Awal, Dimulai Dari Menikahi Presiden Wanita Gunung Es

Awal, Dimulai Dari Menikahi Presiden Wanita Gunung Es
Bab 50 Benih Cinta


__ADS_3

Haidir dan Wulan dua sahabat sejak kecil mulai merasakan perasaan yang berbeda satu sama lain. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbagi tawa dan cerita, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara mereka berinteraksi.


Haidir merasa hatinya berdebar lebih cepat ketika bersama Wulan. Matanya selalu tertuju pada senyuman Wulan, dan dia merasa ingin selalu berada di dekatnya. Sementara itu, Wulan juga merasa canggung dan gugup ketika berada di dekat Haidir. Dia merasa hatinya berbunga-bunga setiap kali mereka bercakap-cakap atau bermain bersama.


Namun, mereka juga terjebak dalam perasaan galau. Mereka tidak ingin merusak persahabatan yang telah terjalin selama ini dengan mengungkapkan perasaan cinta masing-masing. Mereka khawatir bahwa jika perasaan cinta mereka tidak terbalas, hubungan persahabatan mereka akan berubah.


Hari demi hari, perasaan itu semakin kuat, dan Haidir serta Wulan merasa semakin sulit untuk menyembunyikan apa yang mereka rasakan. Mereka berbagi cerita dengan Valerine, yang dengan bijaksana memberi saran agar mereka berani menghadapi perasaan mereka dan mengungkapkannya.


Pada suatu hari, ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman, suasana yang romantis dan tenang membuat mereka berdua semakin dekat. Dalam momen yang tepat, Haidir mengambil nafas dalam-dalam dan dengan ragu-ragu mengungkapkan perasaannya kepada Wulan.


"Hai, Wulan," kata Haidir dengan suara perlahan, matanya menatap tajam ke mata Wulan. "Aku ingin bicara denganmu tentang sesuatu yang sudah lama aku pendam."


Wulan mengangkat alisnya, tampak penasaran. "Apa itu, Haidir?"


Haidir mengambil nafas dalam-dalam, mencoba untuk tidak gugup. "Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, tapi... Wulan, sejak beberapa waktu lalu, aku merasa ada yang berbeda dalam perasaanku terhadapmu. Aku merasa hatiku berdebar lebih cepat setiap kali kita berbicara, dan senyumanmu selalu membuatku merasa hangat di dalam."


Wulan terdiam sejenak, ekspresinya bercampur antara kaget dan senang. "Apa yang kamu coba katakan, Haidir?"


Haidir memandang Wulan dengan tulus. "Aku menyadari bahwa perasaan ini mungkin agak aneh, karena kita sudah bersahabat lama. Tapi aku ingin jujur denganmu, Wulan. Aku menyukaimu, lebih dari sekadar teman."


Wulan tersenyum, matanya berbinar-binar. "Haidir, aku juga merasa hal yang sama. Aku juga merasa ada yang berbeda dalam perasaanku terhadapmu. Aku merasa senang setiap kali bersamamu, dan aku merasa khawatir jika aku kehilanganmu."


Haidir merasa hatinya melonjak senang mendengar kata-kata Wulan. Dia merasa lega dan bahagia bahwa perasaannya tidak berdiri sendiri. "Jadi, apa kita... apa kita bisa mencoba untuk lebih dari sekadar teman?"

__ADS_1


Wulan tersenyum lebar. "Tentu, Haidir. Aku ingin melihat di mana hubungan ini akan membawa kita."


Keduanya saling tersenyum, merasa beban yang telah mereka pendam selama ini akhirnya terangkat. Ini adalah awal dari babak baru dalam hubungan mereka, dan keduanya merasa penuh harap dan antusiasme untuk menjalaninya bersama-sama.


Sejak saat itu, Haidir dan Wulan mulai menjalani hubungan yang lebih dari sekadar persahabatan. Mereka merasakan getaran cinta yang tumbuh di antara mereka, mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan dan keceriaan baru.


Namun, mereka juga sadar bahwa hubungan ini tidak akan selalu mudah. Ada ketidakpastian dan tantangan yang akan mereka hadapi. Tetapi dengan keyakinan dan dukungan satu sama lain, Haidir dan Wulan siap menghadapi segala rintangan yang mungkin datang dalam perjalanan cinta mereka.


Haidir dan Wulan mengalami berbagai momen indah dalam hubungan mereka yang baru dimulai. Mereka sering berduaan, berbicara tanpa henti tentang segala hal, dan berbagi tawa serta senyum. Kehadiran satu sama lain telah membawa warna baru dalam kehidupan mereka.


Namun, seperti halnya hubungan yang baru berkembang, Haidir dan Wulan juga menghadapi tantangan. Salah satu tantangan utamanya adalah mengelola perasaan mereka dan memastikan bahwa persahabatan mereka tetap utuh. Mereka berdua sangat menghargai ikatan yang telah terjalin selama ini dan tidak ingin kehilangan persahabatan tersebut.


