Asisten Rumah Tangga

Asisten Rumah Tangga
Yang tak Terduga


__ADS_3

Hari itu pun tiba, Wita dengan sopan mengundurkan diri dan berpamitan kepada seluruh pelayan di rumah Tuan Rahardian.


Bik Marni selaku kepala pelayan cukup terkejut dengan yang dilakukan Wita, tetapi dia tidak ada hak untuk menahan keinginan perempuan muda tersebut. Mulan yang selama ini dekat dengannya pun turut dibuat heran.


"Kamu yakin ingin berhenti bekerja, Wit?" Entah sudah beberapa kali Mulan memberi pertanyaan seperti itu kepadanya.


Wita sedang menata pakaiannya, dia menghela nafas dan tersenyum. "Iya mbak, apa nggak capek tanya itu mulu?"


"Ya pasalnya kamu mendadak berhenti sih, aku kan kaget. Bener nggak ada sesuatu yang menghawatirkan kan?" Tanya Mulan yang terlihat khawatir.


"Nggak ada mbak, aku cuman mau cari pekerjaan di deket rumah aja. Soalnya kasihan ibu aku sekarang di rumah sendirian." Wita terpaksa berbohong tapi ada juga benarnya.


"Huhu, padahal kita udah solid banget, aku suka kerja sama kamu loh karena kamu tuh tergolong gesit. Bik Marni juga kelihatan suka dengan hasil kerja kamu. Sayang banget."


"Ya gimana mbak, aku juga sebenarnya betah kerja di sini. Tapi aku udah janji sama ibu ku."


Akhirnya, Mulan memeluk perempuan itu dengan pelan. "Iya udah yang penting kamu jangan lupain aku ya. Semoga kamu dapat pekerjaan yang lebih baik dari ini." Dia menepuk punggung Wita dengan sayang.


Dalam pelukan tersebut, tak terasa air mata Wita menetes, segera ia menyekanya agar Mulan tidak menyadarinya.


Setelah beberapa menit melakukan perpisahan, Wita segera melangkahkan kakinya meninggalkan perumahan tersebut dengan berat.


Dia berjalan dengan membawa tas besar di pundaknya. Tidak banyak yang di bawanya, tapi cukup menguras peluh. Apalagi dia harus berjalan keluar dari perumahan itu yang jaraknya cukup jauh.


Dia pun sudah di ujung pintu keluar perumahan, dia mengedarkan pandangannya dan menemukan sebuah mobil hitam yang di kenalnya terparkir di bahu jalan.


Dia berjalan ke arah mobil tersebut. Baru saja Wita membuka pintu mobil itu, sebuah suara yang terdengar ketus mengalun di telinganya.


"Lama banget! Saya hampir mati bosan menunggu kamu." ucap Adnan yang ada di depan kemudi.


"Salah sendiri parkirnya terlalu jauh, anda nggak liat saya banyak membawa barang bawaan?" jawab Wita yang tidak mau kalah, dia juga merasa lelah.


Adnan mendengus kesal, dua yang dia tidak suka di dunia ini. Satu, wanita yang cerewet dan yang satunya dia tidak suka di suruh menunggu.


"Alasan, tas cuman satu gitu. Lagian kalau saya parkir di dalam nanti ada yang curiga."


"Yaudah, nggak usah protes. Anda lupa kalau saya sedang hamil. Bawa barang seberat ini juga butuh kehati-hatian. Syukur-syukur ada yang bantu tapi apalah daya nggak ada yang peka."


Dilihatnya wajah Wita yang masih menyisakan lelah diwajahnya. Akhirnya Adnan pun mengatupkan bibirnya yang hendak menjawab omelan dari perempuan di sampingnya. Tanpa banyak berkata lagi, ia pun melajukan mobilnya.

__ADS_1


Keduanya pun terdiam dengan pikirannya masing-masing. Sebenarnya mereka akan ke rumah Wita dan meminta restu ke ibunya.


Perempuan itu sangat resah. Apa jadinya jika ia pulang dengan tiba-tiba membawa seorang pria yang ingin menikahinya? Pasti ibunya sangat terkejut. Rasanya dia juga tidak sanggup jika harus menjelaskan kalau dirinya sekarang berbadan dua.


Dia memandang Adnan yang terlihat tenang dan fokus menyetir. Apa benar pria ini akan meyakinkan ibunya?


Adnan yang di pandang seperti itupun menyadarinya.


