
Hari ini Tuan Rahardian mengadakan jamuan makan malam, seperti biasa semua asisten sangat sibuk untuk menyiapkannya. Tanpa kecuali Wita, gadis itu harus selalu siap saat dibutuhkan.
"Ini acara apalagi ya mbak?" tanya Wita kepada Mulan yang ada di sampingnya.
"Oh, aku denger sih pertemuan keluarga aja. Entah aku juga nggak begitu paham, mungkin tuan Adnan akan menikah." Jawab Mulan seenaknya.
Wita pun terkaget. "Nikah?"
"Kaget bener, jangan-jangan kamu patah hati ya? Iya sih tuan Adnan itu udah ganteng, kaya, mapan lagi, pasti banyak yang suka. Tapi aku saranin jangan berharap lah Wit, mereka tuh nggak selevel sama kita." Ungkap Mulan kemudian.
Wita yang mendengar itupun cemberut, tanpa di kasih tau juga ia tau diri. "Siapa juga yang suka. Orang biasa aja, aku juga udah tau kalo dia punya pasangan."
Mulan menanggapinya dengan santai. "Syukurlah kalo begitu, karena tidak ada sejarahnya upik abu bersanding sama pangeran. Mungkin ada sih beberapa kayak di novel-novel gitu. Tapi kita kan hidup di dunia nyata bukan di novel. Jadi cari yang setara ajalah, pasti banyak langgengnya." Nasihatnya kemudian.
Perkataan sederhana dari Mulan, ternyata sangat menampar dirinya. Wita merenung memikirkan masa depannya. Tanpa sadar dia mengusap perutnya. Apa iya? dia tidak punya harapan? Tapi bagaimana dengan janin yang hadir ini?
Tepukan dari Mulan menyadarkannya. "Udah.. malah ngelamun." Ujarnya. Wita pun hanya meringis kecil.
Mulan meneliti wajah Wita yang terlihat tidak seperti biasanya. "Kok wajah kamu sedikit pucat, wit? Kalo sakit istirahat dulu aja deh. Mumpung nggak begitu repot. Nanti kalo banyak kerjaan baru ku panggil lagi." Saran Mulan, dia merasa kasihan kepada gadis itu.
"Iya emang agak gak enak badan sih mbak. tapi boleh?" Jawabnya merasa tidak enak meninggalkan pekerjaannya.
"Ya boleh dong. Tenang nanti aku handle pekerjaan kamu. Minum obat terus dibawa tidur ya, semoga cepat mendingan."
Wita pun mengangguk patuh. "Iya mbak, makasih ya. Aku tinggal dulu."
Wita berjalan ke kamarnya dengan pelan. Semenjak mengetahui kehamilannya, gadis itu kerap merasa meriang. Wita tidak bisa meminum obat sembarangan. Walaupun janin ini hadir tanpa diinginkan, tetapi ia merasa perlu menjaganya. Mungkin naluriah seorang ibu.
Dia membaringkan tubuhnya. Mungkin dengan tidur sebentar bisa mengurangi rasa lelah yang menghinggapinya.
Baru saja dia ingin terlelap, seseorang membuka pintu kamarnya. Membuat ia terbangun.
"Iya mbak, ada apa?" Tanya Wita yang ia sangka orang tersebut adalah Mulan.
__ADS_1
"Tuan.." Kagetnya saat menyadari ternyata orang tersebut adalah Adnan.
Pria itu menutup pintu dan menguncinya. Dia memandang wajah gadis itu yang masih terkejut, tapi dia tetap berjalan mendekati gadis tersebut.
Wita menggeser tubuhnya saat badan besar itu duduk di atas kasurnya. Jarak diantara mereka cukup dekat karena memang kasur itu dibuat untuk satu orang. Wajah Adnan juga sulit di artikan, ia merasa risih saat di tatap secara intens seperti itu.
Adnan menghela nafas kemudian. "Melihat kondisimu seperti ini, sepertinya tebakanku benar."
Wita masih tidak memahami arti dari perkataan pria itu. "Maksud tuan?"
"Apa kamu nggak menyadarinya Wita? Kamu itu hamil" Jawabnya dengan marah.
"Kenapa tuan marah?" Ungkapnya sedikit ketakutan. Kenapa tiba-tiba datang terus marah sih!
