
Zevan yang sedang berada di kampusnya sangat khawatir sekaligus marah saat mendengar Azura tertabrak bis saat menyelamatkan papanya. Dia bergegas menuju rumah sakit milik almarhum kakeknya, yaitu rumah sakit Prananta.
Sesampainya di sana, Zevan langsung menghampiri papanya dan berkata dengan nada mengeram menahan amarah.
" Papa puas sekarang?!"
" Papa puas udah bikin adek aku Azura Ananta kecelakaan?"
" Maafin papa nak, papa tidak tahu kalau kejadian ini bakal terjadi ". Kata Vero menahan tangis.
" Seharusnya papa yang terbaring disini, SEHARUSNYA PAPA!!" Mendengar bentakan dari putranya, Vero sadar bahwa semua kejadian ini bersumber padanya. Tanpa sadar air matanya mengalir.
" Papa sadar sekarang?, Azura rela ngorbanin nyawanya demi papa, Zura sayang pa sama papa, tapi kenapa papa ga sadar itu. Sampai adik saya kenapa napa, jangan harap saya mau berbicara dengan Anda lagi kecuali hal penting ". Setelah mengatakan hal tersebut, Zevan pergi untuk menenangkan diri. Gaya berbicaranya pun berubah menjadi lebih formal.
Air mata Vero mengalir semakin deras. Menyesali perbuatannya selama ini. Vero sadar dirinya salah, seharusnya dia terima takdirnya mempunyai anak perempuan. Bagaimanapun Azura adalah anaknya, tak seharusnya dia memukul Azura dengan tongkat kematian miliknya. Vero berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menyayangi putrinya setulus hati.
Hari hari berganti, bulan bulan berjalan. tak terasa sudah 2 bulan Azura Ananta koma. Selama itu juga Zevan dan Vero selalu menyempatkan waktunya untuk berada di samping Azura, menemani Azura, dan mengajak ngobrol Azura. Tidak ada komunikasi di antara mereka.
" Zura sayang, Zura bangun yuk, gak capek apa tidur terus. Abang kangen Zura "
Seakan merespon, jari tangan Azura bergerak. Zevan kaget sekaligus senang. Dengan perlahan Azura membuka matanya. Terlihatlah wajah tampan abangnya . Zevan terus mengucap syukur. Vero yang sedang rebahan di sofa pun mendekati Azura dan mengusap kepalanya.
"Maaf, kalian siapa ya. Jangan deket deket kita ga kenal!!"
__ADS_1
"Kamu lupa sama Abang dek ?, Ini Abang kamu Zevan. Kamu ingat kan?". Kata Zevan meyakinkan.
Tanpa berlama lama, Vero langsung memencet bel untuk memanggil dokter.
" Putri bapak kami nyatakan mengalami hilang ingatan permanen. Ingatannya sangat sulit untuk dikembalikan, mungkin bisa disebut tidak bisa kembali. Saya permisi dulu ya pak Prananta ". Ucap dokter tersebut.
Setelah berbincang dengan dokter tersebut, Vero merasa sangat bersalah. Dia pun memutuskan untuk kembali masuk ke ruangan putrinya.
" Haloo, nama kamu Azura Ananta. Putri saya. Dan ini kakak kamu namanya Zevan"
" Jadi saya akan ikut kalian?". Tanya Azura.
" Iya, dek. Besok kamu udah di izinin pulang, kamu tinggal sama Abang sama papa ya? ". Tanya sang kakak.
" Oke Dill "
Azura bersiap siap untuk pulang. Sesampainya di rumah dia terkejut
" Wihh, ini rumah kita?, gede banget !!"
Zevan dan Vero pun tertawa mendengarnya.
Hari ini adalah hari pertama Azura bersekolah di SMA Galaksi, SMA milik Prananta.
__ADS_1
" Papaa...". Teriak Azura
" Iya sayang, Sini turun, makan dulu. Bi Inah udah masakin makanan yang kamu minta "
" Iya pa, bentar "
" Abang kemana pa?"
" Udah berangkat, katanya ada acara "
" Oh, oke "
" Azura boleh naik motor hitam yang di garasi nggak pa?, Zura pengen naik motor, boleh yah paa, pliisss....". Pinta Azura memohon.
" Kamu kan baru sembuh Zura "
" Zura bosen pa naik mobil mulu, boleh ya pa?, papa baik deh "
" Janji sama papa ga boleh ngebut ya? "
" Oke pa, Makasih pa. Zura berangkat dulu ya, dada papa "
Azura Membawa motor hitamnya menuju sekolah. Penampilannya yang mencolok membuat beberapa pasang mata tertarik untuk melihatnya. Azura memarkirkan motor hitamnya dan berjalan menuju kelas barunya. Semua murid laki-laki menatap penuh suka kepadanya, sedangkan murid perempuan yaaa, begitulah. Iri dan dengki
__ADS_1
Azura memasuki kelas XI IPA 1, dimana kelas tersebut adalah gudangnya anak berprestasi, cerdas dan pintar. Tetapi, sisi lain dari mereka adalah anak yang suka bercanda, sengekan dan kurang sopan.
Bersambung...