
Sedari kecil hingga umurnya 19 tahun, Wita tidak merasa kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Menjadi anak tunggal tidak membuat dirinya manja. Dia malah menjadi gadis mandiri. Saat sekolah dia juga sering mendapat juara. Masa remajanya ia isi dengan belajar jadi Wita tidak pernah menjalin kasih dengan siapapun. Ia merasa itu membuang waktu saja.
Dulu ia pernah bercita-cita, tapi semenjak keuangan keluarganya turun drastis. Dia tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Dia bisa saja egois melanjutkan pendidikan dari beasiswa yang ia peroleh. Tapi apa ia tega? Saat melihat ibunya setiap hari menangis karena harus berurusan dengan rentenir yang selalu menagih hutang yang tak kunjung usai?
Berawal dari sang ayah yang kena tipu, dan lebih parahnya ayahnya malah bermain judi agar bisa mendapat uang lebih cepat. Tetapi malah buntung karena hutang semakin banyak dan semakin membuat stress.
Itulah mengapa ia berakhir disini, dengan semampunya dia membantu orang tuanya dengan bekerja.
Tapi jika ada yang mengetahui fakta ini apakah ia masih bisa bekerja?
Wita menatap benda pipih yang tergeletak di depannya dengan pandangan kosong. Dia menekuk lututnya dan bersandar di antaranya. Di kamar kecil itu Wita merasa hilang arah, dua garis tergambar jelas di benda tersebut.
Deringan telepon menyadarkannya, Wita mengalihkan perhatiannya ke benda tersebut dan menemukan satu panggilan dari Ibunya.
"Halo, Assalamu'alaikum nak."
"Wa'alaikumsalam bu, ada apa?" Jawabnya sedikit tidak bersemangat.
"Maaf ganggu, kamu lagi sibuk ya?"
"Nggak.. ini Wita lagi istirahat" Ucapnya lagi.
Ada helaan nafas yang panjang yang terdengar dari sebrang sana, ibunya sepertinya tidak enak untuk mengatakannya.
"Bicara aja bu" ucapnya pelan, Wita merasa ada yang tidak beres.
Akhirnya setelah beberapa menit terdiam suara ibunya terdengar.
"Begini.. ayah kamu sudah seminggu tidak pulang Wit, ibu udah pusing dan bingung mencarinya kemana lagi. Ibu nggak kuat kalo ditinggal sendirian dengan hutangnya. Banyak rentenir datang ke rumah. Tapi Ibu udah nggak punya uang lagi." Adu sang ibu dengan sedikit terisak.
Ternyata firasatnya benar.
Tanpa sepengetahuan sang ibu, satu bulir air mata juga mengalir di pipi Wita, rasanya hatinya sesak saat masalah terus menghampirinya.
Tapi ia harus kuat bukan?
"Iya nanti Wita transfer ya, Ibu butuh berapa? Jangan sedih Wita punya uang kok." Sepertinya dia dengan terpaksa harus menggunakan uang yang Adnan kasih. Padahal tadinya dia tidak mau mengusik uang tersebut. Kalo dia menggunakannya, Wita seperti menjual keperawanannya yang hilang.
__ADS_1
"Makasih ya nak, ibu itu malu harusnya tidak mau nyusahin kamu tapi yang ibu punya hanya kamu." Jawab ibunya yang kini terdengar sudah menangis.
Wita menghela nafas lelah. Bagaimanapun sekarang dia juga hanya punya sang ibu. "Nggak apa-apa kan gunanya Wita bekerja biar bisa bantu ibu. Pokoknya ibu sabar ya. Setelah ini Wita kirim uangnya, ibu lunasi dulu hutangnya dengan uang yang ada."
Ibunya pun menurutinya. "Makasih ya nak kamu memang yang terbaik.. Ibu sayang kamu, jaga kesehatan di sana."
"Iya ibu juga, Wita sayang ibu."
Saat sang ibu akan menutupnya, gadis itu mencegahnya.
"Bu.. Ada yang ingin Wita katakan." Entah mengapa ia ingin menumpahkan keluh kesahnya kepada orang yang melahirkannya itu.
"Iya, ada apa nak? kamu di sana baik-baik saja kan?" Ucap ibunya sedikit khawatir.
Tapi Wita menggelengkan kepalanya, ia tidak sanggup mengatakannya. Apalagi dalam kondisi seperti ini. "Eh.. nggak jadi deh, Nanti pas ketemu aja." ucapnya sedikit bercanda.
