
Suasana pesta yang meriah itu tiba-tiba sunyi. Lalu tak berselang lama mengalun lah musik merdu sebagai pengiring acara selanjutnya. Dansa.
Setiap orang sudah mendapatkan pasangannya. termasuk tokoh utama acara pada malam hari ini. siapa lagi kalau bukan bryan-clara.
Sebenarnya ada sedikit ketidaknyamanan di hati Clarissa ketika melihat mereka berdansa romantis seperti itu.
Jika mengingat dulu dia bahkan rela belajar untuk bisa berdansa dengan laki-laki itu.
Walau bagaimana pun dirinya dulu pernah ada di posisi Clara saat ini. jadi wajar kan jika dia sedikit tidak nyaman?
Bukannya dia tidak bisa move on. oh ayolah semua sudah berlalu. bahkan Clarissa merasa sangat bersyukur bukan dia yang ada di sana.
Clarissa hanya menatap acuh tak acuh dari tempatnya sekarang. tampak sama sekali tidak tertarik untuk ikut berdansa.
Dirinya lebih suka duduk di samping neneknya sambil menikmati desert yang enak.
"cla sayang tidakkah kamu mau berdansa juga?" tanya Serly dan Clarissa hanya menatap Omanya dengan wajah polosnya.
"buat apa?"
"apakah kamu menjalin hubungan dengan lexter?"
"kenapa Oma nanya gitu. enggak lah. lexter hanya teman not more"
"apakah kamu tidak mau mencarikan Oma cucu menantu cla?"
"uhuk....uhuk...."
"ya ampun anak ini. makan dengan pelan. tidak ada yang akan merebutnya. ini minum dulu" omel Serly
"kenapa Oma sangat ingin cucu menantu? bukannya Clara sudah mendapatkannya?"
"bukan dari Clara tapi dari kamu cla. lagi pula oma sudah tua. Oma ingin cepat-cepat menggendong cicit"
"minta saja pada Clara"
"dari kamu cla. apakah kamu belum move on?"
"bukannya aku belum move on Oma tapi mencari suami itu sama susahnya dengan mencari butir nasi di lautan gandum"
" tapi aku sangat ingin menggendong cicit"
" oma sudah punya Clarissa sudah memiliki anak" tutur Clarissa
"benarkah? tapi.... bagaimana bisa?"
" bisalah. tapi kalau Oma ingin aku menjelaskannya bukan sekarang waktu yang tepat. Oma bisa datang ke rumahku dan bertemu Lily"
"jadi namanya Lily?"
"iya. dan apa Oma tahu dia sangat menggemaskan"
"oh ya? apakah kamu punya fotonya"
"ini" Clarissa menunjukkan foto Lily yang sedang tersenyum di hp nya.
"astaga! dia benar-benar sangat imut cla" ujar Serly girang.
mereka pun larut dengan pembicaraan dan Tanpa mereka sadari seseorang tengah berjalan mendekat ke arah mereka.
" selamat malam nyonya besar Abraham maaf jika mengganggu" suara bariton itu sukses mengalihkan atensi Clarissa dan Serly Abraham.
"eh.... Edward. benarkah ini kamu?"
"iya Oma"
"sudah lama kita tidak bertemu. bagaimana kabarmu?"
"baik. Oma sendiri bagaimana?"
" well sangat baik"
"oh iya kenalkan ini Clarissa cucu ku. Cla ini Edward tuan muda keluarga Alexis"
"ah iya. Clarisa "
" Edward salam kenal Clarissa"
"apakah orang tua mu tidak datang Ed?"
__ADS_1
"mom dan dad ada di kota C Oma. ada urusan di sana jadi tidak bisa hadir. dan mom dan dad menyampaikan salam untuk Oma serta maaf"
"oh....tidak apa Ed. oh iya kamu tidak membawa pasanganmu?"
