
“Aaaaaakhhhh.....” Suara teriakan manusia purba yang terdengar di sekitar area hutan Alask.
Suara teriakan yang keras itu pun sampai terdengar oleh Clarissa dan Vega. Mereka sedang berjalan sambil memapah Anton untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Mendengar suara keras tersebut, Vega merasa khawatir dengan keadaan Litch yang sedang menghadapi mahluk misterius (manusia purba).
“Apakah tidak apa-apa kita ninggalin Litch disana sendirian? Kalau terjadi apa-apa dengannya bagaimana?” Ujar Vega yang merasa khawatir dengan Litch sambil berjalan memapah Anton.
“Aku juga khawatir sih, tapi aku merasa ada sesuatu yang membuatku percaya kepadanya. Entah kenapa aku rasa Litch menyembunyikan sesuatu yang orang lain tidak boleh mengetahuinya. Lagian entah darimana dia bisa tahu dan datang secara tiba-tiba menyelamatkan kita dari mahluk itu. Sepertinya dia juga sudah mempunyai rencananya sendiri, aku bisa merasakannya.” Ujar Clarissa sambil membawa Anton dengan cara memapahnya bersama Vega.
“Apa yang kau katakan Clar? Aku tidak paham sama sekali.” Ujar Vega yang tidak paham dengan ucapan Clarissa.
“Sudahlah.... Sekarang fokus kita adalah membawa Anton ke rumah sakit terlebih dahulu. Nanti kalau ketemu orang kita akan meminta bantuan dan memberitahu mereka tentang kemunculan mahluk misterius di hutan ini. Oleh karena itu kita harus bergegas.” Ujar Clarissa sambil memapah Anton yang sedang terluka dan pingsan.
“Baiklah, semoga kita tidak terlambat.” Ujar Vega yang sama-sama memapah Anton dan membawanya untuk mendapat pertolongan.
Clarissa dan Vega pun terus melanjutkan perjalanan untuk membawa Anton agar segara mendapat pertolongan medis. Di jalan setapak yang dikelilingi oleh rerumputan, mereka memapah Anton dan berusaha untuk membawanya keluar dari hutan tersebut dengan secapat-cepatnya. Mereka berharap bahwa teman laki-lakinya itu masih bisa selamat jika ia segera mendapat penanganan medis yang serius dari dokter. Selain itu, Clarissa dan Vega juga sedang berusaha untuk mencari bantuan sesegera mungkin. Mereka ingin segara mendapat bantuan dari orang-orang yang mungkin sedang berada di area hutan Alask tersebut. Baik bantuan tentang pertolongan medis kepada Anton maupun tentang mahluk berbadan besar yang menyerang mereka di hutan tersebut.
Perlahan matahari sudah mulai terbenam dan menghilangkan diri dari ufuk barat. kondisi disekitar area hutan Alask juga sudah mulai terlihat gelap dan tidak ada cahaya yang menyinari. Angin mulai bertiup kencang sambil membawa udara sejuk yang menerpa dan menggoyangkan pepohonan serta tanaman-tanaman yang tumbuh subur. Suasana di sekitar hutan Alask juga sudah mulai terasa semakin dingin menusuk kulit dan pori-pori. Terlihat hewan-hewan nokturnal perlahan mulai muncul dan bangun dari tidurnya. Terdengar juga suara jangkrik dan beberapa suara burung yang menggema di sekitar aera hutan tersebut.
“Daaaaaaarrr” Suara pukulan keras manusia purba yang mengenai pohon.
Pohon yang dipukul oleh manusia purba itu pun langsung tumbang dan hancur jatuh ke tanah. Sambil mengenakan cindung yang ada dijaket hitamnya, Litch berlari dengan sangat lincah melewati celah-celah pepohonan besar. Dibelakangnya, terlihat manusia purba sedang mengejar Litch dengan cepat sambil menerabas pohon-pohon yang menghalangi jalur larinya. Warna merah menyala keluar dari sorot mata manusia purba yang bersinar di tengah kegelapan hutan Alask. Sambil mempererat pegangan pisau adamentiumnya, Litch secara tiba-tiba membelokan pergerakan larinya kearah kiri menuju belakang pohon besar yang tumbuh kokoh di hutan tersebut. Manusia purba yang mengejarnya dengan ganas itu pun ikut belok mengikuti arah lari dari Litch. Tepat setelah manusia purba itu belok menuju ke belakang pohon besar tersebut, Litch pun segera melompat dari batu pijakan dan langsung menyerangnya dengan menggunakan pisau adamentium. Serangan dadakan yang dilancarkan oleh Litch itu pun tepat menuju kearah leher dari manusia purba.
