
Jangan salahkan Wita jika dia tidak mempercayai Adnan. Bisa-bisanya pria itu paginya mengajaknya menikah tapi malamnya malah melamar wanita lain? Apakah dirinya hanya sebuah lelucon?
Acara keluarga itu hanya di hadiri oleh kedua belah pihak, tapi terasa mewah. Wita dari kejauhan memandang kedua pasangan itu yang nampak serasi. Lagi-lagi hatinya berdenyut nyeri, sungguh dia merasa bodoh. Akhirnya karena tidak sanggup melihat ke kebersamaan itu Wita lebih baik kembali ke kamarnya.
Arabela tersenyum bahagia, saat pria di depannya memakaikan cincin di jari manisnya. Akhirnya penantiannya selama ini tidak sia-sia.
Elraina yang turut berbahagia pun menyalami calon kakak iparnya.
"Selamat ya Kak, sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini." Ucapnya sambil memeluk wanita cantik itu.
"Terimakasih sudah menerimaku, El." Timpal Arabela terharu.
Elraina pun tersenyum tulus "Pesan aku sih di sabarin aja ngadepin manusia satu ini, dia emang sering ngeselin." Ucapnya menyindir sang kakak yang hanya terdiam.
Perkataan Elraina ternyata mengundang gelak tawa yang lain. Yang disindir hanya mendengus kesal.
Semua nampak berbahagia. Kecuali Adnan yang memasang muka bahagia yang palsu.
Selang beberapa menit. Tuan Rahardian pun bersuara. "Sekarang, Papa harap kalian bisa sedikit dewasa. Papa tidak mau ada drama-drama lain yang papa dengar." Ucapnya menasihati.
Karena beberapa hari yang lalu, Arabela mengadu hubungannya yang merenggang ke kedua orang tuanya. Alhasil demi menuruti anak tunggal mereka, kedua orang tuanya yang sudah mengenal baik dari pihak keluarga Rahardian meminta bertemu untuk membahas agenda putra putri meraka.
Adnan pun tidak tau jika acara ini diadakan untuk memintanya mengikat Arabela dengan pertunangan terlebih dahulu. Desakan demi desakan yang halus dari keluarganya akhirnya mengharuskan dirinya menyerah dan terpaksa menyetujuinya.
Arabela mengangguk patuh. "Maafkan kami ya, Pa. Karena tingkah kami kalian jadi repot"
Ibu Arabela pun menyahuti. "Wajar jika hubungan itu harus ada kejelasan sayang. Lagian kalian sudah lama pacaran. Masa mau main-main saja. Kalo begini kan Mami juga nggak khawatir. Kalo bisa tidak usah terlalu lama nikahnya."
"Ide bagus, kami pasti merestuinya. Tapi kali ini kita serahkan pilihan ke jenjang yang lebih serius kepada mereka. Karena mereka juga yang akan menjalani pernikahan tersebut." Ucap Tuan Rahardian dengan bijak.
__ADS_1
"Betul Jeng, kita pastinya ingin yang terbaik bagi mereka. Cepat atau lambat itu tidak masalah karena yang mereka butuhkan adalah dukungan kita. Jadi jangan khawatir." Nyonya Erlita pun ikut bersuara.
Obrolan pun terus terdengar di telinga Adnan. Dia hanya sesekali menanggapi. Entahlah dia merasa tidak bersemangat padahal ini acaranya. Raganya hadir disini tapi jiwanya melayang dan memikirkan perempuan lain.
Pria itu resah mengetahui reaksi yang akan di dapatkan jika Wita melihat hal ini. Dia mencari sosok tersebut ke sudut ruangan, tetapi yang terlihat bukanlah gadis itu melainkan asisten yang lain. Adnan teringat perkataannya tadi pagi, pasti gadis itu merasa dirinya hanya seorang pembohong.
Setelah acara makan malam selesai, Adnan keluar dari kamarnya dan suasana cukup aman, ia mengendap-endap ke kamar Wita seperti yang dilakukannya pagi tadi.
Dia membuka pintu tersebut yang untungnya tidak terkunci.
