Asisten Rumah Tangga

Asisten Rumah Tangga
Rahasia


__ADS_3

"Ibu...jangan..pergi"


Suara igauan terus terdengar oleh Adnan di tiga malam ini. Seberapa terpukulnya gadis itu saat kehilangan, tergambar jelas dari tidurnya yang tak tenang.


Dia ingin menenangkannya, tapi seperti ada sesuatu yang selalu menahannya. Yaitu egonya.


Adnan masih menahan diri, tidak boleh terlalu kasihan kepada Wita. Karena dia tidak tau sampai mana keegoisannya akan muncul.


Sebenarnya dia hanya realistis, hubungannya dengan Wita pasti secepatnya akan berakhir, karena dia tidak mau menambah masalah semakin besar, apalagi sampai diketahui oleh keluarganya. Mungkin sampai bayinya lahir.


Adnan bangun dari tidurnya dan mengusap wajahnya dengan pelan. Dia menyibak kan selimut dan berjalan ke arah kamar mandi. Waktu masih menandakan jam 5 pagi, tapi dirinya tidak bisa tertidur kembali karena igauan nya sedikit mengganggunya.


Setelah itu, Adnan keluar mengetuk kamar di sampingnya.


"Wita, bangun.."


"Wit.. kita harus mengurus pemakaman hari ini." Belum ada sahutan dari dalam, mungkin gadis itu tertidur kembali.


Akhirnya Adnan berjalan ke arah pantry memasak sesuatu untuk sarapan mereka berdua seperti sebelumnya.


Selang hingga 1 jam, Wita menampakkan dirinya dengan berpakaian santai. Dia berjalan ke arah meja makan dan duduk dengan diam.


Adnan masih sibuk dengan masakannya, ia hanya meliriknya. Setelah hidangan siap, Adnan bergabung dengannya.


"Makanlah terlebih dahulu, kamu butuh tenaga." ucapnya.


Wita mengangguk menuruti, walaupun tidak berselera, ia harus tetap memakannya karena menghormati pria itu yang sudah bersusah payah membuatkan ia sarapan.


Merekapun makan dengan tenang, Adnan sesekali melirik gadis di depannya ini yang nampak memaksakan makanan itu masuk ke mulutnya, membuat dirinya tersenyum miris.


"Setelah makan, kita langsung ke rumah sakit." Ucap Adnan kemudian, kemarin ia mendapat telepon dari pihak RS jika ibu Wita sudah bisa di bawa pulang.


"Apa otopsinya sudah selesai?" tanya Wita yang memang sudah menanti jazad sang ibu yang harus di kebumikan segera, kasihan jika harus menunggu terlalu lama.


"Iya, kita urus pemakamannya hari ini juga."


Wita tersenyum sedih. "Maaf ya mas.. kamu jadi terlibat dengan urusan keluargaku." Sesal Wita, merasa ia terlalu membebani dokter muda itu.


"Terimakasih juga atas bantuan yang kamu lakukan hingga detik ini." Lanjut Wita.

__ADS_1


Karena jika bukan karena Adnan, dirinya pasti kebingungan mengurusi semuanya sendirian.


"Tidak apa, sudah menjadi tugasku." Jawab pria itu yang merasa semua ini juga kewajibannya.


Wita tersenyum, bersyukur akan semua hal tentang Adnan. Walaupun awalnya mereka dekat karena kesalahan. Lambat laun ia melihat sisi lain dari mantan majikannya itu.


***


Arabela memasuki ruangannya, ia mendudukkan tubuhnya di kursi dengan kesal. Lagi-lagi ini tentang kekasihnya yang susah sekali dihubungi.


Dia sudah menghampiri apartemen pria itu, dan mencoba mencari informasi dari adiknya. Tapi dia kurang puas dengan apa yang dia dapatkan. Sebenarnya kemana sih pria itu?


"Ah.. sial. Kenapa sih akhir-akhir ini susah sekali menghubungi kamu, Nan?" Ucap wanita itu sendirian.


Sebenernya bisa saja dia menghampiri tempat dinas pria itu, tapi kliniknya juga sangat ramai jadi dia belum ada waktu.


Sebuah ketukan mengalihkan perhatiannya. Saat dia menyuruh orang tersebut masuk, munculah salah satu pegawai di klinik kecantikannya itu mengabarkan ada seseorang yang mencarinya. Arabela pun mengizinkannya masuk.


Wanita itu menyipitkan matanya saat melihat sepasang sejoli masuk ke ruangannya, merasa kenal dengan mereka berdua.


