
Dengan tangan yang terborgol, seorang pemuda dibawa menuju ke penjara oleh dua orang penjaga (sipir penjara). Rambut panjang terurai menutupi wajah pemuda yang tertunduk lesu kebawah. Pada lorong penjara yang minim pencahayaan dan terlihat aura suram menyelimuti ruangan, suara langkah kaki pemuda yang berjalan perlahan terdengar menggema di area ruangan tersebut.
“Oii... cepat sedikit jalannya.” Ujar salah satu sipir penjara sambil mendorong pemuda tersebut menggunakan tongkatnya.
“Cihh.... dasar kriminal tidak berguna!!! Setiap hari aku harus berurusan dengan para bajingan ini. Kenapa aku bisa bekerja disini, Sialan!!!” Ujar sipir penjara tersebut sambil mengeluh tentang kondisi pekerjaannya.
“Bisakah kau sehari saja tidak mengeluh tentang pekerjaan kita ini!? Dari awal seharusnya kau sudah tahu tentang pekerjaan ini. Kenapa baru sekarang kau menyesalinya?!” Ujar sipir penjara yang satunya lagi.
“Aku mendaftar karena kupikir pekerjaan ini dapat menjamin kehidupanku secara ekonomi. Tetapi harus melihat para kriminal ini setiap hari, membuat mentalku sangat terganggu.” Ujar sipir yang mengeluh tentang pekerjaannya.
“Sudahlah, aku bosan dengan ocehanmu. Suka tidak suka, mau atau tidak mau, kamu harus melakukannya. Kalau sudah muak, tinggal keluar saja dari pekerjaan ini.” Ujar teman sipir penjara yang suka mengeluh tersebut.
Setelah berjalan beberapa saat, Akhirnya pemuda itu pun sampai di sel tahanan yang akan di tempatinya. Dua sipir penjara yang mengawalnya menuju ke sel penjara itu langsung segera melepas borgol yang mengikat kedua tangan pemuda tersebut.
Hey kau!!! ini adalah rumah barumu sekarang. Semoga kau betah tinggal di sel penjara ini.” Ujar sipir penjara sambil membuka pintu sel penjara.
“Nikmati kehidupan barumu anak bajingan!!!” Ujar sipir penjara yang satunya lagi dengan nada mengejek.
Setelah borgol yang mengikat kedua tangannya dilepas, pemuda itu pun langsung didorong masuk kedalam sel tahanan oleh sipir penjara yang mengantarnya. Sesaat setelah pemuda itu masuk ke sel, terlihat didalam penjara tersebut terdapat beberapa penghuni sel yang masih menjalani masa tahanannya. Para penghuni sel itu pun memperhatikan pemuda tersebut dengan tatapan yang mengintimidasi dan raut wajah kriminal yang menyeramkan. Secara perlahan dan dengan kepala tertunduk ke bawah, pemuda itu mulai berjalan menuju ke arah pojok sel penjara yang tidak ditempati oleh para tahanan lainnya.
“Heyy!!! Mau kemana kau?! Sepertinya kau masih cukup muda untuk berada di tempat seperti ini. Siapa namamu hey anak muda?” Ujar salah satu penghuni sel yang menghentikan langkah pemuda tersebut.
Dengan kepala yang menunduk kebawah dan sebagian wajahnya tertutup oleh rambut, pemuda tersebut diam membisu dan tidak menjawab pertanyaan dari salah satu penghuni sel yang bertanya kepadanya. Merasa diabaikan, penghuni sel itu pun mulai sedikit kesal.
“Oyy....Apakah kau tuli atau apa hah!!! Siapa namamu hey sialan!!!” Ujar penghuni sel dengan nada kesal.
Walaupun penghuni sel tersebut mulai kesal, tetapi pemuda tersebut tetap diam seribu bahasa tidak menanggapi omongannya. Ia hanya diam mematung tak bereaksi apa pun. Disaat yang bersamaan, penghuni sel lainnya pun mulai menghampiri pemuda tesebut.
