Asisten Rumah Tangga

Asisten Rumah Tangga
2. Sebuah Pesta


__ADS_3

Wita merenggangkan tubuhnya yang sangat letih karena benar apa kata Adnan minggu kemarin, pesta yang di katakan kecil-kecilan itu sebenarnya sangat di rancang dengan matang dan juga meriah. Untuk seorang gadis dari kalangan bawah sepertinya, membuat Wita geleng-geleng kepala melihat semua persiapan yang harus di adakan sejak pagi tadi.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, tetapi semua asisten dan orang luar yang membantu mempersiapkan acara tersebut masih terlihat sangat sibuk.


Mulan tersenyum maklum melihat gadis yang seusia dengan adiknya itu terlihat lusuh dan sudah tidak bersemangat. Ia pun menghampiri Wita yang sedang duduk di lantai di dekat pantry.


"Capek ya?" Tanya Mulan kemudian.


Wita menganggukkan kepalanya dengan pelan, ia menyenderkan tubuhnya di dinding dan terpejam sejenak. "Nggak nyangka ternyata seribet ini nyiapin pesta." Timpal gadis tersebut.


Mulan lagi-lagi hanya tersenyum. "Ya beginilah kalo orang kaya ngadain pesta Wit, kamu kayaknya harus cepat beradaptasi disini deh. Karena Nona Elraina sering ngadain pesta sih, Bapak sama Ibu juga kadang sesekali ngadain jamuan gitu disini." Penjelasan dari Mulan membuat mata gadis itu terbuka terkejut. "Serius?"


"Haha, ya nggak usah kaget gitu. Kan udah pekerjaan kamu kayak gini."


Tapi memang benar sih ini semua sudah menjadi tugasnya.


"Hmm, nggak nyangka aja ternyata keluarga ini suka pesta juga."


"Bukan suka pesta, lebih tepatnya suka sering buat acara. Entah itu katanya kecil-kecilan atau besar pasti disiapin dengan matang. Mines tuan Adnan aja sih. Dia mah nggak pernah neko-neko." Jelas Mulan kembali.


Kalau itu sih Wita percaya, karena di penglihatannya anak majikannya yang satu itu sangat tidak suka kebisingan apalagi keramaian.


Selama masih asik berbincang, tiba-tiba Elraina muncul dihadapan mereka berdua. Untungnya pembicaraan tadi sudah diganti dengan topik lain, jadi Nona mudanya itu tidak mengetahui pembicaraan yang sempat terjadi tadi.


"Wit, sini. Aku butuh bantuan kamu." Tanpa basa-basi wanita berusia 25 tahun itu menarik pergelangan Wita.


Gadis itu terlihat bingung tapi tidak menolak, jelas karena jika menolak pasti akan dapat masalah. "Eh, mbak Mulan aku pinjam dulu ya Wita nya. Pekerjaan dia di oper ke yang lain aja."

__ADS_1


Mulan pun mengangguk patuh. "Iya Non, siap dah. Silakan di pakai semaunya."


Perkataan itu ternyata membuat Elraina sedikit tertawa. "Mbak ini, emang dia barang." dia pun menggelengkan kepalanya.


"Yuk, Wit.." Tanpa berniat bertanya apapun. Gadis itu melangkah mengikuti Elraina dengan tenang.


Sampailah dia di kamar Nona mudanya itu. Wita juga cukup dekat dengan anak majikannya yang satu ini. Semenjak disini, Wita merasa mereka tidak merasa sungkan memerintah dirinya ketimbang asisten yang lain.


Gadis itu bersyukur akan hal itu, karena itu tandanya ia diterima baik bukan? Atau kayaknya gara-gara umurnya lebih muda dari mereka jadi lebih enak aja kali memerintahnya. Entahlah yang pasti itu bukan suatu masalah.


"Nih coba, kamu pilihkan yang bagus yang mana?" Tiba-tiba Wita disodorkan dua dress yang menurutnya sangat bagus. Dia merasa bingung untuk memilihnya.


"Bagus semua Non, pasti dua-duanya cantik di pakai sama Non El." Jawabnya.