"Kamu itu." Ibunya pun menghela nafas lega, ibunya pun pamit dan panggilan pun terputus.
Ibunya sangat bergantung dengannya, mau tidak mau Wita adalah tempat bersandar ibunya. Tapi ia juga gadis yang lemah, ia juga butuh sebuah sandaran.
***
Adnan menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia sedang berada di apartemen miliknya yang tidak jauh dari tempat bekerjanya.
Semenjak bertemu dengan teman-temannya dia terus memikirkan semua kemungkinan yang terjadi. Pria itu juga sengaja tidak pulang ke rumahnya.
Adnan memijit kepalanya yang terasa pusing. Dia harus mengeceknya sendiri dan berbicara empat mata dengan gadis itu. Semoga yang ditakutinya tidak terjadi.
Sedang asiknya merenung, bunyi bel di apartemennya berbunyi terus menerus, hingga membuat pria itu mendengus kesal.
"Siapa sih.."
Dengan malas ia berjalan dan membuka pintu apartemen miliknya. Terpampang lah wajah wanita cantik di depannya.
Arabela, wanita yang berprofesi sebagai dokter kecantikan itu berdiri dengan tenang. Wajah wanita tersebut sedikit memerah karena menahan amarah.
"Ada apa?" tanya Adnan dengan wajah datar. Tidak merasa terusik dengan wajah tidak ramah itu.
__ADS_1
"Kamu tuh sibuk banget sih Nan, aku telepon juga gak diangkat." Ujar wanita itu dengan sebal.
Adnan tidak menggubris suara dari wanita yang sudah dipacarinya setahun terakhir, dia malah berlalu meninggalkan Arabela ke dalam kamarnya lagi. Terlalu pusing meladeni sikap kekanak-kanakannya.
"Tuh kan, aku dicuekin. Kamu gitu banget sih." Dengan langkah menghentak-hentak wanita itu merajuk mencoba mencari perhatian dari sang pacar.
Adnan menghempaskan dirinya di sofa, lalu memejamkan matanya menutup dengan lengannya sendiri.
"Adnan... " Panggilnya dengan sewot.
"Tolonglah Bel, aku lagi pusing. Bisa nggak diam dulu?" Ucapnya kemudian.
Arabela yang mendengarnya pun terdiam. Wanita tersebut mendekatkan dirinya ke samping Adnan dan mengecek suhu pria itu dengan memegang dahinya.
"Ih ini kamu demam, Yang. Pantes wajah kamu agak pucat tadi. Udah makan?" tanya Arabela dengan lembut. Suasana hatinya langsung berubah menjadi khawatir saat mendapati sang kekasih dalam keadaan tidak fit.
Adnan menjawabnya dengan sebuah gelengan. "Ya ampun kamu itu, ya udah aku buatin makanan dulu habis itu minum obat. Kamu ada stok obat kan?" tanyanya.
Adnan mengangguk kemudian.
"Oke kamu rebahan aja dulu. Aku buatin makanan." Pria itu pun hanya menurutinya.
Malam itu, Adnan mendapat perhatian dan perawatan dari Arabela secara suka rela. Wanita anggun itu begitu mencintai kekasihnya. Walaupun akhir-akhir ini hubungan mereka di bumbui dengan pertengkaran, itu karena dia terlalu takut kehilangan sosok pria di depannya.
Dengan telaten wanita itu menyelimuti Adnan yang sudah tertidur pulas, dia tersenyum mendapati wajah damai dari pria nya.
"Seharusnya kamu bilang kalo lagi banyak pasien Nan, apa sih susahnya ngasih kabar?" Ucap wanita itu pelan.
"Terus kalo ada masalah bisa berbagi cerita sama aku? Jangan di pendem sendiri. Aku sampai tanya ke adik kamu tau. Ternyata kamu udah beberapa hari gak pulang ke rumah ya? Apa sih yang sebenarnya terjadi?Jangan lupa kamu punya aku untuk bersandar" Lanjut wanita itu, walaupun Adnan tidak akan menjawabnya.
Diceknya sekali lagi suhu tubuh pria tersebut. Syukurlah demamnya sudah turun. Arabela menghela nafas, ia pun mengentikan sesi bicaranya sendiri.
Selang beberapa menit wanita itu ikut merebahkan tubuhnya di samping sang kekasih dan terlelap bersama.
***
...Hati-hati typo✨...
__ADS_1