Asisten Rumah Tangga

Asisten Rumah Tangga
Kesalahan


__ADS_3

Sinar mentari yang masuk melalui celah jendela ternyata mengusik salah satu insan yang sedang tidur terlelap.


Wita merasakan tubuhnya yang begitu pegal dan nyeri. Dia merenggangkan tubuhnya dan menguap sebentar, mencoba mengumpulkan nyawanya. Dia mengucek matanya dan menyadari jika ini bukan kamarnya.


"Ini dimana?" Wita mendudukkan tubuhnya serta mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok Adnan di sampingnya. Reflek dia menutup mulutnya terkejut. Apalagi mengetahui jika pria tersebut bertelanjang dada.


Wita dengan gusar mengecek tubuhnya dibalik selimut dan hal yang tak pernah di bayangkan nya terjadi. Jadi semalam bukan mimpi?


Bodoh.. bodoh..


Rutukan tersebut terus bersemayam di kepalanya. Nyeri di pangkal pahanya juga menyadarkannya memang semalam terjadi sesuatu.


Satu gerakan dari sampingnya mengalihkan perhatiannya, Adnan terbangun dari tidurnya. Pria itu mendapati Wita yang menatapnya dengan tajam. Dia pun langsung mendudukkan tubuhnya, dan mematung seketika. Bingung ingin memulai pembicaraannya dengan apa.


"Tuan.. kenapa ngelakuin itu ke saya?" tanya Wita dengan cepat. Ada gurat kecewa di wajah manis tersebut.


Adnan langsung menggapai tangan Wita dengan lembut. "Wita, saya..saya akan bertanggung jawab." Jawab pria itu dengan pelan.


Jemari gadis itu langsung menepis tangan Adnan yang ingin menggenggamnya.


"Tidak mungkin, anda pasti membual. Anda punya kekasih dan saya juga hanya pembantu disini. Mana mungkin anda mau menikahi saya. Kita tidak setara.." Ucap Wita dengan lirih, satu bulir air mata menetes di pipinya.


Wita menyadari jika kejadian semalam mungkin salah mereka berdua karena di pengaruhi oleh minuman laknat, tetapi tetap saja dia sebagai perempuan yang pastinya banyak dirugikan.


"Saya akan memikirkannya lagi. Sungguh saya sangat menyesal. Maafkan saya." Ucap Adnan dengan sungguh-sungguh.


Wita menghapus air matanya yang terus mengalir. Rasanya baru kemarin dia mengagumi sosok di hadapannya ini, tetapi sekarang dia dibuat kecewa.


Isakan tangis terus terdengar dari kamar tersebut, untungnya kamar itu kedap suara jadi Adnan tidak khawatir seseorang diluar mendengarnya. Dirasa cukup tenang, Wita memandang wajah pria itu dengan nanar.


Dia menyadari jika menangis tidak akan akan menyelesaikan masalah.

__ADS_1


"Yasudah lagian yang terjadi tidak akan membuat sesuatu yang saya jaga selama ini kembali. Saya juga turut andil melakukan kesalahan tersebut. Harusnya saya lebih berhati-hati lagi." ucapnya pilu.


"Saya ingin ke kamar mandi, membersihkan diri." Dengan perasaan lelah Wita mencoba mengikhlaskannya, gadis itupun membawa dirinya dengan selimut yang terlilit dan memungut pakaian yang berserakan. Dia berjalan ke kamar mandi di ruangan tersebut.


Adnan mengusap wajahnya dengan gusar. Bisa-bisanya tadi malam kebablasan, apalagi dia melakukannya dengan seorang pembantu di rumah nya. Apa yang orang lain katakan jika ada yang mengetahuinya? Mau ditaruh mana mukanya?


"Ah.. sial." Umpatnya kemudian.


Selang beberapa menit, Wita sudah selesai membersihkan diri. Dia terlihat segar walaupun wajahnya masih menggambarkan kesedihan.


Adnan yang masih berada di atas kasur dan terlihat sudah berpakaian lengkap bersuara. "Tolong jangan beri tahu siapapun."


Wita memutar bola matanya malas. "Apa saya sebodoh itu harus nyebarin aib saya sendiri Tuan? Yang benar saja." sarkas nya.


"Saya tau ini tidak akan mengembalikan sesuatu yang hilang dari kamu, tapi saya akan memberikan kompensasi. Untuk saat ini, itulah bentuk tanggung jawab saya." Ah, ternyata begitulah tanggung jawab yang di berikan oleh pria itu, ternyata bukanlah sebuah pernikahan. Wita merasa miris, dirinya terlalu berharap.