Dia menemukan gadis itu yang tertidur membelakangi nya. Dia berjalan pelan, tapi saat melihat wajah itu yang tertidur terlelap ia tak tega untuk membangunkannya.
Mungkin hari esok saja membicarakannya. Lalu pria itupun berbalik pergi dari kamar tersebut.
"Tuan pembual, saya benci anda." Terdengar suara pelan di kamar tersebut.
Adnan menghentikan gerakannya yang ingin membuka pintu, dia menoleh ke sumber suara dan mendapatkan Wita memandangnya dengan terluka.
"Tapi syarat yang saya berikan ke kamu, bisakah kau sanggup memenuhinya?"
Wita pun sudah memikirkan nya dengan matang. Untuk saat ini dia harus percaya dengan pria di depannya ini kan?
Tidak ada pilihan lain, ini mungkin yang terbaik.
Wita pun mengangguk mengiyakan syarat yang di berikan Adnan.
Pria itupun tersenyum. "Baiklah, berarti akhir bulan ini kamu harus mengundurkan diri. Setelah itu saya yang akan mengurus semuanya."
"Tapi tuan akan bertemu dengan ibuku kan? Meminta restu?" ucap Wita penuh harap.
__ADS_1
Adnan mengusap kepala gadis itu dengan lembut. "Tentu, walaupun pernikahan ini hanya di lakukan di KUA. Saya akan meminta izin ke keluargamu. Kamu juga butuh wali.
"Bagaimana dengan keluarga anda?" tanya Wita selanjutnya.
Adnan menghela nafas, dia juga masih bingung untuk mengatakan ke kedua orang tuanya. Dan dia merasa tidak perlu untuk mengatakannya.
"Kamu percaya kan kepada saya? Keluarga saya tidak perlu tahu. Jika mereka tau apa kamu berfikir mereka akan menerima kamu? Tentu saja nggak, Wit. Mereka mungkin akan menyakiti kamu. Menyuruh kamu aborsi seperti yang saya pikirkan atau memintamu pergi sejauh mungkin. Apa kamu ingin seperti itu?" Ucap Adnan selanjutnya.
Wita tersenyum miris. Ya gadis itu sangat memahaminya.
"Baiklah saya ikut kemauan tuan saja. Yang terpenting saya dan janin ini bisa hidup dengan tenang."
"Maaf jika ini bukan kemauan yang kamu suka, tapi hanya inilah yang bisa saya kasih ke kamu." Ucap Adnan dengan pelan.
"Tidak apa, saya bersyukur anda sudah mau bertanggung jawab. Itu lebih dari cukup."
Lalu, mereka hanya saling pandang. Adnan tidak tau kenapa dirinya sejauh ini untuk bertanggung jawab kepada seorang perempuan. Tapi saat melihat wajah gadis itu dia tidak tega melepaskan atau merelakan Wita merawat janin itu sendirian.
Ayolah, gadis itu masih muda. Dan dia masih mempunyai hati nurani untuk tidak menelantarkan gadis yang sedang mengandung anaknya.
"Kalau begitu tidurlah, maaf mengganggu tidur nyenyak mu." Ucap Adnan kemudian.
Gadis itupun menurutinya. Adnan membenarkan posisi selimut yang Wita pakai setelah itu dia melenggang pergi dari kamar tersebut.
Wita memandang punggung itu yang di telan pintu. Ada banyak hal kecil yang dia terima dari tuannya. Dan tidak dipungkiri dia sangat menyukainya. Gadis itu memegang dadanya yang berdebar.
Apakah secepat itu dia menyukai tuannya? Padahal dia sering kali dibuat kecewa. Dia merasa takut, jika perasaannya semakin besar malah bisa menjadi boomerang baginya.
Adnan menikahinya karena bentuk tanggung jawab, dan Wita pikir tidak ada rasa suka yang terpatri di hati pria itu untuk dirinya.
__ADS_1
Ini murni karena rasa kasihan.
Wita tidak boleh terlena oleh kebahagiaan yang terlihat semu ini kan? Pria itu terlalu jauh untuk digapainya.