Asisten Rumah Tangga

Asisten Rumah Tangga
Yang Terlupakan


__ADS_3

Waktu telah berlalu, setelah sebulan kejadian itu. Wita maupun Adnan melakukan aktivitas kesehariannya dengan biasa. Orang di sekitarnya juga tidak ada yang curiga, yang membedakannya hanya interaksi mereka yang sedikit canggung. Tapi orang disekitar mereka terlalu acuh hingga tidak ada yang menyadarinya.


Adnan yang dulu tidak merasa sungkan, sekarang enggan untuk memerintah Wita semaunya. Seperti halnya sekarang, terlihat Wita sedang membereskan sisa makanan di meja, sedangkan Adnan terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi ia tidak enak untuk memulainya.


"Bicara aja tuan, saya akan mendengarkan." ucap gadis itu. Adnan yang berdiam diri sepertinya membuat Wita peka akan maksud pria itu. Ia merasa risih jika ada seseorang yang mengamatinya.


Adnan yang mendengarnya merasa kikuk, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah dan melihat situasi yang ternyata cukup aman.


Tapi gadis itu masih melakukan aktivitas nya. Bagaimana dia akan mengatakannya? Kalo yang di ajak bicara sedang sibuk sendiri.


"Boleh berhenti sebentar?" Pinta Adnan kemudian.


Wita menghela nafas terlihat kesal, tapi dia tetap menuruti perkataan tuannya. Dia menghentikan aktivitasnya dan menfokuskan pandangannya ke pria tersebut.


"Ya udah, mau bicara apa?" Ucapnya mencoba bersabar.


Adnan pun memulai pembicaraan. "Uang yang saya kasih cukup kan? Kamu mau aku menambahnya atau gimana?" Adnan berusaha membuat pilihan terbaik untuk gadis tersebut. Karena pria itu juga merasa bingung, yang dia berikan tidak mendapat protes atau apapun dari Wita. Gadis tersebut hanya patuh dan menerimanya saja. Membuat Adnan merasa bersalah.


Lain halnya dengan Wita, gadis itu memang nampaknya tidak mau memperumit keadaan. Jika Adnan memberi kan ganti dengan uang ya mau bagaimana lagi, terpaksa dia harus menerimanya. Sebetulnya Adnan sudah mentransfer uang ke rekening pribadinya beberapa minggu lalu. Tapi Wita belum melihat nominal yang di berikan pria itu.


"Cukup tuan. Jadi anda tidak perlu merasa bersalah terus menerus. Saya juga ingin melupakan secepatnya." Ucapnya.


Mendengar jawaban darinya membuat Adnan sedikit lega. "Syukurlah kalo begitu. Semisal kamu merasa kurang dengan nominalnya beritahu saja."


Wita pun mengangguk mengiyakan. Adnan tersenyum masam saat gadis itu lagi-lagi tidak memprotes apapun. Harusnya dia merasa senang tapi seperti ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.


"Ya sudahlah" batin Adnan. Tanpa berniat melanjutkan obrolan, Adnan berlalu begitu saja meninggal Wita.


***


Sebuah kafe yang cukup terkenal di kota tersebut malam ini sangat di padati oleh pengunjung. Mungkin karena weekend, dari kalangan muda hingga dewasa sangat menikmati suasana di kafe tersebut.


Di salah satu ruangan VIP, tampaknya juga tidak kalah asik. Salah satunya Adnan dan teman-temannya menempati ruangan tersebut. Ke empat pria dewasa itu terlihat menikmati kebersamaan yang tercipta. Percakapan pun selalu mengalun di kerumunan tersebut.


"Dokter muda kita tumben-tumbennya ya traktir begini. Sering-sering aja Bro. Kita pasti seneng." Ungkap Gio salah satu teman Adnan.


Yang lain pun menanggapinya dengan setuju. "Bener banget dari masa kuliah saking sibuknya jarang banget kumpul. Eh, Tiba-tiba kontak pengen hang out. Wah, gak seperti biasanya." Theo pria berdarah blesteran itu pun ikut menimpali.


"Atau jangan-jangan lo mau kawin ya? Dengan pacar lo yang itu... siapa namanya..?" Gio terlihat mengingat-ingat nama pacar Adnan yang sekarang.

__ADS_1


"Arabela?" Tebak pria terakhir yang berada di sana. Daren namanya.