“Slaaaaashh” Sabetan pisau yang diayunkan oleh Litch.
“Aaaaaakhhh” Teriak manusia purba yang terkena sabetan pisau di lehernya.
Karena tidak sempat menghindar dan cepatnya serangan yang dilancarkan oleh Litch, leher manusia purba itu pun terkena sabetan pisau adamentium yang sangat tajam. Kali ini kulit dan daging dari manusia purba yang keras itu tidak bisa menahan serangan Litch dengan baik. Sehingga leher manusia purba itu pun terluka cukup dalam. Akan tetapi, serangan tersebut tidak cukup untuk melumpuhkan tangguhnya manusia purba tersebut. Walaupun darah keluar cukup banyak dari lehernya, tetapi manusia purba itu tetap tidak tumbang. Ia hanya memegangi leher yang terluka dengan tangannya.
“Cihh!!! Ini masih belum cukup kuat kah?!” Ujar Litch yang kesal sambil membuang darah yang menempel di pisaunya dengan cara dikibaskan.
“Daya tahan dan ketangguhan dari tubuhnya memang jauh diatas manusia normal pada umumnya. Akan tetapi tingkat kecerdasan dari manusia purba ini tidak terlalu tinggi. Dari tadi ia hanya mengandalkan kekuatannya saja. Ia memukul kesana kemari dengan brutal, tetapi arah dan tujuannya tidak terukur dengan baik.” Ujar Litch yang menganalisa manusia purba tersebut.
“Baiklah, serangan-serangan yang kompleks dan rumit seperti tipuan dan jebakan mungkin akan lebih efektif daripada serangan-serangan yang mengarah langsung kepadanya.” Ujar Litch sambil memperhatikan manusia purba yang memegangi lehernya.
Kerena merasa kesakitan akibat dari sabetan pisau yang mengenai lehernya, manusia purba tersebut semakin tambah murka dan mulai meningkatkan intensitas serangannya secara brutal. Manusia purba itu pun mulai mengambil dan mengangkat batu besar yang ada disekitar tempat tersebut ke atas kepalanya. Ia berniat melemparkan batu tersebut sebagai cara untuk menyerang atau melumpuhkan Litch. Dengan kedua tangannya yang kuat, batu besar itu pun dilemparkan ke udara dan tepat menuju ke arah Litch berada. Seketika Litch pun berusaha untuk menghindar dari lemparan batu tersebut. Litch langsung berlari dan melompat menjauh dari area jatuhnya batu tersebut. Akan tetapi, manusia purba tersebut tidak membiarkan Litch untuk lolos dan menghindar dari lemparan batunya. Ia terus pun berusaha untuk melempari dan menghujani Licth dengan batu-batu yang ada di sekitarnya secara bertubi-tubi.
“Sialan!!! Aku pikir dengan menjaga jarak akan lebih menguntungkanku, Sial!!!” Ujar Litch yang terus menghindari hujan lemparan batu dari manusia purba tersebut.
Dengan susah payah, Litch berusaha agar batu-batu yang dilemparkan oleh manusia purba tersebut tidak mengenai dan menimpa tubuhnya. Ia terus berlari dan bergerak menghidari hujan lemparan batu yang datang kearahnya. Akan tetapi, lemparan batu yang dilesatkan oleh manusia purba itu pun secara perlahan mulai menyebabkan pohon-pohon di area hutan Alask menjadi tumbang dan mati. Serangan manusia purba tersebut bukan hanya menuju kearah Litch, akan tetapi secara tidak langsung, serangan lemparan batu itu juga mengenai pepohonan dan tanaman-tanaman yang ada di hutan tersebut. sementara itu, manusia purba tersebut masih tetap melancarkan serangannya kepada Litch. Ia terlihat sangat marah dan berambisi untuk melumpuhkan bahkan sampai ingin membunuh Litch. Sebanding dengan apa yang telah Litch lakukan padanya, manusia purba tersebut sangat berambisi untuk membalas perbuatan sangat tidak menyenangkan yang telah dilakukan oleh Litch kepadanya.
__ADS_1
Menyadari posisinya tidak menguntungkan, Litch pun tidak tinggal diam dan berniat untuk melakukan sesuatu. Ia pun berusaha untuk kabur dan menjauh dari tempat tersebut. Hal itu dilakukan karena Litch ingin keluar dari zona atau jangkauan lemparan batu yang dilancarkan oleh manusia purba tersebut. Dengan pergerakan yang lincah, Litch berlari menjauh dari manusia purba yang menghujaninya dengan lemparan batu-batu besar.