“Bos, sepertinya kita harus kasih pelajaran terlebih dahulu agar dia mengerti peraturan di penjara ini. Setelah itu, dia pasti akan langsung menghormati kita.” Ujar salah satu penghuni sel yang ikut menghampiri pemuda tersebut.
“Hmm.... Ide yang bagus. Anak muda ini masih belum tahu tentang kehidupan di penjara. Tony! Johan! Ayo bantu aku mendidik anak sialan ini.” Ujar penghuni sel yang ternyata adalah bos dari para tahanan yang mendekam di sel tersebut.
“Siap bos!!! Dengan senang hati, hehehe.” Ujar Tony, salah satu anak buah bos di penjara tersebut.
Tanpa ragu, anak buah bos penjara itu pun langsung memegangi kedua tangan pemuda tersebut yang bermaksud untuk menahan pergerakannya agar tidak memberontak. Mereka berencana untuk memberi pelajaran kepada pemuda tersebut dengan cara kekerasan fisik.
“Hey.... Kau ini anak kemarin sore, kami akan memperbaiki sikapmu yang tidak sopan dan hormat kepada orang yang lebih tua. Ini adalah salahmu sendiri, masih muda tetapi sudah mendekam di tempat busuk seperti ini.” Ujar bos penjara sambil meremas rabmut pemuda tersebut.
“Buuuk!!! Buuuk!!! Baaaak!!!” Suara pukulan.
Tanpa rasa ampun, bos penjara itu pun memukuli pemuda yang baru masuk ke penjara tersebut. Pemuda itu terus mendapatkan kekerasan fisik dari para tahanan yang ada di sel penjara tersebut. Dengan tanpa perlawanan, pemuda tersebut dipukul, diinjak, ditendang dan mendapatkan kekerasan fisik yang kejam lainnya dari para tahanan satu selnya. Hari demi hari berlalu tetapi kekerasan tersebut tetap berlangsung tanpa henti setiap harinya. Sipir penjara yang mengetahuinya pun dengan sengaja membiarkan perbuatan para tahanan yang sudah lama tinggal di sel penjara tersebut. Akibat kekerasan fisik yang telah ia alami, sekujur tubuh pemuda malang itu pun babak belur penuh luka dan lebam atau memar. Terlihat pandangan mata yang kosong terpancar dari wajahnya yang samar-samar tertutup oleh rambut. Pakaianya yang kotor dan ekspresi wajahnya yang pasrah, membuat pemuda tersebut terlihat sangat menderita dan mengenaskan. Akan tetapi, tidak ada satu pun dari penghuni sel tersbut yang merasa kasihan dan iba dengan kondisi pemuda itu.
“Kenapa.....? Kenapa.....? Kalian semua.... Manusia sialan!!! Kenapa aku terlahir sebagai manusia?” Ujar pemuda tersebut dengan nada yang liirih.
“Manusia hanyalah mahluk yang saling menyakiti, menghakimi, menghancurkan. Ahh.... sepertinya semua ini akan segara berakhir.” Ujar pemuda yang terbaring di ruang sel tahanan.
“Menyedihkan sekali, berakhir ditempat seperti ini. Yang kulihat hanyalah kegelapan, yang kualami adalah kegelapan, dan semua itu akan berakhir pada kegelapan pula. Kehidupan......” Ujar pemuda dengan pandangannya yang sudah mulai memudar.
“Hey, ayo cepat bangun!” Ujar bos penjara yang terdengar tidak jelas ditelinga pemuda tersebut
“Sudah cukup, aku tidak tahu lagi. semuanya berakhir........” Ujar pemuda dengan nadayang pasrah.
“Hey... hey... ayo bangun. Hey... hey... kau yang disana.” Ujar seseorang dengan suara yang berbeda dengan bos penjara tersebut.
Yang awalnya terdengar seperti suara bos penjara, secara perlahan suara tersebut berubah menjadi suara seseorang yang misterius. Suara itu terdengar sangat tegas dan keras.
“Hey... Litch, ayo bangun! Hey.... bangun, cepat bangun.” Ujar suara misterius memanggil nama pemdua tersebut.