Elraina meruncingkan mulutnya, tanda sedikit kesal. "Kan aku suruh kamu milih."


"Acara nanti malam kesannya santai gitu kan?berarti yang ini aja Non, cocok untuk acara entar malam, tidak terlalu terbuka juga tidak terlalu formal." Wita pun menjatuhkan pilihannya pada dress casual warna cream dipadu garis hitam yang pasti akan pas dipakai oleh Elraina.


Elraina pun mengangguk mengerti. "Pilihanmu persis yang aku pengen sih, seleraku emang nggak pernah salah." Jawaban wanita itu membuat gadis tersebut mengulas senyum.


Sudah tidak merasa heran lagi jika wanita yang satu ini mengatakan hal tersebut.


"Ya udah deh, kamu boleh pergi. Makasih." Setelah itu Elraina terlihat sibuk sendiri di kamar itu. Padahal Wita belum melangkah kakinya pergi dari kamarnya.


Sambil menuruni anak tangga, Wita kali ini berpapasan dengan anak sulung keluarga tersebut. Diapun mengulas senyum dan hendak melaluinya tapi suara pria itu menghentikan pergerakannya.


"Dari kamar Elra?" Tanya pria yang tingginya hampir menyamainya padahal gadis itu berdiri di undakan tangga ke tiga dari pria itu.

__ADS_1


Wita pun menjawab pertanyaan pria itu. "Iya tuan, ada yang bisa dibantu?"


Adnan menggelengkan kepalanya. "Nggak, cuman saya tidak habis pikir sama anak itu, buat apa ngadain pesta seperti ini coba. Buang-buang waktu saja dan buang duit pastinya kan?" Jelas pria itu agak marah.


Wajah pria itu terlihat memerah menahan amarah, tapi wajah tegas itu masih terlihat tampan. Wita yang menyadarinya bingung untuk menanggapinya. Dia tidak mau berurusan dengan perseteruan kakak beradik itu. Alhasil dirinya hanya diam memperhatikan apapun yang akan dikatakan Adnan.


"Saya heran kelakuannya persis seperti Abg, padahal usianya tidak muda lagi."


"Untuk sepantaran Nona El itu masih tergolong muda sih tuan. Mungkin anda terlalu keras menasihatinya. Cobalah untuk lembut sedikit." ucapan Wita terdengar bijak.


Adnan memandang gadis di depannya dengan penuh arti. Tapi Wita sepertinya tidak menyadarinya.


"Lihatlah dibandingkan dia kamu terlihat lebih dewasa."


Wita pun menolak pernyataan itu. "Tolong jangan berbicara seperti itu tuan. Apalagi kalau ada Nona Elraina, dia pasti akan marah." pastilah. Siapapun tidak mau dibanding-bandingkan dengan seseorang. Apalagi dibandingkan dengan pembantu, pasti sangat melukai egonya.


"Saya tidak peduli." Adnan mengangkat bahunya acuh. Setelah itu dia pun kembali melangkahkan kakinya melewati Wita.


Gadis yang ditinggal lagi itu pun hanya bisa menghela nafas lelah. Sebenarnya ada apa dengan kedua kakak beradik itu sih? Rasanya ia ingin menambahkan kalau Adnan juga sedikit kekanak-kanakan tetapi itu lagi-lagi hanya tertahan di tenggorokannya. Untung tertolong kegantengannya, kalau tidak pasti sangat aneh saat melihatnya. Wita pun terkekeh pelan, astaga bisa-bisanya ia berfikir seperti itu.


Dan lagi, Wita dikagetkan oleh suara Adnan dari atas sana.


"Oh iyaa Wita, tolong antarkan makan malam nanti ke kamar saja. Saya malas ke bawah pasti bertemu banyak orang." Diujung anak tangga paling atas Adnan berbicara sedikit keras.


Wita memutar tubuhnya untuk menghadap sang majikan, ia pun mengangguk menyanggupi. "Baik tuan." ucapnya sedikit keras juga.


Setelah itu tidak ada perbincangan apapun lagi. Wita kembali ke rutinitasnya dan mempersiapkan pesta yang akan dimulai nanti malam.

__ADS_1


__ADS_2