"aku tidak memiliki pasangan Oma"
"oh iya....bagaiman kalau Clarissa menjadi pasangan dansa mu Ed. ku rasa Clarissa juga tidak keberatan kan"
"nona Clarissa apakah berkenan menjadikan saya pasangan dansa malam ini?"
".........."
Clarissa hanya menatap uluran tangan Edward.
jujur saja Clarissa ingin sekali menolak usul Omanya tapi ia melihat seluruh pasang mata manatap nya.
dia hanya tidak ingin menambah masalah saja.iya ini hanya supaya dia tidak mempermalukan Omanya.
"baik lah"
Mereka berdua pun menuju ruang dansa. saat musik kembali terdengar, seluruh atensi manusia di ruang itu tertuju kepada mereka berdua.
Sangat serasi
Itulah yang orang-orang katakan. lagi-lagi seluruh perhatian malam itu tertuju kepada Clarissa.
Dan Clara tidak bisa lagi menyembunyikan rasa kesalnya di wajah wanita itu.
Sementara itu, Clarissa dan Edward sama-sama merasakan perasaan aneh.
Clarissa seperti pernah bertemu pria di depannya ini. tapi dimana?
Edward pun merasa seperti pernah bertemu Clarissa sebelumnya. bukan, bukan tentang pernah bertemu. tapi seperti pernah ada ingatan spesial tentang clarissa. tapi apa?
mereka berdua tengelam begitu saja dalam pemikiran masing-masing.
sibuk menyelami ingatan-ingatan samar yang entah mengapa sangat mengganggu.
bahkan mereka tak sadar jika menjadi pusat perhatian.
mereka baru tersadar ketika musik berhenti dan semua orang bertepuk tangan dengan meriah.
sedangkan Edward sudah memasang wajah datarnya.
Clarissa baru menyadari jika kegiatan mereka tadi pasti membuat desas-desus gosip besok pagi.
walau tujuan Clarissa kembali adalah balas dendam kepada keluarganya. tapi jika melibatkan pria di depannya ini, ia rasa tidak baik.
apa lagi jika harus berhadapan dengan pria ini di masa depan.
Clarissa mengedarkan pandangannya dan melihat ke arah Clara yang menatapnya dengan tatapan kesalnya.
Clarissa pun hanya memandangnya dengan pandangan meremehkannya.
'bagus Clara, teruslah benci aku seperti itu bahkan lebih, aku akan membuat hidupmu dan ibumu lebih menderita dari sekarang'
Bryan berjalan menghampiri Clarissa dan Edward. jujur saja ia rindu sangat rindu dengan Clarissa.
"Clarissa.....bagaimana kabarmu"
"baik"
terlihat sekali tatapan Bryan yang memancarkan kerinduan mendalam kepada Clarissa.
Sedangkan Clarissa hanya menampilkan wajah dinginnya.
Clara yang ikut menghampiri Clarissa pun merasa ini waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada Clarissa jika dirinya lebih unggul dari pada nya.
" kakak.....apakah kamu benar baik-baik saja?"
dengan tatapan dan wajah muka duanya Clara menanyakan hal itu.
Membuat siapa saja yang mendengar pasti bertanya-tanya 'memang ada apa dengan Clarissa?'
"saya memang baik-baik saja adik, jangan menanyakan pertanyaan yang membuat semua orang salah paham"
"salah paham bagaimana kak, aku hanya....aku tahu kalau kakak membenciku karena pertunangan ku dan kak Bryan tapi sungguh aku tidak bermaksud...."
semua orang yang menyaksikan mulai berbisik-bisik tentang Clarissa.
__ADS_1
'ada hubungan apa Clarissa dengan bryan' batin Edward.
"saya tidak menyangka adikku yang manis ini punya pikiran yang seperti itu. kenapa saya harus membencimu adik, bukankah kita keluarga"
Clarissa membalikkan keadaan seperti membalikkan telapak tangan. bahkan semua yang melihat mereka mulai berbisik-bisik tentang Clara.