Dengan perlahan tapi pasti, pandangan pemuda yang bernama Litch pun mulai terlihat jelas dan bernagsur membaik. Setelah sadar dan bisa melihat dengan sangat jelas, pemuda yang bernama Licth itu merasa kebingungan dengan kejadian yang sedang dialaminya. Litch tiba-tiba terbangun di suatu tempat yang terlihat seperti ruang kelas. Sambil merasa kebingunan, Litch memperhatikan sekitar ruangan tersebut dengan sangat seksama.
__ADS_1
“Tempat ini, Bukankah.....” Ujar Litch di dalam hati sambil memperhatikan wajah anak-anak yang ia kenali.
“Hey, Litch kenapa kau tidur di kelas bapak.” Ujar sesorang guru kepada anak didiknya yang tertidur ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
Karena masih mencerna situasi disekitarnya, pemuda yang bernama Litch itu pun tidak menjawab pertanyaan dari bapak guru tersebut. Litch masih tetap diam dan kebingungan sambil mencoba untuk memperhatikan situasi dan kondisi dalam ruangan tersebut. Ia merasa tempat atau ruangan tersebut tidak asing di kepalanya.
“Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku berada disini?” Ujar Litch didalam hatinya.
“Wonder Litch!!! Apa kau dengar ucapan bapak?!” Ujar guru tersebut dengan nada tinggi.
“Hahh? Iya pak?” Ujar Litch yang kaget dengan teriakan bapak guru.
“Sepertinya kau tidak serius mengikuti pelajaran ini. Apakah kau tidak suka dengan pelajaran bapak?!” Ujar guru teresebut sambil memarahi Litch.
“Enggak pak, aku hanya-“ Ujar Litch yang mencoba memahami situasi dan kondisinya
“Sudah-sudah! Kalau memang kamu tidak suka dengan pelajaran bapak, cepat keluar dari kelas ini.” Ujar guru tersebut mengusir Litch dari kelas.
“Enggak pak, Sebenarnya-“ Ujar Litch yang berusaha melakukan pembelaan.
“Ayo cepat keluar dari kelas bapak!!!” Ujar pak guru yang terlanjur kesal dengan Litch.
Sambil masih berada dalam kebingungannya, Litch pun berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan secara perlahan menuju ke luar kelas. Sambil berjalan keluar kelas, Litch menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seraya memperhatikan murid-murid yang ada dikelas tersebut.
“Mereka kan teman-teman SMA ku dulu!? Tempat ini sama persis seperti ruang kelas waktu aku SMA. Kondisi ruangan dan murid-muridnya sama seperti kelas 2B yang kutempati 7 tahun yang lalu.” Ujar Litch di dalam hatinya sambil memperhatikan sekelilingnya.
“Orang itu.... bukankah dia pak Andy, guru fisika ku dulu waktu masih SMA. Apa yang sebenarnya terjadi padaku. Apakah aku kembali ke masa lalu?” Ujar Litch didalam hatinya sambil melihat pak guru Andy yang terlihat marah.
“Ayo, cepat keluar dari ruangan ini!!!” Ujar pak guru yang bernama Andy tersebut.
Pada akhirnya Litch pun pergi keluar karena diusir oleh guru fisika dari ruang kelasnya. Masih dalam kebingungan, Litch memperhatikan tempat sekitar luar ruang kelasnya dengan sangat teliiti. Tempat-tempat itu terlihat sangat tidak asing dikepala Litch. Ia mengenali tempat tersebut dengan jelas.
“Ini adalah SMAN 01 Gondwana tempat sekolahku dulu. Iya, aku tahu betul tempat ini. Seragam ini, lambang sekolahnya juga, aku yakin ini adalah sekolahku dulu.” Ujar Litch yang berkeliling desekitar sekolah sambil memperhatikan tempat tersebut.
“Hey kau, kelas berapa kamu? Ini kan masih jam pelajaran, kenapa keluyuran di luar kelas?!” Ujar seorang guru yang melihat Litch berada di luar ruang kelas.
“Saya disuruh keluar kelas oleh pak guru bu.” Ujar Litch.
“Memangnya kenapa kamu sampai disuruh keluar kelas begitu.” Ujar Ibu guru tersebut.
