Awal, Dimulai Dari Menikahi Presiden Wanita Gunung Es

Awal, Dimulai Dari Menikahi Presiden Wanita Gunung Es
chapter 52 Kesepian


__ADS_3

Valerine duduk di kamarnya yang sunyi. Di luar jendela, matahari terbenam perlahan, meninggalkan jejak warna jingga dan merah di langit senja. Namun, meskipun pemandangan indah itu ada di depannya, hatinya masih terasa hampa dan sepi.


Dia meraih boneka kesayangannya dan memeluknya erat. Boneka itu adalah satu-satunya teman yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya. Valerine merasa kesepian, bahkan di dalam keramaian. Dia menginginkan seseorang yang bisa mengerti perasaannya, yang bisa berbicara dengannya tanpa ada rasa canggung.


Setiap kali dia melihat Haidir dan Wulan berduaan, perasaan kesepian itu semakin dalam. Mereka tertawa, berbicara, dan saling memandang dengan mata penuh cinta. Meskipun Valerine bersyukur atas kebahagiaan mereka, dia tidak bisa menghindari perasaan iri dan kehilangan yang menyelimuti dirinya.


Malam itu, Valerine memandangi ponselnya yang tergeletak di meja. Dia ingin mengirim pesan kepada Haidir dan Wulan, tapi terlalu takut terlihat seperti gangguan. Dia merasa seperti seorang penonton di luar jendela, melihat kebahagiaan mereka dari jauh tanpa bisa ikut merasakannya.


Valerine membuka buku hariannya dan mulai menulis. Dia menuangkan perasaannya dalam kata-kata, menggambarkan rasa kesepian yang dia rasakan. Tulisan-tulisan itu menjadi teman setianya, menjadi tempat di mana dia bisa mengungkapkan semua yang ada di hatinya tanpa takut dihakimi.


Beberapa kali, Valerine mencoba untuk mengajak Haidir dan Wulan untuk melakukan sesuatu bersama, tapi selalu terasa canggung. Mereka berdua tampak begitu bahagia bersama, dan Valerine tidak ingin merusak momen indah mereka. Seiring waktu berjalan, Valerine semakin terasingkan, merasa bahwa dia adalah orang asing dalam dunia teman-temannya yang dulu begitu dekat.


Tidak ada yang tahu betapa dalam perasaan kesepian yang dirasakan Valerine. Dia merasa terjebak dalam sebuah lubang hitam, di mana tidak ada cahaya atau kehangatan yang bisa menembusnya. Bahkan saat dia tertawa bersama teman-temannya, rasa sepi itu selalu ada di balik senyumnya.

__ADS_1


Pada suatu hari, saat Valerine duduk sendirian di taman sekolah, Fahri dan Shelomita mendekatinya. Mereka bisa merasakan bahwa sesuatu yang tidak beres dengan Valerine.


"Valerine, apa yang sedang kamu rasakan?" tanya Fahri dengan lembut.


Valerine menatap mereka dengan mata cemberut. "Aku merasa kesepian. Terkadang, aku merasa seperti orang yang tidak ada tempatnya di sini."


Shelomita mengangguk dengan pengertian. "Kami juga merasakannya. Terutama sejak Haidir dan Wulan mulai berpacaran."


Valerine merasa sedikit lega. Akhirnya, dia menemukan seseorang yang mengerti perasaannya. "Aku tidak ingin merusak hubungan mereka. Tapi rasanya begitu sulit."


Shelomita menambahkan, "Dan mungkin kita bisa mengajak Haidir dan Wulan bergabung dengan kita sesekali. Aku yakin mereka akan senang."


Valerine merasa hatinya menjadi lebih ringan. Dia tidak sendiri dalam perasaannya. Ada orang-orang yang peduli dengannya dan siap berada di sisinya. Mereka bertiga, Valerine, Fahri, dan Shelomita, memutuskan untuk menciptakan momen-momen berarti bersama, mengatasi rasa kesepian yang mereka rasakan.

__ADS_1


Seiring waktu berlalu, Valerine mulai merasa lebih baik. Kebersamaan dengan Fahri dan Shelomita membuatnya merasa diterima dan dihargai. Mereka berempat, bersama dengan Haidir dan Wulan, menciptakan kenangan-kenangan yang indah dan tak terlupakan. Perlahan tapi pasti, rasa kesepian Valerine mulai memudar, digantikan oleh perasaan kebahagiaan yang datang dari hubungan persahabatan yang kuat.


Setiap kali dia melihat Haidir dan Wulan berduaan, hatinya terasa tertusuk. Dia ingin merasa senang untuk mereka, tetapi rasa kesepian dan kehilangan terus menyelimuti dirinya. Meskipun dia mencoba untuk tersenyum dan berpura-pura bahagia, tetapi teman-temannya tahu bahwa ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Valerine.


Beberapa waktu kemudian, ketika Haidir, Wulan, Valerine, Fahri, dan Shelomita berkumpul di taman sekolah, Valerine merasa hatinya lebih bahagia dari sebelumnya. Dia menyadari bahwa teman-teman sejati adalah mereka yang peduli dan mendukung dalam setiap situasi.


Haidir dan Wulan merasa senang melihat Valerine lebih ceria. Mereka merasa bersalah karena tidak menyadari perasaan Valerine sebelumnya. Mereka berdua mengajak Valerine untuk bergabung dalam berbagai kegiatan mereka, sehingga Valerine merasa lebih diperhatikan dan dihargai.


Pada suatu hari, saat matahari terbenam di ufuk barat, mereka bertiga duduk bersama di tepi danau dekat sekolah. Valerine merasa senang bisa berbagi momen seperti ini dengan Haidir dan Wulan.


"Kalian berdua sungguh beruntung memiliki satu sama lain," ucap Valerine dengan senyum tulus.


Haidir dan Wulan saling pandang dan tersenyum. Haidir berbicara, "Tapi kami juga beruntung memiliki teman seperti kamu, Valerine."

__ADS_1


Wulan mengangguk setuju. "Kalian berdua adalah bagian penting dalam hidup kami."


__ADS_2