“Untuk semenatara, aku harus menjaga jarak lebih jauh lagi. Setidaknya agar dia tidak melancarkan lemparan batu lagi.” Ujar Litch yang berusaha untuk menjaga jarak dengan manusia purba lebih jauh lagi.
“Aaaakkhhhh!!!” Teriak manusia purba menyadari bahwa orang yang telah melukai lehernya mulai lari dan kabur manjauhi tempat tersebut.
Melihat Litch yang bergerak menjauhi jangkauan serangan lemparan batunya, manusia purba itu pun berusaha untuk segera mengejarnya dengan cepat. Ia pun berlari mengejar Litch sambil mengambil sebatang pohon besar yang sudah tumbang dan tergelak ditanah. Manusia purba itu bermaksud untuk menjadikan batang kayu tersebut sebagai senjatanya. Sambil membawa batang pohon di pundaknya, manusia purba itu terus berlari mengejar Litch dengan sangat cepat. Litch pun terus menambah kecepatan larinya saat menyadari bahwa manusia purba tersebut ikut mengejarnya. Apalagi ia melihat jarak antara dirinya dengan manusia purba tersebut sudah semakin mendekat. Walapun memiliki badan yang besar, akan tetapi pergerakan dari manusia purba tersebut cenderung cukup cepat. Ia memiliki langkah kaki yang sangat lebar bila dibandingkan dengan manusia normal pada umumnya. Setelah jarak diantara mereka tidak terlalu jauh, manusia purba itu pun langsung melemparkan batang pohon yang dibawa dengan menggunakan kedua tanggannya. Batang pohon yang besar itu pun seketika melayang di udara dan kemudian mulai mendarat tepat menuju kearah Litch.
“Yang benar saja!!!” Ujar Litch sambil menengok ke belakang.
Dengan reflek yang cepat dan lincah, Litch langsung menghindar dari timpaan batang pohon tersebut. Ia melompat dan menjatuhkan badannya ke arah kanan menuju ke semak-semak. Batang pohon yang di lemparkan oleh manusia purba itu pun akhirnya hanya jatuh di jalan setapak. Tanpa mengenai dan menimpa bagian tubuh Litch sedikit pun. Karena lompat dan menghindari batang pohon tersebut, salah satu pisau adamentium yang ia pegang pun lepas dari genggaman tangan Litch. Kini Litch hanya memiliki satu pisau adamentium yang ia pegang di tangan kanannya.
“Kalau begini terus aku tidak akan bisa mendapatkan kesempatan. Walaupun peluang itu kecil, tetapi aku harus mencobanya. Setelah memutuskan untuk melakukan semua ini, aku tidak mau pulang dengan tangan kosong.” Ujar Litch setelah menghindar dari timpaan batang pohon ke semak-semak.
“Pisaunya..... Sial!! Dimana aku menjatuhkannya!?” Ujar Litch sambil berusaha mencari pisau yang terlepas dari genggamannya.
Ketika Litch tengah mencari salah satu pisau yang terlepas dari genggaman tangannya, manusia purba yang tadi melempar batang pohon itu pun tiba-tiba muncul dan berdiri di depan semak-semak tempat Litch berada. Manusia purba tersebut langsung segera melancarkan pukulan kerasnya tepat menuju tubuh Litch. Dalam sepersekian detik, Litch berusaha untuk menghindari pukulan tersebut. Ia mencoba untuk menggerakan tubuhnya ke arah kanan dari sisi manusia purba tersebut. Pukulan yang melesat dengan sangat keras itu pun berhasil Litch hindari dengan jarak yang sangat tipis. Pukulan manusia purba itu hanya bisa mengenai dan menyenggol bagian jaket yang dikenakan oleh Litch saja.
“Sepertinya tidak ada cara lain lagi. kalau seperti ini terus, aku seperti tikus yang dikejar oleh kucing. Waktuku sudah semakin terbatas!” Ujar Litch sambil bergerak menghindari pukulan kearah kiri.
“Terpaksa aku harus menggunakan cara klasik.” Ujar Litch yang merencanakan sesuatu untuk membalas serangan manusia purba tersebut.
“Ini kesempatanku!!!” Ujar Litch yang menaiki pungggung manusia purba tersebut sambil membawa salah satu pisau yang masih ia pegang di tangan kanannya.
