
Suasana meriah terlihat di taman belakang rumah mewah tersebut, ada acara band dan banyaknya makanan prasmanan yang tersaji setidaknya membuat orang yang hadir di sana terlihat sangat bersemangat. Walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tetapi tidak ada tanda pesta itu akan berakhir.
Leona wanita cantik salah satu rekan kerja Elraina mengagumi persiapan yang dihadirkan di pesta kecil-kecilan ini.
"Waw, gue nggak nyangka ternyata seru juga. Lo hebat El, ngadain pesta dadakan ini." ucapnya.
Elraina, wanita itupun tersenyum bangga. "Tentu dong, walaupun dadakan dan kecil-kecilan harus di rancang dengan sempurna."
"Sudah kuduga, anak sekelas CEO tidak mungkin ngadain acara kaleng-kaleng kan?"
timpal gadis berambut blonde tersebut.
Wita pun sedikit tertawa "Oh ayolah, aku tidak sepelit itu, jadi enjoy aja gays. Mumpung besok weekend.."
Marcella rekannya yang satu lagi itupun ikut menimpali. "Btw, kakak lo nggak ikut gabung El?"
Leona yang menyadari akan hal itupun berbicara. "iya juga, nggak keliatan dari tadi. Padahal pengen kenalan sama dokter muda yang sangat terkenal itu."
Tidak dipungkiri kalau Adnan sangat famous dikalangan kantornya. Apalagi kakaknya itu beberapa kali diundang di acara TV. Pastinya banyak yang mengenalnya.
Setelah temannya membahas sang kakak. Elraina memutar bolanya malas, "Jangan ngimpi deh dia hadir di acara seperti ini. Tau sendiri lah orang introvert kayak gimana. Tau nggak, dia hadir di acara TV aja itu harus di bujuk oleh Papa selama seminggu. Omg, lebay banget kan? Apa susahnya sih menghadiri acara seperti itu?" saking kesalnya dengan Adnan, wanita itupun berbicara panjang kali lebar.
Marcella dan Leona terperangah mendengarnya. "Masa sih, ternyata gitu ya." jawab Leona memahaminya.
"Tapi bagus dong, cewek-cewek kan sukanya yang seperti itu. Iya nggak Na? Suka yang sedikit misterius. Apalagi komplit dengan kegantengannya, berwibawa dan pastinya mapan. Kok jadi perfect gitu." ujar Marcella dengan binar di wajahnya.
Elraina yang melihat mimik wajah dua rekannya bergidik ngeri. "wah, ngada-ngada kalian. Kalian belum kenal aslinya gimana sih"
"Makanya biar kenal, sekali-kali kenalin dong El, kalo papasan aja gitu." Ternyata Marcella masih berusaha untuk bisa berkenalan dengan kakak dari temannya itu.
"Iya, iya nanti kalau orangnya ada." jawab Elraina dengan seenaknya.
__ADS_1
"Aku kesana dulu deh, pokoknya enjoy ya." Wanita itupun berlalu dari kedua rekannya itu dan bergabung di kerumunan rekan kantornya yang lain.
Lain halnya dengan orang-orang yang berada di pesta yang terlihat asyik dan sangat menyenangkan. Wita terlihat benar-benar lelah, apalagi dia harus naik turun tangga untuk memenuhi kebutuhan majikan yang satunya yang selalu memerintah dirinya.
"Kayak mau pingsan, astaga. Kok rasanya aku seperti di kerjain ya? Ini mah Tuan Adnan kayak melampiaskan kekesalannya dari Nona El ke aku sih." Ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur kamar khusus Asisten di rumah tersebut.
Waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam, dan suasana hiruk pikuk itu masih terdengar sampai kamarnya. "Lagian pesta apa nyampe jam 12 begini ya ampun, untung tetangga kawasan rumah elit ini berjauhan, kalau kayak di rumahku pasti udah di grebek warga terus di panggilin pak RT." Omelan pelan itu terdengar lagi dari mulut gadis itu.
Mata yang sudah setengah watt itu hampir terpejam tatkala suara ponselnya berbunyi. Sebuah nama dari sang majikan tertera di ponsel jadul itu. Entah itu panggilan ke berapa si penelpon, yang pasti Wita tidak bisa menghitungnya. Tanpa perlu menunggu lama Wita mengangkat ponsel itu dengan cepat.
"Halo tuan, ada yang bisa dibantu?" jawab gadis itu sedikit pelan. Suaranya sudah terdengar serak.
