
"bunda.......huaaaa......hiks....." teriak bocah perempuan Gempil itu sambil berlarian di taman belakang rumah mereka.
sedangkan bundanya masih asyik memakan cemilan dan memandangi anaknya dengan jengah.
"bunda jahat.....aaaaa......hiks..." akhirnya bocah itu terduduk di atas rumput serta menangis.
karena tak tega akhirnya Clarissa pun menghampiri anak nya tersebut dan berusaha menenangkannya.
"udah donk nangisnya lili, nanti princes bunda jadi jelek"
"hiks...bunda jahat...."
"ya udah bunda minta maaf ya sayang? hmm"
"........"
" ya udah nanti bunda beliin ice cream nya deh. mau yang rasa apa hmm.."
"benelan bunda?" tatap anak itu polos.
ya anak itu menangis kerena bundanya tidak mengizinkan untuk makan makanan dingin itu dan alhasil anak itu menangis meraung-raung.
"iya tapi lili harus janji dulu sama bunda, lili berhenti nangis kaya tadi. jelek tau! dan hanya boleh sekali ini aja ya"
"ishh....bunda...."
"gimana mau gak? kalo gak mau ya sudah"
"iya....lili janji gak gitu lagi"
" janji Pingky?" ucap Clarissa sembari mengangkat jari kelingking nya.
"janji Pingky" dan bocah itu menautkan jari kelingking kecil nya.
Dari arah dalam rumah bibi menghampiri nya dengan raut wajah yang panik.
"non Sasa....itu...non..." panggilnya terbata
"ada apa bi? kok panik gitu"
"itu ada ....."
"ada apa bi?"
"di dalem ada tuan besar non" seketika itu raut wajah Clarissa yang tadinya tersenyum mendadak dingin, suasananya pun menjadi hening dan canggung. dia tahu siapa yang di maksud bibi. tapi ada keperluan apa 'tuan besar' datang.
"maafin bibi non, tadi bibi di paksa tuan"
"ya udah bi, gak papa, biar saya yang nemuin"
"kalau begitu bibi siapkan minum ya non"
__ADS_1
"iya bi"
Clarissa pun berlalu sambil menggendong anaknya menuju ruang tamu. Clarissa tahu jika hari ini akan datang, cepat atau lambat 'tuan besar' ini pasti akan menemui nya. Selama ini dia terus saja menghindar tapi sepertinya kali ini tidak bisa lagi mengingat 'tuan besar' sampai harus datang sendiri ke rumahnya.
Sudah 5 tahun berlalu sejak dia di usir dari rumah itu dan sudah 5 tahun juga dia tidak bertemu dengan 'tuan besar' ini. Apakah semuanya akan sama seperti dulu? tentu saja tidak. Apalagi dia bukan lagi Clarissa yang lemah seperti dulu.
Clarissa sangat tahu jika 'tuan besar' ini sangat membencinya. karena kesalahan masa lalu yang merenggut nyawa ibunya dan juga adiknya.
"ada keperluan apa tuan besar Abraham datang ke gubuk saya" ucap Clarissa dingin. gubuk? hei bahkan rumahnya lebih bagus dari pada perumahan elit kelas menengah.
" Clarissa..."
" silahkan duduk dulu"
"bunda?" kerjap anak itu menatap Clarissa polos
"hmm lili sama bibi dulu ya, bunda ada tamu, nanti kita main lagi. ok!"
"ok! bunda" jawab lili sambil turun dari gendongan bundanya dan memegang sebelah tangan bibi. berlalu pergi.
Sedangkan Tomy abraham tampak terkejut, pasalnya di map yang di berikan Serly kemarin jelas-jelas Clarissa mengalami keguguran bagaimana bisa Clarissa sudah memiliki anak.
" Clarissa kamu sudah menikah?"
"saya tidak menikah" jawab Clarissa enteng.
"lalu tadi anak kamu"
"benar"
"2 tahun"
"apa? 2 tahun? bagaimana bisa? bukannya seharusnya....."
"jika anda sangat penasaran terhadap anak saya sebaiknya anda pulang"
Tomy menghela nafas sambil mengepal tangan erat. dia tidak ingin mencari keributan. tujuannya ke sini untuk mengundang putrinya itu untuk pulang dan semua selesai.