Sesaat setelah naik ke punggung manusia purba tersebut, Litch pun langsung berusaha untuk mengalungkan pisau adamentium yang ia genggam ke lehernya. Menyadari dan merasa sangat terganggu dengan Litch yang naik ke punggungnya, manusia purba itu pun berusaha untuk melepaskan Litch dengan memberontak kesana kemari. Alhasil, Litch pun tidak bisa mengarahkan pisau ke bagian leher manusia purba tersebut dengan baik. Selain itu, karena tenaga manusia purba tersebut sangat besar dan pergerakannya yang sangat liar. Litch juga dibuat kesusahan dalam menjaga keseimbangan di punggung manusia purba tersebut. Dengan tangan kiri yang memegangi pundak manusia purba, Litch berusaha untuk menyayat leher manusia purba tersebut dengan pisau yang ia pegang di tangan kanannya. Akan tetapi hal yang dilakukan oleh Litch itu pun tidak berhasil. Daging dan kulit manusia purba yang sangat keras, membuatnya tidak mempan oleh sayatan pisau yang dilakukan oleh Litch. Usaha serangan yang dilakukan oleh Litch pun hanya memberikan sedikit luka gores yang tak berarti.
“Akhh..... Akkhhhh!!!” Ujar manusia purba yang berusaha melepaskan Litch yang mengendong di punggungnya.
Litch tetap berusaha untuk menyayat dan menggorok leher dari manusia purba tersebut. Merasa tidak mempan kalau hanya menggunakan satu tangan, Litch pun mencoba menggunakan tangan kirinya untuk meraih dan memegang bagian ujung dari pisaunya tersebut. Litch bermaksud untuk mencekik leher manusia purba tersebut dengan menuggunakan pisau yang akan dipegangi oleh kedua tanggannya. Ia berharap apabila menggunakan kedua tanggannya, maka cekikan dari pisau itu bisa lebih bertenaga dan menyebabkan luka yang fatal. Akan tetapi, sebelum tangan kiri Litch sempat memegang ujung pisau adamentium tersebut. Manusia purba itu pun menyadari dan melihat tangan kiri Litch yang bergerak persis di samping kiri kepalanya. Tanpa berpikir panjang, manusia purba tersebut langsung segera menggigit tangan kiri Litch yang bergerak di samping kepalanya.
“Aaaaaaaa.........” Teriak Litch yang merasa kesakitan akibat tangan kirinya di gigit oleh manusia purba.
Begitu manusia purba tersebut menggigit tangan kirinya, Litch langsung mengencangkan otot kedua tanganngya. Ia menahan agar tangan kirinya tersebut tidak putus dan hancur tergigit manusia purba. Merasa tangan kirinya dalam keadaan yang berbahaya, Litch pun segera memutar pisau adamentium yang ia pegang di tagan kanannya kearah dalam atau bawah. Tanpa berlama-lama, Litch pun langsung menusuk leher bagian samping kanan manusia purba tersebut dengan semua tenaga yang ia punya. Pisau adamentium yang ia hunuskan itu pun berhasil tertancap di leher bagian kanan dari manusia purba tersebut.
“Aaaakkkkhhhhh!!!!” Teriak manusia purba yang kesakitan akibat lehernya tertancap pisau.
Karena teriakan keras yang secara tidak langsung membukakan mulutnya, tangan kiri Litch pun berhasil terlepas dari gigitan manusia purba tersebut. Beruntung, akibat dari gigitan tersebut tidak sampai memutuskan atau menghancurkan tanggan kiri Litch. Merasakan adanya rasa sakit disekitar lehernya, secara reflek manusia purba itu pun langsung memegang tangan kanan Litch yang masih menggengam pisau adamentiumnya. Walaupun sudah terkena luka tusuk yang cukup dalam, manusia purba tersebut terlihat masih bisa berdiri dan masih memberikan perlawanan kepada Litch. Karena belum sempat lompat dan turun dari punggung manusia purba tersebut. Alhasil, kini tangan kanan Litch tertangkap dan terpegang oleh manusia purba yang leher kanannya tertusuk oleh pisau adamentium.
“Sialan!!! Ini gawat!?” ujar Litch yang tangan kanannya dipegang oleh manusia purba.