Adnan mengusap wajahnya dengan asal. Siapa yang tidak marah coba? Gadis itu sudah mengetahui kehamilannya, tapi kenapa diam saja. Saat dirinya pulang beberapa hari yang lalu pun. Gadis itu acuh saat melihatnya, membuat Adnan geram.
"Seharusnya kamu bilang ke saya! Jangan diam. Lampiaskan semuanya ke saya. Itu lebih baik. Jika kamu diam saja seperti ini apa akan menyelesaikan masalah?" Cecarnya kemudian.
Bukannya dia tidak mau memberitahukannya, tapi Wita benar-benar bingung dan merasa takut akan respon yang akan di terimanya nanti.
Adnan terkejut saat mendapati dirinya menangis, tanpa di sangka Adnan memeluk dirinya dan menenangkannya. "Maafkan saya." Ucapnya lebih lembut. Wita pun tidak menolak pelukan tersebut.
Hening sesaat, hingga gadis itu melepaskan pelukan dari sang tuan. Dia menatap wajah tampan itu dengan hati berkecamuk. "Saya pikir jika merahasiakannya akan lebih baik, tuan." Ujarnya kemudian.
"Tapi mau dirahasiakan sampai kapan? Sampai perut kamu buncit dan di caci maki orang karena hamil di luar menikah? Itu mau kamu?"
Wita pun menggelengkan kepalanya. "Saat kehamilan saya memasuki lima bulan, saya akan mengundurkan diri dari sini."
Mendengar hal tersebut, emosi Adnan kembali lagi.
"Terus setelah itu bagaimana? Kamu tahu biaya membesarkan bayi tidak murah. Saya berani jamin kamu juga pasti tidak punya uang kan?" Tanya Adnan dengan sinis, gadis ini terlalu naif.
"Kenapa kamu tidak meminta pertanggung jawaban dari saya?" lanjut pria tersebut.
__ADS_1
Wita memandang wajah pria itu dengan nanar. Apa bisa dia mendapatkan apa yang diinginkannya? Apa sekarang dia boleh berharap? Pertanggung jawaban yang Wita inginkan bukanlah uang.
Jeda beberapa detik, hingga gadis itupun bersuara.
"Saya ingin pernikahan? Apakah bisa?" Ujar Wita dengan pelan. Merasa bodoh saat mengatakannya. Karena itu tidak mungkin terjadi.
Dia memalingkan wajahnya, tidak mau melihat ekspresi yang tercipta di wajah Adnan. Dia takut mendapat ekspresi yang tidak disukainya.
Adnan menghela nafas, dia tahu cepat atau lambat permintaan tersebut akan terjadi.
Wita yang melihat kediaman dari Adnan hanya tersenyum miris. Benar bukan? Pria itu pasti berat untuk melakukannya. Makanya dia tidak ingin mengatakannya karena akan berakhir kecewa.
"Sudahlah tuan, anda tidak perlu repot. Saya akan membesarkannya sendiri. Bukannya anda seharusnya senang. Jangan lupa anda juga punya kekasih, apa anda tidak memikirkan kekasih anda?" tanya Wita kemudian.
Sampai kapanpun dia tidak pernah cocok untuk bersanding dengan pria ini, terlalu banyak perbedaan yang menghalanginya. Apalagi insiden ini bukan atas dasar cinta.
Selang beberapa menit Adnan pun bersuara dengan ragu. "Bagaimana kalo aborsi? kamu masih muda Wita. Masa depan kamu masih panjang. Saya punya kenalan dokter yang bisa melakukan tindakan tersebut."
Wita sangat kaget, hatinya tiba-tiba terasa sakit saat mendengar ucapan dari ayah biologis janinnya. Itu menandakan memang pria itu tidak menginginkannya kan? Haha, miris sekali. Wita paham, jika ia memposisikan dirinya sebagai pria tersebut, ia juga akan berpikir kembali untuk memiliki anak dari seorang pembantu.
"Terimakasih tuan, anda bisa keluar dari kamar saya." Tanpa memperdulikannya lagi. Wita merebahkan tubuhnya membelakangi Adnan yang merasa bersalah.
Sial..
Umpatan dalam hatinya menandakan pria itu sangat frustasi. Dia sangat buntu memikirkan jalan yang terbaik.
"Oke, ayo menikah.. tetapi ada syaratnya."
Ucapan Adnan yang mendadak membuat Wita membalikkan tubuhnya memandang pria itu dengan heran.
***
Ditunggu part selanjutnya..
__ADS_1