Asisten Rumah Tangga

Asisten Rumah Tangga
Terkuak


__ADS_3

Wita, Anakku sayang.


Maafkan ibu yang melakukan hal ini, tapi ibu sudah tidak kuat.


Ibu harap semoga kamu selalu bahagia,


sekali lagi maafkan ibu..


Wita membaca surat wasiat yang di tulis ibunya dengan bergetar. Sedetikpun tidak menyangka jika ibunya akan mengambil langkah seperti ini.


Polisi juga berdatangan setelah di telepon oleh Adnan dan menuju olah TKP, Jazad sang ibu juga sudah di evakuasi dan akan di lakukan otopsi.


Bisik-bisik warga terdengar, ada yang mengasihani ada juga yang mencemooh. Adnan yang selalu berada di samping Wita mengkhawatirkan perempuan itu.


Dia menuntun Wita yang kehilangan semangatnya ke arah mobilnya. Dia tidak mau mendengar omongan orang yang malah akan mengganggu psikis gadis itu.


"Sebaiknya mulai hari ini kamu tinggal di tempatku." Adnan mencoba mengajak bicara Wita yang masih menatap kosong ke depan.


Perempuan itu menoleh dengan wajah sembab di wajahnya. "Iya terserah mas saja."


"Kamu nggak usah khawatir, aku jamin semua proses akan lebih cepat. Jadi ibu kamu bisa di semayamkan dengan layak."


"Terima kasih mas sudah membantu." ucap Wita dengan pelan.


Tiba-tiba isakan Wita terdengar lagi. "Ak.. ku nggak nyangka akan kehilangan ibu secepat ini." Ucapnya parau.


"Ibu nggak mungkin.. ngelakuin hal seperti itu. Harusnya aku lebih cepat kesini agar kejadian ini tidak terjadi." Wita menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa ini juga kesalahannya.


Adnan memeluk tubuh ringkih itu dengan lembut dan mengusap pelan punggungnya, yang bisa ia lakukan adalah menenangkan perempuan yang ada di depannya.


"Kejadian ini bukan salah kamu."


"Tapi, sekarang aku.. sendirian. Ayah entah kemana. Udah nggak ada tempatku untuk pulang."


"Adaa .. Aku .. kamu bisa mengandalkan ku, Jangan lupa ada juga janin di perut kamu. Jangan berbicara seperti itu. Kamu tidak sendirian." Jawab Adnan sedikit ragu.


Entah mengapa melihat kemalangan yang menimpa perempuan di pelukannya ini, Adnan secara spontan berbicara seperti itu. Tanpa mengetahui kalau efek ucapan yang keluar dari mulutnya sangat besar bagi kelanjutan hidup perempuan tersebut.


**

__ADS_1


Adnan sibuk mengetik sesuatu di ponselnya mengabarkan kalau dirinya tidak pulang malam ini. Untungnya jadwal dinasnya tidak padat seperti biasanya, jadi dia bisa lebih santai dan bisa menangani masalah Wita terlebih dahulu.


Dia menghela nafas, akhirnya setelah beberapa jam Wita terlihat sedikit tenang. Dia membawanya ke salah satu apartemennya yang lain yang ia miliki, dan gadis tersebut sedang terlelap di salah satu kamar.


Sebuah deringan telepon mengalihkan perhatiannya, sebuah nomor asing tertera di sana. Adnan mengangkat telepon tersebut.


"Halo..?"


"Selamat malam pak, benar dengan pak Adnan?" terdengar suara di sebrang sana.


"Iya benar, saya sendiri."


"Perkenalkan saya Handoko. Saya dari pihak kepolisian mengabarkan kalau tersangka dari kasus pagi ini sudah tertangkap."


"Tersangka? bukannya ini kasus bunuh diri pak?" tanya Adnan dengan heran.


"Betul, itu dugaan kami saat melihat TKP. Tetapi pada saat akan di otopsi ternyata banyak luka lebam yang terletak pada tubuh korban. Tidak lama dari itu, tepatnya pukul 16.00 sore ada seseorang yang datang ke kantor dan mengaku membunuh korban, lebih tepatnya tersangka menyerahkan diri" Jelas pak Handoko secara detail.


Sebelum menjawab, Adnan melirik pintu kamar tempat Wita berada masih tertutup rapat. Dengan langkah pelan ia menjauh dari tempat tersebut agar perempuan itu tidak terganggu atau mendengar pembicaraan ini terlebih dahulu.


"Jadi siapa tersangkanya pak?" tanya Adnan penasaran.