__ADS_1
Sesaat setelah ia memegang tangan kanan Litch, manusia purba tersebeut langsung melempar Litch kearah depannya. Litch pun terlempar cukup jauh dari tempat manusia purba tersebut berada. Sambil merapatkan giginya, tubuh Litch terus menabraki semak-semak belukar dan pepohonan kecil yang ada di hutan Alsak tersebut. Sampai pada akhirnya pergerakan Litch pun terhenti karena menabrak sebuah pohon yang cukup besar. Terlihat Litch pun terkapar di tanah setelah menabrak pohon tersebut. Selain tangan kirinya yang terluka cukup parah, kini badan Litch juga mengalami beberapa luka dan cidera.
Sementara itu, setelah melempar Litch dengan tangan kirinya, manusia purba itu pun berusaha untuk mencabut pisau yang tertancap di lehernya. Begitu pisau tersebut tercabut, darah langsung mengucur deras keluar dari luka yang ditimbulkan oleh tusukan pisau adamentium Litch. Melihat banyak darah yang ada ditelapak tangannya, manusia purba itu pun terlihat amat sangat murka dan marah.
“Aaaaakhhhhh!!!!!” Teriak manusia purba setelah melihat ada darah yang cukup banyak ditelapak tangannya.
Mendengar teriakan manusia purba tersebut, Litch pun berusaha untuk bangun dari tanah. Setelah bangun, Litch pun duduk bersandar di pohon besar yang menahannya tadi. Sambil memegangi tangan kirinya, Litch terlihat meringis kesakitan dengan luka tersebut.
“Sudah kuduga ini akan terasa sangat sakit. oleh karena itu, sebenarnya aku tidak suka dengan cara ini. Tetapi mau bagaimana lagi, aku harus melakukannya.” Ujar Litch sambil meringis kesakitan sambil memegangi tangan kirinya.
“Seharusnya ini sudah waktunya dia muncul. Aapakah rencanaku gagal!?” Ujar Litch sambil melihat jam di tangan kanannya.
Ketika Litch sedang duduk bersandar di pohon, terlihat dari kejauhan manusia purba sedang berlari kencang menuju kearah Litch. Dengan mata merah menyala yang bersinar di gelapnya hutan Alask, ia terlihat amat sangat marah dengan Litch. Larinya yang cepat membuat manusia purba tersebut semakin mendekat ke tempat Litch. Melihat Litch yang duduk tak bergerak bersandar di pohon, manusia purba yang sedang berlari mendekati Litch itu pun segera mulai bersiap untuk melancarkan pukulannya. Terlihat manusia purba tersebut sudah mulai mengokang tanggannya. Ia berniat menghajar dan langsung menyerang Litch dengan tanpa basa-basi.
Begitu manusia purba tersebut sudah sangat dekat dengan dengan Litch, ia pun langsung melesatkan pukulan kerasnya tepat menuju kearah Litch. Terlihat pukulan tersebut dipenuhi oleh nafsu dan amarah yang sangat membara. Akan tetapi, sesaat sebelum pukulan penuh emosi tersebut dilesatkan oleh manusia purba. Secara tiba-tiba, seorang pria berbadan kekar muncul terbang dari atas dan langsung turun untuk menahan pukulan keras tersebut. Terlihat bentuk dan postur tubuh pria yang tiba-tiba muncul tersebut, tidak jauh beda dengan ukuran atau postur tubuh dari manusia purba. Ia memiliki postur tubuh tinggi besar dan terlihat sangat kekar dengan pakaiannya yang ketat. Hanya saja tinggi dari pria misterius tersebut agak sedikit lebih pendek dibawah manusia purba yang mempunyai tinggi badan diatas rata-rata.
Bersamanan dengan munculnya pria misterius yang menahan dan melindungi Litch dari pukulan keras manusia purba. Cahaya bulan pun mulai menyinari area hutan tersebut. Karena tertutup oleh sekumpulan awan, pada awalnya memang bulan yang ada di atas langit hutan Alask tersebut tidak bisa memancarkan cahayanya. Akan tetapi, secara perlahan awan itu pun mulai bergerak menyingkir dan membuat indahnya bulan purnama akhirnya bisa terlihat dengan jelas. Sambil diterangi oleh cahaya bulan purnama yang menerpa tubuhnya, pria misterius tersebut menahan pukulan manusia purba dengan tangan kirinya. Pria tersebut juga terlihat mengenakan pakaian atau kostum ketat dan mempunyai jubah besar yang ada di belakang punggungnya. Kostum ketat dari pria misterius tersebut memiliki warna hijau tua yang sangat mencolok. Sedangkan pada bagian jubahnya sendiri memiliki warna putih bersih nan berkilau. Selain itu, pada bagian dada dari pria misterius tersebut juga tertempel sebuah tanda besar yang berbentuk menyerupai huruf G. Tanda huruf G yang menempel pada bagian dada dari pria misterius tersebut juga memiliki warna putih mengkilau, sama seperti warna jubanhya. Dilihat ciri-ciri pakaian, ciri fisik, kemunculannya yang tiba-tiba, serta kekuatannya yang mampu menahan pukulan manusia purba, pria misterius tersebut terlihat seperti seorang pahlawan.