"Silahkan duduk." Sapanya sopan.


Arabela yang mendengar nama Adnan di sebut akhirnya mengingat siapa mereka.


"Aa.. benar dengan Gio?" tanyanya memastikan. Jika benar, pria di depannya ini adalah teman Adnan.


"Kita belum berkenalan secara resmi ya? Benar, gue Gio dan kenalin ini istri gue, Soraya." Jawab Gio yang ternyata bersama sang istri.


"Senang bertemu dengan kamu dok." kata Soraya. Mereka pun bersalaman satu persatu.


Arabela mengangguk mengerti. "Ada perlu apa?"


"Kita hanya ingin menyapa aja, kebetulan gue kan sohib Adnan dan kebetulan juga istri gue perawatan di klinik Lo, jadi nggak ada salahnya kan?" Jelas Gio kemudian.


"Oh tentu, terimakasih juga buat istri kamu yang sudah memilih klinik saya."


"Klinik kamu emang terkenal dengan kualitas yang bagus dok, aku pun sangat puas dengan hasilnya." Kali ini Soraya yang berbicara.


Arabela yang mendengar itupun tersenyum puas. "Semoga selalu cocok di kamu ya."

__ADS_1


"Btw, Lo dengan Adnan hubungannya baik-baik saja kan?" Tiba-tiba Gio teringat pertemuan terakhir mereka saat Adnan bertingkah aneh di kafe dahulu.


Arabela sedikit tersinggung jika ada yang meragukan hubungan mereka pun menjawab. "Tentu saja, kami juga baru bertunangan kemarin. Tapi belum resmi karena masih di saksikan oleh keluarga saja."


"Wah sesuatu yang bagus, gue baru mengetahuinya. Ya udah kita cepetan aja. Sepertinya Lo juga sangat sibuk. Gue harap istri gue bisa akrab sama lo, seperti gue yang akrab dengan Adnan." Itulah tujuan Gio sesungguhnya.


"Maaf mengganggu waktunya ya dok. Semoga kita bisa berteman baik, kita seumuran kok." timpal Soraya kemudian.


Arabela pun tersenyum simpul. "Ya, sering-sering aja datang kesini."


Kemudian mereka pun berpamitan. Sepamitnya dari tempat Arabela, Gio dan Soraya melenggangkan kakinya pergi dari klinik tersebut.


Saat hendak ke mobil Gio tiba-tiba berceletuk. "Syukurlah kalo mereka udah bertunangan, dari gerak gerik Adnan kemarin sepertinya dia kebobolan."


"Kebobolan? Maksud kamu dokter Arabela hamil?" tanya sang istri.


"Mungkin, soalnya pas kemarin perilakunya aneh dan sedikit gusar. Yang lain beranggapan kalau dia mainnya kali ini gak aman." Jelas Gio.


Soraya menimpalinya dengan heran "Tapi aku liat dokter Arabela nggak kelihatan sedang hamil, kamu tau sendiri kan dulu pas aku hamil gimana." jelasnya.


Gio pun berpikir sebentar. "Iya juga, keliatan sehat gitu. Apa jangan-jangan dia hamilin wanita lain?"


"Ayang.. " Soraya memutar bola matanya terlihat jengah.


"Udahlah ngapain sih ngurusin kehidupan orang lain. Kalau pun benar itu urusan mereka." Yang ditegur hanya cengengesan tidak jelas.


Tanpa di sadari kalau perkataan pria tersebut sangat benar.


***


Hujan tiba-tiba menyelimuti kota metropolitan tersebut. Setelah melewati proses pemakaman yang menguras emosi, Wita yang sangat kelelahan langsung pergi kamarnya.


Adnan yang selalu mengiringi Wita pun juga terlihat lelah. Dia duduk di sofa dengan lesu. Ternyata sangat berat melihat seseorang kehilangan orang yang dicintainya. Entahlah, pria itu belum pernah merasakannya tapi melihat Wita begitu terpukul membuat ia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu gadis itu kebenaran di balik meninggalnya ibunya.


Biarlah ini menjadi rahasianya, kelak jika waktunya sudah pas dia akan memberitahukannya.


Dia juga memikirkan janinnya. Tidak baik jika wanita hamil mengalami stress berlebihan. Adnan tiba-tiba tersenyum masam. Rasanya aneh di saat kemarin ia menyepelekan kehadiran janin tersebut, tapi sekarang dia memperdulikannya.


Begitulah dirinya, kadang logika dan perasaannya tidak bisa berjalan dengan beriringan.

__ADS_1


***


__ADS_2