
Tiga bulan telah berlalu, kini Wita sudah merelakan ibunya. Yang sekarang ia lakukan adalah fokus pada kehamilannya. Sudah tiga bulan juga dia tinggal di apartemen milik Adnan. Apartemen yang terbilang cukup mewah ini membuat dirinya nyaman.
Jangan tanyakan sikap Adnan sekarang, karena setelah ia membantu mengurus ibunya yang meninggal hingga kini pria tersebut seperti menjauhinya. Bisa dihitung pria itu datang menengoknya, padahal ini masih apartemennya, tapi Wita merasa dirinyalah pemiliknya saking sibuknya pria itu.
Wita juga tidak mengharapkan perkataan Adnan yang akan menikahinya di tepati pria itu. Karena sampai sekarang tidak ada obrolan yang menjerumus ke topik tersebut. Dia juga tidak lupa kalau Adnan juga sudah memiliki tunangan yang setara dengannya, bisa saja pria itu telah berubah pikiran.
Hidup sebatang kara membuatnya benar-benar pasrah, syukur-syukur kini masih ada yang membiayai hidupnya. Harapan satu-satunya yang ia miliki ialah janin yang sedang dikandungnya.
Wita sedang asik melanjutkan kegiatannya membersihkan beberapa sudut apartemen tersebut. Inilah yang di lakukannya belakangan ini. Dia sadar diri bahwa dirinya hanya menumpang, jadi setidaknya dia harus mengurus tempat tinggal ini dengan baik.
"Kini yang tersisa hanya bunda sama adek ya, Maaf ya dulu sempat marah pas tau adek ada. Tapi tenang sekarang adek jadi penyemangat bunda kok. Makasih sudah hadir di hidup bunda ya sayang." Ucap Wita mengelus perutnya, yang kini memasuki usia enam bulan.
Sekarang dia sadar betapa adilnya, saat dirinya kehilangan sosok seorang ibu, Tuhan telah menggantinya dengan hadirnya calon malaikat kecil.
Sebuah suara dari pintu masuk mengalihkan perhatiannya. Adnan muncul dengan setelan formalnya, jas hitam yang sedikit kusut dan rambut agak berantakan entah mengapa membuat Wita tidak fokus.
Padahal pria itu memasang wajah datar saat melihatnya, tapi pesona itu terkadang membuatnya sedikit berdebar.
Adnan berjalan melewati Wita begitu saja. Tanpa berniat berbasa-basi terlebih dahulu, yang membuatnya sedikit sedih.
"Huft.. ada apa sih denganku. Biasanya juga gini, kenapa sekarang jadi baper?" Rutuk Wita dalam hati. Akhirnya dia melanjutkan kegiatannya.
Adnan membuka setelan jasnya saat berada di dalam kamar. Sekarang ia merasa lelah sekali karena tidak bisa tidur seharian dan pasien sangat menumpuk.
Entah mengapa ia malah pergi ke apartemen yang terdapat gadis tersebut, bukannya pergi ke rumah orang tuanya atau apartemen lain yang ia miliki. Dia merasa disini seperti pelariannya.
Wita mengetuk pintu kamar itu dengan pelan, dia ingin menawarkan sesuatu kepada Adnan barangkali pria tersebut sedang merasa lapar.
"Mas Adnan, aku udah nyiapin makanan. Kamu mau makan apa tidak?"
Adnan pun menjawab "Ya sebentar aku akan mandi dulu."
Wita pun menghela nafas, "Aku tunggu ya di sini."
__ADS_1
Selang beberapa menit Adnan pun keluar dengan baju yang lebih santai. Dia tersenyum tipis saat Wita sudah berada di tempat makan menunggunya.
"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot memasak untuk ku." ujar Adnan.
"Aku tidak merasa repot karena aku juga memakannya."
"Ya udah terserah kamu aja yang penting aku sudah memberitahukannya."
Mereka pun makan dengan hikmat, setelah makanannya habis Adnan pun berbicara kembali.
Dia menyodorkan sebuah amplop kepada Wita. "Seperti biasa ini uang bulanan untuk kebutuhan kamu."
Wita menerimanya dengan ragu "Bulan kemarin masih ada kenapa kamu ngasih lagi?"
