
Suatu pagi yang cerah, suasana di lingkungan tempat tinggal Zahra, Fadhil, dan anak-anaknya semakin meriah dengan kedatangan tetangga baru. Mereka adalah sepasang ibu dan anak yang baru saja pulang dari Belanda. Sang ibu bernama Pusvita, seorang wanita Indonesia yang tinggal lama di Belanda. Anaknya, Valerine, seorang gadis berusia 7 tahun yang cerdas dan penuh pesona.
Pusvita memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah mengalami peristiwa yang mengubah hidupnya di Belanda. Beberapa tahun yang lalu, Pusvita menikah dengan seorang pria asal Belanda dan mereka memulai kehidupan baru di sana. Namun, pernikahan mereka menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan.
Sayangnya, hubungan Pusvita dengan suaminya semakin renggang hingga akhirnya mengalami kegagalan. Pusvita merasa bahwa pernikahan mereka sudah tidak dapat diselamatkan lagi dan mencapai keputusan untuk bercerai.
Proses perceraian yang sulit dan menyakitkan membuat Pusvita merasa sendirian di negeri yang jauh dari tanah kelahirannya. Selama masa perceraian, Pusvita berusaha mencari dukungan dari keluarga dan teman-teman, tetapi dia merasa sangat merindukan kedekatan dengan keluarganya di Indonesia.
Selain itu, Pusvita juga ingin memberikan kesempatan yang lebih baik bagi Valerine, putrinya. Dia ingin Valerine tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai keluarga dan budaya Indonesia. Kepulangan mereka ke Indonesia diharapkan bisa membantu Valerine lebih mengenal dan mencintai akar budayanya.
Sebagai seorang ibu yang peduli, Pusvita juga ingin mendukung perkembangan Valerine dengan lebih dekat dan penuh perhatian. Dia percaya bahwa Indonesia adalah tempat yang tepat untuk menciptakan ikatan keluarga yang kuat dan memberikan masa depan yang cerah bagi Valerine.
Akhirnya, setelah merenungkan segala hal dengan matang, Pusvita memutuskan untuk kembali ke Indonesia bersama Valerine. Kedatangan mereka menjadi peluang baru untuk memulai lembaran hidup yang baru, menemukan kedamaian, dan mencari kebahagiaan di tengah keluarga dan lingkungan yang penuh kasih sayang. Dengan kepulangan mereka, Pusvita dan Valerine menemukan rumah yang baru dan cinta yang tak tergantikan di tanah air mereka sendiri.
__ADS_1
Zahra dan Fadhil menyambut mereka dengan tulus. Mereka membawa beberapa makanan tradisional Indonesia sebagai tanda sambutan hangat kepada tetangga baru. Wulan dan Haidir pun dengan antusias menyambut kedatangan Valerine, si anak kecil yang ceria.
"Dia seumuran dengan kita, bukan?" tanya Wulan, penuh rasa ingin tahu.
Zahra mengangguk, "Ya, benar. Valerine seumuran denganmu dan Haidir, dia berusia 7 tahun."
Haidir pun turut angkat bicara, "Wah, berarti kita bisa bermain bersama, ya?"
Valerine tersenyum, "Iya, pasti! Aku senang bisa punya teman baru di sini."
Dalam waktu singkat, Pusvita menjadi bagian aktif dalam komunitas lingkungan. Dia terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, seperti mengajar bahasa Inggris secara sukarela di lingkungan sekitar dan mengorganisir acara bagi para ibu di sekitar rumah.
Sementara itu, Valerine dengan gembira menghadiri sekolah yang sama dengan Wulan dan Haidir. Kecerdasannya dan bakatnya dalam berbagai hal membuatnya cepat menjadi teman dekat bagi banyak anak di sekolah.
__ADS_1
Wulan dan Haidir senang mendapat teman baru dalam Valerine. Mereka bermain bersama, berbagi cerita, dan belajar bersama di sekolah. Valerine dengan cepat menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari keluarga kecil ini.
Pada suatu siang, setelah mereka selesai makan siang, Wulan, Haidir, dan Valerine keluar untuk bermain di halaman belakang rumah Zahra dan Fadhil. Mereka memilih bermain permainan lompat tali dan bola. Canda tawa mereka mengisi udara, menambah keceriaan dalam lingkungan yang damai.
"Hai, Valerine, coba lompat tali bersama kami!" ajak Wulan sambil berlari mengambil tali panjang.
Valerine dengan senang hati ikut bergabung. Mereka berdua berlari memutar tali dan melompat dengan lincah. Haidir pun bergabung dengan cekatan.
"Coba lihat, aku bisa melompat tanpa terhenti!" seru Haidir dengan mata berbinar.
"Wow, kamu hebat, Haidir!" puji Valerine.
Tawa riang mereka semakin memeriahkan pagi yang cerah itu. Mereka saling berlomba untuk melihat siapa yang bisa melompat tali lebih banyak dan lebih tinggi.
__ADS_1
Tak hanya lompat tali, mereka juga bermain bola bersama. Wulan menendang bola kecil, dan Haidir serta Valerine berusaha mengejarnya dengan penuh semangat. Mereka tertawa dan bermain dengan riang, tanpa ada rasa canggung di antara mereka.