"ya secara kan kak Bryan dulu kekasih kakak, seandainya dulu kakak tidak bermain api pasti sekarang kakak yang ada di samping kak Bryan kan"
"memang benar jika dulu Bryan adalah kekasih saya tapi itu hanya cinta monyet, kau pikir perasaan saya sedalam itu kepada tunangan mu sampai-sampai saya tidak baik-baik saja? lagi pula aku dulu yang terlalu naif berhubungan dengan orang bodoh yang br*engsek sehingga tertular virusnya "
"tapi kakak dulu sangat mencintai kak Bryan bagaimana bisa kakak...."
"memang benar kan? lagi pula j*l*Ng dan br*ngs*k itu best couple loh"
"aku bukan j*l*ng kak.....dan kak Bryan bukan pria br*ngs*k" Isak Clara, ia sudah menangis di pelukan Bryan.
"loh saya tidak mengatakan itu kamu Clara, apakah kamu tersindir?"
"CUKUP! cukup Clarissa bagaimana kamu bisa seperti ini, dulu aku pasti begitu buta bisa mencintai kamu"
"wah-wah tuan Bryan anda cukup gentle membela tunangan anda, lagi pula aku tidak salah benarkan tuan?"
"Clarissa cukup, kamu sangat keterlaluan"
"oh...benarkah....kalau begitu maaf ya, karena saya tidak tahu jika kalian tersindir"
"jika kamu benar-benar marah lampiaskan saja kepada ku jangan kepada Clara, dia tidak salah sa"
" Saya rasa perdebatan kalian cukup sampai di sini saja tuan Bryan, anda juga sangat keterlaluan, malam ini Clarissa adalah pasangan saya, jadi saya harap anda bisa bersikap sopan" potong Edward di sela perselisihan mereka itu.
"bukankah Anda sudah memiliki tunangan tuan Edward"
"mantan tunangan maksud anda?"
"bagaimana bisa pertunangan Catherine dan anda batal"
"ya saya belum mempublikasikan batalnya pertunangan saya tapi itu benar adanya"
" apakah karena wanita ini? hah....benar saja seorang ****** pasti tidak akan pernah berubah, bahkan lebih parah. sekarang targetmu sungguh bagus Clarissa" ucap Bryan enteng.
mendengar itu dada Edward bergemuruh. ia sudah tidak tahan lagi dengan pria ini.
bugh
"jaga mulut beracun anda itu tuan, jika tidak jangan salah kan saya yang bertindak lebih jauh"
Clara memekik kaget sedangkan Clarissa hanya menatap datar mereka.
Edward pun menarik tangan Clarissa pergi meninggalkan kerumunan. sedangkan Tomy Abraham tampak sangat malu.
bagaimana tidak pesta yang meriah itu kini hancur berantakan.
Clarissa hanya menatap sekilas, dan rasanya sungguh sangat puas.
Edward membawa Clarissa ke balkon lantai dua. ia menatap Clarissa lama membuat Clarissa sangat risih.
"ekhem....terima kasih tuan Alexis"
"Edward panggil saja Edward"
"baik lah Edward, terima kasih"
"your welcome"
"lalu begitu saya pamit dulu"
Clarissa berbalik ingin pergi tapi Edward menahan lengan nya. posisinya sangat dekat, bahkan Clarissa tidak bisa melepaskan pandangan nya dari manik biru itu.
"apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Edward
mereka berpandangan cukup lama sampai Clarissa melihat luka di leher Edward.
Clarissa tersentak
'luka itu'
setelah itu kilasan-kilasan memori membanjiri otak Clarissa. ia ingat mata itu, ia ingat luka itu. ia tidak akan pernah lupa, tidak akan pernah.
Clarissa pun menarik paksa lengan nya dan mendorong Edward lalu pergi dari sana.
__ADS_1
sementara Edward masih bingung dengan respon Clarissa tadi.ada apa sebenarnya?