Seringkali, Haidir dan Wulan terjebak dalam situasi canggung. Mereka berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan cemburu atau khawatir, tetapi kadang-kadang itu sulit dihindari. Mereka berdua belajar untuk saling memberikan ruang dan memahami bahwa perasaan ini adalah hal yang wajar dalam suatu hubungan.


"Wulan," katanya dengan hati-hati, "aku merasa sedikit cemburu ketika aku melihatmu tertawa dan berbicara dengan Fahri. Aku tahu mungkin ini terdengar konyol, tapi aku ingin jujur padamu."


Wulan tersenyum lembut. "Haidir, aku juga merasa hal yang sama ketika melihatmu dekat dengan Aulia. Aku berpikir bahwa mungkin kita bisa saling membantu untuk mengatasi perasaan cemburu ini."


Haidir mengangguk setuju. "Benar, mungkin kita bisa saling mengingatkan bahwa kita memiliki kepercayaan satu sama lain. Persahabatan kita adalah pondasi yang kuat, dan aku tidak ingin kehilangannya karena perasaan cemburu."


Mereka berdua merasa lega bisa berbicara terbuka tentang perasaan ini. Mereka sepakat untuk tetap fokus pada persahabatan dan membangun hubungan yang kuat dan sehat. Mereka mengerti bahwa cinta adalah tambahan indah dalam hidup mereka, tetapi tidak boleh merusak ikatan yang telah terjalin selama ini.


Haidir dan Wulan duduk di taman, tangan mereka saling berpegangan. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menciptakan suasana yang tenang dan romantis. Namun, ada kegugupan yang tidak bisa mereka sembunyikan di mata masing-masing.

__ADS_1


Tak jauh dari mereka, Fadhil dan Zahra, serta Sahrul dan Ega sedang duduk bersama. Kedua pasangan tersebut telah lama menyadari perasaan yang tumbuh di antara Haidir dan Wulan, dan mereka mengamati situasi dengan penuh perhatian.


Fadhil, yang selalu peka terhadap perasaan anaknya, merasa senang melihat Haidir berani mengungkapkan perasaannya. Dia melirik ke arah Zahra, senyum mereka saling bertaut. Zahra mengangguk singkat, menunjukkan dukungannya terhadap putrinya.


Sementara itu, Sahrul dan Ega juga mengamati adegan tersebut dengan perasaan campur aduk. Mereka tahu betapa besar arti persahabatan Haidir dan Wulan bagi anak-anak mereka, dan mereka berharap yang terbaik untuk mereka. Sahrul meraih tangan Ega, memberikan dukungan tanpa kata.


Haidir dan Wulan berdiri, menghampiri kedua pasang orang tua mereka dengan hati yang berdebar. Wulan memilih untuk berbicara terlebih dahulu, dengan wajah yang merah padam namun penuh semangat.


"Ayah, Ibu," ucap Wulan gemetar, "aku ingin mengatakan sesuatu. Aku... aku dan Haidir telah saling menyukai satu sama lain."


Fadhil dan Zahra saling pandang sejenak sebelum tersenyum lebar. Zahra meraih tangan Wulan dengan lembut. "Wulan, kami tahu bahwa kalian berdua memiliki hubungan yang istimewa. Kami mendukungmu sepenuhnya."


Sahrul dan Ega juga memberikan senyuman penuh kehangatan kepada Haidir. "Haidir," ucap Sahrul dengan suara lembut, "kami melihat kalian berdua tumbuh bersama dan menjadi sahabat yang baik. Jika kalian merasa ini adalah langkah yang tepat, kami mendukungmu."


Kedua pasangan orang tua saling bertatapan, merasa bangga dengan perkembangan anak-anak mereka. Mereka tahu bahwa perjalanan cinta ini mungkin akan penuh dengan tantangan, tetapi mereka percaya bahwa Haidir dan Wulan memiliki dasar persahabatan yang kuat untuk membangun hubungan yang langgeng.


Haidir dan Wulan merasa lega mendengar dukungan dari orang tua mereka. Mereka tahu bahwa perasaan mereka adalah hal yang nyata dan berharga. Saat mereka kembali duduk berdua di taman, cahaya rembulan mulai menerangi langit malam, menciptakan suasana yang penuh keajaiban.


"Ternyata mengungkapkan perasaan itu tidak seburuk yang ku bayangkan," ujar Haidir dengan senyum lebar.


Wulan mengangguk setuju. "Benar. Sekarang kita tahu bahwa kita punya dukungan dari keluarga kita."


Mereka berdua saling berpegangan tangan, merasa penuh harap dan semangat menghadapi masa depan yang baru. Sesekali, mereka melirik ke arah orang tua mereka, merasa beruntung memiliki dukungan begitu besar dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2