
Adnan menepati ucapannya yang akhir-akhir ini tidak pernah mampir ke apartemennya. Tapi Wita tidak memusingkannya, sekarang malah dia berani untuk pergi keluar. Seperti sekarang ini, perempuan berambut sebahu itu untuk pertama kalinya mengontrol kandungannya ke dokter Obgyn. Sebisa mungkin dirinya melakukannya sendiri jadi dia tidak perlu mengandalkan orang lain.
Walaupun mendapati tatapan heran dari dokter yang memeriksanya, karena di usia yang terbilang muda dirinya tidak di dampingi oleh siapapun saat pemeriksaan.
"Kandungannya sehat, kalau dihitung sudah memasuki usia 26 week, posisinya juga bagus plasenta bagus, air ketuban cukup, detak jantung bagus, semuanya normal." Terang dokter perempuan yang menanganinya.
Wita tersenyum senang, untuk pertama kalinya dia mendengar detak jantung bayinya dan melihat gambar manusia kecil yang sedang bergerak pelan di layar monitor sang dokter. Dia sempat khawatir karena dirinya pernah mengalami stress, takut berdampak buruk pada kehamilannya. Syukurlah bayinya sehat.
"Terima kasih dok, kalau boleh tau apa udah keliatan jenis kelaminnya?"
"Kalau di lihat-lihat, kemungkinan cewek ya.. karena 'monas' nya nggak keliatan."
Wita lagi-lagi tersenyum lega, mau laki-laki ataupun perempuan ia selalu mensyukurinya. Tapi dia sebenarnya lebih ingin ke perempuan, jadi mendengar perkataan sang dokter dia merasa senang sekali.
"Kalau bisa setiap bulan dicek ya, kita pantau perkembangannya, jangan nunggu besar. Karena kamu telat sekali memeriksanya."
Wita meringis kecil, dia paham akan hal itu. Tapi ternyata banyak hal yang tak terduga menghampirinya. Jadi apa boleh buat, akhirnya dirinya baru sempat mengontrolnya.
Karena pemeriksaan sudah berakhir, Wita menyalami sang dokter.
"Iya dok, terimakasih banyak ya. Senang bertemu dengan anda."
"Senang bertemu dengan anda juga."
Wita keluar dari ruangan dokter, dia berjalan ke apotek RS tersebut untuk menebus resep obat. Dia melangkah dengan pelan, berat badannya naik dan perutnya sudah keliatan menonjol membuat dia agak kesusahan melangkah. Saat sudah setengah jalan dirinya merasa ingin buang air kecil, dia pun mencari toilet di sekitar situ.
Saat hendak berbalik, secara tiba-tiba ada anak kecil menabraknya.
"Akkh.." teriaknya kaget. Seketika Wita oleng.
"Briann.." Suara pria dari belakang juga merasa terkejut sontak meneriaki anak tersebut dengan kencang.
Untungnya orang tersebut langsung menangkap Wita dan kejadian yang lebih fatal tidak terjadi.
"Maafkan keponakan saya." Ucap pria yang sedang memapah Wita untuk duduk di kursi terdekat.
__ADS_1
"Ya ampun, lain kali di gandeng ya mas anaknya, jangan lari-larian begitu. kalau tadi saya terjatuh apa anda mau bertanggung jawab? Saya lagi hamil loh." Ungkap Wita sedikit kesal.
Pria di hadapannya memasang muka bersalah, "Iya mbak, saya pasti ngasih dia pelajaran. Kalo bisa saya ikat dia dengan tali di pergelangan saya. Jadi dia nggak bisa lari-lari." Ungkap pria itu dengan sungguh-sungguh.
"Emang anaknya badung banget, udah di bilangin masih ngeyel aja. Saya juga males jaganya. Kalo bukan anak dari kakak saya sudah saya kurung dia di kamar." Lanjut pria itu.
Wita yang mendengarnya sedikit melunakkan wajahnya yang tadi terlihat kesal, dia pun tersenyum kecil. Ya namanya aja anak-anak pasti lagi aktif-aktifnya. Mungkin anaknya kelak seperti itu, jadi dia akan memakluminya.
"Iya udah nggak apa-apa mas, saya juga harus lebih hati-hati. Sepertinya saya kurang fokus juga jalannya." Ucap Wita kemudian.
Pria di hadapannya langsung tersenyum lega. "Iya mbak makasih pengertiannya. Sekali lagi maaf ya."