“Aku mendapatkan informasi dari Clariss- Ekhm...!? Ekhm...!? dua gadis remaja. Mereka mengatakan bahwa ada mahluk misterius yang muncul di hutan ini. Tak kusangka ternyata itu benar adanya.” Ujar pria berpakaian ketat dan berjubah sambil menahan pukulan manusia purba dengan tangan kirinya.
“Gondman..... kau terlambat!!!” Ujar Litch sambil duduk di belakang pria berbabadan kekar yang bernama Gondman.
“Kau, Litch!? Anak pemberani yang mereka berdua katakan padaku. Maafkan aku telah membuatmu menunggu lama. Dan juga kerja bagus karena telah menyelamatkan mereka berdua. Sekarang serahkan sisanya padaku.” Ujar Gondman sambil menoleh ke arah Litch.
“Cihh..... Semuanya telah berakhir. Aku sudah tidak mempunyai urusan lagi dengannya. Silahkan nikmati dia sepuasmu.” Ujar Litch sambil sedikit tersenyum puas.
Manusia purba yang pukulannya tertahan oleh Gondman itu pun berusaha untuk memberontak dan mencoba untuk menyerang Gondman. Akan tetapi, Gondman tidak membiarkan hal itu terjadi. Tanpa basa-basi, ia langsung memukul bagian perut dari manusia purba tersebut dengan menggunakan tangan kanannya. Pukulan kuat yang diluncurkan oleh Gondman membuat manusia purba tersebut terpental dan meluncur dengan cepat jauh ke belakang. Manusia purba itu pun melesat tanpa henti dan menabraki pephohonan yang ada di jalur pentalannya. Pohon-pohon besar pun tidakk mampu untuk menghentikan laju manusia purba yang terpental karena menerima tinju dari Gondman. Pepohonan tersebut malah hancur dan tumbang akibat tertabrak oleh tubuh manusia purba tersebut. Ketika manusia purba tersebut meluncur tanpa henti, Gondman terlihat terbang medekat ke arah manusia purba dengan sangat cepat. Setelah ia mendekati manusia purba tersebut, Gondman pun langsung meluncurkan pukulan keduanya yang tepat mendarat di bagian kepala. Pukulan keras itu pun membuat membuat manusia purba tersebut jatuh tersungkur dan tergeletak di tanah. Seketika, manusia purba yang sedang meluncur dengan cepat itu pun langsung terhenti. Dampak pukulan keras yang dilesatkan oleh Gondman juga membuat tanah atau tempat tersebut itu menjadi hancur berantakan.
Setelah memukul manusia purba dengan menggunakan tangan kanannya, Gondman pun terbang perlahan mundur ke belakang. Ia memperhatikan dan menganalisa manusia purba tersebut. Apakah manusia purba itu masih bisa bangun lagi atau tidak, begitulah pikir Gondman. Akan tetapi, tidak lama setelah ia menerima pukulan keras di kepalanya, manusia purba itu pun masih bisa untuk bangun dan berdiri.
“Ekhhhh......Ekhhhh....” Ujar manusia purba sambil menggerak-gerakan kepalanya.
“Ohh.... Rupanya kau cukup kuat juga.”Ujar Gondman melihat manusia purba yang sedang menggerak-gerakan kepalanya.
Sesaat setelah beridiri, manusia purba itu pun terlihat sedang menggerak-gerakan kepalanya. Sepertinya ia merasakan pusing pada bagian kepala yang terkena pukulan Gondman. Setelah beberapa kali menggerak-gerakan kepalanya, pusing yang manusia purba tersebut rasakan pun perlahan mulai menghilang. Darah yang keluar dari luka tusuk itu pun sudah mulai berhenti mengalir. Dan kini manusia purba tersebut sudah siap untuk bertarung melawan Gondman.
“Aaaaaakhhhhhh!!!” Teriak Manusia purba ke arah Gondman.
“Baiklah, tunjukan kemampuanmu padaku. Ayo maju!!!!” Ujar Gondman sambil terbang perhalan naik keatas.
__ADS_1