"Maaf Wita, mengganggumu lagi tapi bisakah kau mengambilkan botol anggur di gudang belakang. Kali ini saya janji tidak akan mengganggumu lagi. Ini yang terakhir dan setelah itu kamu boleh istirahat." terdengar suara di seberang sana.
"Baiklah tuan, tunggu saya akan membawakannya." Panggilan itupun berakhir. Ternyata pekerjaannya belum selesai. Dengan sedikit malas Wita melangkahkan kakinya untuk mengambil apa yang di perintahkannya tadi.
Dengan sesekali menguap, akhirnya dia sampai di depan pintu kamar Adnan. Dengan sekali ketukan, wajah pria yang lebih tinggi darinya itu terpampang jelas dihadapannya.
"Ini yang tuan butuhkan." Kata Wita sambil menyodorkan botol tersebut.
Wita pun mengangguk dengan pelan, ia pun tersenyum dengan hormat dan pamit mengundurkan diri.
Baru hendak memutar tubuhnya tapi sebuah cekalan di lengannya menghentikan pergerakannya. Wita memandang tangan besar yang memegang tangan kecilnya. Dia memandang sang empu dengan heran.
"Wit, maukah menemaniku sebentar saja? Minum ini? Saya janji sebentar saja." Perkataan Adnan terlihat memohon.
Gadis itu memang melihat seperti ada masalah di wajah tampan majikannya itu, jadi Wita pikir memang pria di hadapannya ini membutuhkan teman. Wita pun mengangguk mengiyakan.
Dengan sedikit ragu Wita mengekori pergerakan pria di depannya ini dengan tenang. "Saya suka dengan orang yang tidak banyak tanya. Seperti kamu ini. Maaf mengganggumu malam-malam begini." jelasnya lagi.
"Tidak apa-apa tuan, saya suka kalau saya dibutuhkan disini sudah menjadi tugas saya juga." ucap Wita dengan senyuman.
__ADS_1
Keduanya sekarang duduk berhadapan di sebuah sofa. "Apa tidak apa-apa saya duduk disini? saya bisa duduk di karpet tuan." ujar Gadis itu sedikit sungkan.
"Jangan, saya kan yang menyuruh kamu untuk ditemani disini. Rileks aja anggap kita teman." Wajah tampan dengan mata sedikit tajam itu tersenyum kepadanya.
Gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah merah saat Adnan memberikan sebuah senyuman kepadanya. Karena memang itu suatu hal yang jarang terjadi dan itu membuat hatinya berdebar.
"Ya ampun, kayak nggak pernah lihat pria ganteng aja." ucapnya dalam hati.
Dua gelas sudah terisi oleh botol yang di buka oleh Adnan. Pria itu pun memberikan satu gelas itu ke Wita yang menerimanya dengan ragu.
"Ahh..apa kamu udah pernah minum ini?" tanya Adnan kemudian. Dia berasumsi jika Wita belum pernah mencicipi minuman beralkohol ini.
"Ini jus anggur kan tuan. Kalau jus saya sudah pernah." Jawaban polos Wita membuat pria itu tertawa.
"Sayangnya ini bukan jus, ternyata belum ya. Jangan deh, nanti bisa berbahaya."
"Ada racunnya kah? kok berbahaya tuan? kalau gitu saya ambilkan yang lain yang ini jangan diminum"
Pertanyaan itu lagi-lagi membuat Adnan tertawa, karena bukan itu yang dimaksudnya.
"Bukan begitu, minuman ini ada alkoholnya. Jadi kalau yang meminumnya belum pernah seperti kamu, nanti kamu bisa mabuk dan merepotkan banyak orang." Jelas Adnan kemudian.
"Oh gitu, ya udah saya tidak mau meminumnya." ujar gadis itu.
Adnan pun mengiyakan, setelah itu hanya dia lah yang meminum minuman tersebut itu dengan pelan. Wita hanya melihat Adnan yang di balas lirikan pria itu.
"Tapi kalau kamu mau mencobanya silahkan, satu gelas mungkin aman untuk pemula." ucapnya sambil meletakkan gelas yang di sesap nya tadi.
Gadis itupun sedikit penasaran akan rasa yang di hasilkan oleh minuman itu. Karena memang ia tidak pernah merasakannya.
"Boleh?"
__ADS_1
"Sure.. Kalau gitu cheers dulu." Wita tidak mengerti kata "cheers" yang Adnan ungkapkan. Tapi saat kedua gelas itu bertabrakan lebih tepatnya Adnan yang menabrakkan gelasnya ke gelas Wita, hal itulah membuat gadis itu memahaminya.
Satu dentingan gelas menandakan satu tegukan yang di coba oleh gadis yang belum pernah menenggak minuman beralkohol itu.