Awal, Dimulai Dari Menikahi Presiden Wanita Gunung Es

Awal, Dimulai Dari Menikahi Presiden Wanita Gunung Es
Bab 39 puncak kebahagiaan


__ADS_3

Bab 44: Puncak Kebahagiaan


Fadhil dan keluarga semakin sibuk dengan berbagai proyek yayasan dan kegiatan sosial. Di tengah kesibukan itu, mereka tetap menjaga momen-momen bahagia bersama. Dalam perayaan ulang tahun Haidir yang ke-8, mereka merayakannya dengan penuh keceriaan di taman bermain. Haidir, Wulan, dan Valerine semakin akrab satu sama lain, dan mereka telah menjadi sahabat sejak pertama kali bertemu.


Hari itu, taman bermain dipenuhi tawa riang dan canda gembira. Haidir, Wulan, dan Valerine bermain-main bersama di atas perosotan, ayunan, dan berbagai wahana lainnya. Fadhil dan Zahra tersenyum bahagia melihat ketiga anak mereka begitu bersatu padu.


Sementara itu, di balik pepohonan, terlihat sosok wanita muda dengan senyum hangat yang menyaksikan kebahagiaan keluarga Bakti Bangsa dari kejauhan. Itu adalah Pusvita, ibu dari Valerine. Meskipun perjalanan hidupnya telah membawanya jauh dari Belanda ke Indonesia, ia merasa lega mengetahui anaknya begitu bahagia bersama keluarga Bakti Bangsa.


Melihat Pusvita, Zahra dengan ramah menghampirinya. "Pusvita, kenapa kamu menyaksikan dari kejauhan? Ayo bergabung dengan kami! Ini adalah momen bahagia untuk kita semua," ajak Zahra dengan hangat.


Pusvita tersenyum dan mendekati keluarga Bakti Bangsa. "Terima kasih, Zahra. Aku senang melihat Valerine begitu bahagia bersama Haidir, Wulan, dan kalian semua. Aku sangat berterima kasih atas kasih sayang dan perhatian yang kalian berikan padanya," ucap Pusvita dengan suara tulus.


"Fadhil dan saya sangat menyayangi Valerine seperti anak kami sendiri. Dia adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga Bakti Bangsa," sahut Zahra, sambil memeluk erat anak perempuan kecil itu.

__ADS_1


Momen itu menjadi bukti nyata tentang kebersamaan dan kerukunan keluarga Bakti Bangsa. Semua perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang bagi cinta dan kasih sayang yang mereka bagikan. Pusvita merasa beruntung telah menemukan keluarga yang begitu baik hati dan penuh kasih.


Menghadapi dunia yang terus berubah dan tantangan yang datang silih berganti, mereka menyadari bahwa persaudaraan yang mereka bangun tidak hanya sekadar hubungan darah, tetapi juga persaudaraan hati yang melekat erat di dalam jiwa mereka.


Bersama-sama, mereka bermain-main dalam kebahagiaan, menikmati keindahan kebersamaan, dan berbagi kebaikan kepada siapa pun yang membutuhkan. Pusvita menjadi bagian integral dalam keluarga Bakti Bangsa, berkontribusi dengan pengalaman hidupnya dan membantu dalam berbagai proyek yayasan yang memajukan masyarakat.


Hingga senja menjelang, mereka bermain dan tertawa, merayakan ulang tahun Haidir dengan penuh sukacita. Pusvita merasa beruntung telah menemukan keluarga yang begitu penuh cinta dan kehangatan. Selama ini, dia merasa terhibur dengan kehadiran keluarga Bakti Bangsa dan menyadari bahwa takdir telah membawanya ke tempat yang penuh dengan kebaikan dan kebahagiaan.


Di sela-sela kesibukan mereka, keluarga ini selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dan menjaga momen-momen kebersamaan. Setiap akhir pekan, mereka mengadakan piknik keluarga di taman atau pantai, menikmati keindahan alam sambil bermain bersama. Momen-momen seperti inilah yang selalu menjadi puncak kebahagiaan bagi keluarga Bakti Bangsa.


Tidak hanya bersenang-senang bersama, mereka juga sering melakukan kunjungan ke panti asuhan dan rumah sakit untuk membantu dan memberikan dukungan bagi mereka yang membutuhkan. Setiap kali mengunjungi panti asuhan, Haidir, Wulan, dan Valerine ikut berpartisipasi dengan penuh semangat, bermain dengan anak-anak panti, dan memberikan hadiah-hadiah kecil sebagai tanda kasih sayang.


Suatu hari, ketika keluarga Bakti Bangsa tengah berkumpul di ruang keluarga mereka, Fadhil mengumumkan bahwa buku barunya telah selesai ditulis. Semua anggota keluarga bergembira mendengar kabar tersebut dan mereka merayakannya dengan makan malam istimewa.

__ADS_1


"Terima kasih atas dukungan dan cinta kalian semua. Tanpa kalian, buku ini tidak akan menjadi kenyataan," ucap Fadhil dengan tulus kepada keluarganya.


Zahra tersenyum bangga, "Kami semua tahu betapa berharganya buku ini bagi dirimu, Fadhil. Aku yakin cerita yang ada di dalamnya akan menginspirasi banyak orang."


Fadhil mengangguk dan meraih tangan Zahra dengan lembut. "Kamu selalu menjadi sumber inspirasi dan kekuatanku, Zahra. Aku bersyukur memiliki keluarga seperti ini."


Malam itu, keluarga Bakti Bangsa merayakan kesuksesan Fadhil dengan penuh kebahagiaan. Haidir, Wulan, dan Valerine mengeluarkan bakat masing-masing dalam membuat tarian dan pertunjukan musik kecil untuk menghibur orang tua mereka.


Keesokan harinya, berita tentang buku terbaru Fadhil menyebar dengan cepat, dan buku itu mendapatkan tanggapan positif dari para pembaca. Cerita yang inspiratif dan penuh makna membuat banyak orang terinspirasi untuk berbuat lebih banyak kebaikan dalam hidup mereka.


Tidak hanya itu, Fadhil juga mendapatkan undangan untuk memberikan seminar dan ceramah di berbagai acara dan acara penggalangan dana. Seminar yang diselenggarakan oleh yayasan Bakti Bangsa pun semakin banyak dihadiri oleh banyak orang yang tertarik dengan misi dan kebaikan yang diusung oleh keluarga Bakti Bangsa.


Bersama-sama, keluarga Bakti Bangsa merayakan kesuksesan ini sebagai tim, dengan saling mendukung dan memberikan dukungan penuh satu sama lain. Mereka tahu bahwa apapun yang mereka capai, itu adalah hasil dari kerja keras dan cinta yang mereka curahkan bersama.

__ADS_1


__ADS_2