"Nah, betul itu.. Lo hebat bro ingat. Gue aja lupa saking banyaknya pacar yang dia miliki." Gio berucap lagi.


"Kawin..kawin.. ngasal lo. Gue ngajak kalian karena bosen aja, pengen refreshing otak." jawab Adnan kemudian.


"Haha lagian yang bener tuh nikah, kalo kawin pasti udah sering dia." Dengan secara gamblang Theo mengungkapkan fakta yang memang sudah di ketahui dari jaman mereka kuliah dahulu.


"Lo masih sering having Nan? Padahal dah jadi dokter. Gak takut kualat?" Daren yang terlihat lurus dari ke empat manusia itu menunjukkan rasa ibanya.


"Orang kayak gini tobat? Diketawain kali sama burungnya." Gio menggelengkan kepalanya jika mengingat tingkah laku Adnan. Tapi mereka berempat juga tidak kalah brengsek nya. Yang perlu diketahui, jangan sembarang menilai orang dari wajahnya saja. Karena ke empat orang tersebut sangatlah menipu. Tipe yang kalem tapi menghanyutkan.


"Ya nggaklah, lagian pekerjaan gue sama hal pribadi gue kan beda. Gak ada sangkut pautnya."


"Wah berarti bener dong lo sering ***-***." Ungkap Gio.


"Sama pacar gue iya." Jawab Adnan secara gamblang. Dia meminum kopi yang ada di depannya dengan tenang.


Adnan hanya melihat ketiga sahabatnya itu menggelengkan kepala secara dramatis. Halah drama sekali. Batin Adnan


"Mending nikahin aja Nan, Lo kan udah mapan umur juga pas lah ya. Daripada zina terus." Saran Daren kemudian.


"Ribet, Lo tau sendiri gue tipe orang yang gak mau dikekang. Akhir-akhir ini aja sering berantem. Apalagi nanti dinikahin! udah kesenangan aja tuh cewek lebih leluasa mengekang gue." Curhat Adnan kemudian.


Ketiga manusia itu pun mengangguk mengerti. Dari ke empat pria itu, Adnan memang yang sering gonta ganti wanita. Bukan karena dia playboy tapi karena prinsip yang dianut pria itulah yang membuatnya jarang langgeng dengan seorang wanita.


"Yaa.. yang penting lo jangan lupa main aman aja si Nan. Gak lupa kan pakai pengaman? Tapi kalo mau punya anak cepat ya terserah." Theo mengingatkan hal yang pernah dilupakan oleh Gio. Karena pria itu harus merelakan masa mudanya untuk menikahi kekasihnya dimasa kuliah.


"Sial, Gue lagi yang kena. Enak tau bro punya anak. Kalo capek pulang kerja ada makhluk kecil yang dateng minta gendong. Oh, rasanya pengen nambah anak lagi." Pria itupun kena timpuk Daren.


"Oke Nan. jangan sampai lupa." Theo menepuk pundak sahabatnya itu dan mengingatkannya lagi.


"Gila kali, gue selalu pake pengaman. Gak sama Arabela, gak sama yang lain buktinya sampai sekarang aman-aman aja." Ucapnya dengan berbangga diri, dia juga tidak mau memiliki anak untuk saat ini.


"Yahh, hari apes gak ada yang tau. Ya nggak gays!!"


Adnan merasa dia sudah bermain aman, jadi apa yang dikatakan Theo tidak perlu di ditakuti olehnya. Tapi kenapa dia merasa ada yang janggal ya.


Adnan mengingat-ingat kembali saat dia berhubungan dengan seseorang. Dia pasti pakai pengamanan. Pasti.. itu hal wajib yang harus ada sebelum berhubungan.

__ADS_1


Wita. Gadis itu..


Sekelebat peristiwa malam itu terlintas di otaknya. Dia pake pengaman kan dengan pembantunya?


Tapi setelah dipikir-pikir..


Sedetik


Tiga detik


Sepuluh detik..


"Sial.. " Makinya dengan keras. Adnan saking kagetnya menemukan yang dilupakannya selama ini, berdiri dari duduknya dan membuat semua temannya keheranan.


"Kenapa bro?"


.


.


.


"Wah.. wah ada yang gak beres nih."


.


.


.


"Kayaknya kita mau punya ponakan lagi."


.


.


.


.

__ADS_1


***


__ADS_2