Wita mengangguk dengan sopan. Setelah itu merekapun berpisah. Wita menuju tujuannya dan pria itu menyusul ponakannya yang nakal.
**
Daren menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan pekerjaan sang kakak, Adela. Dia memijit pelan kepalanya yang pusing. Untung hari ini tidak terlalu ramai.
"Kenapa kamu? Suntuk banget." Tanya Adela kepada adiknya.
Brian yang ternyata anak dari Adela merengek kepada ibunya. "Om Daren marahin Brian tadi mah, om Daren jahat." timpal anak kecil tersebut.
"Karena kamu nggak bisa diam! makanya jadi anak itu nurut." Sanggah Daren tidak mau di salahkan.
"Tuh.. kan mah.."
"Briaan.. Kalau mau nemuin mama di RS nggak boleh jahil, apalagi kalau di antar Om. kamu harus nurut. Coba deh tadi Brian ngapain nyampe di marahin om?" tanya Adela dengan pelan.
"Brian hanya lari aja, karena pingin cepat-cepat nemuin mama, Brian nggak nakal kok."
"Nah itu, lain kali nggak boleh lari-lari ya. karena Brian juga bisa jatuh, juga bisa menabrak orang. Di rumah sakit kan banyak orang sakit tuh. Nanti kalau orangnya ketabrak Brian gimana? Udah sakit malah nambak sakit, kan kasian." Nasihat Adela dengan bijak.
Anak yang masih berusia 5 tahun itupun mengangguk mengiyakan, Adela akhirnya memeluk anak tersebut. Dia memandang adiknya dengan kesal.
"Kalau ngasih tau anak kecil itu yang lembut, dek. Jangan keras-keras! ya namanya aja anak kecil. Ntar gimana coba kalau kamu punya anak? Kasian anaknya dimarahin kamu terus."
__ADS_1
"Gue kalo punya anak maunya cewek aja kayaknya rada kalem kalo cewek." ujar Daren seenaknya.
"Sama aja lah, namanya juga masih kecil. Kalau gede baru beda."
"Ya pokoknya gue nggak mau punya anak cowok dulu. ngeladenin anak lo aja udah kelimpungan gue."
Adela memutar bolanya malas. "Halah, makanya umur segini belum nikah-nikah. Pikiranmu masih sempit gitu. Kita kan nggak tau mau dikasihnya jenis kelamin yang apa."
"Ya gue usahain biar lahirnya anak cewek."
Adela menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang adik.
"Terus tadi gimana, bumil nya nggak kenapa napa kan?"
"Ya rada marah tadi, untungnya gue bisa nenangin."
"Mbak juga tadi habis meriksa 2 pasien si, yang satu ibu-ibu sama suaminya mereka periksa calon anaknya yang ketiga, terus yang satunya anak pertamanya, dia datang sendirian nggak ada pendampingnya. Kasian padahal masih muda, mungkin suaminya sibuk banget. Apa salah satunya ada yang di tabrak Brian?" Tebak Adela.
"Yang di tabrak Brian itu jalan sendiri, gue liat gak ada orang lain disampingnya. Rambutnya sebahu agak panjang masih muda." Jawab Daren mengingat perempuan yang tadi ditemuinya.
"Wah berarti Prawita, dia pasien mbak, Ren. Nanti kalau kesini lagi mbak mau minta maaf secara resmi kepadanya deh."
"Oh namanya Prawita." Beo Daren. "Syukurlah kalo mbak kenal." Ternyata Adela adalah dokter Obgyn yang memeriksa Wita.
"Anehnya, tau nggak nama suaminya siapa? Dia bilang namanya Adnan. Jadi ingat nama temanmu itu ya." Ungkap Adela lagi.
Daren sedikit terkejut, tapi dia menepis pikiran yang sekelebat menghampirinya. "Ya emang kenapa? Nama Adnan nggak dia doang kali mbak." Jawab Daren berpositif thinking.
"Iya juga sih, Kan aku cuman ngasih tau aja."
"Lagian Adnan udah nikah bulan lalu, mbak ini ada-ada aja." Untuk apa coba kakaknya bicara seperti itu?
"Benarkah? ya berarti Adnan yang lain." Jawab Adela yang tidak merasa bersalah.
Daren hanya bisa tersenyum masam, kadang kakaknya ini suka sekali membicarakan orang. Pasiennya aja digosipin? Emang dasarnya udah emak-emak.
__ADS_1
***