Setelah menghela nafas berat Adnan melanjutkan perkataannya. "Saya mohon lupakan kejadian tadi malam, dan berharap kamu juga bisa menjaga rahasia ini. Sungguh sekali saya minta maaf, Saya sungguh khilaf."


Wita hanya bisa menghela nafas lelah. Seharusnya masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan materi. Tapi Wita sadar dia berhadapan dengan siapa, dan sadar juga dengan posisinya. Melaporkannya atas tindak pelecehan sepertinya juga tidak akan berakhir baik. Dia pasti akan kalah telak. Jadi, semoga ini pilihan terbaik untuk dirinya dan juga masa depannya.


"Terserah anda saja, saya pamit." ujarnya ingin cepat pergi dari kamar tersebut.


Adnan berlari menghalangi gadis itu untuk keluar. "Tunggu.. "


"Jangan keluar sekarang. Pasti banyak orang berlalu lalang di luar. Saya udah meminta izin ke Bik Marni kalau kamu hari ini libur sesuai permintaan kamu tadi malam." Wita menatap pria di depannya itu dengan heran. Bagus dong dia bisa kembali mengistirahatkan badan dan pikirannya hari ini. Terus apa masalahnya?


"Tapi saya bilang juga ke Bik Marni kalau kamu sedang pulang ke rumah untuk menjenguk ibu kamu yang sedang sakit." lanjut Adnan kemudian.


Setelah mendengar hal tersebut, gadis itu menatap Adnan dengan tajam. Bisa-bisanya dia melibatkan ibunya?


Astaga pria ini.

__ADS_1


"Tuan..." keluhnya dengan wajah memelas.


Adnan pun meringis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf, yang saya lakukan agar tidak ada seorang pun yang curiga. Keluarlah saat tengah malam nanti. Kamu bisa istirahat sesuka kamu disini."


Wita menatap horor pria didepannya. Apa sih yang dipikiran anak majikannya yang satu ini. Apa dia tidak menyadari kalau saja Wita mengalami trauma pasca kejadian tadi malam? Masa dirinya harus sekamar berduaan lagi? Dia kan harus berjaga-jaga juga. Dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.


Adnan yang menyadari kegelisahan dari wajah gadis itupun, langsung menjelaskan secara rinci.


"Tenang, tenang. Itu tidak akan terjadi lagi. Kamu tau sendiri kan? tadi malam kita mabuk. Makanya hal itu terjadi, sekarang saya 100% sadar. Dan setelah saya membersihkan diri saya akan ke bawah dan membawakan mu makanan serta minuman yang bisa menjadi stok kamu sampai nanti malam. Setelah itu saya akan keluar dari kamar ini."


Wita baru sadar, untuk kali pertamanya ia mendengar perkataan tuannya yang sangat panjang. Biasanya hanya bicara seperlunya saja.


Adnan menunggu respon dari gadis itu, tetapi sang empunya masih terdiam dan menatap wajahnya dengan pandangan sulit diartikan. Alhasil Adnan hanya meringis pelan.


"Mohon kerjasamanya." Ucapnya sekali lagi.


"Kalo begitu saya ke kamar mandi dulu." Pembicaraan tersebut berakhir saat Adnan berlalu dan terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


Wita mendudukkan tubuhnya di kursi yang menjadi saksi perbuatan mereka tadi malam. Merenung memikirkan sesuatu yang sudah hilang tersebut.


Bagaimana nanti jika dia menikah dan suaminya mendapati dirinya sudah tidak perawan? Apakah dia masih diterima? Atau adakah pria lain yang akan menikahinya jika ia mengatakan kalau dirinya sudah tidak perawan? Entahlah, Wita merasa kepalanya ingin pecah memikirkan itu semua.


Sebagai gadis yang di besarkan baik-baik, tidak mungkin ia menceritakan aibnya ke keluarganya. Orang tuanya juga sudah mempunyai banyak masalah tersendiri. Dia tidak mau menambah masalah. Sekarang yang hanya bisa dilakukannya adalah memendamnya sendiri.


Andaikan dia menolak ajakan Adnan untuk menemaninya, pasti kejadian itu tidak terjadi kan?


Sayangnya, nasi sudah menjadi TA1..


***


🤣🤣

__ADS_1


Yang terakhir nulis sendiri ngakak sendiri itulah aing macan...


__ADS_2