"Kamu tidak usah cemas, biar nanti saya yang menjelaskan semuanya ke ibumu." Akhirnya Adnan pun berbicara.


Adnan ternyata menyadari kegelisahannya. Wita pun mengalihkan pandangannya ke depan lagi.


"Apa ayahmu benar-benar tidak ada kabar?" Adnan sedikit tahu apa yang terjadi.


"Entahlah, saya juga pusing memikirkannya Tuan." Jelas Wita.


"Oh iya, tolong jangan panggil saya dengan sebutan tuan. Nanti ibumu curiga."


Wita mengernyitkan dahinya terlihat heran. "Terus panggilnya apa?"


"Mas juga boleh, yang umum-umum ajalah. Jadi nggak terlalu formal. Kamu juga udah nggak jadi asisten rumah tangga di rumah saya lagi."


"Masss... " ulang Wita yang membeo.


"Mas.. Adnan?" ucap Wita lagi dengan canggung.


Ada guratan geli saat Adnan mendengar panggilan itu. "Cocok juga saya di panggil mas."


Berbeda dengan Adnan, Wita terlihat bersemu merah, entah mengapa reaksinya seperti itu. Karena untuk pertama kalinya dia memanggil seorang pria seperti itu, untungnya pria yang ada di sampingnya masih fokus menyetir jadi tidak menyadarinya.


Adnan pun melanjutkan bicaranya. "Dan mulai sekarang, kita pakai 'aku-kamu' saja. Kalau pakai 'saya-anda' terlalu formal sekali. Apalagi kita akan menjadi suami istri."


Saat melihat tidak ada reaksi apapun dari perempuan tersebut, Adnan pun bertanya kembali.


"Paham kan Wit?"


"Iya paham, M.. as." ucap Wita dengan pelan. Terserah orang ini ajalah.


Mobil pun tiba di pekarangan rumah yang sangat sederhana, Wita turun terlebih dahulu dan disusul oleh Adnan.

__ADS_1


Rumah tersebut terlihat sepi. Wita mengetuk beberapa kali dan mengucap salam.


"Buk, Ini Wita."


Tidak ada sahutan dari dalam. Wita pun mencoba kembali.


"Ibuk, buka pintunya.."


"Kamu yakin ibumu ada didalam?" Tanya Adnan yang melihat tidak ada satu orang pun yang membuka pintu.


"A.. ku yakin. Ibu tidak pernah pergi kemanapun."


"Coba kamu telepon ponselnya barangkali ibumu ketiduran." Wita pun langsung menuruti apa yang di katakan Adnan.


Panggilan demi panggilan ternyata sama saja tidak diangkat, firasatnya mengatakan ada yang tidak beres. Sedangkan Adnan seperti mendengar deringan telepon dari dalam. "Tunggu, panggil terus sepertinya aku mendengar sesuatu."


Benar saja, dia mendengar nada dering. Adnan menyuruh Wita untuk menyingkir terlebih dahulu. Dia mencoba membuka pintu di depannya yang terkunci.


Tanpa menunggu persetujuan dari sang punya rumah, Adnan mendobrak pintu itu dengan keras. Hingga beberapa kali dia melakukannya akhirnya pintu itupun terbuka.


Wita langsung berlari dan mencari ibunya. Tidak sampai lama, Wita pun menemukan ibunya.


Tapi..


"Aaaa.. Aa...." Teriak Wita kaget bercampur pilu.


Adnan yang ada di belakangnya pun sangat terkejut. Dia langsung memeluk dan menutup mata gadis itu untuk menjauh dari tempat ibunya.


Suara tangisan terdengar, dalam pelukannya Wita meronta ingin menghampiri ibunya.


"Lepa.. Sinn.. aku mau tolong ibuk mas.." ucapnya sesenggukan.


"Nggak, kita harus telepon polisi terlebih dahulu."


"Buat apa? Ibuk masih bisa ditolong. Ayo kita bantu ibuk.." Mata dengan penuh harapan itu memandang Adnan dengan putus asa.


Adnan selaku dokter dan sudah terbiasa dengan wajah pucat yang terlihat jelas di wajah ibu Wita, sekali melihat saja sudah sadar jika itu tidak mungkin terjadi.


Adnan memeluk Wita dengan erat. Pasti berat menjadi gadis ini. Dengan mata kepalanya sendiri melihat ibu yang selalu ada untuknya tergantung di atas seutas tali..

__ADS_1


dan


tidak bernyawa..


__ADS_2