
Suasa di rumah yang cukup megah itu terlihat sangat hangat, ada kepala keluarga, istri dan juga anak-anak yang pastinya berparas rupawan seperti kedua orang tuanya.
Mereka adalah keluarga Rahardian, keluarga dengan segudang karismatik karena dari kepala keluarga dan semua anaknya terbilang sukses menciptakan karirnya tersendiri.
Tuan Rahardian dengan perusahaan yang di pimpinnya menjadikan ia pengusaha sukses. Ada Nyonya Erlita, ibu sosialita yang berprofesi dokter spesialis di salah satu Rumah Sakit ternama di kota itu. Anak pertama mereka, Adnan Rahardian menuruni bakat ibunya merupakan salah satu dokter spesialis yang cukup terkenal juga. Terus yang terakhir, si bungsu yang sangat manja Elraina yang ikut meniti karirnya di perusahaan sang Ayah.
Itulah yang Wita ketahui saat dirinya bekerja disini selama enam bulan lamanya. Ya, dia merupakan asisten rumah tangga di keluarga tersebut.
Cukup mengenal sifat dan perilaku dari sang majikan membuat ia cukup nyaman bekerja disini. Semenjak bekerja disini ia dan rekan sesama pembantu yang lain juga di perlakukan dengan baik. Apalagi gaji yang di dapatkan terbilang banyak untuk pekerjaannya ini, dan dia sangat bersyukur akan hal itu.
"Jadi, nanti kamu mau ngadain pesta di rumah aja El?" Suara dari Nyonya Erlita terdengar juga oleh Wita yang masih berdiri mematung di sana.
Dentingan sendok dan garpu masih memenuhi indra pendengarannya. Keluarga tersebut masih menikmati hidangan sarapan yang tersaji.
Elraina, gadis itu menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan sang ibu.
"Iya ma, orang pesta kecil-kecilan aja hitung-hitung biar di kantor jadi banyak yang suka sama aku. Biar akrab aja." Menjadi anak dari pemilik perusahaan pastinya membuat Elraina sedikit merasa canggung, jadi ide itu terlintas di otaknya agar dia bisa diterima dengan baik di sana. Nyonya Erlita pun hanya mengangguk mengerti, karena memang si bungsu baru bekerja beberapa hari di perusahaan suaminya.
"Aku berani bertaruh walaupun bilangnya pesta kecil-kecilan pasti nanti sangat heboh." Sang kakak, Adnan ikut berkomentar.
Elraina mencibir komentar yang dilontarkan Adnan. "Apa sih sirik aja, kalau mau gabung ngomong aja. Silahkan nanti ikut gabung gue bolehin kok" Gadis itu menimpali ucapan Adnan dengan sedikit sewot. Soalnya gadis itu berkeyakinan kalau kakaknya itu takkan mau menghadiri pesta seperti itu. Karena dia sangat kolot.
__ADS_1
Adnan yang disindir balik hanya mendengus sebal, dia pun menyudahi acara sarapannya dengan cepat. "Adnan berangkat dulu Ma, Pa. Ngladenin bocah ini sama aja bikin tensiku naik." ucapnya kemudian.
"Yee, situ yang kelewat kaku. Makanya liburan sana jangan berkutak sama anestesi doang." Elraina terlihat tidak mau mengalah.
Tuan Rahardian yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan kedua anaknya itu. Yang satu hampir kepala tiga yang satunya juga sudah seperempat abad, tapi kelakuan mereka tidak pernah berubah. Rahardian berpikir seperti melihat mereka saat masa-masa remaja yang sering berseteru dulu.
"Udahlah kalian ini, malu dilihatin sama yang lain tuh." Kedua kakak beradik itupun kompak diam, walaupun suasana seperti ini sering terjadi, tapi mereka cukup mengerti tidak melanjutkan berdebatan yang memang tidak ada faedahnya. Apalagi disana bukan mereka saja yang mendengar.
Adnan melenggangkan kakinya, dia melirik Wita yang sedari tadi masih berdiam diri di sudut ruangan. Dia cukup mengenal asisten rumah tangga tersebut karena sering dimintai bantuan dan wajah yang terlihat muda dari yang lain membuat ia tidak gampang melupakan gadis tersebut.
"Wita.. " terdengar suara Adnan memanggil namanya.
