Awal, Dimulai Dari Menikahi Presiden Wanita Gunung Es

Awal, Dimulai Dari Menikahi Presiden Wanita Gunung Es
Bab 42 Menghadapi Cobaan


__ADS_3

Meskipun keluarga Bakti Bangsa terlihat harmonis dan bahagia, tetapi seperti semua keluarga lainnya, mereka juga menghadapi cobaan dan tantangan dalam hubungan mereka. Beberapa bumbu konflik pun mulai muncul di antara pasangan.


Fadhil yang semakin sibuk dengan pekerjaan sebagai penulis dan aktif dalam kegiatan yayasan, kadang-kadang merasa terbebani dengan tanggung jawabnya. Beban kerja yang berat membuatnya kurang memiliki waktu untuk bersama keluarga. Meskipun dia mencoba memberikan perhatian lebih pada Zahra dan anak-anak, namun kadang-kadang dia merasa seperti ada yang terabaikan.


Di sisi lain, Zahra sebagai mantan presiden dan pendiri yayasan Bakti Bangsa juga memiliki peran dan tanggung jawabnya sendiri. Meskipun dia sangat mendukung dan bangga dengan kesuksesan Fadhil, namun dia merasa kesepian dan rindu dengan momen-momen romantis bersama suaminya. Dia ingin Fadhil lebih memperhatikan hubungan mereka, seperti saat-saat awal mereka menikah.


Ketegangan mulai muncul ketika Fadhil seringkali terlalu fokus pada pekerjaannya dan mengabaikan perasaan Zahra. Pertemuan dan perbincangan mereka menjadi jarang, dan mereka mulai saling merasa jauh satu sama lain. Ini menimbulkan ketidakpuasan dan kekecewaan di antara mereka.


Saat mereka berdua duduk untuk berbicara, Zahra akhirnya mengungkapkan perasaannya. "Fadhil, aku merindukan kita. Aku merindukan momen-momen bersama tanpa gangguan pekerjaan atau tugas lain. Bisakah kita mencari cara untuk lebih mendekatkan diri satu sama lain?"


Fadhil merasa bersalah dan menyadari bahwa dia telah mengabaikan perasaan Zahra. "Maafkan aku, Zahra. Aku tahu aku telah salah fokus pada pekerjaan. Aku janji akan berusaha lebih baik untuk memberikan perhatian lebih pada kita dan keluarga."

__ADS_1


Mereka berdua menyadari bahwa komunikasi yang terbuka dan pengertian satu sama lain adalah kunci penting dalam menjaga hubungan mereka tetap harmonis. Mereka berkomitmen untuk lebih mendengarkan satu sama lain, berbicara tentang perasaan mereka, dan mencari waktu khusus untuk berkualitas bersama.


Namun, bukan hanya Fadhil dan Zahra yang menghadapi cobaan. Ega dan Sahrul, meskipun begitu mencintai anak-anak mereka, juga menghadapi tantangan dalam mengatur waktu dan peran mereka sebagai orang tua. Sahrul sebagai seorang dokter seringkali bekerja lembur dan berjaga malam, sehingga dia jarang bisa hadir untuk kegiatan keluarga.


Ega, sebagai seorang desainer grafis yang juga sibuk dengan pekerjaannya, merasa kesulitan untuk mengatur waktu antara pekerjaan dan waktu bersama anak-anak. Dia merasa bersalah karena sering meninggalkan anak-anak dalam waktu yang lama untuk menyelesaikan proyek desainnya.


Mereka berdua juga mulai merasakan ketegangan dalam hubungan mereka karena jarangnya waktu berkualitas bersama. Mereka merindukan momen-momen penuh kebersamaan dan kebahagiaan seperti dulu, ketika mereka pertama kali menikah.


Ega dan Sahrul sadar bahwa mereka harus saling mendukung dan bekerja sama menghadapi cobaan dalam hubungan mereka. Setiap malam setelah anak-anak tidur, mereka duduk bersama di ruang tengah untuk berbincang. Mereka berbagi kisah-kisah lucu dan kenangan indah yang mereka alami bersama sejak awal perkenalan mereka.


"Ega, terima kasih sudah selalu mendukungku dalam pekerjaanku sebagai dokter. Aku tahu betapa sulitnya bagi kita untuk mengatur waktu bersama anak-anak, tetapi aku yakin kita pasti bisa melalui ini bersama," ucap Sahrul sambil menggenggam tangan Ega.

__ADS_1


Ega tersenyum dan mengangguk. "Aku juga sangat berterima kasih atas dukungannya, Sahrul. Meskipun kadang-kadang aku merasa kesulitan mengatur waktu antara pekerjaanku dan anak-anak, aku selalu mencoba yang terbaik untuk menjadi seorang ibu yang baik bagi mereka."


"Mungkin kita bisa mencoba membuat jadwal yang lebih teratur, di mana kita menyempatkan waktu khusus untuk berkumpul sebagai keluarga. Kita bisa menentukan satu hari dalam seminggu di mana kita tidak punya jadwal pekerjaan dan bisa fokus bersama anak-anak," usul Sahrul.


Ega setuju dengan usul itu. "Bagus ide. Kita juga bisa mengajak Haidir, untuk turut merencanakan kegiatan keluarga kita. Mereka pasti senang dan bisa merasa lebih terlibat dalam keluarga."


Sejak saat itu, Ega dan Sahrul memutuskan untuk lebih aktif melibatkan anak-anak dalam perencanaan kegiatan keluarga. Mereka juga menetapkan hari tertentu dalam seminggu untuk berkumpul sebagai keluarga, tanpa gangguan dari pekerjaan atau kegiatan lainnya. Saat hari itu tiba, mereka bersama-sama melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan seperti piknik di taman, bermain game, atau mengadakan makan malam bersama.


Interaksi antara Ega dan Sahrul semakin meningkat. Mereka mulai mengirim pesan pendek di tengah kesibukan mereka, mengirim foto dan video lucu anak-anak, atau sekadar bertanya kabar satu sama lain. Hal ini membuat mereka merasa lebih terhubung dan merasa bahwa mereka selalu ada satu sama lain, meskipun kadang-kadang terpisah karena pekerjaan.


Mereka juga belajar untuk saling memberikan dukungan dan pemahaman. Ketika Ega merasa stres dengan proyek desainnya, Sahrul selalu mendengarkan keluh kesahnya dengan sabar dan memberikan semangat. Sementara itu, ketika Sahrul merasa lelah karena jadwal kerjanya yang padat, Ega selalu menyediakan makanan lezat dan menjaga suasana hati Sahrul agar tetap ceria.

__ADS_1


Kehadiran pusvita dan Valerine dalam keluarga Bakti Bangsa juga membantu meringankan beban Ega dan Sahrul. Pusvita sering membantu merawat Haidir, Wulan, dan Valerine ketika Ega dan Sahrul sedang bekerja. Valerine juga turut membantu anak-anak Bakti Bangsa dalam berbagai kegiatan sosial dan kegiatan di sekolah.


__ADS_2