempat dirinya mencari uang.
\#\#\#
Suasana di ruang keluarga Abraham terasa sangat mencekam. pasalnya nyonya tua, Oma Serly namanya, terlihat sangat serius dengan keterdiamannya. Bahkan sudah sepuluh menit berlalu pun tak jua terjadi percakapan. semua orang yang ada di sana diam dan tak berani membuka suara.
"ma...."
akhirnya Tomy Abraham membuka suara. namun nyalinya langsung ciut tatkala ia melihat sorot mata Serly, mamanya yang begitu tajam.
" kalian merencanakan pesta yang sangat meriah dan saya tidak akan mempermasalahkannya hanya saja....Tomy..." ucapan Serly berhenti dan atensi semua orang beralih ke Tomy.
" iya ma...."
"ma Tomy salah apalagi?"
" kesalahan kamu itu karena tidak mengundang seseorang, seseorang yang menjadi bagian dari keluarga ini tom"
"ma....Jacob tidak bisa datang, dia sangat sibuk lagi pula....." belum sempat Tomy melanjutkan Serly sudah memotong ucapannya.
"bukan Jacob yang mama maksud tom, kamu pasti tahu itu"
__ADS_1
Seketika ruangan itu senyap. mereka tahu siapa 'seseorang' yang di maksud Serly Abraham.
" pokoknya saya tidak mau tahu tom, kamu harus mengundang dia untuk datang"
"ma.....tapi..."
"tidak ada tapi-tapian tom, kalian sudah sangat kurang ajar dengan mengusirnya lima tahun lalu tanpa persetujuan saya. dan ini..." Serly melemparkan map berisi identitas seseorang yang di maksud kepada Tomy. "itu alamat nya, saya sudah berbaik hati masih menganggap kamu sebagai anak saya tom, jadi jangan membantah kata-kata saya lagi atau......kamu tahu sendiri konsekuensinya"
" tapi Oma...."
" oh ada apa Clara, kamu ingin membantah Oma iya"
"diam Clara"
"tapi pa..."
"DIAM" bentak Tomy. " ok ma Tomy akan menemui Clarissa dan mengajaknya pulang, paling tidak saat acara nanti."
" ingat Tomy, jangan pernah memaksa Sasa lagi. dan kalian berdua...." Serly memandang Clara dan ibunya Dona dengan sinis. "jangan harap bisa melakukan trik-trik yang tidak berguna atau kalian berdua akan berhadapan dengan saya, ingat itu" Serly memperingatkan cucu dan menantunya itu dengan penuh penekanan sampai mereka berdua hanya bisa menelan ludah kasar.
"iya Oma"
__ADS_1
"iya ma" jawab mereka serempak.
Sementara itu Tomy hanya bisa pasrah dan mulai membaca map yang di berikan mamanya kepadanya. sesungguhnya dia sangat merindukan putri tertuanya itu tapi....entah mengapa amarah di masa lalu itu sepertinya belum juga menghilang dari hatinya.