Adnan yang mendengarnya menutup mulutnya terkejut, itu berarti ayah dari Wita sendiri. Pria itu tidak menyangka jika masalah ini sangat berat.


Adnan menjadi bimbang, apakah dia akan mengatakannya kepada Wita atau menutup fakta tersebut. Tapi perempuan itu berhak mengetahui apa yang terjadi.


"Jadi surat yang di temukan di TKP hasil dari rekayasa tersangka kah pak?" tanya Adnan yang masih penasaran.


"Untuk itu, kita akan mendalami lebih lanjut. Karena interogasi masih akan dilaksanakan besok. Saya akan mengabarinya lagi."


"Baiklah terimakasih atas informasinya. Saya akan memberitahukannya ke anak korban." ucap Adnan kemudian.


"Baik, terima kasih. Maaf mengangguk waktu luangnya." Panggilan pun terputus.


Adnan memijat pelipisnya dengan pelan. Sepertinya dia memang harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Mungkin setelah acara pemakaman, dirinya baru akan mengatakan hal ini kepada gadis malang itu.


***


Elraina mengambil air dingin di kulkas dan meneguknya kemudian. Seharian berada dikamar ternyata membuat kepalanya pening.

__ADS_1


"El, kakakmu kok belum pulang." Tanya Erlita dari belakang setelah melihat anak bungsunya.


Dia memandang ibu yang berjalan ke arah sampingnya dan mengambil sesuatu di kulkas. "Bukannya emang nggak pulang? Dia ngabarin aku kalau nggak pulang. Apa dia nggak ngasih tau Mama?"


Elraina balik bertanya kepada ibunya.


"Hm, kebiasaan emang tuh anak. Nggak pernah ngabarin Mama, mentang-mentang punya apartemen sendiri."


"Ya biarin ajalah Ma, udah gede juga. Apalagi ini weekend. Paling lagi berduaan sama kak Arabela."


"Hust, sembarangan. Mereka itu belum sah, belum nikah. Nggak boleh berduaan kayak gitu."


Elraina yang mengetahui tingkah sang kakak pun hanya tertawa geli. "Mama sih terlalu percaya sama anak sulungnya, awas nanti tiba-tiba dia bawa anak kecil kesini. Terus manggil Mama dengan sebutan 'eyanggg.. eyangg.." Kata Elraina menirukan nada anak kecil di akhir. Menggoda sang ibu yang masih percaya kalau kakaknya itu masih polos.


Erlita yang mendengar gurauan anaknya itu segera ingin menjewernya. Tapi Elraina terlalu cepat berkilah dan melarikan diri.


"El serius loh Ma, gak bercanda. Nanti bisa jadi seperti ituu..." Dari kejauhan wanita itu masih mengganggu sang ibu.


Erlita hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang anak. Dia berharap yang dikatakan Elraina tidak terjadi. Jika itu benar, dia akan kehilangan muka. Karena pantang di keluarga ini mempunyai aib seperti itu. Dugaan Elraina benar, karena sang ibu percaya anak yang di banggakannya tidak seperti itu.


Disisi lain, gelak tawa masih terdengar dari mulut Elraina, enak juga menggoda ibunya. Setelah ibunya tak terlihat ia pun memelankan langkahnya yang akan kembali ke kamarnya. Saat akan menaiki tangga Elraina tidak sengaja berpapasan dengan Mulan, ada yang mengganggunya sedari tadi. Akhirnya ia bertanya ke asisten rumah tangganya itu.


"Eh, Mulan. Kayaknya dari tadi siang aku nggak lihat Wita. Kemana dia? apa libur?"


Mulan pun menjawabnya. "Oh Wita resign non, baru aja tadi pagi dia berpamitan."


"Loh kenapa, kok mendadak gitu?" Wajahnya menggambarkan keheranan.


"Nggak tau sih non, bilangnya sih alasannya ibunya. Tapi nggak tau juga, saya pun heran."


"Yah, sayang sekali. Padahal aku suka dengan hasil kerjanya. Orangnya dapat diandalkan juga."


"Iya saya juga suka non, tapi mau gimana lagi. Anaknya kekeuh ingin mengundurkan diri."


Elraina mengangguk mengerti. "Aneh sih tapi yaudah, tinggal cari pengganti yang lebih kompeten dari dia aja. Gampang kan? Yang sudah-sudah biarlah berlalu." wanita itupun mengangkat bahunya acuh. Dia hanya penasaran sebentar, karena tadi dia ingin menyuruh gadis itu.


"Iya non, saya pamit dulu."


Itulah Manusia, sangat cepat melupakan jasa. Sangat cepat pula menggantinya dengan yang lain.

__ADS_1


__ADS_2