"Tidak apa simpan saja siapa tahu kamu membutuhkannya."
"Tapi ini kebanyakan?" Protes perempuan tersebut saat melihat isinya.
"Untuk kebutuhan kamu dan bayi yang ada dalam kandungan kamu. Juga.. sesekali keluarlah aku lihat kamu tidak pernah keluar dari apartemen ini."
"Nanti akan ku coba." Jawab Wita kemudian.
Tiba-tiba Adnan memandangnya dengan serius, dan Wita pun menyadarinya. Perempuan itu merasa ada yang ingin disampaikan oleh pria tersebut.
"Apa ada masalah mas?" tanya Wita dengan hati-hati.
Adnan mengangguk mengiyakan. Tanpa perlu berbasa-basi pria itu mengatakan tujuannya datang kesini.
"Sepertinya.. aku tidak bisa menikahi mu."
Ucapan yang pernah dibayangkan oleh Wita ternyata terucap hari ini, dia memandang pria itu dengan senyum.
"Kalau boleh tau, apa alasannya?"
__ADS_1
Adnan menyodorkan lagi sebuah amplop, tapi kini berisi undangan pernikahan yang terlihat mewah. Tertera nama pria tersebut dan wanita yang Wita yakini tunangan Adnan dulu.
"Ah.. Selamat mas." Ucapnya yang hampir kelu. Dia sudah memprediksinya, tapi tetap saja saat melihat ini hatinya berdenyut nyeri, tapi Wita sangat pandai menutupi perasaannya.
"Aku harap kamu memahaminya. Aku tidak berniat untuk meninggalkan tanggung jawabku kepadamu. Aku masih akan membiayai mu hingga anak ini lahir dan besar nanti." Kata-kata itu terdengar sangat bijak, sayangnya tidak untuk perempuan yang mendengarnya saat ini.
Dia mengangguk kemudian. "Semoga acaranya lancar ya." Entahlah hanya itu yang terlintas di otaknya. Wita terlalu banyak menelan kekecewaan.
"Mungkin beberapa bulan ini aku tidak bisa mampir." Ucap Adnan lagi.
"Aku bisa mengurus kebutuhanku sendiri, Mas Adnan tenang saja dan nggak perlu khawatir." Jelas Wita mengharapkan kekhawatiran dari Adnan, tapi lagi-lagi mungkin pria itu tidak pernah mengkhawatirkannya sedikitpun.
"Syukurlah." Adnan berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Wita dengan kesendirian.
Apalah daya, mengharapkan ia menjadi prioritas dalam hidup pria itu adalah sebuah kekonyolan yang pernah ia pikirkan.
Wita mengelus perutnya dengan pelan. Dia berbisik lirik. "Setelah adek lahir, nggak apa-apa kan kalau hanya kita berdua saja? Lihat, ayah kamu sebentar lagi punya keluarganya sendiri. Nggak baik merusak kebahagiaan orang lain. Kita ciptain kebahagiaan sendiri ya dek. Bunda janji walaupun nanti hanya bunda yang adek punya, bunda pastiin kamu selalu bahagia."
Kini perempuan tersebut tidak penasaran karena terjawab sudah perubahan sikap yang Adnan perlihatkan akhir-akhir ini.
Wita terus menguatkan hatinya kalau semuanya akan baik-baik saja.
Dia mandiri, dia tidak sendiri, ada bayi yang akan lahir yang akan menjadi penyemangatnya dikala sendiri.
Tekadnya sudah bulat, dia hanya akan bertumpu pada pria itu hingga anaknya lahir saja. Setelah itu Wita ingin pergi sejauh mungkin dari kehidupan Adnan ataupun kota yang sekarang ini menciptakan kenangan menyakitkan untuk dirinya.
Selamat tinggal ibu, selamat tinggal ayah yang entah dimana..
Dan..
Selamat tinggal Kamu yang tak pernah menganggap aku penting di hidupmu walaupun sekejap saja.
Kini aku akan mengucapkan selamat datang kepada calon bayiku saja..
__ADS_1
Sesosok jiwa yang selalu ku nantikan, yang tak pernah mengecewakan.