“Eee.... tadi saya tertidur pas jam pelajaran bu.” Ujar Litch menjawab pertanyaan dari ibu guru tersebut.
“Yee.... Kamu sih, tidur itu dirumah bukan dikelas.” Ujar Ibu guru sambil menasihati Litch.
“Iya bu.” Ujar Litch dengan singkat.
“Kamu kelas berapa emang?” Ujar Ibu guru bertanya kepada Litch.
“Kelas, dari ruangan dan murid-murid di kelas tadi, sepertinya saat ini aku masih berada dikelas 2 SMA.” Ujar Litch didalam hatinya.
“Kelas 2 bu.” Ujar Litch menjawab pertanyaan ibu guru tersebut.
“Ooohh, pantesan ibu gak kenal kamu. Solanya ibu hanya mengajar untuk kelas 3 saja. Yaudah, jangan diulangi lagi yah. Kamu harus rajin belajar agar masa depanmu terjamin nanti.” Ujar ibu guru tersebut.
“Baik bu.” Ujar Litch menanggapi ibu guru tersebut.
“Cihhh...!?” Ujar Litch didalam hatinya.
“Yaudah, ibu pamit mau kembali ke kelas dulu.” Ujar ibu guru tersebut meninggalkan Litch.
__ADS_1
Tidak lama kemudian bel istrirahat pun berbunyi. Sedikit demi sedikit para murid yang telah usai melaksanakan jam pelajaran pun, mulai keluar dari kelasnya masing-masing untuk sekedar beristirahat dikantin atau ditempat lain yang ada di sekolah tersebut. Karena sudah mulai ramai dengan anak-anak dan sudah waktunya istirahat juga, Litch pun memutuskan untuk datang kembali ke kelasnya. Setelah sampai di kelas, Litch pun langsung duduk dibangku yang berada di bagian belakang. Sambil berdiam duduk di kursinya, Litch masih memikirkan kejadian aneh dan misterius yang menimpanya.
“Jalan takdir apa lagi yang harus aku tapaki sekarang? Semuanya..... sungguh sangat merepotkan.” Ujar Litch didalam hati dengan muka yang serius.
“Oyy! Litch, serius amat tuh muka. Kenapa tadi kamu tidur di kelas sih? Dimarahin pak Andy kan jadinya.” Ujar seorang murid satu kelas yang tiba-tiba mendatangi Litch.
“Dia ini, Ivan!? Salah satu teman yang selalu ingin tahu dan ikut campur dengan urusan orang lain.” Ujar Litch didalam hatinya.
“Nggak apa-apa.” Ujar Litch menanggapi Ivan.
“Kalo lagi ada masalah cerita aja ama aku. Tinggal bilang aja nggak usah sungkan, aku siap dengerin kok!? Ujar seseorang yang bernama Ivan.
“Iyaa Van, nggak apa-apa kok.” Ujar Litch dengan senyuman terpaksa.
“Litch, kayaknya hari ini kamu agak beda deh. Apa cuma perasaan gw aja?” Ujar Ivan yang yang sedikit mencurigai Litch.
“Emang beda kenapa Van?” Ujar Litch menanggapi kecurigaan Ivan.
“Enggak.... aura kamu hari ini kayak beda aja gitu.” Ujar Ivan yang merasakan sesauatu dari aura Litch.
“Ivan.... seingatku dia mempunyai kekuatan khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain. Anak ini memiliki indra keeanan yang cukup tajam. Aku harus hati-hati dengannya.” Ujar Litch didalam hatinya.
“Aura??? Mungkin itu cuma perasaanmu aja kali.” Ujar Litch yang mencoba untuk berhati-hati.
“Iyaa sih mungkin cuma perasaanku aja.” Ujar Ivan yang menyangka bahwa itu hanyalah perasaannya saja.
“Ehh..... ngomong-ngomong lihat deh, Clarissa itu cakep banget yah!? Andai aja aku bisa pacaran sama dia. Udah tinggi, cantik, mana pinter lagi. Bener-bener cewek idaman lahh.” Ujar Ivan sambil melihat kearah perempuan bernama Clarissa.
