Asisten Rumah Tangga

Asisten Rumah Tangga
Malam Yang Panjang


__ADS_3

Dua manusia berbeda jenis itu asyik berbincang, ternyata walaupun mereka berbeda dari segi apapun tapi itu tidak membuat Adnan kesusahan untuk menjelaskan sesuatu yang Wita belum ketahui, karena gadis di depannya ini cukup tanggap. Sama halnya dengan Wita yang selalu bertanya dengan sedikit kepolosannya itu membuat Adnan merasa nyaman di dekat gadis berambut sebahu itu.


Mempunyai wajah yang enak dipandang walaupun tidak secantik kenalan wanitanya membuat Adnan juga tidak bosan untuk memandangnya. Entah itu pengaruh alkohol ataupun memang alam bawah sadarnya, dia menyibakkan rambut yang menghalangi wajah gadis itu dengan pelan.


Wita menyadari sentuhan itu, dia pun memandang wajah tampan dihadapannya dengan senyuman.


"Udah nggak sedih lagi kan tuan? boleh saya keluar?" tanya Wita dengan pelan. Mata mereka saling menatap.


Adnan menganggukkan kepalanya, dia melihat jam yang sudah menunjukkan 2 dini hari. "Kamu benar pasti kamu merasa ngantuk sekali, makasih sudah mendengar bualan saya tadi."


"Jangan merasa sungkan tuan. Semoga hubungan tuan dan pacarnya segera membaik. Jadi tuan nggak akan bersedih lagi."


Ternyata Adnan memang mempunyai masalah sendiri, terlepas dari acara pesta yang di adakan sangat adik.


"Sekali lagi terima kasih Wita. Nanti saya akan meminta Mama untuk menaikkan gaji kamu bulan ini."


"Tidak usah tuan, kalau yang lain tau bisa jadi masalah. Saya tidak mau itu terjadi." ujarnya dengan cepat.


Tapi Wita menawarkan hal yang lain, pengganti dirinya menemani majikannya yang seperti lembur ini. "Kalau bisa saya ingin besok libur aja, soalnya hari ini benar-benar lelah."


Adnan pun menyanggupi. "Baiklah, itu saja? itu hal gampang saya tinggal bicara sama Bi Marni."


Gadis itu lagi-lagi tersenyum senang. Pastinya hal yang mudah bagi Adnan, tapi beda kalau dirinya yang minta libur pasti banyak alasan yang harus di berikan untuk mendapatkan libur dari Kepala Asisten itu.


"Terimakasih"


"Kalau gitu saya pamit."


Wita hendak berdiri tapi tiba-tiba kepalanya berputar, akibatnya dia sedikit terhuyung ke belakang. Adnan yang melihatnya secara reflek menyangga bagian belakang gadis itu, dan menuntunnya untuk kembali mendudukkan tubuhnya.


"Kamu nggak apa-apa?" Ada gurat khawatir di wajah pria itu.

__ADS_1


Wita memijat kepalanya. "Kepala saya berdenyut tuan."


"Mungkin efek alkohol yang kamu minum. sebaiknya kamu istirahat sebentar, saya ambilkan air minum di bawah." Saran Adnan di setujui oleh Wita, gadis itu menyenderkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Adnan bergegas turun untuk mengambil air minum di dapur, lucu disaat dirinya sedari tadi menyuruh asistennya tapi kini situasinya berbalik kepada dirinya.


Setelah sampai di bawah, sudah tidak terdengar lagi suara bising dari pesta yang di adakan Elraina. Syukurlah batin Adnan dia tidak harus repot bertegur sapa atau ber basa-basi dengan tamu adiknya.


"Belum tidur Lo? Tumben." Suara wanita dari arah belakangnya. Menyadarkan Adnan dari pikirannya.


"Kamu pikir yang buat aku nggak bisa tidur siapa? Ngadain pesta itu yang wajar-wajar ajalah. Bising telinga nih dengerin lagu-lagu nggak jelas."


"Alah, lebay banget sih. Orang Mama sama Papa aja biasa aja tuh bisa tidur nyenyak, sunyi-sunyi aja kamarnya."


Adnan menghela nafas gusar. "Males ngomong sama orang yang susah di nasehatin, udah sana minggir terserah kamu aja"


Adnan pun tidak memperdulikan sang adik dan berlalu meninggalkan Elraina dengan cepat. Tidak lupa ditangannya sudah ada satu gelas air putih yang akan di berikan untuk Wita yang masih berdiam diri di kamarnya.