Sontak gadis itunmengarahkan pandangannya ke Pria itu. "Iya tuan? Ada yang bisa dibantu?" Tanyanya kemudian.
Wita pun mengangguk mengiyakan dan segera berlalu menuju lantai atas untuk mengambil apa yang di perintahkan olehnya.
Setelah sampai, Wita membuka pintu itu dengan pelan, terpampanglah kamar yang sangat minimalis tapi mewah dan pastinya bersih. Bukan sekali saja dia masuk ke sini, tapi sudah beberapa kali tapi selalu dibuat tercengang. Sangat cocok seperti halnya pria itu yang sangat perfeksionis. Wita tersenyum sendiri membandingkan kamarnya yang lusuh dan pastinya sangat berbeda dari kamar tersebut. Dia pun langsung mencari tas yang di maksud oleh Adnan dan mengambilnya segera.
Saat sudah diluar, Wita melihat Adnan sedang bersandar di mobil dan sedang berbicara dengan seseorang di handphone nya. Wajah pria itu sangat serius, saat Wita sudah berada di hadapannya Adnan baru tersadar akan kehadirannya. Gadis itu mengulurkan tas yang dibutuhkan pria tersebut dan ia menerimanya. Pria itu menatap wajahnya dan sebuah ucapan "terimakasih" tanpa suara tertangkap oleh penglihatannya. Wita pun mengangguk sekaligus tersenyum simpul. Adnan langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan gadis itu.
Enam bulan bekerja, dia juga sedikit mengenal kepribadian dari seorang Adnan. Walaupun dia pembantu tetapi belum pernah dia merasa di rendahkan atau di perlakukan secara tidak baik disini. Itulah membuat dia agak betah dan tulus melayani keluarga tersebut.
__ADS_1
Wita juga sempat berfikir pasti pasangan dari tuan Adnan nanti sangat beruntung mendapatkan pria itu. Tidak dipungkiri sebagai gadis biasa sepertinya dihadapkan dengan anak majikan yang sangat sempurna membuat dirinya juga sedikit menghayal andaikan dia nanti punya pasangan seperti itu.
Gadis itupun menggelengkan kepalanya, bukan waktunya untuk berfantasi ria, ia pun mencoba menghilangkan pemikiran tersebut dan mencoba fokus kerja hari ini, karena masih banyak kerjaan yang menantinya. Akhirnya Wita melangkahkan kakinya ke dalam rumah tersebut.
Sampai di pelantaran dapur ternyata sesi sarapan tadi sudah selesai. Itu ditandai dengan Mulan, salah satu rekannya yang sibuk memindahkan piring kotor ke wastafel.
"Wit, ini di cuci kamu ya. habis ini aku mau lap meja." ucap Mulan saat melihat kehadirannya disitu.
"Iya mbak taruh aja, aku ke toilet dulu sebentar." timpal gadis itu.
"okedeh."
Saat selesai, dia menyadari ternyata tumpukan piring itu sangat banyak. Wita menghela nafas, tapi dia harus tetap semangat karena emang ini pekerjaannya. "Yang makan empat orang doang, tapi berasa sekampung." ucapnya sangat pelan. Dia memang sedikit blak-blakan orangnya.
"Hust, jangan gitu. Kalo nyonya dengar kamu bisa dapat masalah loh." Tiba-tiba Bibi Marni yang merupakan asisten sepuh disini berada di sampingnya.
Sontak Wita menutup mulutnya dan memukulnya secara pelan. Setelah itu dia tersenyum canggung. "eh iya Bi, maaf." Dia memang sering asal bicara.
Bibi Marni mencoba memaklumi. "Harus hati-hati ya kalau bicara. Walaupun disini orangnya baik-baik tapi tidak menutup kemungkinan bisa jadi jahat."
Wita sedikit bingung akan ucapan tersebut, tapi ia tidak mau bertanya lebih. "Siap, aku akan ingat terus Bi."
__ADS_1
Bibi Marni tersenyum simpul, dia menepuk pundak Wita. "Bekerjalah dengan hati senang, pasti akan terasa ringan." setelah mengucapkan itu Bibi Marni meninggalkannya.
Gadis itupun mengingat hal itu, dia melihat cucian piring itu dan langsung mengeksekusi nya dengan semangat. Ya bagaimana lagi, inilah kegiatan sehari-harinya disini.