" baiklah, begini nak, bisakah kamu pulang besok malam?"
"pulang kemana yang anda maksud? saya sudah di rumah saya sendiri"
"pulang ke rumah keluarga Abraham"
"kenapa saya harus datang kesana? bukankah saya sudah di usir?"
"besok malam adalah acara pertunangan adik kamu dan kamu harus pulang"
"kenapa saya harus datang? anda tidak takut saya mengacau di sana?"
"pulanglah....Oma merindukanmu nak"
__ADS_1
bingo! rupanya ini semua karena Omanya, hampir saja Clarissa tertipu.
"saya tidak akan pulang" jawab Clarissa tegas
"paling tidak saat acara besok malam sa, papa mohon!"
"saya tidak salah dengar kan? anda.....seorang tuan besar keluarga Abraham memohon?" kekeh Clarissa
Tomy pun hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia sudah menurunkan harga dirinya demi anak ini tapi lihat sifat sombongnya ini. rahang Tomy mengeras dan nafasnya semakin memburu. dia berusaha menahan emosinya yang akan meledak.
Dan percayalah Clarissa sangat puas dengan pemandangan di depan mata nya ini. Dulu Clarissa akan sangat ketakutan dan merasa bersalah jika melihat raut wajah Tomy seperti ini. bagaimana tidak, dulu dia adalah gadis bodoh yang mengemis kasih sayang dan sedikit perhatian dari orang di depannya ini yang dirinya sendiri pun tahu sampai kapanpun Tomy tidak akan memperlakukannya selayaknya putri kandungnya.
"baiklah saya akan datang ke acara itu tapi dengan satu syarat"
"apa syarat itu? papa pasti akan memenuhinya sa"
"anda harus mengakui kalau saya adalah putri tertua keluarga Abraham sehingga saya bisa bebas keluar masuk rumah itu"
Tomy semakin memejamkan kedua matanya, berusaha menahan emosi dan kata-kata nya.
"bagaimana? anda setuju?"
"baiklah asalkan kamu mau datang"
"ok! lalu begitu urusan anda sudah selesai kan?"
"tunggu dulu....kamu tidak rindu dengan papa sa"
"tidak, kenapa saya harus merindukan anda? dan satu lagi stop menggunakan kata 'papa' karena anda tidak pantas"
"tidak pantas kamu bilang? saya ini tetaplah ayah kandung kamu sa, jangan kuarang ajar kamu!"
"sudahlah tuan, kita sama-sama tahu jika kita berdua saling membenci satu sama lain jadi stop untuk berusaha dekat karena itu membuat saya semakin muak"
"oh jadi ini yang kamu dapatkan selama 5 tahun ini kamu semakin menjadi Clarissa"
"terima kasih, saya anggap itu pujian"
"kamu....."
"anda sendiri yang menjadi kan saya seperti ini jadi jangan menyalahkan saya. anda sendiri yang bilang kalau anda jijik saya panggil papa jadi berhenti mengacau"
"mengacau kamu bilang? kamu...."
"PERGI!!!!"
"baik saya akan pergi, tapi ingat dengan perjanjian kita tadi, kamu harus datang"
Tomy pun beranjak dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah Clarissa.
sementara itu Clarissa bersandar di sofa dan memijit pelipisnya. Dan buliran bening mulai berjatuhan dari mata indah itu. Clarissa sungguh tak menyangka jika pertemuan pertama mereka akan seperti ini. jika boleh jujur Clarissa sangat merindukan ayah br€ngs€knya itu. walau bagaimana pun dia tetaplah ayah kandungnya.
__ADS_1
Sedangkan sedari tadi bibi menatap Clarissa iba. Bibi sangat tahu rasa sakit yang di rasakan majikannya itu apalagi dia sudah bekerja sangat lama di tangan Jacob, kakak Clarissa.
bibi memang mengetahui segala permasalahan yang ada di antara dua orang tersebut, tapi dirinya tidak bisa ikut campur lebih jauh, karena dirinya hanya di tugaskan untuk menjaga Clarissa tanpa mencolok.