“Iyaa.” Ujar Litch yang masih memikirkan indra keenam Ivan.
“Kalo menurut kamu gimana Litch, kamu juga suka kan?” Ujar Ivan yang menanyai pendapat Litch tentang Clarissa.
“Untuk sekarang aku nggak mau mencari perempuan ataupun berpacaran. aku sedang memikirkan tentang hal lain yang lebih penting.” Ujar Litch yang menanggapi pertanyaan Ivan.
“Ahh! Kamu Litch, kita ini sudah SMA. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal tersebut. Tidak ada yang lebih indah daripada cinta masa SMA. Gaul sedikit dong kamu.” Ujar Ivan yang menasihati Litch.
“Emang kamu nggak punya cewek idaman atau cewek yang kamu suka gitu? Disekolah ini kan banyak cewek-cewek cantiknya, masa satu aja gak punya.” Ujar Ivan yang penasaran dengan kehidupan percintaan Litch.
“Nggak ada, aku tidak pernah berpikir ke arah situ. Hal-hal tersebut hanya akan menambah beban yang sudah ada.” Ujar Litch kepada Ivan.
“Ahhh! Nggak asik kamu Litch. Kita ini anak muda!!! Penuhi masa mudamu dengan hal-hal yang indah, suram kamu.” Ujar Ivan kepada Litch.
“Cihhh.... tidak berguna” Ujar Litch didalam hatinya.
“Yaudah aku mau pergi ke kantin dulu ya, kamu mau ikut nggak?” Ujar Ivan yang ingin pergi ke kantin.
“Enggak, aku mau dikelas aja.” Ujar Litch yang ingin tetap di kelas.
“Okelah, aku kekantin dulu yah.” Ujar Ivan meninggalkan Litch.
Beberapa jam kemudian, bel pulang sekolah pun berbunyi. Karena jam pelajaran telah selesai semuanya, para siswa pun mulai bergegas meninggalkan sekolah untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Begitu juga dengan Litch, ia langsung pergi dari sekolah setelah pelajaran di hari itu selesai.
“Tempat-tempat ini, bangunannya juga sama persis seperti bangunan yang ada sekitar 7 tahun yang lalu.” Ujar Litch sambil memperhatikan tempat sekitar dalam perjalanan pulangnya.
Sambil berjalan pulang, Litch memperhatikan jalan dan bangunan yang ada disekelilingnya dengan seksama. Kondisi tempat yang dilalui Litch tersebut, sama persis seperti kondisi pada saat 7 tahun yang lalu. Litch pun makin yakin dan percaya bahwa dirinya telah kembali ke masa lalu tepatnya kembali ke masa SMA sekitar 7 tahun yang lalu.
“Entah bagaimana semua ini bisa terjadi?! Tetapi, satu hal yang pasti!!! Walaupun aku kembali ke masa lalu, ingatanku tentang masa yang akan datang masih ada dikepalaku. Aku pernah mengalaminya dan sekarang aku akan menjalaninya lagi. Ini adalah suatu hal yang berbeda, ingatan ini memungkinkanku untuk mengetahui kejadian yang akan terjadi dari sekarang. Itu artinya sama saja seperti aku bisa melihat masa depan.” Ujar Litch didalam hatinya sambil tersenyum tipis dengan muka yang penuh ambisi.
Sementara itu, ketika Litch sedang melakukan perjalanan pulang dari sekolah. Terdapat sosok misterius yang sedang mengawasi Litch dari kejauhan. Dengan sorot mata yang tajam, sosok tersebut memperhatikan Litch dari balik tiang listrik di pinggir jalan.
__ADS_1
“Berhati-hatilah dengan apa yang akan kau lakukan, Wonder Litch!!!” Ujar sosok misterius yang entah dari mana tiba-tiba muncul tidak jauh di belakang Litch.
Merasakan ada sesuatu di belakangnya, Litch pun menoleh kebelakang. Tetapi sesaat setelah Litch menoleh kebelakang, sosok misterius tersebut sudah menghilang dari tempat tersebut. Tanpa menaruh rasa curiga yang berlebih, Akhirnya Litch pun kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.