"Wit, Wita bangun. Ayo kita ke sofa dulu."


"Hmm.. iya.. "


"Bentar aku nyalain lampu dulu."


"Nggak.. nggak usah tuan. Itu tadi kena tangan aku, eh tiba-tiba.. gelap.. " Perkataan Wita sedikit ngelantur. Apa gadis ini mabuk? Perasaan dari tadi baik-baik saja. Mungkin efeknya sekarang, Adnan jadi merasa bersalah mengenalkan minuman alkohol kepada gadis ini.


"Iya iya, ayo saya bantu kita ke atas dulu di lantai dingin."


Dengan sisa kesadarannya Wita merangkul kan tangannya ke badan tegap Adnan, Adnan pun setengah memeluk badan mungil itu agar tidak terjatuh. Baru beberapa langkah, tidak sengaja kaki Wita tersandung karpet. Mengakibatkan kedua badan itu terjatuh. Untung jatuhnya ke kasur empuk miliknya. Adnan menghela nafas lelah, ternyata tubuh yang terlihat kecil itu berat juga. Tapi yang jadi masalah gadis di sebelahnya itupun masih terpejam, masa bodoh lah.


Akhirnya Adnan ikut menidurkan tubuhnya di samping Wita. Meneliti struktur wajah gadis itu yang terlihat damai. Adnan secara tidak sadar tersenyum simpul.

__ADS_1


Entah dorongan dari mana, dengan cahaya yang masih minim. Adnan memajukan wajahnya ke wajah gadis itu dan mencium bibir yang sedari tadi di perhatikan nya itu dengan cepat.


Adnan merasa sudah gila, dia mencium gadis ART di rumahnya, tapi dia merasa senang melakukan hal tersebut dan menciptakan debaran kasat mata di dadanya. Adnan melakukannya kembali, beberapa kali ia melakukannya.


Hingga mata yang terpejam itu terbuka, Wita melihat sosok wajah Adnan yang sangat dekat dengannya.


"Tuan.. " ucapnya dengan lirih.


Adnan sangat gelagapan, dia mencoba menjauh. Tapi sebuah sentuhan di wajahnya dan wajah sayu itu membuat pria dewasa itu memandang gadis di depannya dengan tatapan berbeda.


"Kenapa tuan sangat tampan?" Pertanyaan yang sangat klise berhasil membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Adnan mengetahui jika kesadaran gadis itu seratus persen dia tidak akan seberani ini mengatakan hal seperti itu. Apalagi menyentuhnya.


Dengan jemari lentiknya, Wita mengusap wajah dengan rahang tegas itu dengan pelan.


"Wita tolong berhenti.. " Geram Adnan mencoba menetralkan sesuatu yang tidak seharusnya bangun.


"Ingin berhenti, tapi enak banget wajahnya mulus di usap-usap gini." ucap Wita dengan sangat pelan.


Mata sayu gadis itu seperti benar-benar pasrah akan di perlakukan apapun oleh Adnan. Oh ayolah dia hanya pria normal.


Terkutuk lah minuman yang membuatnya panas seperti ini.


Dengan kesadarannya Adnan mencium Wita dengan lebih intens yang sekarang juga di balas oleh gadis itu dengan amatir, tidak seperti tadi yang hanya sebuah kecupan.


Semakin lama, semakin berani. Adnan sudah diselimuti oleh nafsu dan Wita yang sangat pasrah membuat Adnan hilang kendali.


Dua insan itupun terus melakukannya hingga fajar menyingsing. Ini sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi pria matang berusia 27 tahun itu.


Walaupun itu bukan pengalaman pertamanya tapi dia merasa jika malam ini malam yang spesial dan panjang.


Adnan menyadari jika dia yang pertama bagi Wita, dan itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri baginya. Ternyata masih ada gadis perawan di dunia ini.

__ADS_1


Adnan menyelimuti tubuh polos itu. Entahlah reaksi seperti apa yang akan terjadi saat gadis itu terbangun. Yang terpenting dia akan tidur dahulu dan memikirkan langkah yang di ambilnya esok hari, karena detik ini dia sudah sangat lelah untuk memikirkan hal tersebut.


__ADS_2